home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Dampak Self Diagnosis Kesehatan Mental, Bahaya Tidak, Ya?

Dampak Self Diagnosis Kesehatan Mental, Bahaya Tidak, Ya?

Saat ini, sudah banyak yang menyadari bahwa kesehatan mental juga perlu diperhatikan. Buktinya, semakin banyak yang menemui psikolog atau ke fasilitas kesehatan ketika merasa stres dan tertekan. Sayangnya, sebagian orang lagi malah melakukan diagnosis kesehatan mentalnya sendiri yang belum tentu akurat. Misalnya saja, ketika stres datang banyak orang yang melakukan self diagnosis sendiri terhadap kesehatan mental.

Self-diagnosis kesehatan mental, sebenarnya baik atau buruk, sih?

Pada dasarnya, self-diagnosis tidak selalu berdampak buruk. Pasalnya, terkadang ada beberapa kondisi kesehatan yang hanya bisa Anda sadari sendiri. Sementara, orang lain terkadang hanya mengetahui permukaannya, tanpa mengetahui lebih dalam tentang apa saja yang terjadi pada diri Anda.

Self-diagnosis kesehatan mental menandakan Anda sudah menyadari ada yang tidak biasa terjadi pada diri Anda. Hal ini memang baik, tetapi, Anda tidak boleh hanya berhenti pada self-diagnosis itu sendiri.

Justru, untuk mengetahui apakah kesehatan mental Anda benar-benar terganggu atau tidak, self-diagnosis hanya digunakan sebagai awal. Ke depan, Anda bisa segera menemui ahli medis profesional yang dapat membantu Anda dengan berbekal self-diagnosis yang Anda lakukan. Misalnya, Anda bisa pergi menemui psikolog atau psikiater.

Sementara, self-diagnosis sering kali disalahartikan sebagai satu-satunya diagnosis yang dibutuhkan. Artinya, setelah melakukannya, Anda mungkin lebih memilih untuk langsung melakukan pengobatan tanpa bantuan dari ahlinya. Padahal, alur tersebut yang justru berpotensi membahayakan diri Anda atau setidaknya memperparah kondisi yang Anda alami.

Dampak buruk menyalahgunakan kemampuan self-diagnosis untuk kesehatan mental

Meski self-diagnosis merupakan suatu awal yang baik untuk memahami lebih jauh mengenai kondisi kesehatan mental Anda, tetapi hal ini juga bisa memberikan dampak yang buruk jika tidak digunakan sebagai mana mestinya. Berikut adalah dua risiko yang mungkin terjadi akibat asal melakukan self-diagnosis.

1. Salah mendiagnosis

Sebuah artikel yang dimuat di Psychology Today menyatakan bahwa gejala yang ditemukan saat self diagnosis bisa saja disalahpahami sebagai tanda dari sebuah gangguan kesehatan mental tertentu. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda dari beberapa jenis penyakit mental atau bahkan penyakit fisik lainnya.

Misalnya, Anda merasa suasana hati Anda sering kali berubah. Lalu, Anda melakukan self diagnosis dari kondisi tersebut dan mengira bahwa Anda mengalami gangguan kesehatan mental berupa depresi manik. Padahal, perubahan suasana hati yang terus-menerus terjadi bisa menjadi pertanda dari gangguan mental lain. Contohnya depresi akut atau borderline personality disorder.

Jika Anda hanya berhenti pada self-diagnosis dan tidak segera berkonsultasi pada psikolog atau psikiater, Anda bisa saja melewatkan detil yang lebih penting. Misalnya, dari self diagnosis yang Anda lakukan, Anda memutuskan untuk melakukan pencegahan atau perawatan tertentu. Anda mungkin saja merasa kedua hal tersebut cukup dan sudah sesuai. Padahal, bisa saja solusi yang Anda putuskan sendiri justru salah kaprah.

Maka dari itu, akan lebih baik jika Anda pergi menemui ahli medis profesional untuk diagnosis lebih lanjut. Anda boleh saja menyebutkan hasil dari self diagnosis yang Anda lakukan untuk membantu psikolog atau psikiater lebih cepat menemukan masalah dari kesehatan mental yang sedang Anda alami.

2. Salah melakukan perawatan

Jika Anda salah melakukan self diagnosis terhadap kesehatan mental, hal ini bisa berujung pada kesalahan pengobatan yang Anda lakukan. Pengobatan tidak selalu mengenai penggunaan obat-obatan, namun bisa juga mengenai metode perawatan yang Anda lakukan.

Perawatan yang Anda lakukan mungkin saja tidak memberikan pengaruh apa-apa pada kondisi kesehatan Anda. Namun, bisa jadi pengobatan tersebut membahayakan diri Anda sendiri. Contohnya, dari hasil self diagnosis, Anda menganggap bahwa Anda mengalami binge-eating disorder, lalu Anda memutuskan untuk berpuasa, hingga mengurangi porsi makan berlebihan.

Padahal, Anda belum tahu pasti apakah Anda memang mengalami kondisi tersebut atau tidak. Maka dari itu, Anda memang harus menemui ahli medis karena kondisi Anda akan diperiksa secara menyeluruh, bukan hanya dari satu dua gejala yang Anda rasakan. Dengan begitu, jika memang Anda mengalami gangguan mental, kondisi Anda bisa teratasi dengan baik dan tepat.

Langkah yang bisa diambil setelah self diagnosis kesehatan mental

Alih-alih berhenti pada self diagnosis yang Anda lakukan, ada beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk mencari tahu apakah Anda benar-benar mengalami gangguan mental, atau itu hanya rasa takut dan khawatir yang Anda miliki semata.

  • Berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Tentu hal ini menjadi pilihan pertama setelah Anda melakukan self diagnosis. Para ahli akan mencari tahu lebih dalam tentang kesehatan mental Anda.
  • Berkomunikasi dengan teman sebaya. Tidak masalah jika Anda “curhat” kepada teman mengenai gejala-gejala yang Anda curigai sebagai gangguan mental. Mungkin teman Anda juga merasakannya dan ternyata gejala tersebut bukan tanda dari sebuah gangguan mental yang serius.
  • Mencari tahu lebih dalam mengenai gejala yang Anda temukan. Saat melakukan self diagnosis mengenai kesehatan mental Anda, coba gali informasi yang lebih banyak lagi. Jangan hanya membaca satu artikel saja, tetapi cari jurnal-jurnal kesehatan yang bisa mendukung diagnosis Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

The Good and Bad of Mental Health Self-Diagnosis | HealthyPlace. (2019). Retrieved 23 October 2019, from https://www.healthyplace.com/blogs/survivingmentalhealthstigma/2016/03/the-good-and-the-bad-of-mental-health-self-diagnosis

Risks of Self Diagnosis. Retrieved 23 October 2019, from https://www.mentalhelp.net/self-help/risks-of-self-diagnosis/

Pillay, S. The Dangers of Self-Diagnosis. Retrieved 23 October 2019, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/debunking-myths-the-mind/201005/the-dangers-self-diagnosis

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 09/12/2019
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x