Benarkah Teknik Memasak Bisa Menurunkan Kualitas Protein Pada Makanan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Teknik memasak sangat erat kaitannya dengan kandungan zat gizi dalam makanan. Walaupun Anda sudah memilih sumber bahan makanan yang mempunyai nilai gizi tinggi, proses memasak bisa saja membuat zat gizinya berkurang, bahkan hilang. Misalnya saja, saat Anda memasak ayam, daging sapi, atau lauk-pauk lainnya yang diandalkan sebagai sumber protein utama, akibat tidak mengetahui teknik memasak yang benar, Anda malah kehilangan semua protein tersebut. L

alu bagaimana proses pemasakan dapat memengaruhi jumlah protein? Teknik memasak seperti apa yang baik agar protein di dalam makanan tidak berkurang?

Benarkah teknik memasak dapat membuat protein hilang?

Pada dasarnya, protein adalah zat gizi yang cukup stabil jika terkena panas. Tidak seperti vitamin atau mineral yang bisa langsung hilang bila dimasak, protein tidak akan berkurang terlalu banyak. Ya, meskipun berkurang jumlahnya di dalam makanan, hal tersebut tidak akan membuat nilai gizinya hilang.

Pernah disebutkan jika teknik memasak dengan merebus, akan menyebabkan penurunan jumlah protein yang lebih banyak ketimbang dengan pemanggangan atau pengukusan. Namun sekarang ini telah terbukti bila teknik memasak tidak mengakibatkan makanan kehilangan protein dalam jumlah yang banyak. Justru suhu dari proses pemasakan yang memengaruhi struktur serta jumlah protein.

Suhu tinggi yang menyebabkan protein berkurang, bukan teknik memasak

Studi yang dilakukan oleh University of Arkansas menemukan bahwa berkurangnya jumlah protein di dalam makanan cenderung dipengaruhi oleh suhu, bukan teknik memasak. Dalam studi tersebut disebutkan jika memasak dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius saja dapat menurunkan jumlah protein sebenar 9,7% pada daging ayam.

Ketika Anda memasak hingga mencapai suhu 70-80 derajat Celcius, maka protein yang ada di dalam makanan mengalami perubahan bentuk. Meskipun perubahan yang terjadi tidak terlalu banyak, kondisi ini dapat menyebabkan makanan sumber protein tersebut mengalami penyusutan dan kehilangan kelembabannya.

Jenis makanan juga pengaruhi jumlah protein

Bukan hanya teknik memasak dan suhu tinggi ketika proses pemasakan, jenis sumber makanan juga menjadi faktor penting dalam hal ini. Misalnya, bagian jeroan ayam akan lebih banyak kehilangan protein saat dimasak ketimbang daging ayam bagian dada. Susu dan produk susu juga rentan terhadap proses pemasakan, sehingga bisa saja protein dalam susu mudah hilang jika terkena panas.

Tidak masalah dengan teknik memasak yang dilakukan, Anda tidak akan pernah kehilangan protein

Meski ada jumlah protein yang berkurang, tetap saja Anda harus memasak sumber makanan protein tersebut, sebab tak hanya menghilangkan bakteri tapi juga bisa meningkatkan cita rasa dan tampilan makanan. Apapun itu jenisnya, semua teknik memasak malah dapat membuat makanan mengeluarkan rasa sedap yang alami dan meningkatkan penampilan makanan.

Ketika memasak, makanan yang mengandung protein tersebut akan mengalami proses maillard. Proses maillard adalah reaksi kimia yang terjadi saat protein dipanaskan dan menyebabkan perubahan warna serta menimbulkan rasa. Jika Anda lihat daging ayam yang sebelumnya berwarna putih atau daging sapi yang merah berubah menjadi cokelat, maka proses itu adalah proses maillard. Sehingga, jangan cemas Anda akan kehilangan protein bila memasak daging atau sumber protein lainnya.

Segala teknik memasak juga bisa Anda terapkan pada saat memasaknya, namun hati-hati dengan teknik menggoreng karena dapat meningkatkan jumlah lemak di dalam makanan.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Makan Sayuran Agar Mudah Dicerna oleh Tubuh

Tahukah Anda jika cara makan sayuran dan penyajiannya tidak tepat, membuat sayur jadi sulit dicerna tubuh. Simak tips berikut untuk mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Pencernaan, Konstipasi 8 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

4 Alternatif Sehat Pengganti Kopi di Pagi Hari

Tahukah Anda bahwa minum kopi sebaiknya tidak dilakukan di pagi hari? Lalu apa yang bisa jadi alternatifnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Tips Makan Sehat, Nutrisi 5 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi 1 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Langsung BAB Setelah Makan, Apakah Normal?

Banyak orang butuh waktu untuk mencerna makanan, namun ada juga yang langsung merasa ingin BAB setelah makan. Apakah ini normal? Benarkah bisa bikin kurus?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi 1 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pilihan beras untuk menurunkan berat badan

Beras Merah vs Beras Shirataki, Mana yang Efektif untuk Diet?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
olahraga untuk mantan penderita sembuh dari pasien kanker survivor

Panduan Olahraga untuk Mantan Penderita Kanker

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
makan telur mentah

Makan Telur Mentah, Sehat atau Malah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
makanan untuk penderita maag makanan untuk penderita asam lambung

11 Makanan dan Minuman Terbaik untuk Penderita Sakit Maag

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit