home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenali Ciri-ciri Sikap Apatis dan Cara Mengatasi yang Tepat

Mengenali Ciri-ciri Sikap Apatis dan Cara Mengatasi yang Tepat

Apatis adalah sikap tak peduli atas apa yang terjadi di sekitar. Anda mungkin pernah bertemu dengan orang yang memiliki karakteristik seperti ini. Bahkan, bisa jadi, Anda adalah seorang apatis. Nah, apakah apatis adalah gangguan mental? Untuk mengetahui lebih jelas, simak penjelasan mengenai sikap apatis berikut ini.

Apa itu apatis?

Sikap apatis adalah sikap tidak acuh atau tidak peduli, tidak tertarik, dan tidak memiliki entusiasme terhadap apapun. Bahkan, orang yang apatis tidak tertarik terhadap berbagai hal yang pada umumnya dapat menarik perhatian banyak orang.

Anda mungkin saja memiliki sikap ini, tapi apatis lebih ‘akrab’ dengan remaja dan orang lanjut usia. Artinya, sikap apatis cukup banyak dimiliki oleh orang-orang pada kelompok usia tersebut. Meski begitu, dalam dunia psikologi, apatis terbagi ke dalam dua tipe berbeda.

Jika melihat tindak atau perilaku kejahatan tapi tidak melakukan apapun untuk membantu korban, Anda disebut sebagai bystander apathy. Namun, apabila tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan aktivitas sosial, seperti berinteraksi dengan orang lain, Anda disebut sebagai social apathy.

Meski begitu, apatis tidak sama dengan depresi. Akan tetapi, sikap ini sering kali dikaitkan dengan beberapa masalah kesehatan, termasuk demensia, skizofrenia, hingga penyakit Parkinson. Di samping itu, sikap apatis dapat menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan.

Oleh sebab itu, jika Anda atau orang di sekitar mengalami kondisi ini, lebih baik segera periksakan diri ke ahli profesional untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Ciri-ciri orang yang memiliki sikap apatis

Sebenarnya sikap apatis sendiri sering kali dianggap sebagai suatu sindrom atau suatu kumpulan gejala. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan beberapa ciri-ciri atau gejala, seperti berikut:

  • Tidak produktif dalam berkegiatan sehari-hari.
  • Berkurangnya motivasi untuk meraih sesuatu yang diinginkan.
  • Tampak tidak peduli dengan tujuan yang sebelumnya ingin dicapai.
  • Hilangnya keinginan untuk merawat diri.
  • Semakin menurun keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
  • Tidak memiliki respons emosional terhadap berita baik maupun berita buruk.
  • Sulit menunjukkan perasaan apapun, baik senang, sedih, maupun marah.

Penyebab munculnya sikap apatis

Pada dasarnya, hampir sebagian besar orang memiliki sikap apatis. Akan tetapi, apatis yang dimaksud adalah tidak tertarik atau tidak peduli terhadap topik-topik tertentu. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan Kedokteran mungkin tidak tertarik dengan mata kuliah untuk mahasiswa jurusan Teknik.

Ini berarti selama apatis tidak mengurangi kualitas hidupnya, sebenarnya sangat wajar memiliki sikap ini. Meski begitu, sikap apatis sering kali dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti berikut:

1. Depresi

Apatis adalah salah satu gejala depresi, yaitu orang yang mengalami kondisi tersebut mendadak tidak memiliki ketertarikan terhadap berbagai hal, termasuk aktivitas yang sebelumnya disukai.

2. Obsessive-compulsive disorder (OCD)

Orang yang mengalami OCD juga memiliki kecenderungan untuk memiliki sikap yang satu ini. Biasanya, penderita OCD tidak tertarik dengan kegiatan yang disukai saat sedang kambuh-kambuhnya.

4 Gejala yang Dialami Penderita OCD

3. Demensia

Pada orang dengan usia lanjut, apatis biasanya menjadi salah satu gejala dari demensia.

4. Gangguan kecemasan

Jika memiliki gangguan kecemasan, Anda akan melupakan segala ketertarikan terhadap kegiatan atau aktivitas yang Anda sukai hingga interaksi dengan orang yang Anda sayangi saat merasa cemas.

Namun, tak hanya itu saja, sikap ini juga bisa disebabkan oleh situasi hidup. Masing-masing individu menghadapi situasi yang berbeda-beda dalam hidupnya. Beberapa hal berikut ini mungkin membentuk sikap apatis pada diri Anda:

  • Berpikiran buruk tentang diri sendiri.
  • Pesimis terhadap masa depan.
  • Rasa takut akan kegagalan atau penolakan.
  • Merasa dirinya rendah, tidak kompeten, tidak berbakat, dan tidak berarti di dunia ini.
  • Baru saja mengalami atau menyaksikan kejadian buruk menimpa diri sendiri atau orang terdekat.
  • Adanya suatu hal yang menyebabkan Anda merasa pesimis dan tidak memiliki harapan.
  • Bosan dan lelah hanya karena melakukan rutinitas harian seolah tidak ada hal menarik yang ditunggu-tunggu setiap harinya.

Cara membantu orang lain mengatasi sikap apatis

Jika anggota keluarga, pasangan, atau orang terdekat Anda menunjukkan gejala apatis, cobalah untuk membantunya terlepas dari sikap tersebut. Apalagi jika hal ini sudah berlangsung lama dan dapat memengaruhi kualitas hidupnya.

Menurut Alzheimer’s Society, berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu orang lain yang memiliki sikap apatis:

1. Menunjukkan aktivitas yang menarik

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah membantu orang tersebut untuk melakukan aktivitas yang disukainya. Awalnya memang tidak mudah, tapi jangan mudah menyerah hanya karena percobaan-percobaan yang gagal. Tak hanya itu, pilihlah kegiatan yang sekiranya bisa memberikan arti kepada dirinya.

2. Membantu membuat pencapaian

Salah satu ciri dari sikap apatis adalah tidak memiliki keyakinan akan mencapai target yang dimilikinya. Maka itu, cobalah bantu orang terdekat Anda untuk melakukan aktivitas yang membuatnya merasa telah mencapai sesuatu.

Anda tidak perlu memilih aktivitas yang terlalu rumit. Buatlah atau carilah kegiatan sederhana tapi bisa dilakukan untuk jangka panjang. Harapannya, cara ini dapat membantu orang tersebut untuk kembali bersemangat menjalani hidup.

3. Memberikan dukungan dan dorongan semangat

Sebagai orang terdekat, cobalah untuk memberikan dukungan positif kepada orang yang memiliki sikap apatis. Berikan dorongan semangat setiap hari, tapi jangan memaksanya untuk bisa segera terlepas dari sikap tersebut.

Anda sendiri juga harus bisa berpikir positif terhadap apa yang telah dicapainya. Cara memaksa tentu tidak akan efektif untuk membantunya kembali memiliki semangat dalam menjalani hidup.

4. Menghindari sikap frustasi saat menolong

Keberhasilan dalam membantu orang terdekat terlepas dari sikap apatis juga tergantung pada tingkat kesabaran dan ketelatenan yang Anda miliki. Jika Anda merasa frustasi dengan sikap apatis yang masih kerap ditunjukkannya, cobalah untuk tenang dan sabar.

Segala sesuatunya memang membutuhkan waktu dan tidak bisa didapat dengan cara instan. Selain itu, jika Anda mudah menunjukkan emosi negatif kepada orang tersebut, bisa jadi ia justru menangkap energi negatif yang terpancar.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Apathy. Retrieved 2 February 2021, from https://www.parkinson.org/Understanding-Parkinsons/Symptoms/Non-Movement-Symptoms-Apathy

Apathy. Retrieved 2 February 2021, from https://patient.info/signs-symptoms/apathy

Apathy. Retrieved 2 February 2021, from https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/apathy

Apathy, Depression, and Anxiety. Retrieved 2 February 2021, from https://www.alzheimers.org.uk/sites/default/files/migrate/downloads/factsheet_depression_and_anxiety.pdf

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 23/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri