Mengenal Lebih Dekat Karakteristik dari Seorang Sosiopat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Beberapa tahun belakangan, kata “ansos” atau singkatan dari antisosial sempat populer di kalangan anak muda, biasanya digunakan untuk menyebut orang-orang yang tidak mau bergaul atau bersosialisasi. Padahal, antisosial adalah nama lain dari sosiopati, salah satu jenis gangguan kepribadian yang sebenarnya merupakan gangguan mental yang serius. Lalu, bagaimana seseorang bisa dianggap sebagai seorang sosiopat? Yuk simak penjelasan lengkap mengenai sosiopat berikut ini.

Apa  yang dimaksud dengan sosiopat?

Sosiopat adalah seseorang yang mengalami antisocial personality disorder (ASPD) yang biasa dikenal dengan sosiopati. Kondisi ini merupakan gangguan kepribadian yang mengacu pada perilaku dan pola pikir antisosial.

Secara medis, seorang sosiopat (atau antisosial) memiliki pola perilaku yang eksploitatif, penuh tipu muslihat, mengabaikan hukum, melanggar hak orang lain, serta kasar (cenderung kriminal), tanpa motif yang jelas atau logis.

Selain itu, sering kali semua tindak-tanduk dan pemikirannya tidak bisa diprediksi. Orang yang mengidap sosiopati bisa dianggap tidak memiliki empati atau hati nurani. Kondisinya membuat orang ini tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, sehingga ia cenderung mengabaikannya.

Orang yang mengidap gangguan kepribadian antisosial suka berbohong, melakukan kekerasan tanpa berpikir panjang, dan sering kali menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Alhasil, para sosiopat biasanya tidak bisa memenuhi tanggungjawab kepada keluarga dan pekerjaan. Bahkan, orang dengan kondisi ini mungkin saja tidak peduli jika tidak menyelesaikan pendidikannya di sekolah.

Apa hal yang menyebabkan seseorang menjadi sosiopat?

Kepribadian seseorang sebenarnya merupakan kombinasi dari pemikiran-pemikiran, emosi, hingga perilaku yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing orang sebenarnya sangat unik dan spesial dengan kepribadiannya masing-masing.

Biasanya, kepribadian seseorang terbentuk dari interaksi-interaksi dengan orang lain dan faktor lingkungan di sekitarnya. Meski begitu, sebenarnya tidak ada kondisi tertentu yang bisa menjadi penyebab pasti dari kepribadian sosiopati.

Hanya saja, ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi membentuk seseorang menjadi sosiopat:

  • Faktor genetik yang berpotensi membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan kepribadian ini.
  • Terjadi perubahan dalam fungsi otak.
  • Pernah mengalami kekerasan atau pengabaian di masa kecilnya.
  • Kekerasan atau ketidakstabilan dalam keluarga saat masih berusia dini.

Apa ciri-ciri dari seorang sosiopat?

Dalam berbagai film dan acara televisi, sosiopat biasanya digambarkan sebagai penjahat yang senang menyiksa dan membunuh korbannya. Walau stereotip ini tidak sepenuhnya salah, perlu Anda ketahui bahwa tidak semua karakteristik tersebut pasti ada di setiap sosiopat.

Artinya, masing-masing sosiopat mungkin saja menunjukkan ciri-ciri yang sangat berbeda. Berikut adalah beberapa ciri dari sosiopat yang harus Anda waspadai:

1. Karismatik, sangat cerdas, tapi manipulatif

Sosiopat adalah seorang pembohong, baik tujuannya untuk mencapai targetnya atau untuk sekedar bersenang-senang dalam mempermainkan orang lain. Orang dengan gangguan mental ini memiliki kecenderungan untuk menampilkan emosi datar dan tenang. Bahkan, ia sangat jarang menampilkan rasa gugup dan cemas.

Meski begitu, ada pula sosiopat yang justru menunjukkan karakteristik yang sangat bertolak belakang. Artinya, ia memiliki toleransi yang rendah terhadap pemicu stres dan frustasi, sehingga sering menampilkan respons emosional yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.

Kecenderungannya yang sangat manipulatif ini membuat orang lain yang berhadapan dengannya kesulitan untuk membedakan kapan sosiopat ini berkata jujur atau sebaliknya. Bahkan, tidak sedikit yang berhasil menyembunyikan gangguan kepribadian yang dimiliki, sehingga orang lain sangat mudah tertipu daya olehnya.

2. Tidak memiliki empati

Sosiopat sering tidak mempedulikan orang lain, karena orang dengan kondisi ini memang tidak memiliki empati. Hal ini bisa saja dimulai sejak mereka masih berusia dini dan berlanjut hingga usia dewasa. Sosiopat tidak memiliki rasa kasih sayang, sehingga mereka tidak peduli dengan kondisi dan keselamatan orang lain.

Bahkan, mereka juga mengabaikan kebutuhan atau perasaan orang lain. Sosiopat lebih suka menempatkan diri mereka dalam bahaya demi menguntungkan diri mereka sendiri. Di atas semua itu, orang dengan kondisi ini ditandai dengan tidak memiliki rasa malu dan hampir tidak pernah menyesal dengan sikap dan perbuatannya.

Sosiopat juga tidak terlalu banyak memiliki teman, karena tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan hubungan dekat dengan orang lain. Begitu pula dalam menjalin hubungan romantis dengan orang lain, para sosiopat juga tidak bisa menjalin hubungan yang langgeng.

3. Sering melanggar hukum

Sosiopati ditandai dengan perilaku impulsif, yang diikuti oleh sifat mudah meledak marah dan agresif. Ini ditunjukkan dengan seringnya melakukan pelanggaran hukum, seperti berkelahi secara fisik atau melakukan serangan hingga membahayakan nyawa orang lain.

Sifat impulsif dan tidak bertanggungjawab ini juga ditunjukkan pada aspek kehidupan lainnya. Contoh, tidak peduli dengan pendidikan, tidak peduli dengan tanggungjawab pekerjaan, dan lain sebagainya.

4. Tidak pernah belajar dari kesalahan

Sebagai manusia biasa, setiap orang tentu pernah melakukan kesalahan. Sayangnya, sosiopat tidak pernah peduli apakah ia melakukan kesalahan atau tidak. Hal ini menyebabkan ia terus-menerus melakukan kesalahan yang sama. Ya, para sosiopat tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.

Bahkan, bisa jadi mereka tidak menganggap perilakunya tersebut sebagai sebuah kesalahan. Oleh sebab itu, ia tidak pernah berpikir dua kali untuk melakukannya lagi dan lagi.

Apa konsekuensi dari menjadi seorang sosiopat?

Ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung saat mengalami kondisi ini, contohnya:

  • Tidak bertanggungjawab kepada keluarga keluarga, termasuk pada pasangan dan anak.
  • Cenderung melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
  • Masuk penjara.
  • Bunuh diri.
  • Gangguan kesehatan mental lain, seperti depresi atau gangguan kecemasan.
  • Tidak mampu secara finansial karena tidak bertanggungjawab terhadap dirinya.

Apakah kondisi ini bisa diatasi?

Sebenarnya, antisocial personality disorder yang menyebabkan seseorang menjadi seorang sosiopat adalah kondisi gangguan kepribadian yang cukup sulit untuk disembuhkan. Namun, dengan keinginan yang kuat untuk sembuh dan kemauan untuk menjalani pengobatan dapat memberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Berikut adalah beberapa metode yang bisa dicoba untuk mengatasi kondisi ini:

1. Psikoterapi

Psikoterapi atau terapi psikologi bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi sosiopati. Menurut Mayo Clinic, terapi ini dilakukan dengan melatih sosiopat untuk mengelola amarah dan keinginan untuk melakukan kekerasan.

Tak hanya itu, terapi ini juga dilakukan dengan mengatasi kebiasaan menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang, hingga mengatasi berbagai gangguan mental lain yang dimilikinya.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa psikoterapi tidak selalu efektif. Efektivitas dari terapi ini juga tergantung pada tingkat keparahan sosiopati yang dialami.

2. Penggunaan obat-obatan

Sebenarnya tidak ada obat-obatan yang bisa secara spesifik digunakan untuk mengatasi kondisi ini. Namun, dokter biasanya akan meresepkan beberapa obat untuk mengatasi gejala yang berkaitan dengan kondisi kesehatan mental lainnya.

Sebagai contoh, obat untuk gangguan kecemasan, obat antidepresan untuk mengatasi gejala berupa depresi, dan berbagai obat untuk gejala lainnya. Namun, resep dari dokter ini harus digunakan di bawah pengawasan keluarga atau orang terdekat. Pasalnya, seorang sosiopat memiliki kecenderungan untuk menyalahgunakan obat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Tipe Kepribadian Melankolis, Serta Kelebihan dan Kekurangannya

Ada empat tipe kepribadian jika dibedakan berdasarkan watak, salah satunya adalah melankolis. Apa yang membedakan tipe ini dengan yang lain?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Mental 26 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

Banyak orang yang mengonsumsi obat penambah tinggi badan yang dianggap bisa membuat mereka tinggi. Tapi, benarkah klain tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan, Informasi Kesehatan 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Biasanya Luka Terasa Gatal Kalau Mau Sembuh?

Mitosnya, kondisi luka gatal pertanda mau sembuh. Benarkah demikian? Mari simak tentang fakta luka pada artikel berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Benarkah Patah Hati Dapat Sebabkan Kematian?

Ketika patah hati atau ditinggalkan pasangan, rasanya dunia tidak lagi berwarna bahkan tidak bermakna. Namun, benarkah patah hati bisa sebabkan kematian?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alat reproduksi wanita

Mengenal Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
langkah yang perlu dilakukan ketika ingin bunuh diri

7 Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Timbul Keinginan Bunuh Diri

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
toxic people

Kenali 5 Ciri Utama “Toxic People”, Racun Dalam Persahabatan Anda

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
bahaya pakai earphone saat tidur

Waspada Bahaya Infeksi Telinga Akibat Pakai Earphone Saat Tidur

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit