Beberapa Gangguan Jiwa Bisa Muncul Sekaligus, Ini Sebabnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 3 Desember 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Gangguan jiwa akan memengaruhi cara berpikir, perilaku, hingga kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Seorang pasien bahkan dapat memiliki banyak gangguan jiwa sekaligus apabila kondisinya tidak ditangani dengan baik. Lantas, apa saja gangguan jiwa yang bisa muncul bersamaan?

Mengapa banyak gangguan jiwa bisa muncul bersamaan?

fobia dan trauma

Dalam dunia psikologi, beberapa gangguan jiwa yang muncul secara bersamaan disebut sebagai komorbiditas.

Kondisi ini ternyata umum ditemukan pada pasien masalah kejiwaan, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian dalam Journal of Affective Disorders.

Dari sekitar 7.936 pasien yang diteliti, sekitar setengahnya memiliki lebih dari satu gangguan jiwa.

Jenis masalah yang paling umum yakni gangguan mood, gangguan kecemasan, dan gangguan somatoform (gejala fisik akibat gangguan jiwa).

Seseorang bisa memiliki banyak gangguan jiwa sekaligus karena beberapa alasan.

Pertama, beberapa gangguan jiwa memiliki faktor risiko yang sama. Contohnya, orang yang mengalami trauma masa kecil berisiko mengalami gangguan kecemasan, post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, dan sebagainya.

Kedua, gangguan jiwa yang diderita bisa menyebabkan gangguan kejiwaan yang lain.

Gangguan obsesif kompulsif mungkin saja memicu kecemasan berlebihan, PTSD yang tidak ditangani dengan baik bisa jadi menyebabkan depresi, dan lain-lain.

Berbagai gangguan jiwa yang bisa muncul bersamaan

penyebab halusinasi

Terdapat berbagai jenis gangguan jiwa yang dapat muncul sekaligus. Gangguan jiwa ini bisa muncul secara bersamaan ataupun satu per satu seiring perkembangan kondisi pasien.

Secara umum, berikut gangguan jiwa yang kerap muncul sekaligus:

1. Kecanduan dan skizofrenia

tanda-tanda kecanduan

Meski tidak secara langsung menyebabkan skizofrenia, kecanduan dapat menjadi salah satu pemicu gejalanya. Penggunaan narkoba khususnya, bahkan bisa memperparah gejala yang sudah ada.

Penderita skizofrenia yang tadinya tidak mengalami kecanduan pun lebih berisiko memiliki ketergantungan terhadap alkohol, rokok, dan narkoba.

Hal ini disebabkan karena penderita skizofrenia berusaha mengalihkan diri dari kondisinya atau efek samping obat yang dikonsumsi.

2. Gangguan kecemasan dan gangguan makan

gangguan makan pada remaja

Orang yang memiliki banyak gangguan jiwa bisa berawal dari gangguan kecemasan.

Hampir setiap orang memiliki hal yang tidak disukai dari tubuhnya. Pada beberapa orang, rasa tidak suka tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan berlebih.

Kecemasan tersebut mungkin membuat seseorang sangat takut menjadi gemuk meskipun berat badannya normal.

Ia akhirnya tidak mau makan sehingga mengalami anoreksia dan berisiko terkena bulimia.

3. Gangguan bipolar dan depresi

cara menghadapi pasangan bipolar

Gangguan bipolar terbagi menjadi fase manik dan fase depresif.

Pada fase manik, pasien amat berenergi dan memiliki mood yang sangat baik. Sementara pada fase depresif, pasien akan menunjukkan emosi dan perilaku yang menyerupai gejala depresi.

Perubahan ini membuat penderita rentan memiliki banyak gangguan mental sekaligus, terutama depresi. Pasalnya, fase depresif dapat berlangsung hingga berbulan-bulan serta memengaruhi berbagai aspek kehidupan penderita.

Gangguan ini bisa memicu timbulnya masalah kejiwaan lain bila tidak ditangani dengan tepat. Penanganan pun sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk mengurangi dampaknya bagi penderita.

Apabila Anda atau orang terdekat Anda menunjukkan gejala satu atau beberapa masalah kejiwaan, coba konsultasikan ini dengan tenaga profesional terkait.

Psikolog atau psikiater akan membantu Anda menggali penyebab dan cara mengatasinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mental Illness (Gangguan Mental)

Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental 17 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Mood Disorder (Gangguan Suasana Hati)

Perubahan mood normal terjadi. Namun, bila terus menerus, mungkin tanda mood disorder (gangguan suasana hati). Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Gangguan Mood 15 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Membedakan Mania dan Hipomania Pada Orang dengan Gangguan Bipolar

Mania dan hipomania adalah gejala bipolar yang umum terjadi secara bergantian. Meskipun mirip, kedua gejala ini berbeda. Begini letak perbedaannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 15 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang)

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang bisa menyerang siapa saja. Cari tahu selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

agoraphobia adalah apa itu

Agoraphobia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
apatis

Mengenali Ciri-ciri Sikap Apatis dan Cara Mengatasi yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
perfeksionis

Menjadi Seorang Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
erotomania syndrome adalah

Apakah Anda Yakin Ditaksir Orang yang Anda Cintai? Bisa Jadi Itu Tanda Erotomania

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit