Euforia, Luapan Rasa Gembira yang Bisa Berdampak Positif dan Negatif

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Mendapatkan nilai sempurna dalam ujian, mendapat bonus tambahan dari atasan, atau memenangkan undian liburan pasti membuat Anda senang bukan kepalang. Perasaan gembira yang Anda rasakan ini adalah euforia (euphoria). Meski dapat muncul secara alami, beberapa orang juga bisa mengalami kegembiraan ini lewat cara yang tidak sehat. Kok bisa? Yuk, kenali lebih dalam hal ini pada ulasan berikut.

Apa itu euforia (euphoria)?

Menurut National Institute of Drug Abuse, euforia atau europhia artinya adalah perasaan gembira yang muncul karena peristiwa membahagiakan atau aktivitas tertentu yang memicu perasaan bahagia.

Euphoria yang sehat biasanya terjadi secara alami. Kondisi ini sangat mungkin Anda rasakan ketika Anda mendapatkan perhatian dari orang yang disukai, mencapai puncak gunung ketika mendaki, atau bisa juga karena meluncur dari perosotan di wahana permainan air.

Rasa gembira yang muncul secara alami ini ternyata memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, di antaranya:

Meski begitu, tidak semua euphoria itu mengarah pada hal yang baik. Pasalnya, rasa gembira juga bisa muncul akibat penyalahgunaan obat-obatan atau masalah kesehatan tertentu.

Apa yang dapat menyebabkan euforia?

Penyebab alami dari euforia (euphoria) adalah berbagai hal yang menimbulkan perasaan bahagia. Penyebab lainnya antara lain faktor kesengajaan dalam menggunakan obat-obatan tertentu atau kelainan fisik pada otak.

Penggunaan obat-obatan tersebut di antaranya adalah kokain (obat adiktif yang terbuat dari tanaman koka), obat Gamma-hydroxybutyrate (GHB) untuk narkolepsi, opium, atau ganja.

Obat-obatan ini memanipulasi otak dengan menganggap bahwa penggunaan obat yang memicu perasaan gembira memberikan manfaat bagi tubuh. Ini karena obat tersebut menyebabkan lonjakan dopamin, yakni zat kimiawi otak yang memicu euforia.

Otak akan menyesuaikan diri dosis obat dan dosisnya akan terus bertambah, setelah berulang kali dikonsumsi. Kondisi ini akan membuat pengguna obat merasa ketagihan dan terus-menerus menambah dosis. Inilah yang Anda kenal dengan istilah kecanduan obat.

Otak tertipu oleh efek euforia dari obat dan  ini adalah cara yang tidak sehat dan sebaiknya dihindari karena bisa menimbulkan efek samping lain yang merugikan tubuh.

Sementara itu, kelainan fisik pada otak diyakni menjadi salah satu penyebab dari bipolar disorder dan skizofrenia. Nah, orang yang mengidap gangguan mental ini umumnya akan merasakan euphoria sebagai salah satu gejalanya.

Bipolar disorder sendiri adalah penyakit mental yang menyebabkan perubahan suasana hati ekstrem, mulai dari mania, hipomania, dan depresi. Sementara skizofrenia merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan.

Tanda-tanda euforia yang baik dan buruk pada tubuh

efek narkoba pada otak

Euphoria yang baik dan menyehatkan bisa ditandai dengan perasaan senang dan ditunjukkan dengan bahasa tubuh, seperti Anda tersenyum lebar, tertawa, berteriak bahagia, bahkan bisa juga menangis saking bahagianya. Anda mungkin juga melakukan gerakan tubuh mengulang (repetisi), seperti bertepuk tangan atau melompat-lompat kegirangan.

Sementara itu, pada orang yang mengalami euforia karena kecanduan obat, tanda-tanda yang dimunculkan adalah perasaan senang yang digambarkan seperti terbang melayang. Kondisi ini biasanya diikuti oleh gejala tekanan darah dan detak jantung meningkat, mata merah, mulut kering, dan koordinasi tubuh menurun.

Pada orang yang mengalami bipolar disorder, biasanya perasaan senang terjadi saat episode mania. Episode ini menyebabkan penderitanya menjadi sangat bersemangat dan berenergi, kadang melakukan tindakan impulsif yang tidak rasional.

Pada penderita skizofrenia, mengalami euphoria diikuti dengan gejala halusinasi atau delusi. Penderitanya akan mendengar dan melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada atau punya keyakinan tidak biasa yang tidak nyata.

Jika berdampak buruk, bagaimana cara mengatasinya?

Perasaan senang yang alami tentu tidak perlu Anda khawatirkan karena ini menyehatkan tubuh. Sebaliknya, yang perlu Anda waspadai adalah euforia yang muncul karena kecanduan atau penyakit mental. Pasalnya, jika dibiarkan overdosis atau kondisi yang membahayakan jiwa dapat terjadi kapan saja.

Orang yang kecanduan umumnya akan direkomendasikan dokter untuk menjalani rehabilitasi dan terapi. Namun, jika sudah menimbulkantanda overdosis obat, penderitanya akan mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Begitu juga dengan penderita bipolar disorder dan skizofrenia.

Mereka akan direkomendasikan untuk mengikuti psikoterapi, lebih tepatnya terapi perilaku kognitif.  Pada pasien bipolar disorder dan skizofrenia yang pernah melakukan tindakan membahayakan jiwa, biasanya mereka perlu menjalani perawatan intensif di rumah sakit hingga kondisinya membaik.

Pada pasien bipolar disorder umumnya juga akan diresepkan obat-obatan untuk menekan gejalanya, seperti:

Obat antipsikotik, seperti aripiprazole (Abilify), chlorpromazine, dan risperidone (Risperdal Consta, Perseris) adalah jenis obat satu-satunya yang diresepkan sebagai pengobatan skizofrenia.

Obat-obatan euforia yang disebutkan di atas, dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena penggunaanya harus sesuai dengan anjuran dokter, baik dosis maupun waktu minum. Jika Anda mengalami efek samping yang mengganggu, konsultasikan lebih lanjut pada dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah kondisi serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Kenapa Ada yang Butuh Tidur Lebih Lama Daripada Orang Lain?

Beberapa orang perlu tidur lebih lama agar tubuh bisa berfungsi normal di siang hari. Cari tahu berbagai penyebabnya karena mungkin Anda salah satunya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Pola Tidur Sehat, Tips Tidur 14 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 13 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

self esteem adalah

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
gangguan bipolar adalah

Gangguan Bipolar

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
perfeksionis

Menjadi Seorang Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit