Suka Cari Perhatian? Mungkin Ciri Kelainan Perilaku Histrionik

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Dalam hidup Anda, pasti Anda pernah menemui seseorang yang sangat senang cari perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Dia pun akan melakukan segala macam cara agar dirinya tetap menjadi pusat perhatian. Ternyata perilaku seperti ini bisa jadi salah satu bentuk penyimpangan. Orang tersebut mungkin tidak menyadari bahwa dirinya mengidap suatu kelainan perilaku. Kelainan perilaku yang mungkin diderita si pencari perhatian dikenal dalam dunia kesehatan mental dengan istilah histrionik.

Apa itu kelainan perilaku histrionik?

Kelainan perilaku histrionik adalah sebuah gangguan kepribadian yang menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan memahami citra dirinya sendiri. Penderita histrionik cenderung membutuhkan pengakuan dan pujian dari orang lain sebagai tolak ukur untuk menilai dirinya sendiri. Akibatnya, orang tersebut jadi haus akan perhatian. Dia pun akan melakukan berbagai cara agar keberadaan atau pengaruhnya diakui oleh orang lain, misalnya dengan bersikap dramatis atau berlebihan.

Para pakar psikologi sepakat bahwa kelainan perilaku histrionik bukanlah sebuah gangguan yang cukup serius atau berbahaya. Penderita histrionik justru biasanya pandai bersosialisasi dan membangun relasi dengan orang baru. Namun, pada beberapa kasus, penderita histrionik akut bisa mengalami depresi dan gangguan waham (delusi). Selain itu, berbagai komplikasi yang ditimbulkan kelainan perilaku histrionik misalnya dalam ranah sosial dan profesional akan membuat penderitanya kesulitan menjalani fungsi normal sehari-hari. Sebaiknya penderita histrionik segera menemui psikolog atau psikiater untuk mencegah berkembangnya kelainan ini.

Gejala kelainan perilaku histrionik

Selain cari perhatian, penderita kelainan perilaku histrionik juga akan menunjukkan gejala-gejala lainnya. Jadi jika Anda atau orang yang Anda kenal memiliki tanda-tanda dan gejala berikut ini, jangan ragu untuk menghubungi tenaga kesehatan mental profesional.

  • Merasa tidak nyaman ketika dirinya tidak menjadi pusat perhatian
  • Cenderung berpakaian atau berperilaku secara sensual dan provokatif di sekitar orang lain
  • Emosi yang berubah-ubah secara drastis dan cepat
  • Bertingkah dramatis seolah-olah sedang berakting di hadapan penonton, sering kali dengan ekspresi dan emosi yang berlebihan
  • Gaya bicaranya seperti dibuat-buat dengan nada dan volume suara yang cukup nyaring supaya orang lain bisa menyadari saat dirinya sedang berbicara
  • Sangat peduli terhadap penampilan fisik dan tidak jarang untuk memanfaatkan penampilannya untuk menarik perhatian
  • Menunjukkan sikap egois dan kurang peduli terhadap orang lain
  • Senantiasa mencari pengakuan, persetujuan, dan penegasan dari orang lain
  • Tidak bisa menerima masukan, kritik, dan perbedaan pendapat dengan baik
  • Bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu
  • Membuat keputusan yang terburu-buru
  • Sangat mudah dipengaruhi, dibujuk, dan dirayu oleh orang lain
  • Cepat marah dan stres
  • Cepat bosan dengan rutinitas dan keadaan sehingga penderita histrionik sering terdorong untuk mencari hobi, pekerjaan, kekasih, atau lingkungan pergaulan baru tanpa menyelesaikan atau menggubris yang lama
  • Sering menyalahkan orang lain atau situasi ketika merasa gagal atau membuat kesalahan
  • Melebih-lebihkan keseriusan atau intensitas hubungan yang dijalin dengan orang lain
  • Mengancam untuk melarikan diri, menyakiti diri sendiri, atau bunuh diri demi mendapatkan perhatian dan simpati dari orang lain

Penyebab kelainan perilaku histrionik

Hingga saat ini, penyebab pasti kelainan perilaku histrionik pada seseorang belum ditemukan. Akan tetapi, para peneliti mengamati bahwa gangguan kepribadian ini bisa muncul baik karena faktor biologis maupun karena faktor lingkungan. Faktor biologis biasanya dipengaruhi oleh genetik. Jika dalam keluarga seseorang ada riwayat kelainan perilaku histrionik, dirinya pun jadi lebih berisiko menderita kelainan tersebut.

Sementara itu, peran lingkungan biasanya lebih mudah untuk diamati dalam munculnya kelainan perilaku histrionik. Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh kelainan perilaku histrionik bisa dipelajari dan ditiru oleh seorang anak dari sosok yang membesarkannya seperti orang tua atau pengasuh. Selain itu, anak juga bisa menunjukkan gejala-gejala histrionik jika tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tuanya, meskipun orang tuanya tidak menderita kelainan perilaku histrionik. Hal ini akan jadi semakin parah jika orang tua atau pengasuhnya tidak bisa mendisiplinkan atau mengendalikan tingkah laku anak yang suka cari perhatian tersebut.

Bisakah kelainan ini disembuhkan?

Kelainan perilaku histrionik sulit untuk disembuhkan karena biasanya si penderita akan menolak penyembuhan. Dia tak akan mengakui dengan mudah bahwa dirinya mengidap sebuah kelainan perilaku, bukan sekadar suka cari perhatian. Namun, biasanya semakin penderita histrionik beranjak dewasa, dia pun semakin bisa mengendalikan gejalanya.

Perawatan yang disarankan bagi orang dengan kelainan perilaku histrionik biasanya berupa psikoterapi. Psikoterapi ini umumnya berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama sampai penderita histrionik bisa menilai dirinya sendiri tanpa pengakuan atau penegasan dari orang lain. Jika orang dengan kelainan perilaku ini mengidap depresi atau kecemasan, biasanya psikolog akan merujuk pada psikiater yang akan meresepkan obat penenang atau antidepresan.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Manfaat Buah Stroberi yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

    Tahukah Anda, buah stroberi dapat membantu mencegah katarak dan menurunkan tekanan darah? Apalagi manfaat buah merah asam ini untuk kesehatan tubuh?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
    Fakta Gizi, Nutrisi 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    7 Olahraga untuk Membantu Menambah Tinggi Badan

    Usia remaja belum terlambat untuk menambah tinggi badan lewat berbagai cara, terutama asupan nutrisi dan olahraga berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Olahraga Lainnya, Kebugaran 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Alfa-Amilase

    Alfa-amilase adalah test kadar enzim amilase dalam darah dan dapat digunakan untuk mendiagnosis pankreatitis akut. Baca proses dan penjelasan hasil tes.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Anion Gap

    Tes anion gap dapat membantu untuk mengidentifikasi adanya kelainan asam pada darah. Cari tahu definisi, proses, dan penjelasan hasil test.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 9 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    sakit kepala setelah makan

    Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    resep oatmeal sehat

    7 Resep Oatmeal Sehat dan Mudah untuk di Rumah

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    tips waxing di rumah

    Tips Melakukan Waxing di Rumah Dengan Bahan-bahan Alami

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    fungsi testis

    Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit