Gangguan Somatisasi: Saat Rasa Sakit Berasal dari Sugesti Sendiri

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Di era modern saat ini, perkembangan informasi begitu cepat dan mudah. Hal inilah yang dapat memicu salah satu gangguan psikiatri yang datang tanpa kita sadari. Gejalanya yang samar membuat orang pasti menolak ketika gejala fisik yang ia alami dikatakan berasal dari pikirannya sendiri. Karena penolakan tersebut, akhirnya seseorang berubah menjadi “doctors shopper”, alias orang yang selalu “belanja dokter”, mendatangi banyak dokter untuk mencari tahu penyakit yang dia derita. Gangguan ini disebut gangguan somatisasi, yaitu sebuah gangguan fisik yang berasal dari pikiran.

Walaupun tidak ada kondisi medis yang serius, gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien dengan gangguan somatoform sangat mengganggu dan berpotensi menimbulkan stres emosional. Hal ini tentu akan menurunkan kualitas hidup seseorang. Maka dari itu, yuk kita cari tahu lebih lanjut.

Apa itu gangguan somatisasi?

Gangguan somatisasi atau disebut juga somatoform adalah suatu kelompok kelainan psikiatrik yang manifestasinya dapat berupa berbagai gejala fisik yang dirasakan signifikan oleh pasien, namun tidak ditemukan penyebabnya secara medis. Sebuah penelitian di Jakarta menyebutkan bahwa di Puskesmas, jenis gangguan piskiatri yang tersering adalah neurosis, yaitu sebesar 25,8%, dan di dalamnya termasuk gangguan somatoform. Angka ini cukup besar, dan meningkat lebih banyak di daerah perkotaan. Pasien biasanya datang dengan keluhan fisik tertentu dan spesifik

Apa saja ciri khas gangguan somatisasi?

  1. Biasanya menyerang usia sebelum usia 30 tahun dan lebih sering pada wanita.
  2. Keluhan atau gejala fisik berulang, banyak gejala dan berubah-ubah. Gejala yang sering dialami pasien antara lain:
    • Sakit perut, diare, atau sembelit
    • Sakit kepala yang berpindah-pindah
    • Sakit punggung, sakit lengan, dan sendi-sendi tubuh seperti lutut dan pinggul
    • Pusing bahkan sampai pingsan
    • Masalah menstruasi, misalnya kram saat menstruasi
    • Sesak napas
    • Sakit dada dan jantung berdebar-debar
    • Mual, kembung, begah
    • Masalah saat berhubungan seksual
    • Gangguan tidur, baik insomnia atau hipersomnia
    • Lemah, letih, lesu dan kurang bertenaga
  3. Perilaku tersebut sudah berlangsung lebih dari 2 tahun.
  4. Pasien datang dengan disertai permintaan pemeriksaan medis, bahkan sampai memaksa dokter.
  5. Hasil pemeriksaan medis yang dilakukan dokter tidak menunjukkan adanya kelainan yang dapat menjelaskan keluhan tesebut.
  6. Pasien biasanya menolak membahas kemungkinan adanya penyebab psikologis. Pasien selalu mencari informasi tentang gejala yang dialaminya dan bersikap “sok tahu”.
  7. Gejala awal dan lanjutan dari keluhan yang dialami berhubungan erat dengan peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau konflik-konflik di kehidupan pasien.
  8. Pasien biasanya menunjukkan perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama karena pasien tidak puas dan tidak berhasil membujuk dokter menerima pikirannya bahwa keluhan yang dialami merupakan penyakit fisik dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
  9. Pasien selalu tidak mau menerima nasihat dari berbagai dokter yang menyatakan tidak ada kelainan medis yang dapat menjelaskan gejala-gejala tersebut

Bagaimana bila Anda atau anggota keluarga mengalami gangguan somatisasi?

Langkah awal untuk menghentikan gangguan somatisasi adalah menerima bahwa gejala yang timbul berasal dari pikiran. Dengan sikap menerima, Anda akan lebih mudah untuk mengatasi gejala yang diderita. Kemudian, hentikan kebiasaan “belanja dokter” secara bertahap. Periksakan gejala yang Anda alami konsisten pada satu dokter dan bangun kepercayaan pada dokter tersebut.

Anda juga sebaiknya mengontrol tingkat stress yang dapat memicu gejala tersebut datang menghampiri. Caranya dengan banyak melakukan aktivitas fisik, hobi, olahraga, ataupun rekreasi bersama keluarga. Selain itu, olahraga yang memadukan olah fisik dan pikiran seperti yoga, dapat dicoba sebagai pengalaman baru. Relaksasi dan olah napas juga dapat membantu meredakan gejala yang dialami.

Keluhan yang dialami berasal dari pikiran, sehingga Anda harus mampu mengendalikan jika keluhan tersebut mulai datang. Perbanyak komunikasi dengan keluarga dan sahabat tanpa membantu melupakan gejala tersebut. Bergabung dengan komunitas baru juga mampu mengusir gejala yang selama ini Anda alami secara bertahap. Jika memungkinkan, Anda bisa meminta dokter kepercayaan untuk mengikuti program tertentu. Salah satu program untuk penderita gangguan ini adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT). Terapi ini merupakan salah satu tatalaksana yang efektif untuk mengelola gangguan somatoform dalam jangka panjang.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

Anda tak bisa lepas dari akun media sosial setiap harinya? Awas, Anda mungkin sudah melewati batas wajar menggunakan media sosial sehari-hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Kecanduan 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Rasa Malas Ternyata Disebabkan Gangguan di Otak. Bagaimana Mengatasinya?

Anda mungkin mengira rasa malas hanyalah kebiasaan buruk saja. Ternyata, gangguan di otaklah yang menyebabkan Anda malas. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan, Informasi Kesehatan 4 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Pedofilia

Pedofil adalah gangguan seksual yang dialami pria. Simak info tentang apa itu pedofil, gejala, ciri, arti, penyebab, dan bagaimana cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 2 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ejakulasi Dini

Ejakulasi dini adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mengontrol dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Pria, Impotensi 2 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
membangun kepercayaan diri

7 Siasat Ini Bisa Jadi Senjata Anda untuk Membangun Kepercayaan Diri

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Kleptomania klepto

Kleptomania

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
makanan probiotik

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit