Apakah Anda Orang yang Narsis, Sosiopat, Atau Hanya Egois?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Mei 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang tertutup dan mudah bergaul, yang kalem dan serius atau penuh banyolan, serta ada juga yang cuek bebek dan yang penuh belas kasih. Egois juga menjadi salah satu karakteristik kepribadian klasik yang ada dalam diri banyak orang, terlepas dari apakah ia seorang yang ekstrovert atau introvert.

Tingkat keegoisan setiap orang bisa berbeda satu dengan yang lainnya. Beberapa orang semata murni hanya keras kepala, tapi ada segelintir orang yang begitu manipulatif sehingga cenderung jatuh ke dalam kategori gangguan kepribadian ekstrim — seperti narsisistik atau bahkan sosiopati.

Apa bedanya orang yang egois dengan orang yang narsis dan sosiopat

Untuk lebih memahami perbedaan antara ketiganya, perlu dipahami lebih dulu bahwa konsep narsisme di sini bukanlah kelompok orang yang selalu mengunggah foto selfie di berbagai akun medsosnya. Dalam dunia psikologi modern, seseorang yang memiliki kepribadian narcissistic personality disorder adalah orang-orang yang memiliki ego besar, dengan kesombongan dan rasa mementingkan diri sendiri yang juga sama besarnya. Orang-orang narsis ini mendambakan untuk terus-menerus dikagumi oleh orang lain.

Sosiopat memiliki sifat mirip — menganggap dirinya adalah yang terbaik, segalanya, pusat dunia. Keduanya cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka sendiri, atau lihai memengaruhi orang lain untuk memercayainya dan/atau menawarkan “fakta alternatif” yang ia rangkai sedemikian rupa sehingga terlihat nyata. Baik orang yang narsis atau sosiopat tidak memiliki rasa empati, alias kepedulian dan welas asih terhadap orang lain.

Menurut Psychology Today, sifat empati merupakan tolak ukur penting dari apakah seseorang benar-benar hanya murni sekadar keras kepala, atau memang memiliki gangguan kepribadian nyata. Jika misalnya Anda dipertemukan dengan situasi yang memunculkan sifat egois Anda, lalu Anda mampu menunjukkan penyesalan, dan mungkin sungguh-sungguh bertekad mengubah perilaku dan kebiasaan buruk ini di masa depan, besar kemungkinan Anda seseorang murni yang keras kepala atau egois.

Orang-orang yang egois masih bisa merasakan empati. Sementara orang-orang dengan gangguan kepribadian seperti sosiopati atau narsisisme tidak. Yang ada, mereka mungkin akan meledak marah ketika sifat mereka dikritik, atau mereka mungkin memalsukan rasa empati tersebut demi mendapat poin plus dari masyarakat. Mereka mungkin saja menunjukkan penyesalan, iba, atau murah hati, tapi tidak ingin atau gagal membuat perubahan nyata dalam sikapnya.

Orang yang keras kepala dan egois masih punya kontrol diri

Indikator lain yang bisa mengukur seberapa egoisnya Anda adalah dengan menilai seberapa baik kontrol diri Anda. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang egois memiliki kurang kontrol diri karena mereka bahkan tidak akan mempertimbangkan perasaan pribadi mereka nantinya di masa depan. Dengan demikian, mereka kurang mampu menunda kepuasan mereka dan menunggu imbalan yang lebih baik di kemudian hari daripada yang disajikan kepada mereka di saat ini. Intinya, apa yang mereka mau, harus ada sekarang.

Meski orang-orang sosiopat dan narsistik juga menunjukkan karakteristik yang sama, mereka tidak berpikir bahwa hukum dan aturan sosial berlaku untuk mereka karena mereka menganggap diri mereka “spesial” dan lebih tinggi dari orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian ini sangat arogan, tidak memiliki kasih sayang. Mereka tidak memedulikan keselamatan orang lain, mengabaikan kebutuhan atau perasaan orang lain. Di atas semua itu, narsisisme dan sosiopati sering ditandai dengan rasa malu dan penyesalan yang minim.

Oleh karena itu, mereka cenderung memperlakukan orang lain dengan kasar atau dengan ketidakpedulian. Mereka biasanya terlibat dalam perilaku agresif, impulsif, tidak bertanggung jawab atau berisiko terjerat hukum, dan cenderung menempatkan orang lain dalam bahaya demi menguntungkan diri sendiri, seringnya hanya untuk kesenangan sementara. Sedangkan orang-orang yang keras kepala akan memiliki batas-batas moral; mereka tahu mana yang salah dan benar, hanya saja sedikit terbutakan dengan iming-iming imbalan yang lebih cepat — dan mungkin menampilkan penyesalan dan rasa malu atas tindakan semena-menanya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kleptomania

Kleptomania atau klepto adalah kondisi gangguan perilaku yang dilakukan dengan mencuri atau mengutil. Apa saja Penyebab dan Gejalanya? Simak Selengkapnya di Hello Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Makanan probiotik memang baik untuk sistem pencernaan Anda. Namun siapa sangka probiotik ternyata juga bisa meredakan gejala depresi? Ini dia penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

Anda tak bisa lepas dari akun media sosial setiap harinya? Awas, Anda mungkin sudah melewati batas wajar menggunakan media sosial sehari-hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Kecanduan 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

9 Makanan yang Membantu Menghilangkan Stres

Apakah nafsu makan Anda bertambah saat stres? Berikut makanan sehat yang dapat membantu Anda menghilangkan stres dan penatnya pikiran.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 7 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi kesepian

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
membangun kepercayaan diri

7 Siasat Ini Bisa Jadi Senjata Anda untuk Membangun Kepercayaan Diri

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit