Perilaku Menyimpang, dari Isu Sosial hingga Kesehatan Mental

    Perilaku Menyimpang, dari Isu Sosial hingga Kesehatan Mental

    Perilaku menyimpang sering kali menuai kecaman karena dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat. Padahal, orang yang menunjukkan perilaku ini mungkin saja perlu mendapatkan pertolongan.

    Apa itu perilaku menyimpang?

    Perilaku menyimpang adalah perilaku yang memberi pengaruh buruk, melanggar norma dan hukum, atau tidak sesuai dengan tingkah laku masyarakat pada umumnya.

    Patut diketahui bahwa perilaku menyimpang sebenarnya memiliki banyak pengertian dan bisa saja bersifat subjektif, tergantung sudut pandangnya.

    Suatu perilaku yang dinilai menyimpang di suatu tempat mungkin saja dianggap wajar di tempat lain, tergantung hukum, norma, atau bahkan adat dan budaya yang berlaku.

    Akan tetapi, dari sudut pandang medis, orang yang melakukan perilaku menyimpang sehingga membahayakan dirinya dan/atau orang lain perlu mendapatkan pertolongan.

    Secara umum, beberapa contoh perilaku menyimpang yang sering terjadi di masyarakat antara lain:

    • bullying pada remaja,
    • perampokan,
    • pemerkosaan,
    • pembunuhan,
    • penipuan,
    • pelecehan seksual,
    • tindakan kriminal lainnya,
    • tawuran antarpelajar,
    • pelanggaran rambu lalu lintas,
    • parafilia (penyimpangan seksual), dan
    • penggunaan obat-obatan terlarang.

    Faktor penyebab perilaku menyimpang

    bullying adalah salah satu faktor penyebab perilaku menyimpang

    Faktor penyebab perilaku menyimpang sangat beragam. Munculnya perilaku ini bisa berasal dari faktor-faktor internal maupun eksternal.

    Berikut merupakan beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang dilansir dari Modul Keperawatan Psikologi Kementerian Kesehatan RI dan beberapa sumber lainnya.

    1. Faktor internal

    Penyebab internal penyimpangan perilaku berasal dari dalam diri individu yang mengalaminya.

    Sifat yang dimiliki mungkin disebabkan oleh keturunan, ketidaksempurnaan pada otak, hingga adanya penyakit tertentu seperti berikut.

    • Lahir dengan kelainan atau dalam kondisi prematur.
    • Mengidap penyakit tertentu, misalnya infeksi pada otak atau selaputnya.
    • Memiliki anggota keluarga dengan kondisi psikologis seperti psikosis (gangguan delusi dan halusinasi) atau neurosis (kecenderungan terhadap emosi negatif).

    2. Faktor eksternal

    Sementara itu, faktor eksternal penyimpangan perilaku berasal dari luar individu. Perilaku ini muncul sebagai pengaruh dari lingkungan, baik di keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga pergaulan.

    Beberapa di antaranya, meliputi:

    • masalah rumah tangga,
    • tidak baiknya hubungan dengan orangtua atau anggota keluarga lain,
    • pengalaman traumatis seperti bullying,
    • tekanan dari orang-orang sekitar, dan
    • masalah finansial.

    Jenis perilaku menyimpang

    Penyimpangan perilaku digolongkan ke dalam lima jenis. Perbedaan antara satu jenis dengan yang lain dapat dilihat dari bentuk dan penyebab penyimpangannya.

    Berikut adalah contoh perilaku menyimpang dalam masyarakat.

    1. Penyimpangan seksual (parafilia)

    Penyimpangan perilaku secara seksual memiliki bentuk yang beragam. Bentuk penyimpangan yang sering ditemui yaitu ketertarikan seksual dengan pasangan tidak wajar, seperti:

    • anak-anak dan remaja (pedofilia),
    • binatang (bestiality), dan
    • mayat (nekrofilia).

    Selain itu, bentuk penyimpangan juga mungkin terjadi pada cara pelakunya dalam mencari kepuasan seksual. Beberapa di antaranya, masokisme, eksibisionisme, serta voyeurisme.

    2. Defisiensi moral

    Individu dengan jenis penyimpangan perilaku ini memiliki kesenangan untuk melakukan kejahatan, serta bertingkah laku asosial atau antisosial.

    Penyebab utamanya sering kali dipicu masalah keluarga seperti ditinggalkan orang tua atau perceraian orang tua.

    Selain masalah dalam keluarga, lingkungan sekitar juga menjadi faktor penyebab perilaku menyimpang.

    Tindakan tersebut sengaja dilakukan agar pelakunya mendapat pengakuan, perhatian, atau penghargaan dari orang sekitar, terutama teman pergaulan.

    3. Gangguan kepribadian

    Tingkah laku menyimpang dapat berasal dari gangguan kepribadian pelakunya, contohnya gangguan psikopati.

    Orang yang melakukan penyimpangan ini umumnya akan bertindak semaunya sendiri tanpa menggunakan hati nurani dan memikirkan kepentingan orang lain.

    Sejumlah ahli membagi psikopat ke dalam empat jenis karakter perilaku sebagai berikut.

    • Antisosial: tidak peduli sama sekali dengan orang lain.
    • Hipokondriasis dan tidak adekuat: banyak mengeluh dan senang merugikan orang lain.
    • Pendendam dan pemberontak: senang mencari musuh dan memberontak pada sesuatu yang tidak disukai.
    • Simpatik tetapi tidak bertanggungjawab: terlihat baik tapi senang menjerumuskan orang lain.

    4. Psikoneurosis

    penyebab suka marah

    Psikoneurosis merupakan jenis penyimpangan perilaku yang terjadi karena adanya masalah kesehatan mental. Penyebab utamanya yaitu konflik batin yang ada di dalam diri pelakunya.

    Perilaku menyimpang bisa saja muncul sebagai efek dari gangguan mental yang dialaminya.

    Beberapa pelaku mungkin menyadari bahwa tindakan yang dilakukan salah, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menghentikannya sehingga akan terus berulang secara terus-menerus.

    5. Tindakan berbahaya akibat psikosis

    Jenis penyimpangan perilaku ini disebabkan oleh gangguan mental yang sangat parah pada pelakunya. Beberapa yang bisa menjadi pemicunya seperti skizofrenia, depresi, dan paranoid.

    Kondisi-kondisi tersebut membuat pelaku sudah tidak dapat memahami lagi tingkah lakunya. Akibatnya, ia pun melakukan tindakan yang tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, tetapi juga orang lain.

    Orang dengan kondisi ini perlu mendapatkan penanganan dengan segera. Jika dibiarkan begitu saja, masalah kesehatan mental yang dimilikinya dapat bertambah parah.

    Perilaku menyimpang tanda masalah kesehatan mental

    Perilaku menyimpang bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, depresi, skizofrenia, dan paranoid. Kondisi-kondisi ini perlu segera mendapatkan penanganan agar tidak semakin parah.

    Cara menghentikan perilaku menyimpang

    Cara menghentikan tindakan menyimpang harus disesuaikan dengan faktor penyebab yang mendasarinya.

    Sebagai contoh, jika pemicunya merupakan masalah kesehatan mental seperti depresi, skizofrenia, dan paranoid, pengobatan ke dokter atau psikiater tentu perlu dilakukan.

    Nantinya, dokter akan memberikan obat atau terapi untuk membantu mengubah pikiran dan perilaku yang tidak baik.

    Pada beberapa kasus, Anda mungkin akan menerima kombinasi dari kedua pengobatan tersebut.

    Bisakah perilaku menyimpang dicegah?

    Pencegahan beberapa tindakan menyimpang dapat dimulai dari keluarga, khususnya orangtua.

    Orangtua diharapkan dapat memberikan contoh yang baik karena didikan mereka nantinya dapat berpengaruh pada kepribadian anak.

    Selain didikan orangtua, beberapa tindakan sederhana juga bisa dilakukan untuk mencegah penyimpangan perilaku. Beberapa di antaranya, meliputi:

    • menghindari pemicu perilaku menyimpang,
    • mengalihkan perilaku buruk ke aktivitas positif,
    • memberikan edukasi terkait dampak tindakan menyimpang terhadap orang lain,
    • mengikuti pelatihan kemampuan sosial untuk dapat berinteraksi dengan baik, serta
    • menerapkan pola hidup sehat (konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, rutin olahraga, dan manajemen stres yang baik).

    Perilaku menyimpang dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental dalam diri pelakunya.

    Jika tanda-tanda perilaku ini muncul dalam diri Anda, Anda dapat berkonsultasi ke terapis untuk mendapatkan bantuan.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Prevention of adolescent’s deviant behaviour. (2021). Retrieved 22 August 2022, from https://www.shs-conferences.org/articles/shsconf/pdf/2021/24/shsconf_ictp2021_00002.pdf

    Modul Keperawatan Psikologi. (2016). Retrieved 22 August 2022, from http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Psikologi-Keperawatan-Komprehensif.pdf

    Panduan pencegahan dan penanganan anak perilaku sosial menyimpang. (2019). Retrieved 22 August 2022, from https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/2db25-buku-panduan-adps-menyimpang.pdf

    A Child’s Primary Influence. (2022). Retrieved 22 August 2022, from https://www.mckendree.edu/academics/scholars/issue17/green.htm

    Deviant Behavior: Patterns, Sources, and Control | Office of Justice Programs. (2022). Retrieved 22 August 2022, from https://www.ojp.gov/ncjrs/virtual-library/abstracts/deviant-behavior-patterns-sources-and-control

    deviant behavior – CENTER OF STUDIES – Unkris. (2022). Retrieved 22 August 2022, from http://p2k.unkris.ac.id/en3/1-3065-2962/Deviant-Behavior_25236_p2k-unkris.html

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui Aug 30
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa