Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Berbagai Efek yang Timbul Jika Otak Terkena Narkoba

    Berbagai Efek yang Timbul Jika Otak Terkena Narkoba

    Anda tentu sudah banyak mendengar tentang bahaya yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba. Dari sekian banyak efek yang muncul, otak yang terkena narkoba, psikotropika, maupun zat adiktif lainnya tentu dapat memberikan pengaruh negatif terhadap seluruh fungsi tubuh Anda.

    Seperti apa kondisi otak yang terkena narkoba dan efek yang didapatkan? Simak jawabannya dalam uraian berikut.

    Bagaimana narkoba bisa membuat ketagihan?

    penyebab kecanduan, otak terkena narkoba

    Otak manusia merupakan organ tubuh yang paling kompleks. Seluruh aktivitas tubuh seperti berkendara, makan, bernapas, dan bekerja tidak lepas dari otak. Dengan kata lain, otak merupakan pusat kehidupan manusia.

    Otak mengatur fungsi dasar tubuh, membuat Anda mampu berpikir dan memahami banyak hal, serta membentuk perilaku Anda.

    Namun, bila sudah terkena narkoba, fungsi otak tak akan lagi berjalan sebagaimana fungsinya. Ketika seseorang mencoba mengonsumsi narkoba, otak akan membaca tanggapan tubuh.

    Jika merasa nyaman, otak mengeluarkan neurotransmiter (zat kimia otak) yang disebut dopamin untuk memberikan kesan menyenangkan.

    Otak merekam mekanisme ini sebagai sesuatu yang dicari sebagai prioritas karena dianggap menyenangkan.

    Akibatnya, otak mengirim sinyal yang salah, seolah-olah tubuh memerlukannya sebagai kebutuhan pokok dan terjadi kecanduan atau ketergantungan.

    Dalam keadaan sakau, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Untuk mendapatkan narkoba, dia akan melakukan segala cara seperti mencuri atau bahkan membunuh.

    Pada kasus ketergantungan, seseorang harus senantiasa memakai narkoba. Jika tidak, akan timbul gejala putus obat atau disebut juga sakau begitu pemakaian narkoba dihentikan atau jumlahnya dikurangi.

    Gejalanya bergantung pada jenis narkoba yang digunakan. Sebagai contoh, gejala sakau heroin mirip dengan sakit flu berat, meliputi:

    • hidung berair,
    • keluar air mata,
    • bulu badan berdiri,
    • nyeri otot,
    • mual,
    • muntah,
    • diare, dan
    • sulit tidur.

    Narkoba juga mengganggu fungsi organ-organ tubuh lainnya, seperti jantung, paru-paru, hati dan sistem reproduksi, sehingga dapat timbul berbagai penyakit.

    Kenali berbagai efek akibat otak yang terkena narkoba

    cara mengatasi kecanduan narkoba

    Narkoba memengaruhi otak dengan berbagai cara. Berikut merupakan dampak-dampak yang ditimbulkan dari penggunaan obat-obatan terlarang.

    1. Memanipulasi perasaan, suasana hati, dan perilaku

    Salah satu efek narkoba ialah berubahnya cara saraf otak dalam memunculkan perasaan dan suasana hati. Bagian otak yang terdampak dalam hal ini yaitu ganglia basal.

    Bagian ini berperan penting dalam menimbulkan perasaan positif, termasuk efek dari aktivitas yang menyenangkan seperti makan, bersosialisasi, dan hubungan seksual.

    Penggunaan obat terlarang akan mengaktifkan fungsi otak ini secara berlebihan, sehingga menghasilkan euforia obat yang tinggi.

    Namun, semakin sering seseorang terpapar dengan zat psikotropika, sirkuit otak yang satu ini akan beradaptasi dengan obat.

    Lama-kelamaan, kepekaannya berkurang dan membuat seseorang sulit untuk merasakan kesenangan selain dari obat.

    Di sisi lain, amigdala yang berperan dalam perasaan stres seperti cemas, marah, dan gelisah malah menjadi semakin sensitif seiring meningkatnya penggunaan narkoba.

    Seseorang yang memiliki ketergantungan akan berusaha menghilangkan ketidaknyamanan ini dengan terus mengonsumsi narkoba.

    2. Memacu kerja otak berlebihan

    senang melihat orang lain susah

    Narkoba merupakan zat stimulan yang berarti dapat memacu kerja otak. Zat stimulan dapat menimbulkan semangat, meningkatkan kepercayaan diri, dan membuat Anda mudah mengakrabkan diri dengan orang lain.

    Namun, stimulan juga menyebabkan kesulitan tidur, gelisah, jantung berdebar, dan peningkatan tekanan darah.

    Jenis narkoba yang dapat menimbulkan efek ini antara lain amfetamin, ekstasi, saabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau.

    3. Memicu halusinasi

    Ada pula narkoba yang menyebabkan khayal atau yang juga sering disebut halusinogen.

    Halusinogen merupakan kelompok obat yang dapat mengubah kesadaran seseorang tentang lingkungan serta pikiran dan perasaannya. Akibatnya, Anda bisa mengalami halusinasi atau delusi.

    Halusinogen terbagi menjadi dua kategori, yaitu halusinogen klasik seperti LSD dan obat disosiatif seperti PCP.

    Obat halusinogen klasik membuat penggunanya merasa melihat gambar, mendengar suara, serta merasakan sensasi yang tampak nyata tetapi sebenarnya tidak ada.

    Sementara itu obat disosiatif dapat membuat penggunanya merasa di luar kendali atau terputus dari tubuh dan lingkungannya.

    Penggunaan jangka panjang akan memberikan efek berupa hilang ingatan, panik dan cemas, kejang-kejang, amnesia, ketidakmampuan bergerak, dan perubahan suasana hati yang drastis (mood swing).

    Pengaruh narkoba terhadap sistem saraf

    Penyalahgunaan narkoba juga menimbulkan sejumlah efek pada kerja sistem saraf. Berikut di antaranya.

    • Gangguan saraf sensorik: menyebabkan rasa kebas dan penglihatan buram hingga bisa menyebabkan kebutaan.
    • Gangguan saraf otonom: menyebabkan gerakan yang tidak dikehendaki melalui gerak motorik sehingga orang-orang di bawah pengaruh narkoba bisa melakukan apa saja di luar kesadarannya. Merka mungkin mengganggu orang, berkelahi, dan sebagainya.
    • Gangguan saraf motorik: membuat seseorang sulit mengendalikan gerakan tubuhnya. Contohnya, pengguna yang sedang “tinggi” tidak bisa menghentikan kepalanya yang bergoyang-goyang. Gerakan itu baru berhenti jika pengaruh narkobanya hilang.
    • Gangguan saraf vegetatif: terkait dengan bahasa yang keluar di luar kesadaran. Tak hanya itu, penggunanya juga mengalami rasa takut dan kurang percaya diri jika tidak menggunakannya.

    Pengguna narkoba sangat berisiko mengalami overdosis

    Perasaan nikmat, nyaman, tenang, atau gembira yang dicari oleh pemakai narkoba harus dibayar mahal dengan dampak buruknya.

    Tak hanya harus bergulat dengan ketergantungan, pemakai narkoba akan mengalami kerusakan pada berbagai organ tubuhnya atau terkena bermacam-macam penyakit.

    Dampaknya juga bisa sampai merusak hubungan dengan keluarga dan teman, kehidupan moral, kegiatan akademis dan pekerjaan, serta hancurnya masa depan.

    Mengonsumsi narkoba secara terus-menerus membuat toleransi tubuh meningkat sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya.

    Alhasil, mereka cenderung terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi dan berujung overdosis.

    Jadi, jangan pernah mulai mencoba konsumsi narkoba, apalagi atas dasar penasaran. Bagi Anda atau orang terdekat telah menjadi pengguna, segera dapatkan pertolongan agar bisa segera berhenti dari pemakaian narkoba.

    health-tool-icon

    Kalkulator BMI (IMT)

    Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

    Laki-laki

    Wanita

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Drugs, Brain, and Behavior: The Science of Addiction: Drugs and The Brain. National Institute on Drug Abuse. (2020). Retrieved June 16, 2022, from https://nida.nih.gov/publications/drugs-brains-behavior-science-addiction/drugs-brain

    How Drugs Affect the Brain and Central Nervous System. American Addiction Centers. (2022). Retrieved June 16, 2022, from https://americanaddictioncenters.org/health-complications-addiction/central-nervous-system

    Hallucinogens Drugfacts. National Institute on Drug Abuse. (2021). Retrieved June 16, 2022, from https://nida.nih.gov/publications/drugfacts/hallucinogens

     

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Jul 14
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
    Next article: