Usia Berapa Bayi Mulai Diperbolehkan Makan Keju?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Keju bukan hanya memiliki rasa yang lezat, tapi juga bermanfaat untuk kesehatan. Keju dipenuhi dengan kandungan protein, lemak, dan vitamin. Selain itu, keju juga tinggi kalsium dan kalori di setiap gigitannya untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Nah, jumlah kalsium dan kalori tinggi ini cocok sekali bagi bayi untuk masa pertumbuhan dan perkembangannya. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk bayi makan keju?

Kapan bayi boleh makan keju?

keju untuk mengurangi berat badan

Sebagian besar bayi dapat makan keju segera setelah mereka terbiasa mengunyah, biasanya antara usia 6-9 bulan. Meskipun begitu, saran ini memang cukup bervariasi.

Kebanyakan dokter anak menganjurkan setidaknya usia 8-10 bulan untuk bayi boleh mulai makan keju.

Aturan makan keju ini khususnya berlaku bagi bayi yang tidak memiliki riwayat alergi makanan dalam keluarga. Namun, jika buah hati Anda memiliki riwayat alergi makanan, tunggu sampai usianya kira-kira mencapai usia 12 bulan.

American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa prinsipnya keju untuk bayi boleh diberikan setelah ia terbiasa dengan beberapa makanan padat asli alias MPASI bayi.

Makanan bayi atau MPASI ini bisa diberikan sembari si kecil tetap menyusu ASI maupun sudah beralih ke susu formula bayi.

Ambil contohnya makanan padat seperti daging, sayur untuk bayi, dan buah untuk bayi. Setelah ini, bayi diperbolehkan untuk mencoba keju.

Mendukung hal yang sama, Mayo Clinic juga menyarankan memberikan keju sebagai makanan jari atau finger food untuk bayi sekitar usia 8-10 bulan.

Akan tetapi, jika Anda sudah mengetahui bahwa bayi Anda mengalami eksim maupun alergi makanan, sebaiknya konsultasikan pada dokter sebelum memberikan keju untuk si kecil.

Keju adalah salah satu jenis makanan yang bersifat allergenic karena mengandung protein susu. Maka itu, untuk beberapa anak tidak disarankan mulai makan keju sampai diizinkan oleh dokter.

Jika bayi alergi keju akan muncul tanda-tanda seperti pembengkakan wajah (termasuk lidah dan bibir), ruam di kulit, gatal, kram perut, muntah, dan diare.

Kondisi tersebut biasanya membuat bayi susah makan sehingga berisiko terjadi masalah gizi pada bayi.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kondisi anak sebelum diberikan keju.

Sementara bila dalam keluarga terdekat Anda memang ada yang alergi keju atau produk susu lainnya, sebaiknya lebih waspada.

Ini karena bisa saja anak bayi memiliki kondisi tubuh yang mirip sehingga membuatnya mengalami gejala alergi untuk beberapa jenis makanan tertentu termasuk keju.

Bagaimana cara memberikan keju untuk bayi pertama kalinya?

manfaat makan keju

Ketika memberikan keju pada anak pertama kalinya, sebaiknya berikan di rumah sendiri. Hindari memberikan keju dari makanan di luar, seperti dari restoran atau tempat makan lain.

Ini penting untuk memastikan bahwa keju yang diberikan memang hanya keju asli saja tanpa campuran apa pun.

Selain itu, seperti halnya mencoba produk baru, Anda perlu mengamati ada tidaknya efek alergi atau ketidakcocokan pada anak.

Keju boleh disajikan sejak buah hati Anda memulai makanan MPASI. Penting selalu sesuaikan tekstur menurut usia anak Anda. Keju boleh diberikan sebagai pelengkap makanan, bukan sebagai menu utama. Anda juga harus tetap memperhatikan reaksi alergi yang mungkin terjadi.

Jika anak Anda mengalami reaksi seperti muntah, diare, muncul ruam di kulit, sakit perut, perut kembung, bisa jadi anak Anda sensitif terhadap produk susu seperti keju.

Dari sini Anda juga bisa memutuskan untuk memberikan anak keju lagi atau perlu konsultasi lebih lanjut ke dokter.

Selain itu, yang paling penting, untuk mencegah anak tersedak sebaiknya berikan keju dalam bentuk kecil. Potong keju seukuran dengan jari bayi agar bisa digenggam dan dikunyah dengan mudah.

Jenis keju apa yang boleh diberikan untuk bayi?

diabetes boleh makan keju

Ketika memilih keju untuk anak pertama kali, pastikan keju tersebut telah melalui proses pasteurisasi, baik keju itu terbuat dari susu sapi, domba, atau susu kambing.

Biasanya keterangan proses pasteurisasi bisa dilihat pada label kemasan produk keju tersebut. Anak boleh makan keju yang sudah dipasteurisasi karena lebih aman dari bakteri yang mungkin ada pada keju.

Keju yang dibuat dengan susu yang tidak dipasteurisasi (atau mentah) tidak diperbolehkan untuk bayi sebab keju tersebut berpotensi terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes.

Ini adalah suatu bentuk bakteri yang bisa menimbulkan penyakit bawaan makanan yang fatal terutama pada anak usia sangat muda seperti bayi.

Banyak jenis keju yang bisa Anda tawarkan kepada bayi, di antaranya adalah:

  • Cheddar
  • Parmesan
  • Edam
  • Gouda
  • Mozarela
  • Paneer
  • Swiss
  • Colby

Yang paling penting, berikan keju yang rasanya ringan tidak terlalu asin. Berikan dalam ukuran dan jumlah kecil terlebih dahulu dan amati apakah anak menunjukkan ciri-ciri reaksi alergi.

Bayi bisa langsung menyukai keju sejak awal diberikan, entah keju dalam bentuk utuh atau sudah dicampur ke dalam makanan.

Namun, bayi juga bisa tidak langsung menyukainya di awal dan menolak makan keju hingga akhirnya baru benar-benar suka keju setelah beberapa kali diberikan.

Sebenarnya, tidak ada frekuensi pemberian pasti kapan bayi bisa menyukai keju. Umumnya, perlu 10-15 kali percobaan untuk menyimpulkan apakah bayi menyukai keju atau tidak.

Cara mengolah keju untuk bayi yang mudah dan praktis

omelet keju

Setelah sudah dipastikan anak boleh makan keju dengan aman, ada berbagai cara untuk mengolah keju yang bisa Anda lakukan.

Berikut beberapa cara menyajikan keju untuk bayi:

  • Mencampur telur orak arik dengan keju.
  • Keju dihancurkan bersama pisang atau alpukat.
  • Memanggang keju di atas roti.
  • Lelehkan keju di atas sayuran. Pastikan keju sudah tidak terlalu panas saat disajikan.
  • Tambah parutan keju di atas makanannya.

Pada dasarnya, keju untuk bayi bisa Anda olah ke dalam menu makanan utama maupun menu makanan selingan atau camilan untuk bayi.

Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia, frekuensi makanan utama bayi umumnya tiga kali sehari yakni makan pagi (sarapan), makan siang, dan makan malam.

Sementara makanan selingan atau camilan bayi biasanya diberikan sekitar 1-2 kali sehari tergantung nafsu makan si anak.

Jadwal bayi makan makanan selingan atau camilan yakni saat setelah sarapan tetapi sebelum jam makan siang dan di sore hari.

Sedikit perbedannya, makanan utama idealnya mengandung aneka zat gizi meliputi karbohidrat untuk bayi, protein, lemak, dan serat untuk anak.

Tak terkecuali zat gizi mikro seperti mineral dan vitamin untuk bayi yang juga harus dipenuhi si kecil.

Sementara makanan selingan untuk bayi, misalnya keju yang diolah dengan bahan makanan lainnya bisa hanya mengandung beberapa jenis zat gizi tertentu.

Di sisi lain, pastikan Anda memerhatikan proses penyimpanan keju untuk bayi agar tetap awet dan berkualitas baik.

Anda dianjurkan untuk menyimpan keju di tempat dingin seperti kulkas guna mencegah keju berada di suhu yang terlalu kering atau lembap.

Keju yang tidak disimpan di tempat sesuai akan membuka jalan untuk tumbuhnya jamur dan bakteri.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Mitos Seputar Makanan Bayi yang Harus Ditinggalkan

Ada beragam mitos makanan bayi yang banyak beredar. Sudahkah Anda tahu apa saja mitos mengenai makanan bayi beserta kebenarannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 7 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Agar Tidak Keliru, Begini Cara Menyeimbangkan Pemberian ASI dan MPASI Bayi

Pemberian ASI dan MPASI dapat membantu mengoptimalkan tumbuh kembang bayi. Namun, pastikan ASI dan MPASI yang didapat bayi sudah seimbang, ya!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 7 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Panduan Menyiapkan, Mengolah, dan Memberikan Makanan Bayi

Memberi makanan sehat untuk bayi tidak harus sulit. Berikut adalah beberapa makanan super bernutrisi beserta penyajiannya untuk bayi Anda.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 6 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Panduan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) Bayi

Makanan pertama untuk bayi (MPASI) perlu diberikan secara bertahap selepas ASI eksklusif selama 6 bulan pertamanya. Bagaimana aturannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 6 Oktober 2020 . Waktu baca 19 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin untuk bayi

Kenali Kebutuhan Vitamin untuk Bayi dan Perannya Sebagai Penambah Nafsu Makan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit
resep menu mpasi bayi 6 bulan

Panduan Merancang Menu MPASI Bayi 6 Sampai 11 Bulan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit
buah untuk bayi

6 Pilihan Buah untuk Bayi yang Baik Dikonsumsi Sehari-Hari

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit
makanan bayi 6 bulan untuk kecerdasan otak

8 Macam Makanan untuk Mendukung Kecerdasan dan Perkembangan Otak Bayi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit