Kecanduan Nikotin: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Rata-rata orang Indonesia merokok sebanyak 12,4 batang setiap hari. Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, perokok aktif Indonesia mulai dari usia 10 tahun ke atas berkisar hingga 66 juta orang, alias 10 kali lipat dari total penduduk Singapura!

Yang lebih mengejutkannya lagi, angka kematian akibat rokok di Indonesia hingga saat ini mencapai 200 ribu kasus per tahunnya.

Meskipun sebagian besar dampak toksisitas merokok berkaitan dengan sejumlah komponen kimiawi lainnya yang terkandung dalam sebatang rokok, kecanduan rokok dan tembakau merupakan efek farmakologis dari nikotin.

Bagaimana cara kerja nikotin?

Ketika seseorang menghirup asap rokok, nikotin disuling dari tembakau dan dibawa oleh partikel asap ke dalam paru-paru yang kemudian akan diserap dengan cepat ke dalam vena pulmonaris paru.

Selanjutnya, partkel nikotin memasuki sirkulasi arteri dan bergerak menuju otak. Nikotin akan dengan mudah mengalir ke jaringan otak, di mana partikel-partikel ini akan mengikat reseptor nAChRs, reseptor ionotropik (ligand-gated ion channel) yang terbuka untuk memungkinkan kation seperti sodium dan kalsium melewati membran dalam menanggapi lebih banyak pengikatan utusan kimia, seperti neurotransmitter.

Salah satu neurotransmiter ini adalah dopamin, yang dapat meningkatkan mood Anda dan mengaktifkan perasaan senang. Efek nikotin dalam tembakau inilah yang menjadi adalah alasan utama yang membuat tembakau dan rokok sangat adiktif.

Ketergantungan nikotin melibatkan perilaku serta faktor fisiologis. Perilaku dan isyarat yang mungkin terkait dengan merokok, meliputi:

  • Waktu-waktu tertentu di satu hari, misalnya, merokok sambil ngopi dan sarapan, atau saat jam istirahat kerja
  • Setelah makan
  • Dibarengi minuman alkohol
  • Tempat-tempat tertentu atau orang-orang tertentu
  • Saat menelepon
  • Di bawah tekanan, atau saat sedang merasa sedih
  • Melihat orang lain merokok, atau mencium bau rokok
  • Saat berkendara

Tanda dan gejala kecanduan nikotin

Pada sebagian orang, merokok bisa dengan sangat cepat menyebabkan ketergantungan nikotin walaupun dikonsumsi hanya dalam jumlah kecil. Berikut adalah beberapa tanda dan gejala kecanduan nikotin:

  • Tidak bisa berhenti merokok. Walaupun Anda telah mencoba beberapa kali untuk berhenti merokok.
  • Anda mengalami “sakaw” saat berhenti merokok. Semua percobaan berhenti merokok yang telah Anda lakukan menimbulkan tanda dan gejala sakaw, baik fisik maupun perubahan mood, seperti ngidam yang amat parah, cemas dan gugup, mudah tersinggung atau marah, gelisah, sulit konsentrasi, merasa depresi, frustasi, kemarahan, peningkatan rasa lapar, insomnia, dan sembelit atau bahkan diare.
  • Tetap merokok walaupun memiliki masalah kesehatan. Walaupun Anda telah terdiagnosis masalah kesehatan tertentu yang berkaitan dengan jantung atau paru, Anda tidak bisa dan/atau mampu untuk berhenti.
  • Anda lebih mementingkan untuk bisa merokok daripada melakukan aktivitas sosial maupun rekreasional. Anda mungkin lebih memilih untuk tidak lagi mengunjungi satu restoran sama sekali karena peraturan larangan merokok dari restoran tersebut, atau lebih memilih untuk tidak bersosialisasi dengan orang-orang non-perokok karena Anda tidak bisa merokok dalam situasi atau di lokasi tertentu.

Apakah ada pengobatan efektif untuk mengatasi ketagihan nikotin?

Selain memulai perubahan gaya hidup yang lebih sehat, cara di bawah ini terbukti ampuh untuk mengobati ketergantungan Anda terhadap nikotin:

Produk alternatif nikotin

Atau lebih dikenal dengan NRT (Nicotine Replacement Therapy). Contohnya permen karet nikotin atau koyo nikotin. Terapi ini akan menyokong kebutuhan nikotin Anda untuk meringankan efek “sakaw” dari berhenti merokok. Produk-produk ini menghasilkan perubahan fisiologis yang lebih bisa ditoleransi daripada efek sistemik produk berbahan dasar tembakau, dan umumnya menyuplai pengguna dengan kadar nikotin yang jauh lebih rendah daripada sebatang rokok.

Terapi jenis ini memiliki potensi efek samping penyalahgunaan nikotin yang rendah, karena mereka tidak memproduksi efek menyenangkan dan menenangkan yang bisa Anda dapatkan dari produk tembakau. NRT juga tidak mengandung senyawa karsinogenik dan polutan yang umum dikaitkan dengan asap rokok.

Obat-obatan resep dokter (bupropion dan varenicline)

Bupropion adalah obat antidepresan yang juga bisa digunakan untuk membantu orang berhenti merokok. Bupropion tidak mengandung nikotin, tapi tetap dapat menanggulangi keinginan pasien untuk merokok. Bupropion sering digunakan dalam jangka waktu 7-12 minggu, dimulai 1-2 minggu sebelum berhenti merokok. Obat ini dapat digunakan untuk pemeliharaan penghentian merokok hingga enam bulan. Efek samping yang mungkin dialami adalah insomnia dan mulut kering.

Varenicline adalah obat yang akan menargetkan ketergantungan otak terhadap nikotin dengan cara memblokir asupan nikotin sebelum sampai ke dalam membran otak dan menurunkan hasrat merokok. Banyak studi telah membuktikan bahwa varenicline lebih efektif dalam membantu orang berhenti merokok, karena obat tablet ini sukses menstimulasi dopamin untuk mencegat reseptor nikotin untuk bekerja. Varenicline mengurangi tanda dan gejala “sakaw” nikotin dan rasa ngidam, yang dapat membantu mencegah kambuh total. Obat ini juga bisa memblokir efek nikotin bahkan jika Anda kembali merokok lagi.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Peneliti Dorong Pengurangan Dampak Buruk Tembakau Melalui Produk HPTL

    Peneliti farmasi Universitas Brawijaya mencari tahu potensi untuk mengurangi dampak buruk tembakau melalui produk HPTL. Bagaimana hasilnya?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Berhenti Merokok, Hidup Sehat 9 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

    Emfisema

    Emfisema adalah salah satu jenis penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) paling umum. Kondisi ini terjadi karena kerusakan kantung udara di paru-paru.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Pernapasan, PPOK 8 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Waspadai Binge Watching, Kecanduan Nonton yang Berdampak Buruk Bagi Kesehatan

    Bagi pecinta series netflix atau film, hati-hati Anda bisa saja mengalami binge watching. Memangnya, apa dampak buruk binger watching?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Mental, Kecanduan 5 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Euforia, Luapan Rasa Gembira yang Bisa Berdampak Positif dan Negatif

    Euforia adalah perasaan gembira yang terjadi secara alami, atau merupakan kondisi dari gangguan kesehatan tertentu. Berikut info lengkapnya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 3 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    gangguan bipolar adalah

    Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
    bahaya vape rokok elektrik

    Macam-Macam Jenis Vape (Rokok Elektrik) Plus Risiko Bahayanya yang Perlu Anda Tahu

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
    perokok pasif wanita mandul

    Benarkah Wanita yang Jadi Perokok Pasif Berisiko Susah Hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
    wajah tidak simetris

    8 Sebab Mengapa Seseorang Memiliki Wajah yang Tidak Simetris

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 11 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit