home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Psikopat

Definisi psikopat |Tanda & gejala psikopat|Penyebab psikopat|Faktor risiko psikopat|Perbedaan antara psikopat dan sosiopat|Diagnosis & pengobatan untuk psikopat|Cara menghadapi psikopat
Psikopat

Definisi psikopat

Apa itu psikopat?

Psikopat (psychopath), atau sering disebut dengan psycho, adalah gangguan mental yang ditandai dengan kurangnya empati dan kontrol perilaku yang buruk atau impulsif. Sikap ini mengakibatkan penderitanya memiliki perilaku antisosial, serta cenderung melanggar aturan dan melakukan tindak kriminal, termasuk kekerasan.

Menurut para ahli psikologi, psikopat sebenarnya adalah bagian dari gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder/APD). Beberapa ahli menyebut, psycho dan APD memiliki pengertian yang sama, tetapi sebagian lainnya menilai psikopat merupakan bentuk dari APD yang parah.

Adapun seseorang dengan kondisi ini umumnya bersikap manipulatif untuk mendapatkan kepercayaan orang lain. Mereka belajar untuk meniru emosi, yang sebenarnya tidak mereka rasakan, dan akan tampak seperti orang yang normal. Bahkan, mereka seringkali menunjukkan kepribadian yang hangat dan memesona.

Penderita kondisi ini pun sering kali berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan yang stabil. Bahkan, terkadang mereka memiliki keluarga dan hubungan jangka panjang lainnya tanpa seorangpun tahu sifat sejati mereka. Inilah kenapa banyak orang yang tidak menyadari jika ada seseorang dengan kondisi ini di lingkungannya.

Meski demikian, seseorang yang psycho sebenarnya tidak peduli dengan perasaan orang lain. Karena itulah, banyak di antara mereka yang melakukan hal tak bermoral, sering berbohong, bahkan kriminal, tanpa penyesalan dan rasa bersalah. Sikap inilah yang kemudian berdampak luas pada kehidupannya, termasuk merusak pekerjaan, sekolah, serta hubungan dengan keluarga dan lingkungan sosial.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Psychopath adalah gangguan kepribadian yang dapat ditemukan di semua lapisan masyarakat dan profesi. Jumlah penderita gangguan ini pun ditemukan cukup banyak di antara para tahanan penjara.

Dilansir dari sebuah studi yang dimuat di jurnal Psychiatriki pada 2012, jumlah orang dengan gangguan kepribadian psikopat diperkirakan mencapai satu persen dari total populasi umum. Adapun pria tiga kali lipat lebih banyak mengalami kondisi ini dibandingkan wanita.

Tanda & gejala psikopat

Karakteristik, kriteria, atau ciri-ciri orang psikopat seringkali dapat dikenali sejak masih anak-anak dan semakin memburuk seiring waktu. Gejalanya pun cenderung memuncak pada usia akhir masa remaja dan awal usia 20-an, yang terkadang membaik dengan sendirinya saat seseorang berusia 40-an.

Penderita kondisi ini mungkin akan terlihat sebagai orang normal pada awalnya dan kerap bergaul di masyarakat. Padahal, ia memiliki karakter tersembunyi yang berkebalikan.

Karakter atau ciri-ciri khas dari psikopat yang umum dimiliki adalah:

1. Memesona dan pintar berbicara

Psikopat biasanya punya kecenderungan untuk bersikap baik, menarik, menawan, cerdik, dan pintar berbicara. Mereka umumnya berbicara dengan cepat dan berenergi, dan sering menyela pembicaraan orang lain dengan berbagai informasi yang meyakinkan. Kebanyakan orang benar-benar menyukai individu dengan sikap seperti ini.

2. Percaya diri dan memiliki arogansi tinggi

Psikopat adalah seseorang yang memiliki pandangan yang terlalu tinggi akan kemampuan dan harga dirinya, percaya diri, tampak karismatik atau menggetarkan bagi orang lain, serta sombong. Orang dengan kondisi ini percaya bahwa mereka adalah manusia yang unggul.

3. Tak tahan rasa bosan

Seseorang dengan psikopati sering kali memiliki kedisiplinan yang rendah dalam menjalankan tugasnya hingga selesai, karena mereka mudah bosan. Mereka tidak akan bisa bekerja dalam pekerjaan yang sama untuk waktu yang lama atau tugas-tugas yang mereka anggap membosankan atau rutin.

4. Senang akan perilaku antisosial yang membahayakan

Perilaku antisosial seperti menipu, berbohong, merampok, mencuri, berkelahi, berzinah, dan membunuh merupakan perilaku yang menarik bagi penderita kondisi ini. Mereka tampak tertarik dengan perilaku antisosial yang berisiko tinggi tanpa tujuan yang jelas.

5. Kurang rasa penyesalan atau rasa bersalah

Psikopat cenderung tidak peduli, tidak memihak, berhati dingin, dan tidak empati. Oleh karena itu, penderita kondisi ini tidak akan peduli akan kerugian, rasa sakit, dan penderitaan korban.

6. Cenderung memiliki gaya hidup parasit

Ciri-ciri psikopat lain adalah memiliki ketergantungan yang disengaja pada orang lain, seperti dalam hal uang. Ia juga manipulatif, egois, dan mengeksploitasi/memanfaatkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, karena ia sendiri kurang motivasi, memiliki disiplin yang rendah, dan tidak mampu menyelesaikan tanggung jawab.

7. Tidak dapat mengontrol perilaku

Psikopat memiliki perilaku mudah marah, jengkel, tidak sabar, mengancam, agresif, dan mencaci maki. Hal tersebut hasil dari kurangnya pengendalian akan kemarahan dan emosi.

8. Masalah perilaku sejak usia dini

Mereka sering melakukan berbagai perilaku seperti berbohong, mencuri, melakukan kecurangan, merusak, mengintimidasi, beraktivitas seksual, mengonsumsi alkohol, dan melarikan diri dari rumah pada usia kurang dari 13 tahun.

9. Perilaku seksual yang tidak menentu

Sebagian orang dengan kondisi ini seringkali memiliki hasrat seksual yang dianggap abnormal, seperti memiliki hasrat yang kuat dan terus menerus untuk melakukan kontak seksual dengan anak. Ini dilakukan untuk memuaskan hasratnya.

10. Tidak mampu untuk mencintai

Psikopat sangat egomaniak hingga ke titik yang sulit bagi orang normal untuk memahaminya. Mereka sangat mementingkan diri sendiri dan hal itu tidak dapat diubah, sehingga membuat mereka benar-benar tidak mampu mencintai orang lain, termasuk orangtua, pasangan, dan anak-anak mereka sendiri. Satu-satunya perlakuan baik yang diperlihatkan oleh psikopat adalah ketika hal itu dapat digunakan sebagai keuntungan mereka atau memudahkan rencana dan tujuan mereka.

11. Tidak dapat mempertanggungjawabkan kegagalan

Orang yang psycho terpaksa harus berpura-pura ketika mereka harus meniru emosi manusia normal yang sebenarnya tidak pernah ia rasakan. Hal ini berlaku ketika mereka menghadapi kegagalan. Ketika mereka menjadi rendah hati dan mencoba untuk memperbaiki kesalahan mereka, sebenarnya mereka memiliki tujuan untuk berperan sebagai martir sehingga orang lain tidak perlu menyalahkannya.

Penyebab psikopat

Hingga saat ini, penyebab dari psikopat belum diketahui pasti. Namun, beberapa faktor disebut berperan dalam menimbulkan kondisi ini pada seseorang, meski hal tersebut juga masih diperdebatkan.

Berikut adalah faktor-faktor yang mungkin menyebabkan seseorang menjadi psycho:

  • Kondisi otak

Dilansir dari The Royal Society, sebuah penelitian menunjukkan bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi, empati, dan pengambilan keputusan, yaitu amigdala, insula, dan korteks prefrontal, menunjukkan penurunan aktivitas pada orang dengan karakteristik psikopat.

Gangguan fungsi otak ini merusak respon terhadap rangsangan emosional dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, penderitanya kerap membuat keputusan yang buruk dan tidak bisa mengontrol emosi.

Meski demikian, tidak ada bukti yang kuat mengenai kondisi otak tertentu sebagai penyebab dari psikopat. Adapun perbedaan kemampuan otak yang ditemukan masih kerap dipertanyakan, apakah kondisi otak ini membuat seseorang menjadi psikopat atau apakah perilakunya yang cenderung mengubah keadaan otak.

  • Genetik

Selain kondisi otak, faktor genetik juga disebut berperan dalam menyebabkan kondisi ini. Kelainan genetik yang diturunkan dalam keluarga membuat seseorang rentan mengalami gangguan kepribadian antisosial, termasuk psikopat.

