backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Susu Unta Ternyata Kaya Gizi, Apa Saja Manfaatnya?

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 08/02/2023

Susu Unta Ternyata Kaya Gizi, Apa Saja Manfaatnya?

Produk susu di Indonesia umumnya berasal dari sapi atau kambing. Meski jarang dijumpai, ada juga produk susu unta. Produk ini biasanya diimpor langsung dari negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi. Lantas, adakah manfaatnya?

Kandungan susu unta

Manfaat susu unta berasal dari kandungannya. Untuk itu, Anda perlu mengetahui kandungan gizi di dalamnya. Berikut zat gizi susu unta sebanyak 100 gram.

  • Protein: 2,5 gram (g).
  • Karbohidrat: 4,8 g.
  • Vitamin A: 83,4 IU.
  • Vitamin C: 3 miligram (mg).
  • Vitamin D: 10 IU.
  • Vitamin K: 0,4 mikrogram (mcg).
  • Vitamin B12: 0,2 mcg.
  • Vitamin B3: 0,7 mg.
  • Lemak: 2,5 g.
  • Kalsium: 159 mg.
  • Zat besi: 0,1 mg.
  • Magnesium: 6,7 mg.
  • Fosfor: 62,5 mg.
  • Kalium: 193 mg.
  • Natrium: 62,5 mg.
  • Zink: 0,3 mg.
  • Selenium: 0,7 mcg.
  • Manfaat susu unta

    Berikut manfaat susu unta yang bisa Anda dapatkan.

    1. Menjaga kekuatan tulang

    Sama dengan susu sapi, susu unta mengandung vitamin D dan berbagai mineral yang diperlukan tubuh, seperti kalsium, zink, dan fosfor.

    Tanpa vitamin D, tubuh tidak bisa menyerap ketiga mineral ini. Selain itu, mengonsumsi ketiga mineral ini akan memberikan nutrisi bagi tulang agar tetap kuat dan padat.

    Sebanyak 99% kalsium dan 85% fosfor ditemukan pada tulang dan gigi.

    Asupan vitamin D dan ketiga mineral ini mencegah tulang keropos dan patah. Nantinya, risiko osteoporosis pun berkurang.

    2. Mengendalikan gula darah

    Manfaat susu unta baik untuk pasien diabetes 1 dan 2. Susu ini mengandung protein yang mirip dengan susunan hormon insulin. Insulin berperan penting untuk menurunkan gula darah.

    Penelitian awal terbitan International Journal of Endocrinology and Metabolism (2015) menemukan bahwa pasien diabetes tipe 2 yang mengonsumsi dua cangkir susu selama 2 bulan memiliki sensitivitas insulin yang lebih tinggi daripada minum susu sapi.

    Sensitivitas insulin yang baik membuat sel-sel tubuh bisa menggunakan insulin untuk memproses gula darah menjadi energi. 

    3. Cocok untuk alergi susu sapi dan intoleransi laktosa

    susu unta untuk intoleransi laktosa

    Orang dengan intoleransi laktosa kekurangan atau tidak memiliki enzim laktase sama sekali. Akibatnya, tubuh tidak bisa mencerna laktosa dan menyebabkan perut kembung dan diare.

    Nah, susu unta memiliki kadar laktosa yang lebih rendah daripada susu sapi. Jadi, lebih ramah untuk pengidap intoleransi.

    Penelitian yang dilakukan dalam jurnal Revista Alergia Mexico (2011) mengamati 25 orang yang memiliki intoleransi laktosa yang minum susu unta sebanyak satu gelas. 

    Hanya dua orang yang mengalami reaksi ringan, selebihnya tidak merasa gejala apa pun.

    Selain itu, susu ini mengandung kasein yang lebih rendah daripada susu sapi. Kasein diketahui menjadi pemicu alergi susu sapi.

    4. Memperkuat kekebalan tubuh

    Manfaat susu unta baik untuk memperkuat imunitas. Jenis susu hewani ini mengandung protein yang diperlukan untuk sel-sel kekebalan tubuh, seperti:

    • lysozyme
    • lactoferrin
    • lactoperoxidase
    • immunoglobulin G, dan 
    • immunoglobulin A.

    Protein ini membantu melindungi tubuh dari infeksi bakteri, jamur, dan virus. 

    Mengutip tinjauan terbitan International Journal of Health Sciences (2017), lactoferrin dan immunoglobulin bisa menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri dan jamur, seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Clostridium, Helicobacter pylori, Staphylococcus aureus, dan Candida albicans.

    Perlu Anda ketahui

    Susu unta cair biasanya belum dipasteurisasi. Artinya, susu belum dipanaskan sehingga kemungkinan terkontaminasi bakteri. Agar lebih aman, pilih yang sudah dipasteurisasi atau yang berbentuk bubuk.

    6. Mencegah diare

    Telah diketahui sebelumnya bahwa manfaat susu unta bisa melindungi tubuh dari paparan kuman berbahaya. Nah, susu ini bisa mencegah infeksi virus penyebab diare, yaitu rotavirus.

    Diare membuat tubuh Anda kehilangan cairan sekaligus elektrolit, seperti kalsium, fosfor, natrium, dan kalium. Nah, ini bisa menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.

    Susu ini pun mengandung zinc yang diperlukan tubuh saat diare. Zinc berguna untuk mengurangi keparahan diare, lamanya waktu diare, dan jumlah feses yang keluar.

    Tidak heran bila susu ini sudah dikenal sejak lama untuk mengatasi dan mencegah diare.

    7. Menjaga kesehatan jantung

    susu ensure

    Dibandingkan dengan susu sapi, susu unta lebih rendah lemak jenuh.

    Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh diketahui meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini disebabkan tubuh mengubah lemak jenuh menjadi kolesterol.

    Kolesterol lama-kelamaan akan menumpuk dan membentuk plak. Plak akan menyumbat pembuluh darah dan mengganggu aliran darah.

    Plak yang menumpuk bisa pecah dan menyebabkan penggumpalan darah. Kondisi ini bisa membuat Anda mengalami:

    • serangan jantung,
    • jantung koroner,
    • gagal jantung, dan
    • stroke.

    8. Mengendalikan gejala autisme

    Minum susu unta sedang diteliti efeknya pada anak-anak dengan autisme.

    Sebuah tinjauan terbitan Electronic Physician (2015) menemukan bahwa minum susu ini bisa mengurangi gejala-gejala autisme, seperti anak menjadi lebih tenang dan tidak membahayakan dirinya sendiri. 

    Beberapa orang tua yang menyadari anak bisa tidur lebih nyenyak, bergerak lebih terkendali, kontak mata dengan baik, dan berkomunikasi lebih jelas. 

    Namun, hasil penelitian ini belum bisa digunakan sebagai panduan untuk terapi autisme yang telah disepakati para ahli.

    Susu unta kaya akan zat gizi yang diperlukan untuk tubuh. Pastikan Anda memilih produk yang dipasteurisasi untuk mencegah keracunan makanan.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Patricia Lukas Goentoro

    General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


    Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 08/02/2023

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan