home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Banyak yang Mengira Sama, Ini 4 Perbedaan Protein Hewani dan Protein Nabati

Banyak yang Mengira Sama, Ini 4 Perbedaan Protein Hewani dan Protein Nabati

Protein adalah zat gizi yang sangat penting untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Apalagi bagi anak-anak, protein adalah nutrisi yang harus dipenuhi untuk menunjang tumbuh kembangnya. Mungkin Anda sudah tahu jika ada dua sumber protein yang biasanya dikonsumsi, yaitu protein hewani dengan protein nabati. Meski sama-sama protein, apa bedanya dari keduanya? Simak perbedaan protein hewani dengan protein nabati berikut ini.

Berbagai perbedaan protein hewani dengan protein nabati

1. Punya kandungan asam amino yang berbeda

Asam amino adalah struktur terkecil dari protein yang nantinya akan diserap dalam tubuh. Pada dasarnya terdapat 20 jenis asam amino yang digunakan dalam tubuh manusia.

Jenis asam amino ini ada yang jenis esensial, maupun asam amino non esensial. Asam amino jenis esensial tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga sangat bergantung dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Sedangkan jenis asam amino non esensial ini dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, jadi tidak perlu didapatkan dari luar.

Untuk hasil yang optimal, tubuh memerlukan semua jenis asam amino ini. Protein hewani seperti daging, ikan, daging unggas, telur, susu dan produknya mengandung lebih lengkap jenis asam amino esensial dibandingkan protein nabati.

Sebaliknya, makanan protein nabati seperti kacang-kacangan termasuk tahu dan tempe tidak memiliki kelengkapan jenis asam amino seperti protein hewani, kecuali, protein nabati dari kacang kedelai.

Beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa protein dari kacang kedelai cukup lengkap. Namun ada dua jenis asam amino esensial yang hanya ditemukan dalam jumlah kecil dalam kedelai, sehingga meskipun lengkap kadarnya tidak sebanding dengan protein hewani.

2. Sumber protein hewani punya lebih banyak vitamin dan mineral

Makanan sumber protein hewani cenderung memiliki zat gizi mikro yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan sumber protein nabati. Sumber zat gizinya antara lain:

  • Vitamin B12: vitamin B12 ini terutama ditemukan pada ikan, daging, unggas dan produk susu. Orang yang tidak mengonsumsi makanan hewani biasanya cenderung kekurangan zat gizi ini.
  • Vitamin D: Vitamin D ini banyak ditemukan pada ikan berlemak, telur, dan produk susu. Beberapa tanaman mungkin ada yang mengandung vitamin D, namun jenis vitamin D pada hewanilah yang lebih mudah diserap oleh tubuh sehingga lebih mudah digunakan.
  • DHA (Deocosahexaenoic acid): adalah asam lemak omega 3 yang ditemukan pada ikan berlemak. DHA ini sangat penting untuk kesehatan otak. Sayangnya, DHA ini sulit didapatkan dari sumber nabati.
  • Zat besi jenis heme: Jenis besi ini sebagian besar ditemukannya pada daging, terutama daging merah. Jenis zat besi heme ini bersifat lebih mudah diserap tubuh daripada jenis besi lainnya yakni besi non-heme yang ditemukan dalam makanan nabati seperti bayam.
  • Zink: Zink juga sebagian besar ditemukan pada protein hewani seperti pada daging sapi atau domba.

3. Protein nabati tidak mengandung kolesterol dan asam lemak jenuh

Meskipun sumber protein hewani terlihat zat gizinya lebih lengkap, tapi Anda harus tetap berhati-hati mengonsumsinya. Pasalnya, kebanyakan sumber dari protein hewani mengandung kolesterol dan asam lemak jenuh.

Ini yang sangat bertolak belakang dengan protein nabati. Protein nabati tidak mengandung kolesterol maupun asam lemak jenuh. Mengonsumsi protein nabati justru dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah.

Tingginya kolesterol dalam protein hewani dapat menimbulkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, obesitas, dan diabetes melitus.

Dilansir dalam laman American Council of Science and Health, ternyata terdapat hubungan antara konsumsi daging merah terutama dalam bentuk olahan seperti sosis dan lain sebagainya dengan penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung, stroke, bahkan kanker.

Itu mengapa, Anda harus tetap berhati-hati saat mengonsumsi protein hewani, dan lebih baik mengganti asupannya yang terlalu banyak dengan protein nabati.

Meskipun protein nabati tidak mengandung kolesterol dan asam lemak jenuh, Anda juga perlu berhati-hati dengan cara pengolahannya. Jangan sampai pengolahan sumber nabati membuat makanan Anda jadi dipenuhi dengan asam lemak jenuh.

4. Protein nabati bantu menurunkan berat badan

Makan makanan tinggi protein nabati seperti yang dilakukan orang vegetarian, ternyata memberikan banyak manfaat. Penelitian menunjukan bahwa kelompok vegetarian cenderung memiliki berat badan yang lebih rendah dan memiliki tingkat tekanan darah lebih rendah.

Studi lainnya dalam JAMA Internal Medicine 2016, menunjukan bahwa dari hasil perbandingan tiap kelompok dalam penelitian, kelompok orang yang mengonsumsi protein nabati memiliki berat badan yang lebih rendah dibandingkan dengan sekelompok orang yang mengonsumsi protein hewani.

Makanan protein nabati dapat membantu mengontrol berat badan. Sebab, asupan protein nabati bisa menimbulkan rasa kenyang lebih cepat yang akan hilang lebih lama, sehingga ini sangat baik untuk mengatur jumlah makanan yang dimakan dan cegah kenaikan berat badan.

Meski memiliki keunggulan dan kekurangan, Anda tetap harus mengonsumsi keduanya dalam jumlah yang dianjurkan. Jangan sampai berlebihan ataupun kurang. Jika memang Anda bingung membagi porsi makanan sumber protein hewani dengan protein nabati, Anda bisa berkonsultasi dengan ahli gizi.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Brown Mary Jane. 2017. Animal vs Plant Protein – What’s the Difference?. [Online] Tersedia pada: https://www.healthline.com/nutrition/animal-vs-plant-protein#section2 (Diakses 28 April 2018)

American Council on Science and Helath. 2016. Animal Protein vs Plant Protein: Dow We Have to Choose?. [Online] Tersedia pada: https://www.acsh.org/news/2016/08/24/animal-protein-vs-plant-protein-do-we-have-to-choose (DIakses 28 April 2018)

Bredbenner Carol Byrd, Beshgetoor Donna, Moe Galih, dan Berning J. 2007. Perspective in Nutrition 8th ed. New York: McGraw-Hill

Song Mingyang, Fungs Teresa, Hu Frank. 2016. Intake with All Cause and Cause Specific Mortality. JAMA Interna Medicine 176(10): 1453-1463

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x