  • Trauma

Tidak hanya genetik, trauma masa kecil juga disebut berperan dalam membentuk seseorang menjadi psikopat, seperti pelecehan atau kekerasan pada anak.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan, gangguan kepribadian ini seringkali muncul pada orang dengan lingkungan keluarga yang sulit, seperti orangtua yang antisosial, alkoholisme, perkelahian orangtua, atau anak menjadi saksi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), serta pola asuh yang kurang tepat, seperti orangtua yang kerap berkata kasar atau menelantarkan anak.

Kesulitan atau trauma masa lalu memang kerap memengaruhi perilaku saat masa remaja dan dewasa. Pasalnya, setiap kepribadian seseorang terbentuk sejak masih anak-anak melalui interaksi yang diwariskan oleh keluarga dan faktor lingkungan.

Faktor risiko psikopat

Selain penyebab di atas, beberapa faktor disebut dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi psikopat. Faktor-faktor risiko ini umumnya sama dengan gangguan kepribadian antisosial, karena dua istilah tersebut memang tidak bisa dipisahkan. Berikut adalah beberapa faktor risiko dari psycho:

  • Didiagnosis memiliki gangguan perilaku anak (conduct disorder).
  • Anggota keluarga dengan gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian lain, atau gangguan kesehatan mental lainnya.
  • Trauma masa kecil, seperti ditelantarkan atau dilecehkan.
  • Berada di lingkungan keluarga yang tidak stabil, penuh kekerasan, atau kesulitan saat masih anak-anak.

Perbedaan antara psikopat dan sosiopat

Apa itu sosiopat?

Sama seperti psikopat, sosiopat juga merupakan gangguan mental yang berada di bawah naungan antisocial personality disorder (APD). Ciri-ciri orang sosiopat pun umumnya mirip dengan psikopat, seperti berperilaku impulsif, manipulatif, dan cenderung melakukan tindak kriminal tanpa ada rasa bersalah atau penyesalan.

Apa perbedaan antara psikopat dan sosiopat?

Meski terlihat sama, psikopat dan sosiopat memiliki beberapa karakter dan penyebab yang berbeda. Para psikolog meyakini, sifat psikopat cenderung sudah terbentuk sejak penderitanya dilahirkan, atau karena faktor genetik.

Sementara itu, sosiopat cenderung terbentuk oleh faktor lingkungan, seperti pelecehan fisik, pelecehan emosional, pola asuh yang salah, atau trauma pada masa anak-anak lainnya. Meski demikian, faktor lingkungan pun turut berperan pada penderita psikopat, meski faktor genetik disebut lebih besar.

Selain itu, tidak seperti psychopath, seseorang yang sosiopat justru seringkali tidak memiliki pekerjaan jangka panjang atau kehidupan keluarga yang normal. Individu dengan sosiopati akan lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengasingkan diri dari lingkungan sekitar.

Penderita sosiopat pun terlihat lebih sembrono daripada seorang psikopat saat melakukan tidak kriminal. Mereka cenderung tidak sabar, lebih impulsif, serta minim perencanaan.

Terkadang, mereka pun menjadi gelisah dan mudah marah, sehingga terkadang mengakibatkan ledakan kekerasan. Kondisi inilah yang meningkatkan kemungkinan sosiopat untuk tertangkap pihak kepolisian saat aksi kriminalnya itu dilakukan.

Diagnosis & pengobatan untuk psikopat

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang dilakukan untuk mendiagnosis psikopat?

Tanda-tanda orang psycho memang sudah dapat dikenali sejak masih anak-anak atau remaja. Meski demikian, kondisi ini terkadang didiagnosis dengan gangguan perilaku (conduct disorder), attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), atau 0ppositional defiant disorder (ODD), yang memang cenderung terjadi pada usia tersebut.

Sementara itu, diagnosis gangguan kepribadian antisosial dan psikopat umumnya baru bisa terdeteksi saat sudah dewasa, atau di atas 18 tahun.

Meski demikian, mendiagnosis seseorang psikopat bisa sulit dilakukan. Pasalnya, seseorang dengan kondisi ini cenderung tidak merasa bahwa dirinya membutuhkan perawatan.

Diagnosis terkadang baru dilakukan saat penderitanya telah melanggar hukum berulang kali dan tampak memiliki kriteria psycho yang khas. Adapun beberapa tes yang dilakukan umumnya sama dengan untuk mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial.

Beberapa tes pemeriksaan yang umum dilakukan untuk mendiganosis psikopat adalah:

  • Pengecekan riwayat medis personal dan keluarga. Umumnya, seseorang yang didiagnosis psycho pernah didiagnosis memiliki gangguan perilaku (conduct disorder) pada masa kecilnya.
  • Evaluasi psikologis yang mengeksplorasi pikiran, perasaan, hubungan, pola perilaku, dan riwayat keluarga.
  • Tes khusus untuk menilai ciri-ciri gangguan kepribadian psikopat (termasuk perilaku hingga kemungkinan untuk melanggar norma dan hukum), yaitu Psychopathy Checklist–Revised (PCL-R).

Apa saja pengobatan yang diberikan untuk penderita psikopat?

Psikopat adalah jenis gangguan kepribadian yang paling sulit diobati. Pasalnya, seseorang dengan kondisi ini enggan untuk mendapat pengobatan. Bila pengobatan dijalankan sekalipun, ini biasanya diperintahkan oleh pengadilan setelah terbukti melakukan tindak kriminal.

Selain itu, beberapa bukti juga menunjukkan bahwa pengobatan apapun cenderung tidak berhasil mengatasi kondisi ini. Namun, bukti lainnya menemukan, seseorang dengan APD dan psycho mengalami perbaikan perilaku setelah menjalani terapi, meski karakteristik intinya tetap ada, seperti kurangnya empati.

Adapun pengobatan utama untuk kondisi ini biasanya berupa psikoterapi. Umumnya, psikoterapi yang diberikan berbentuk terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Melalui terapi ini, terapis membantu penderita kondisi ini untuk mengubah pola pikir dan perilakunya.

Jenis terapi lainnya pun bisa saja diberikan, terutama jika penderita memiliki kondisi mental lain, seperti ketergantungan zat.

Selain terapi, obat-obatan mungkin saja diberikan. Namun, tak ada satupun obat yang dapat mengobati psikopat. Obat yang diberikan biasanya untuk mengatasi depresi, kecemasan, atau gejala lainnya yang mungkin muncul pada penderita kondisi ini.

Cara menghadapi psikopat

Seseorang dengan kondisi psikopati kerap bertingkah dan membuat orang lain sengsara. Namun, mereka tidak merasa bersalah atas perilakunya tersebut dan enggan untuk berubah.

Oleh karena itu, bila Anda mengenal orang dengan kondisi ini, seperti teman, rekan kerja, atau orang yang Anda sayangi, sebaiknya segera mencari bantuan untuk diri sendiri. Anda bisa mencari bantuan ke ahli kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater, untuk mengetahui bagaimana menetapkan batasan, melindungi diri, dan menghadapinya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Antisocial personality disorder. nhs.uk. (2021). Retrieved 28 January 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/antisocial-personality-disorder/.

Antisocial personality disorder – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2021). Retrieved 28 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/antisocial-personality-disorder/symptoms-causes/syc-20353928.

Encyclopedia, M., & disorder, A. (2021). Antisocial personality disorder: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Medlineplus.gov. Retrieved 28 January 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/000921.htm.

Haley, L. (2021). Psychopathy vs Sociopathy – Mental Health America of Eastern Missouri. Mha-em.org. Retrieved 28 January 2021, from https://mha-em.org/im-looking-for/mental-health-knowledge-base/conditions/127-psychopathy-vs-sociopathy.

Psychopathy – What Is Psychopathy?. Law.jrank.org. (2021). Retrieved 28 January 2021, from https://law.jrank.org/pages/1884/Psychopathy-What-psychopathy.html.

Why do some people become psychopaths? | Royal Society. Royalsociety.org. (2021). Retrieved 28 January 2021, from https://royalsociety.org/blog/2017/10/why-do-some-people-become-psychopaths/.

Wm.edu. (2021). Retrieved 28 January 2021, from https://www.wm.edu/offices/auxiliary/osher/course-info/classnotes/faustinapsychopath.pdf.

Anderson, N. E., & Kiehl, K. A. (2014). Psychopathy: developmental perspectives and their implications for treatment. Restorative neurology and neuroscience32(1), 103–117. https://doi.org/10.3233/RNN-139001

Tsopelas, C. h., & Armenaka, M. (2012). Psychiatrike = Psychiatriki23 Suppl 1, 107–116. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22796980/

Storey, J. E., Hart, S. D., Cooke, D. J., & Michie, C. (2016). Psychometric properties of the Hare Psychopathy Checklist-Revised (PCL-R) in a representative sample of Canadian federal offenders. Law and human behavior40(2), 136–146. https://doi.org/10.1037/lhb0000174

Reidy, D. E., Kearns, M. C., & DeGue, S. (2013). Reducing psychopathic violence: A review of the treatment literature. Aggression and Violent Behavior, 18(5), 527–538. https://doi.org/10.1016/j.avb.2013.07.008

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal diperbarui 10/02/2021
x