backup og meta

Post-Sex Blues, Stres Setelah Berhubungan Intim

Post-Sex Blues, Stres Setelah Berhubungan Intim

Hubungan intim dengan pasangan seharusnya menjadi aktivitas yang membawa kebahagiaan. Akan tetapi, sebagian orang yang mengalami post-sex blues malah akan merasa stres setelah berhubungan intim.

Penasaran apa penyebabnya? Simak pembahasannya berikut ini.

Apa itu post-sex blues?

sedih setelah berhubungan intim

Perasaan stres dan tertekan yang muncul setelah berhubungan intim disebut post-sex blues. Kondisi ini juga dikenal sebagai postcoital dysphoria (PCD) atau postcoital tristesse (PCT).

Selain stres, post-sex blues juga menimbulkan perasaan sedih yang mendalam, gelisah, kecenderungnan depresi, hingga keinginan untuk menangis karena dihantui oleh perasaan bersalah. 

Beberapa orang yang mengalaminya bisa sampai bertengkar dengan pasangan setelahnya.

Namun, menariknya, segala emosi negatif tersebut sama sekali tidak muncul saat Anda dan pasangan melakukan hubungan intim. 

Anda dan pasangan tetap merasakan hubungan intim yang penuh gairah, romantis, serta memuaskan.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Post-sex blues bisa menyerang siapa saja, baik pada pria maupun wanita, tanpa pandang bulu.

Sebuah studi dalam jurnal Emotion (2018) menyebutkan sekitar 46% wanita mengalami gejala post-sex blues atau postcoital dysphoria setidaknya sekali dalam hidupnya. 

Sementara itu, studi lain yang dimuat dalam Journal Sex & Marital Therapy (2019) menemukan kondisi ini dialami oleh 41% pria setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Tanda dan gejala post-sex blues

Tidak sebatas hubungan intim dengan pasangan, perasaan sedih dan stres juga dapat muncul setelah Anda masturbasi.

Beberapa gejala emosional yang dapat terjadi meliputi:

  • menangis,
  • kesedihan mendalam,
  • kecemasan dan depresi,
  • sifat lekas marah,
  • merasa tidak puas,
  • penyesalan atau rasa bersalah,
  • mati rasa dan pikiran kosong, hingga
  • serangan panik.

Beberapa orang yang mengalami kondisi ini juga melaporkan gejala fisik setelah melakukan aktivitas intim, seperti sakit kepala, tremor, dan kelelahan yang luar biasa.

Penyebab post-sex blues

Post-sex blues bisa dibilang cukup umum. Meski begitu, para pakar belum yakin benar apa yang menjadi penyebabnya

Beberapa teori menyebutkan bahwa stres setelah berhubungan intim bisa bersumber dari berbagai faktor, seperti genetik, biologis tubuh, dan kesehatan mental orang tersebut.

Seorang terapis seks sekaligus konselor, Denies Knowles, seperti dikutip dari The Independent, berpendapat bahwa kemunculan stres setelah berhubungan intim bisa dipengaruhi oleh hormon.

Hubungan seks adalah tindakan yang sangat intim dan orgasme melepaskan banyak hormon. Hormon-hormon itu turun setelah puncak orgasme. Saat Anda berpisah dari kedekatan ketika berhubungan intim, rasa sedih mungkin saja langsung mengikuti.

Denies Knowles

Saat berhubungan intim, tubuh akan memproduksi hormon endorfin, prolaktin, dan oksitosin dalam jumlah yang cukup besar. 

Peningkatan ketiga hormon inilah yang menyebabkan hubungan intim terasa nikmat serta membahagiakan. 

Nah, setelah turun dari klimaks, kadar hormon tersebut akan surut drastis. Kondisi ini diduga malah berbalik memunculkan emosi negatif.

Faktor risiko post-sex blues

post-sex blues adalah

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami post-sex blues.

1. Kondisi stres yang menumpuk

Jika Anda termasuk orang yang mudah stres, Anda akan lebih mungkin mengalami reaksi emosional seperti perasaan yang makin gusar usai berhubungan intim.

Terlebih bila alam bawah sadar Anda disibukkan dengan “teror” stres harian yang menumpuk, seperti masalah rumah tangga atau pekerjaan kantor.

2. Trauma akibat kekerasan seksual

Para ahli juga menyatakan bahwa trauma kekerasan seksual pada masa lalu bisa menjadi salah satu faktor pemicu timbulnya post-sex blues

Bagi sebagian orang, trauma bisa menetap seumur hidup. Mereka bisa tiba-tiba saja mengingat kejadian traumatis setiap kali berhubungan intim meski dengan orang yang dicintainya.

3. Kesulitan dalam hubungan

Hubungan intim merupakan suatu bentuk ikatan dan kepercayaan. Pada orang-orang yang lebih sensitif, bercinta bisa membuat emosinya makin meluap-luap. 

Rasa kewalahan akibat post-sex blues kemungkinan muncul karena ia merasa rapuh atau takut kehilangan pasangan setelah membuka dirinya pada orang lain.

Bahkan, ia mungkin merasa bersalah karena melakukan hubungan intim yang selama ini dianggap tabu.

Cara mengatasi post-sex blues

konseling

Apabila Anda merasa stres setelah berhubungan seks, tidak apa untuk minta waktu menyendiri pada pasangan bila memang diperlukan.

Tidak perlu menjelaskan alasannya, sebab Anda mungkin tidak tahu mengapa diri Anda merasa kewalahan. Coba tenangkan diri dengan bernapas perlahan dan kosongkan pikiran sejenak.

Setelah agak tenang, Anda bisa mulai bicara pada pasangan. Jelaskan kepadanya bahwa kegusaran dan rasa tidak nyaman yang Anda alami bukan karena ia berbuat kesalahan saat bercinta tadi. 

Dengan begitu, pasangan Anda juga menjadi lebih tenang. Tidak ada salahnya juga meminta pelukan darinya untuk membantu Anda menenangkan diri.

Post-sex blues bisa saja meregangkan hubungan Anda dengan pasangan. Oleh sebab itu, Anda perlu melakukan konsultasi dengan terapis seks jika kondisi ini tidak terus berulang.

Terapis akan membantu Anda mencari tahu pemicu spesifik yang membuat Anda selalu merasa stres selepas berhubungan intim. 

Selain itu, terapis juga akan membantu Anda untuk merencanakan solusinya serta menguatkan komunikasi dengan pasangan. Jadi, Anda berdua bisa menghadapi masalah bersama-sama.

Post-sex blues memang dapat menghambat keintiman, tetapi bukan berarti tak bisa ditangani. Hal yang terpenting adalah kerja sama dan usaha untuk terus saling memahami.

Kesimpulan

  • Post-sex blues adalah munculnya perasaan sedih, stres, maupun tertekan yang muncul setelah berhubungan intim
  • Dalam istilah medis, kondisi ini juga disebut postcoital dysphoria (PCD) atau postcoital tristesse (PCT).
  • Perasaan sedih setelah seks bisa disebabkan oleh stres, trauma kekerasan seksual, dan kesulitan menjalin hubungan dengan pasangan.
  • Jika sering mengalami kondisi ini, Anda bisa meminta bantuan terapis seks untuk mendapatkan solusi terbaik.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Baxter, R. (2015). What is postcoital dysphoria (“post-sex blues”)? International Society for Sexual Medicine. Retrieved January 24, 2023, from https://www.issm.info/sexual-health-qa/what-is-postcoital-dysphoria-post-sex-blues/

Murray, S. H., & Schrader, J. (2018). Post-Sex Blues: Both Men and Women Say They Have It. Psychology Today. Retrieved January 24, 2023, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/myths-desire/201809/post-sex-blues-both-men-and-women-say-they-have-it

Gander, K. (2021). Post-coital dysphoria: Why it is normal to sometimes feel miserable after sex. The Independent. Retrieved January 24, 2023, from https://www.independent.co.uk/life-style/love-sex/post-coital-dysphoria-sex-b1822871.html

Burri, A., & Hilpert, P. (2020). Postcoital Symptoms in a Convenience Sample of Men and Women. The journal of sexual medicine, 17(3), 556–559. https://doi.org/10.1016/j.jsxm.2019.12.009

Maczkowiack, J., & Schweitzer, R. D. (2019). Postcoital Dysphoria: Prevalence and Correlates Among Males. Journal of sex & marital therapy, 45(2), 128–140. https://doi.org/10.1080/0092623X.2018.1488326

Kashdan, T. B., Goodman, F. R., Stiksma, M., Milius, C. R., & McKnight, P. E. (2018). Sexuality leads to boosts in mood and meaning in life with no evidence for the reverse direction: A daily diary investigation. Emotion (Washington, D.C.), 18(4), 563–576. https://doi.org/10.1037/emo0000324

Versi Terbaru

07/09/2023

Ditulis oleh Satria Aji Purwoko

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

Diperbarui oleh: Ilham Fariq Maulana


Artikel Terkait

8 Perubahan Badan Setelah Berhubungan Intim yang Mungkin Terjadi

9 Dampak Stres pada Kesehatan yang Jarang Disadari


Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 07/09/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan