home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Amankah Menggunakan Aluminium Foil untuk Makanan?

Amankah Menggunakan Aluminium Foil untuk Makanan?

Lembaran aluminium foil kerap digunakan untuk memanggang karena dapat meratakan panas sehingga makanan lebih cepat matang. Sebagai pembungkus makanan, aluminium foil juga bisa mencegah hilangnya panas dan kelembapan makanan.

Namun, mengingat bahan bakunya adalah logam, apakah aluminium foil aman untuk makanan?

Makanan sebenarnya mengandung aluminium alami

asam folat untuk promil

Aluminium foil adalah lembaran tipis dari logam aluminium dengan tebal kurang dari 0,2 milimeter.

Logam aluminium dapat ditemukan di udara, air, dan makanan yang Anda konsumsi sehari-hari. Bahkan, sebagian besar makanan termasuk buah, sayur, ikan, daging, dan susu mengandung aluminium alami dalam bentuk mineral.

Setiap jenis makanan mungkin mengandung aluminium dalam jumlah bervariasi. Ini tergantung dari kemampuan makanan dalam menyerap aluminium, tanah tempat tumbuh bahan makanan, pengemasan makanan, serta bahan tambahan pangan saat pemrosesan.

Tidak menjadi masalah jika Anda mendapatkan aluminium dari makanan karena tubuh hanya menyerap mineral ini dalam jumlah kecil. Setelah proses pencernaan selesai, tubuh akan membuang sisa aluminium dari makanan melalui feses.

Kebanyakan orang berbadan sehat juga mampu membuang aluminium dari tubuhnya melalui urine. Jadi, aluminium yang Anda dapatkan dari makanan umumnya aman dan tidak akan menimbulkan masalah kesehatan.

Aluminium foil bisa meningkatkan kadar aluminium makanan

Sebagian besar aluminium yang memasuki tubuh Anda berasal dari makanan. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa penggunaan aluminium foil untuk memasak dapat membuat aluminium yang jadi pengemas masuk ke dalam makanan.

Masuknya aluminium ke dalam makanan menyebabkan peningkatan kadar aluminium pada makanan tersebut. Dilansir dari jurnal Critical Reviews in Toxicology, para peneliti mengungkapkan tiga faktor yang bisa memengaruhi kadarnya sebagai berikut.

  • Suhu memasak. Teknik memasak dengan suhu tinggi akan mempermudah masuknya aluminium ke dalam makanan.
  • Tingkat keasaman makanan. Semakin asam makanan yang Anda olah, semakin besar pula kemungkinan aluminium untuk menyerap ke dalamnya.
  • Penambahan bahan tertentu. Garam dan rempah-rempah dapat mempermudah masuknya aluminium ke dalam makanan.

Penggunaan aluminium foil untuk memasak mungkin dapat menimbulkan efek jangka panjang. Akan tetapi, hingga kini belum ada bukti kuat bahwa penggunaan aluminium foil dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu.

Bagaimana jika aluminium terlalu banyak dalam tubuh?

Paparan logam dari aluminium foil yang Anda gunakan untuk hasil masakan memang sangat kecil, tapi mineral ini bisa menumpuk jika Anda terpapar selama bertahun-tahun. Pada beberapa kasus, hal ini mungkin bisa berdampak negatif bagi kesehatan.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa penderita penyakit Alzheimer memiliki kadar aluminium yang tinggi pada otaknya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar aluminium tinggi dalam tubuh berkaitan dengan penurunan pertumbuhan sel otak.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS turut melaporkan hal serupa. Kadar aluminium yang tinggi dalam tubuh memiliki kaitan dengan risiko gangguan otak, masalah saraf, penyakit tulang, dan anemia.

Meski demikian, para ahli belum sepenuhnya bisa mengungkap peran aluminium dalam perkembangan penyakit Alzheimer. Hingga muncul hasil penelitian terbaru, Anda dapat menghindari dampak aluminium dengan membatasi penggunaan aluminium foil.

Jadi, aman atau tidak menggunakan aluminium foil untuk makanan?

Sumber: DrAxe

Semakin sering menggunakan aluminium foil saat mengolah makanan, semakin banyak pula kandungan aluminium dalam makanan yang memasuki tubuh. Beberapa ahli meyakini bahwa hal ini bisa berdampak buruk, tapi tidak sedikit pula yang menyanggahnya.

Menurut Ghada Bassioni, seorang profesor di Ain Shams University, Mesir, cara aluminium bisa membahayakan kesehatan tergantung banyak faktor yakni kesehatan Anda dan seberapa mampu tubuh menangani penumpukan aluminium.

World Health Organization (WHO) sepakat bahwa kadar aluminium dalam tubuh kurang dari 2 mg per 1 kg berat badan per minggu tidak berbahaya bagi kesehatan. Namun, kebanyakan orang mencerna aluminium lebih dari jumlah tersebut di dalam tubuhnya.

Anda pun bisa menggunakan aluminium foil untuk makanan dengan lebih aman melalui beberapa tips di bawah ini.

  • Gunakan api sedang atau kecil ketika memasak menggunakan aluminium foil.
  • Gunakan alat masak dan alat makan yang tidak mengandung aluminium, misalnya beling atau porselen.
  • Hanya gunakan aluminium foil untuk bahan makanan atau masakan yang betul-betul membutuhkannya.
  • Tidak menggunakan aluminium foil saat mengolah makanan asam.

Dengan segala temuan yang ada, bisa disimpulkan bahwa penggunaan aluminium foil untuk makanan dianggap aman. Meskipun kadar aluminium pada makanan meningkat, tubuh Anda mampu mengeluarkan sebagian besar aluminium melalui feses dan urine.

Akan tetapi, jika Anda mencemaskan dampak pemakaian aluminium foil terhadap kesehatan Anda dan keluarga, Anda boleh saja membatasi penggunaannya. Anda pun bisa mengganti aluminium foil dengan bahan yang lebih aman, seperti kertas khusus makanan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives. (2011). Retrieved 20 April 2021, from http://www.fao.org/3/at873e/at873e.pdf

Willhite, C. C., Karyakina, N. A., Yokel, R. A., Yenugadhati, N., Wisniewski, T. M., Arnold, I. M., Momoli, F., & Krewski, D. (2014). Systematic review of potential health risks posed by pharmaceutical, occupational and consumer exposures to metallic and nanoscale aluminum, aluminum oxides, aluminum hydroxide and its soluble salts. Critical reviews in toxicology, 44 Suppl 4(Suppl 4), 1–80. https://doi.org/10.3109/10408444.2014.934439

Bassioni, G., Mohammed, F. S., Al Zubaidy, E., and Kobrsi, I. (2012). Risk Assessment of Using Aluminum Foil in Food Preparation. International Journal of Electrochemical Science, 7, 4498–4509.

Soni, M. G., White, S. M., Flamm, W. G., & Burdock, G. A. (2001). Safety evaluation of dietary aluminum. Regulatory toxicology and pharmacology : RTP, 33(1), 66–79. https://doi.org/10.1006/rtph.2000.1441

Kumar, A., Singh, A., & Ekavali (2015). A review on Alzheimer’s disease pathophysiology and its management: an update. Pharmacological reports : PR, 67(2), 195–203. https://doi.org/10.1016/j.pharep.2014.09.004

Dordevic, D., Buchtova, H., Jancikova, S., Macharackova, B., Jarosova, M., Vitez, T., & Kushkevych, I. (2019). Aluminum contamination of food during culinary preparation: Case study with aluminum foil and consumers’ preferences. Food science & nutrition, 7(10), 3349–3360. https://doi.org/10.1002/fsn3.1204 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Arinda Veratamala
Tanggal diperbarui 7 hari lalu
x