backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Kecanduan Nikotin

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Kecanduan Nikotin

 Angka perokok di Indonesia sampai saat ini masih terus bertambah. Fenomena ini tentu tidak terlepas dari keberadaan nikotin, salah satu kandungan rokok yang menyebabkan kecanduan.

Sayangnya, kecanduan nikotin tidak hanya berdampak buruk pada pelaku, tetapi juga orang di sekitarnya. Lantas, adakah cara untuk mengatasi kondisi ini? Berikut ulasannya.

Apakah nikotin bisa membuat kecanduan?

Nikotin adalah zat stimulan yang bisa menyebabkan kecanduan atau adiksi. Zat ini hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk memengaruhi otak setelah diisap.

Nikotin menyebabkan kecanduan dengan cara menghasilkan dopamin di dalam otak. Dopamin akan memberikan sensasi menyenangkan dan menenangkan, tetapi hanya sementara.

Ketika efek nikotin habis, otak Anda akan berusaha mendapatkan sensasi serupa sehingga Anda terus mengisap rokok.

Seiring waktu, Anda akan membutuhkan lebih banyak nikotin untuk mendapatkan kembali sensasi tersebut. Inilah yang akhirnya menyebabkan kecanduan.

Tanda dan gejala kecanduan nikotin

risiko perokok terhadap covid-19

Berikut ini adalah berbagai ciri-ciri yang kerap dialami oleh seseorang yang mulai kecanduan nikotin.

  • Tidak bisa berhenti merokok meski sudah mencoba beberapa kali.
  • Tetap merokok meski sudah merasakan efek buruknya, seperti sesak napas dan batuk-batuk.
  • Menghindari berkunjung ke tempat bebas rokok atau berkumpul dengan orang yang membuatnya tidak bisa merokok.

Selain berbagai kondisi di atas, gejala kecanduan nikotin juga bisa berupa gangguan fisik seperti berikut.

  • Sakit kepala.
  • Sembelit.
  • Diare.
  • Hidung mudah berair.
  • Gangguan tidur.
  • Mual.
  • Sulit konsentrasi.
  • Mudah lapar hingga mengalami kenaikan berat badan.

Ketergantungan nikotin karena rokok bisa berdampak pada kondisi psikologis. Zat ini bisa membuat pecandunya mudah cemas, gelisah, marah, hingga depresi.

Penyebab kecanduan nikotin

Kecanduan nikotin disebabkan oleh kebiasaan merokok atau penggunaan produk tembakau lainnya, seperti cerutu dan rokok elektrik.

Zat tersebut akan menyebabkan kecanduan dengan cara melepaskan dopamin. Ini adalah salah satu zat kimia di otak yang memberikan perasaan senang. 

Meski begitu, orang yang tidak terlalu sering merokok juga bisa ketagihan karena sifat nikotin yang sangat adiktif, hampir sama dengan kokain, heroin, dan alkohol.

Cleveland Clinic bahkan menyebutkan bahwa nikotin bisa menimbulkan gejala kecanduan setelah satu atau dua kali merokok.

Parahnya lagi, semakin sering Anda merokok, semakin tinggi pula toleransi tubuh Anda terhadap nikotin.

Artinya, Anda membutuhkan lebih banyak nikotin dibandingkan sebelumnya untuk merasakan efek menenangkan yang sama.

Faktor risiko kecanduan nikotin

Setiap perokok dapat mengalami kecanduan nikotin. Namun, beberapa faktor berikut akan meningkatkan risikonya.

  • Merokok sejak usia muda.
  • Tinggal di lingkungan dengan banyak perokok.
  • Memiliki gangguan mental, seperti depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga skizofrenia.
  • Kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Riwayat ketergantungan nikotin di dalam keluarga.

Komplikasi kecanduan rokok

Kombinasi nikotin dengan lebih dari 60 zat kimia lain di dalam sebatang rokok membuat kebiasaan merokok bisa merusak hampir semua organ tubuh dan sistem kekebalan tubuh.

Berikut ini adalah beberapa risiko komplikasi kecanduan rokok yang mungkin sudah sering Anda temukan pengingatnya pada kemasan rokok.

  • Penyakit saluran pernapasan.
  • Diabetes.
  • Impotensi.
  • Gangguan kesuburan.
  • Gagal jantung.
  • Stroke.
  • Keguguran dan komplikasi kehamilan lainnya.
  • Berbagai macam kanker, termasuk kanker mulut, ginjal, dan darah. 
  • Diagnosis kecanduan nikotin

    Untuk mendiagnosis kecanduan nikotin, dokter akan mengajukan berbagai pertanyaan tentang kebiasaan Anda dalam menggunakan produk-produk bernikotin.

    Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan yang akan dokter ajukan kepada Anda.

    • Seberapa sering Anda merokok?
    • Pada pukul berapa biasanya Anda mulai merokok?
    • Berapa rokok yang bisa Anda habiskan dalam sehari?
    • Apakah Anda tetap merokok meski sedang sakit?
    • Apakah Anda kesulitan berada di tempat yang dilarang merokok?

    Selain itu, dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, seperti pemeriksaan denyut jantung, suara napas, dan tekanan darah.

    Cara menghentikan kecanduan nikotin

    Kecanduan nikotin dapat dihentikan dengan atau tanpa bantuan obat. Namun, satu hal yang pasti adalah proses ini membutuhkan keinginan dan komitmen yang kuat.

    Jika tidak bisa langsung berhenti merokok, Anda bisa memulainya dengan mengurangi jumlah rokok yang diisap setiap harinya.

    Selain itu, tunda kebiasaan mulai merokok pada pagi hari. Jika Anda biasa mulai merokok pada pukul 7 pagi, cobalah memulainya pada pukul 10 pagi.

    Keesokan harinya, mulailah merokok pada pukul 1 siang dan seterusnya hingga Anda makin terbiasa untuk menunda merokok.

    Selain menerapkan kebiasaan tersebut, Anda juga bisa menggunakan berbagai metode berikut untuk mengatasi kecanduan rokok.

    1. Terapi pengganti nikotin

    Nicotine replacement therapy (NTR) atau terapi pengganti nikotin adalah metode untuk menghentikan rokok dengan cara memberikan pasien sejumlah kecil nikotin tanpa tambahan bahan kimia seperti pada rokok.

    NTR dapat diberikan dalam berbagai bentuk, seperti permen karet, obat isap, hingga plester atau koyo yang ditempelkan pada kulit.

    2. Obat-obatan

    Rokok sebagai risiko kanker paru

    Bupropion dan varenicline adalah dua jenis obat yang bisa membantu Anda berhenti merokok.

    Bupropion akan menghentikan kecanduan dengan cara menyeimbangkan kadar zat kimia tertentu di dalam otak sehingga mengurangi gejala putus nikotin.

    Sementara itu, varenicline akan bekerja dengan cara mengurangi kenikmatan saat merokok sekaligus mengurangi gejala putus obat atau withdrawal syndrome.

    3. Terapi perilaku

    Dokter atau psikolog akan membantu Anda mencari tahu akar masalah di balik kebiasaan merokok Anda.

    Dengan cara ini, Anda bisa menghindari faktor tersebut sekaligus belajar cara menghadapi gejala withdrawal syndrome.

    Terapi perilaku biasanya dilakukan dalam beberapa sesi. Anda perlu mengikuti semua sesi untuk mendapatkan hasil terbaik. 

    Proses menarik diri dari kecanduan bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, penting untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitar.

    Beri tahu keinginan Anda untuk berhenti merokok ke orang-orang di sekitar Anda. Dengan begitu, mereka bisa membantu mengingatkan ketika Anda mulai goyah di tengah jalan.

    Semua tentang kecanduan nikotin

    • Zat nikotin pada rokok, cerutu, maupun rokok elektrik bisa menyebabkan kecanduan dengan cara melepaskan dopamin dalam otak.
    • Kecanduan ditandai dengan ketidakmampuan untuk berhenti merokok meski sudah mencoba, tetap merokok meski merasakan efek buruknya, dan keengganan untuk berada di tempat bebas rokok.
    • Kondisi ini dapat diatasi dengan NTR, bupropion, varenicline, dan terapi perilaku.

    Catatan

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan