Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berpisah Dengan Ibu Sedari Kecil Bisa Memicu Perilaku Agresif Pada Anak

Berpisah Dengan Ibu Sedari Kecil Bisa Memicu Perilaku Agresif  Pada Anak

Lingkungan sangat memengaruhi perkembangan perilaku si kecil, apalagi lingkungan keluarga intinya. Ayah dan ibu adalah pedoman utama yang akan dilihat dan dipelajari oleh anak-anak. Ya, karena itulah anak-anak sebaiknya tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis dan ideal. Pasalnya, ketidakharmonisan suatu keluarga akan berdampak pada pembentukan perilaku anak.

Apalagi jika si kecil sudah berpisah dengan salah satu orangtuanya, terutama ibu. Maka, ada banyak dampak buruk yang bisa memengaruhi perilaku si kecil, salah satunya membuat anak agresif. Lantas, mengapa hal ini dapat terjadi?

Menurut penelitian, berpisah dengan ibu membuat anak agresif

Biasanya, anak berusia di bawah lima tahun (balita) cenderung dekat dengan ibu. Maka komunikasi dan ikatan yang dimiliki dengan ibunya lebih kuat. Pasalnya, hampir semua perawatan dan pengasuhan sejak anak lahir dilakukan oleh ibu. Bahkan beberapa penelitian menyatakan bahwa ikatan kuat antara anak dengan ibu sudah terbentuk ketika anak masih di dalam kandungan.

Maka dari itu, perpisahan antara anak dengan ibu akan membentuk perilaku yang negatif pada anak. Apalagi, jika si kecil sudah berpisah dengan ibunya sejak ia berusia di bawah 5 tahun karena alasan apa pun (misalnya perceraian). Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Attachment and Human Development menyatakan bahwa perpisahan dengan ibu akan membuat anak agresif, apalagi jika terjadi ketika si anak masih berusia 5 tahun atau balita.

Hal ini tentu saja dikaitkan dengan peran ibu yang sangat penting ketika itu. Maka, saat si kecil berpisah dengan ibunya, ia akan mengalami trauma psikologis karena kehilangan figur ibu yang dibutuhkan. Anak akan mudah marah, tidak dapat mengendalikan emosinya, dan lebih agresif.

Semua perilaku dan sifat anak agresif terjadi karena anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang, pengasuhan, dan perhatian yang seharusnya ia dapatkan dari ibu. Meskipun memang mungkin perhatian dari keluarga yang lain, misalnya ayah atau saudara-saudaranya tetap dicurahkan untuk si kecil, tetapi tetap saja sosok seorang ibu hilang dari sisinya.

mengurangi stres pada anak remaja

Tak hanya ibu, lingkungan juga menentukan perilaku anak

Sudah ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, cenderung memiliki gangguan perilaku. Anak akan lebih sangat pendiam atau bahkan sebaliknya, sangat memberontak ketika beranjak dewasa nanti.

Kondisi ini disebabkan karena sedari kecil, anak sudah dihadapkan dengan permasalahan keluarga, apalagi bila hal ini menyangkut kedua orangtua yang seharusnya menjadi pedoman baginya. Jadi, ketika ada masalah yang cukup serius di keluarga tentu akan membuat perkembangan mental anak terganggu.

Mungkin, ketika anak masih kecil, dampak kejadian ini belum terlalu dirasakan. Namun, ketika ia sudah tumbuh dan beranjak dewasa maka sifat agresif yang dimiliki akan membuatnya kesulitan dalam bergaul dan mencari teman. Maka dari itu, sebaiknya ketahui penyebab pasti mengapa anak agresif dan kemudian atasi penyebabnya.

Pada akhirnya, bukan hanya sosok ibu yang akan menentukan perilaku anak. Bahkan anak-anak yang dibesarkan dengan ibunya pun bisa saja punya perilaku agresif apabila lingkungan tempat anak tumbuh kurang kondusif. Maka, yang seharusnya menjadi prioritas dalam pengasuhan anak adalah lingkungan yang penuh kasih sayang dan perhatian.

Bila anak menunjukkan perilaku yang negatif atau bahkan agresif, jangan langsung dimarahi, dibentak, atau dihukum. Justru yang perlu dilakukan adalah membimbing anak dengan penuh kelembutan, beri pemahaman bahwa perilakunya tidak baik, kemudian latih anak untuk meluapkan emosinya dengan cara yang lebih sehat.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Psychology Today. (2017). Mother, Damned-est. [online] Available at: https://www.psychologytoday.com/articles/201001/mother-damned-es0 t [Accessed 17 Dec. 2017].

Fomby, P., & Cherlin, A. J. (2007). Family Instability and Child Well-Being. American Sociological Review, 72(2), 181–204.

Howard, K., Martin, A., Berlin, L. J., & Brooks-Gunn, J. (2011). Early Mother-Child Separation, Parenting, and Child Well-Being in Early Head Start Families. Attachment & Human Development, 13(1), 5–26. http://doi.org/10.1080/14616734.2010.488119

 


Foto Penulis
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M Diperbarui 19/12/2017
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x