Psikopat dan Sosiopat, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

“Psikopat” dan “sosiopat” adalah salah satu istilah psikologi populer yang sering digunakan secara kasual untuk mendeskripsikan gangguan mental umum, sebagai kata ganti dari “gila” yang lebih kekinian. Pergeseran makna akibat pengaruh budaya modern ini menjadikan perbedaan karakteristik antara “gila”, “psikopat”, dan “sosiopat” dianggap terlalu remeh dan acap kali bercampur aduk satu sama lain.

“Dasar supir taksi gila, nyupir liat-liat dong!”

“Duh, pacar gue nanya-nanya mulu. Psycho banget sih?”

“Diem mulu lo di rumah, ansos ya?”

Penyakit mental adalah payung istilah medis yang sangat luas. Sayangnya, banyak orang yang masih salah paham dalam mengartikan atau menggunakan istilah tertentu hingga mengaburkan makna sesungguhnya.

Kita menggunakan kata-kata bermuatan dalam ini dengan mudahnya, melempar ejekan santai yang sebenarnya tidak hanya penuh dengan hinaan, namun juga sangat ketinggalan zaman jika dilihat dari kacamata literatur medis dan kebudayaan.

Perlu dipahami bahwa gangguan mental timbul akibat berbagai macam faktor, sebelum lebih lanjut mengenali perbedaan antara seorang psikopat dan sosiopat.

Kecenderungan kriminal

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) tahun 2013, sosiopati dan psikopati adalah dua tipe gangguan mental yang berada di bawah naungan Antisocial Personality Disorders (ASPD). Satu fitur kunci yang menempatkan kedua kelompok gangguan mental ini dalam satu kategori spesifik adalah sifat menipu dan manipulatif. Individu dengan psikopati atau sosiopati pada umumnya berperilaku kasar (condong ke arah kriminal), namun cenderung beraksi menggunakan tipu muslihat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam berbagai film dan acara TV, psikopat dan sosiopat biasanya adalah penjahat yang senang menyiksa dan membunuh korbannya. Stereotip ini tidak salah-salah amat.

Dua individu berbeda pengidap sosiopati dan psikopati sama-sama memiliki rasa penyesalan dan empati yang minim terhadap orang lain, rasa bersalah dan tanggung jawab yang hampir nol besar, serta mengabaikan hukum dan norma-norma sosial.

Perbedaan mendasar antara psikopat dan sosiopat

Seorang yang mengidap psikopati memiliki semua karakteristik di atas, namun mereka bisa membaur dan menempatkan diri mereka dalam komunitas sekitar dengan sangat baik; sebagai seseorang yang memikat dan sangat cerdas. Kemampuan sosial seorang psikopat adalah kamuflase dari sifat manipulatif yang penuh perhitungan. Menurut L. Michael Tompkins, EdD., seorang psikolog di Sacramento County Mental Health Treatment Center, seorang psikopat tidak memiliki kerangka berpikir yang tepat untuk mengembangkan nilai etika dan moral akibat ketidakseimbangan genetik dan reaksi senyawa kimiawi dalam otak. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa otak seorang psikopat memiliki susunan yang berbeda (bahkan mungkin secara struktur fisik) dengan orang awam pada umumnya; sehingga akan sangat sulit untuk bisa mendeteksi seorang psikopat.

Lanjut Tompkins, perbedaan otak juga dapat mempengaruhi fungsi dasar tubuh. Contohnya, saat dihadapkan dengan adegan sadis penuh darah dalam film, detak jantung orang awam akan berdegup lebih cepat dan keras, napas terburu-buru, dan keringat dingin. Namun semua hal ini tidak berlaku bagi seorang psikopat. Ia malah akan semakin tenang.

Aaron Kipnis, PhD, penulis The Midas Complex, berpendapat bahwa minimnya rasa takut dan penyesalan seorang psikopat dipengaruhi oleh lesi pada bagian otak yang bertanggung jawab untuk rasa takut dan penghakiman, yang dikenal sebagai amigdala. Psikopat melakukan kejahatan dengan darah dingin. Mereka mendambakan kontrol dan impulsif, memiliki naluri predator, dan menyerang secara proaktif, bukan sebagai reaksi terhadap konfrontasi. Sebuah studi 2002 menemukan bahwa 93,3 persen dari kasus pembunuhan psikopat terjadi secara alami (artinya, kurang lebih rangkaian kejahatan tersebut sudah direncanakan dan dikalkulasikan sebelumnya).

Lain halnya dengan seorang sosiopat. Sosiopati bisa timbul akibat faktor cacat otak bawaan layaknya seorang psikopat. Namun, asuhan orangtua mungkin memiliki peran yang lebih dalam perkembangan gangguan mental ini. Sosiopati sama-sama licik dan manipulatif, ia juga biasanya adalah seorang pembohong patologis, terlepas dari kepribadian yang mungkin terlihat tulus. Bedanya, kompas moral mereka rusak berat.

Individu dengan sosiopati akan lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengasingkan diri dari lingkungan sekitar. Individu pengidap sosiopati memiliki emosi yang labil dan sangat impulsif — perilaku mereka lebih terlihat sembrono daripada seorang psikopat. Saat melakukan aksi kejahatan — kasar maupun tidak — seorang sosiopat akan bertindak atas dasar paksaan. Seorang sosiopat tidak sabar, lebih mudah menyerah pada sifat impulsif dan spontanitas, dan minim persiapan yang mendetail.

Kesimpulannya, walaupun kedua gangguan mental ini disebabkan oleh ‘korslet’ otak yang memengaruhi fungsi kognitif, namun area kerusakannya sama sekali berbeda. Psikopat tidak kenal takut; sosiopat masih punya rasa takut. Psikopat tidak punya kemampuan membedakan mana yang benar dan salah; sosiopat punya (namun tidak memedulikannya). Keduanya sama-sama mampu untuk merusak — dan mereka sama-sama tidak peduli.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Kleptomania

    Kleptomania atau klepto adalah kondisi gangguan perilaku yang dilakukan dengan mencuri atau mengutil. Apa saja Penyebab dan Gejalanya? Simak Selengkapnya di Hello Sehat

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

    Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

    Makanan probiotik memang baik untuk sistem pencernaan Anda. Namun siapa sangka probiotik ternyata juga bisa meredakan gejala depresi? Ini dia penjelasannya.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Mental, Gangguan Mood 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

    Anda tak bisa lepas dari akun media sosial setiap harinya? Awas, Anda mungkin sudah melewati batas wajar menggunakan media sosial sehari-hari.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Mental, Kecanduan 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Meningkatkan Fokus, Juga Mengasah Kreativitas

    Senam tak hanya untuk tubuh, senam otak yang dapat mengasah pikiran Anda dan membuat Anda lebih fokus. Bagaimana gerakan dasar senam otak dilakukan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kesehatan Otak dan Saraf 29 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    manfaat sering menangis

    Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    mental illness atau gangguan mental

    Mental Illness (Gangguan Mental)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
    serangan panik atau panic attack

    Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    depresi pagi hari

    Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
    Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit