Artikel Bersponsor

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Asah Potensi Hebat Anak Usia Dini melalui Kognitifnya

DISPONSORI OLEH:

Asah Potensi Hebat Anak Usia Dini melalui Kognitifnya

Perkembangan kognitif merupakan suatu tugas tumbuh kembang anak yang sangat komprehensif. Perkembangan ini sangat penting karena berkaitan dengan kemampuan berfikir anak, seperti bernalar, mengingat, menghafal, memecahkan masalah, memberi ide, dan kreativitas. Dukungan hebat orang tua tentunya sangat dibutuhkan dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun agar ia menjadi anak hebat di masa depan.

Ketahui 3 Proses perkembangan kognitif anak

Perkembangan kognitif juga memiliki pengaruh terhadap kecerdasan lainnya, seperti mental, emosional, dan kemampuan berbahasa.

Pada aspek kognitif, anak diharapkan mampu untuk berfikir sehingga dapat melakukan suatu sebab-akibat.

Berdasarkan teori dari Jean Piaget, untuk meningkatkan kognitif anak setidaknya ada tiga proses yang perlu dilalui si kecil, berikut penjelasannya.

1. Asimilasi

Proses asimilasi berarti tahap anak dalam memasukan atau menerima. Artinya, pada proses ini anak akan mencoba hal baru sehingga informasi baru diterima.

Sebagai contoh, anak menyentuh, merobek, meremas benda yang ditemukannya kemudian dimasukan ke mulut. Mungkin terkesan berbahaya, padahal ini adalah proses asimilasi.

2. Akomodasi

Dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak, proses yang perlu anak lalui adalah akomodasi, yaitu mengubah struktur diri.

Ketika melihat beberapa objek, belum tentu anak mempunyai struktur penglihatan (diri) yang memadai, sehingga anak tersebut harus melakukan akomodasi.

Ambil contoh, seorang anak dapat memindahkan balok terbesar mainannya hanya dengan menggeser rintangan di depannya.

Nah, kemampuan menggeser rintangan untuk memindahkan balok itulah disebut akomodasi dengan mengubah sesuatu yang ada di hadapannya.

3. Organisasi

Pada proses terakhir, anak sudah bisa menggabungkan beberapa ide sekaligus sehingga terjadi sebuah sebab-akibat.

Sebagai contoh, saat anak menggunakan balance bike, ia sudah mampu menggabungkan beberapa ide yang terlintas di benaknya.

Idenya seperti memegang stang, menatap ke depan, dan menyeimbangkan diri di sepeda. Inilah yang disebut dengan organisasi.

Sebagai orang tua, ibu dan ayah berkewajiban membekali anak dengan mengeksplorasi kemampuan anak.

Hal ini dilakukan agar si kecil tahu dan paham mengenai lingkungan sekitarnya melalui panca indra yang dimiliki.

Pemahaman tersebut bisa menjadi bekal saat anak besar nanti dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

manfaat anak bermain boneka

Apa saja perkembangan kognitif anak usia dini?

Usia dini, adalah masa-masa anak mengeksplorasi hal-hal yang ada di dekatnya.

Ayah dan ibu perlu memahami dan mengetahui kemampuan kognitif anak, apakah sudah sesuai dengan usianya atau belum?

Nah, berikut ini perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun yang perlu ayah dan ibu perhatikan.

Usia 1 tahun: eksploratif

Pada usia ini, anak berkembang pesat setiap harinya dan tidak ada satu hari terlewat tanpa eksplorasi dan pembelajaran baru.

Pada usia 1 tahun, anak sudah memiliki kemampuan untuk melakukan beberapa hal, mengutip dari Understood.

  • Mengetahui fungsi objek yang sering digunakan setiap harinya, seperti telepon, sikat gigi, dan sendok.
  • Mulai mengikuti arahan lawan bicara, seperti gerakan dadah, kiss bye, dan duduk.
  • Mulai bermain dengan boneka, seperti menyuapi makanan.
  • Dapat menunjukan di mana letak anggota tubuhnya, seperti mata, hidung, mulut, dan kuping
  • Dapat menunjukkan gambar apa yang dikatakan lawan bicara di dalam buku.
  • Mencoba melakukan suatu sebab akibat, misalnya melempar barang ke lantai.

Mengutip dari Center on the Developing Child Harvard University, dalam beberapa tahun pertama kehidupan bayi, lebih dari 1 juta koneksi saraf baru terbentuk setiap detik.

Pembentukkan saraf baru ini sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif dan otak anak usia 1 tahun.

Usia 2 tahun: imajinatif

Pada usia ini anak mulai terasah daya kreativitas dan imajinasinya. Ayah dan ibu akan melihat hal-hal baru yang belum pernah anak lakukan sebelumnya.

Di tahap ini si kecil berpikir dengan cara baru, keterampilan, mencari jalan keluar, dan anak menunjukkan kemandirian.

Mengutip dari Understood, usia 2 tahun, anak sudah mampu untuk melakukan hal-hal seru, seperti di bawah ini.

  • Melakukan permainan yang lebih kompleks, seperti menganggap kardus yang ditemuinya adalah roket luar angkasa.
  • Melakukan role play sebuah profesi, misalnya dokter atau kasir.
  • Mengingat dan menceritakan ulang kejadian yang dilaluinya.
  • Menyelesaikan 3-4 puzzle.
  • Mengelompokkan mainan berdasarkan warna, besar, dan bentuk.
  • Dapat mengerjakan dua perintah, misalnya “lepas kaos kaki dan masukan ke keranjang cucian”

Meski terkesan sederhana, hal-hal di atas sangat penting dalam tumbuh kembang anak.

Mengutip dari Harvard University, otak adalah organ yang saling berhubungan dengan bagian tubuh lain, sehingga koordinasi sangat penting.

cara mengajari anak bahasa inggris

Usia 3 tahun: mulai mandiri

Pada usia ini anak semakin berkembang begitu pula dengan kognitifnya. Ayah dan ibu akan melihat kemandirian anak untuk menyelesaikan tugas dan aktivitasnya.

Di usia 3 tahun, kemampuan anak sudah semakin meningkat, berikut uraiannya dikutip dari Understood.

  • Menghitung angka hingga 10.
  • Mulai memahami waktu seperti pagi, siang, sore, malam serta hari dalam satu pekan.
  • Mengingat dan menceritakan kembali cerita kesukaannya.
  • Mengikuti gambar yang diajarkan, misalnya lingkaran atau persegi.
  • Dapat mengerjakan tiga perintah, misalnya “cuci tangan, sikat gigi, dan ganti baju tidur”.

Perkembangan kognitif dapat dikatakan sebagai kunci dari perkembangan lain, seperti sosial emosional dan bahasa.

Oleh karenanya, penting untuk ayah dan ibu terus memantau dan meningkatkan kognitif anak sehingga kecerdasan lainnya dapat ikut berkembang.

Bagaimana meningkatkan perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun?

Sebagai guru pertama untuk anak, ayah dan ibu perlu melatih dan meningkatkan perkembangan kognitif anak.

Mengutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), berikut ini tips untuk perkembangan kognitif anak sesuai dengan usianya.

Usia 1 tahun

Pada usia satu tahun, ajarkan anak untuk mendapatkan yang dia inginkan dengan cara yang benar dan tepat.

Sebagai contoh, saat anak menarik buntut ekor kucing, ajarkan cara menggendong kucing dengan cara dipeluk.

Selain itu, orangtua bisa mengajarkan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya aktivitas mencuci tangan diajarkan dengan lagu.

Ketika anak mengikuti ajaran tersebut, berikan kata-kata positif dan ciuman sebagai hadiah dari pelajaran yang telah didapatkan.

Usia 2 tahun

Mengutip dari CDC, pada usia ini, anak berada pada fase puncak peningkatan fungsi kognitif.

Maka dari itu, orangtua perlu lebih proaktif dalam mengajak anak belajar berbicara, dan memecahkan masalah.

Ayah dan ibu bisa mulai dari membantu mengoreksi kata-kata anak, misalnya ia berkata “u sang”, katakan “adek mau pisang?”

Lewat cara ini, anak akan semakin terasah kemampuan bicaranya dan menambah kosakata baru.

Kemudian, ketika anak berebut mainan dengan temannya, ajarkan dengan sabar bagaimana untuk menyelesaikan masalah.

Ayah dan ibu bisa memberi penjelasan dengan baik dan saling bertukar mainan. Hal ini akan memberikan pelajaran berharga untuk anak di masa depan.

cara mengajarkan anak naik sepeda

Pada usia ini, ayah dan ibu perlu membantu anak untuk memecahkan masalah yang lebih kompleks.

Mengutip dari CDC, dapat dimulai dengan menanyakan adegan selanjutnya saat sedang membacakan buku cerita sehingga membantu mengasah imajinasi dan kreativitas anak.

Selain itu untuk menambah daya kreativitasnya, orangtua bisa memberikan kertas dan krayon kemudian sediakan waktu untuk menggambar bersama.

Nutrisi yang cocok untuk perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun

Agar tumbuh menjadi anak yang cerdas dan hebat, ibu dan ayah tentunya perlu memperhatikan asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh.

Pemberian makanan sehat dan bergizi perlu menjadi fokus utama dalam meningkatkan kognitif anak.

Berikut ini beberapa kandungan yang perlu diperhatikan dan bisa meningkatkan perkembangan kognitif anak.

Sphingomyelin dan DHA

Kecukupan asupan sphingomyelin dan DHA sama pentingnya untuk diberikan kepada anak. Sphingomyelin dan DHA berperan penting dalam mendukung perkembangan otak anak.

manfaat laktosa

Berdasarkan penelitian dari Schneider, Nora., et al di Brown University, bahwa asupan sphingomyelin berhubungan dengan peningkatan level dari selubung mielin.

Selubung mielin mempunyai peran dalam mematangkan kognitif anak. Artinya, semakin asupan sphingomyelin pada anak terjaga maka proses kognitif anak akan semakin baik.

Sementara itu, nutrisi DHA (docosahexaenoic acid) memiliki pengaruh penting dalam perkembangan kognitif anak, meliputi IQ, ingatan dan pembelajaran.

Kolin, nukleotida, dan vitamin D

susu s26

Kandungan kolin, nukleotida, dan vitamin D membantu mengoptimalkan perkembangan otak, daya ingat, meningkatkan imun tubuh, dan menjaga kesehatan tulang anak.

Perkembangan sel otak anak sangat penting dan perlu dijaga dengan pemberian asupan gizi, nutrisi, dan stimulasi yang terbaik dan seimbang.

Nah, sphingomyelin dan DHA dapat ditemukan di ASI, susu sapi, dan susu pertumbuhan.

Memberikan susu yang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, ayah dan ibu telah mendukung potensi si kecil untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang hebat.

S-26 Procal GOLD dengan kandungan nutrisi yang diformulasikan oleh Wyeth Nutrition Expert, mengandung DHA, Kolin, Omega 3&6, Serat Pangan, Protein serta Kalsium membantu proses belajar progresif anak.

Verifying...


Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

TAHAPAN PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA MASA EARLY CHILDHOOD. (2017). Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak, 1(2), 33-49. Retrieved from https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bunayya/article/view/2034/1506#

Bujuri, Dian Andesta. 2018. Analisis Perkembangan Kognitif Anak Usia Dasar dan Implikasinya dalam Kegiatan Belajar Mengajar. LITERASI. Volume IX, No. 1. https://www.readcube.com/articles/10.21927%2Fliterasi.2018.9%281%29.37-50 

Milestones for 1-Year-Olds | Typical Development in the Second Year | Understood – For learning and thinking differences. (2022). Retrieved 11 March 2022, from https://www.understood.org/articles/en/developmental-milestones-for-typical-1-year-olds

Developmental Milestones for 2-Year-Olds | Understood – For learning and thinking differences. (2022). Retrieved 11 March 2022, from https://www.understood.org/articles/en/developmental-milestones-for-typical-2-year-olds

Developmental Milestones for 3-Year-Olds | Understood – For learning and thinking differences. (2022). Retrieved 11 March 2022, from https://www.understood.org/articles/en/developmental-milestones-for-typical-3-year-olds

What is a Developmental Milestone?. (2022). Retrieved 11 March 2022, from https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/milestones/index.html

Schneider, N., Hauser, J., Oliveira, M., Cazaubon, E., Mottaz, S. C., O’Neill, B. V., Steiner, P., & Deoni, S. (2019). Sphingomyelin in Brain and Cognitive Development: Preliminary Data. eNeuro, 6(4), ENEURO.0421-18.2019. https://doi.org/10.1523/ENEURO.0421-18.2019 

Kuratko, C. N., Barrett, E. C., Nelson, E. B., & Salem, N., Jr (2013). The relationship of docosahexaenoic acid (DHA) with learning and behavior in healthy children: a review. Nutrients, 5(7), 2777–2810. https://doi.org/10.3390/nu5072777 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara Diperbarui Mar 30
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto