home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sering Menangis atau Tertawa Tiba-Tiba? Bukan Gila, Mungkin Anda Mengidap Penyakit Ini

Sering Menangis atau Tertawa Tiba-Tiba? Bukan Gila, Mungkin Anda Mengidap Penyakit Ini

Menangis dan tertawa adalah hal normal yang biasa Anda lakukan. Anda akan meneteskan air mata saat merasa sedih atau tertawa terbahak-bahak karena lelucon yang dilontarkan seorang teman. Namun, tahukah Anda ada satu juta orang di dunia ini yang sering menangis dan tertawa secara tiba-tiba, tindak terkendali, dan sering kali di waktu yang salah? Respon ini bukan pertanda suasana hatinya yang sedang bahagia atau sedih, melainkan karena gangguan sistem saraf yang disebut pseudobulbar affect atau biasa disingkat PBA.

Seperti apa gejala seseorang yang mengidap pseudobulbar affect?

Seseorang yang memiliki gangguan ini biasanya secara tiba-tiba sering menangis dan tertawa tidak terkendali, mereka bisa menangis atau tertawa di saat yang tidak tepat dan akan berlangsung lebih lama dari tertawa atau menangis orang normal. Dan hal ini akan terjadi beberapa kali sehari dalam sebulan. Ekspresi wajah seseorang yang memiliki pseudobulbar affect biasanya tidak sesuai dengan emosinya.

Tertawa dan menangis untuk seseorang yang PBA tidak terkait dengan suasana hati atau mood. Dengan kata lain, Anda mungkin merasa senang tapi mulai menangis dan tidak bisa berhenti. Atau Anda bisa merasa sedih tapi mulai tertawa padahal seharusnya tidak. Anda mungkin hanya menangis atau tertawa banyak. Beberapa orang mengatakan gejala PBA terjadi begitu cepat dan tidak bisa dicegah. Namun, penting untuk dicatat bahwa pseudobulbar affect berbeda dengan gejala depresi atau gangguan bipolar.

Jika Anda atau orang terdekat Anda memiliki PBA, gangguan ini mungkin akan membuat seseorang menjadi cemas atau malu di depan umum. Anda mungkin akan khawatir mengenai masa depan atau kehidupan sosial Anda dan sering membatalkan rencana bersama teman atau keluarga karena takut.

Jika Anda tinggal dengan seseorang yang memiliki PBA, mungkin selama ini Anda merasa bingung atau frustrasi. Kekhawatiran emosional akan sangat mempengaruhi pemulihan dan kualitas hidup. Penting untuk segera mencari perawatan dari dokter yang berkualifikasi.

Apa penyebab seseorang mengidap pseudobulbar affect?

Para ilmuwan percaya bahwa PBA adalah akibat dari kerusakan pada korteks prefrontal yaitu area otak yang membantu mengendalikan emosi. Perubahan zat kimia otak yang terkait dengan depresi dan suasana hati juga bisa berperan.

Cedera atau penyakit yang mempengaruhi otak disinyalir bisa menyebabkan pseudobulbar affect. Menurut penelitian, sekitar separuh orang yang pernah terkena stroke memiliki pseudobulbar affect. Penyakit yang sering dikaitkan dengan PBA meliputi, tumor otak, demensia, multiple sclerosis, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), dan penyakit parkinson.

Pengobatan untuk pseudobulbar affect

Dokter biasa meresepkan antidepresan untuk mengendalikan gejala PBA, tapi obat ini tidak selalu bekerja dengan baik. Pada tahun 2010, FDA menyetujui dekstrometorfan/kuinidin (nuedexta), terapi obat pertama untuk PBA. Studi menunjukkan obat ini membantu mengendalikan seseorang yang sering menangis dan tertawa tidak terkendali karena memiliki PBA.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Yuliati Iswandiari Diperbarui 15/10/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x