Mengenal Inner Child yang Menetap Hingga Dewasa, Serta Cara Mengatasi Luka yang Tertinggal

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Inner child adalah salah satu istilah psikologi yang akhir-akhir ini sering dibicarakan. Bahkan, banyak orang yang sering mengatakan bahwa tindak-tanduk seseorang terbentuk karena inner child di dalam dirinya. Namun, apa sih arti dari inner child yang sesungguhnya? Mengapa inner child yang terluka dapat memengaruhi seseorang dan bagaimana cara mengatasinya? Nah, temukan jawabannya dalam penjelasannya berikut ini, ya.

Apa itu Inner child?

Inner child sebenarnya adalah sebuah konsep yang menggambarkan sifat dan sikap kekanak-kanakan yang mungkin dimiliki oleh setiap orang. Meski begitu, inner child yang terdapat di dalam masing-masing individu tentu tidaklah sama. Pasalnya, inner child terbentuk dari pengalaman Anda saat masih anak-anak.

Ya, inner child bisa digambarkan sebagai bagian dari diri Anda yang tidak ikut tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak. Artinya, bagian ini terus menetap dan bersembunyi di dalam diri Anda. Bagian ini menggenggam erat setiap ingatan dan emosi yang pernah Anda alami saat masih kecil, baik yang indah maupun yang buruk.

Sayangnya, hal ini kemudian juga menyerap setiap energi negatif, baik berupa perilaku maupun ucapan dari orang yang Anda anggap seharusnya dapat memberikan rasa aman. Maka itu, saat inner child terluka, ia akan memengaruhi Anda sebagai orang dewasa dalam mengambil keputusan dan menjalani hubungan dengan orang lain.

Inner child merupakan salah satu komponen pembentuk karakteristik dari diri Anda. Oleh sebab itu, Anda perlu mengetahui, menerima, dan terkoneksi dengan inner child yang ada di dalam diri.

Apa yang menyebabkan inner child terluka?

Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat menjadi mengganggu inner child di dalam diri Anda terluka. Mungkin sebagian dari penyebab ini tampak seperti hal yang wajar terjadi pada anak-anak. Namun, jika saat itu harus menghadapinya sendiri, maka perkembangan diri Anda mungkin menjadi terpengaruh karenanya.

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin dapat menjadi penyebab inner child di dalam diri terluka:

  • Kehilangan orangtua atau wali dan keluarga dekat.
  • Kekerasan fisik, emosional, atau seksual.
  • Pengabaian.
  • Penyakit serius.
  • Perundungan atau bullying.
  • Gempa bumi.
  • Perpecahan dalam keluarga.
  • Ada anggota keluarga yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Kekerasan dalam rumah tangga.
  • Ada anggota keluarga yang memiliki gangguan mental.
  • Hidup di pengungsian.
  • Terpisahkan dari keluarga.

Jika pernah mengalami salah satu kondisi di atas dan harus menghadapinya sendiri, maka kemungkinan inner child yang terdapat di dalam diri Anda mungkin sedang terluka.

Apa tanda bahwa inner child di dalam diri sedang terluka?

Salah satu ciri bahwa inner child di dalam diri sedang terluka adalah cara pandang Anda terhadap dunia. Ya, jika Anda merasa bahwa dunia bukan tempat yang aman, mungkin ada trauma masa kecil mendalam yang pernah Anda rasakan dan melukai inner child tersebut. Berikut adalah ciri-ciri yang perlu Anda perhatikan:

  • Merasa ada yang salah dengan diri Anda.
  • Selalu berusaha menyenangkan semua orang.
  • Terkadang merasa senang jika bermasalah dengan orang lain.
  • Susah move on dari orang lain.
  • Sering kali merasa cemas jika dihadapkan dengan sesuatu yang baru.
  • Rasa bersalah jika memberikan batasan atas diri Anda kepada orang lain.
  • Selalu berusaha untuk menjadi yang terdepan.
  • Perfeksionis.
  • Sering kesulitan memulai dan menyelesaikan tugas.
  • Selalu mengkritik diri sendiri.
  • Sering merasa malu saat harus menunjukkan perasaan.
  • Malu dengan bentuk tubuh sendiri.
  • Sering menaruh curiga kepada orang lain.
  • Berusaha menghindari konflik bagaimanapun caranya.
  • Takut ditinggalkan.

Lalu, bagaimana mengatasi inner child yang terluka?

Pada dasarnya,  yang bisa mengatasi sisi anak-anak yang hidup di dalam diri, hanyalah Anda sendiri. Oleh sebab itu, cobalah untuk melakukan beberapa hal berikut ini.

1. Memahami apa yang terjadi pada sisi anak-anak dalam diri Anda

Bagi sebagian orang, penyebab luka masa kecil sangat mudah dipahami. Sebagai contoh, mengalami kekerasan fisik saat kecil mungkin menjadi penyebab berbagai masalah emosi yang Anda rasakan saat beranjak dewasa.

Namun, bagi sebagian lainnya, penyebab luka masa kecil tidak mudah diidentifikasi. Artinya, Anda sendiri mungkin tidak tahu apa tepatnya pengalaman di masa lalu yang membentuk amarah atau perasaan-perasaan negatif tertentu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata.

Untuk berhasil menyembuhkan lukanya, Anda perlu benar-benar mengetahui apa penyebab dari luka tersebut. Jika Anda tidak bisa menemukannya sendiri, cobalah cari bantuan ahli profesional untuk membantu mengatasi masalah ini.

2. Menyayangi sisi anak-anak di dalam diri Anda

Saat masih kecil, Anda mungkin mengalami suatu kejadian traumatis yang menimbulkan perasaan ragu terhadap kasih sayang orangtua dan anggota keluarga lainnya terhadap diri sendiri. Bahkan, sekalipun orangtua dan saudara Anda lainnya kerap menunjukkan rasa sayang mereka.

Oleh sebab itu, Anda harus memberikan rasa kasih sayang yang murni dan tulus kepada sisi anak-anak dalam diri. Dengan begitu, Anda bisa lebih merasakan rasa kasih sayang sesungguhnya yang mungkin saat masih kecil tidak didapatkan.

3. Mencoba mendengarkan sisi anak-anak di dalam diri Anda

Tidak hanya mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, Anda juga perlu mendengarkan sisi anak-anak yang ada di dalam diri sendiri. Jika benar-benar memerhatikan dan merasakan, bisa jadi ada sebagian dari diri Anda yang berusaha keras untuk dipahami dan dimengerti.

Nah, bagian dari diri itu bisa jadi sisi anak-anak yang terluka dari Anda kecil, dan membutuhkan perhatian. Cobalah berkomunikasi dengan inner child yang terdapat di dalam diri Anda. Berikanlah ia pengertian dan kasih sayang, sehingga Anda bisa perlahan mengatasi luka mendalam yang selama ini terpendam.

Meski begitu, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Qualitative Studies in Health and Well-being, bahwa pengalaman di masa lalu dapat memberikan pembelajaran yang bermanfaat untuk jangka panjang, hingga Anda tua nanti. Oleh sebab itu, cobalah untuk berdamai dan bersatu dengan inner child untuk hidup yang lebih baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kenapa Ada yang Butuh Tidur Lebih Lama Daripada Orang Lain?

Beberapa orang perlu tidur lebih lama agar tubuh bisa berfungsi normal di siang hari. Cari tahu berbagai penyebabnya karena mungkin Anda salah satunya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Pola Tidur Sehat, Tips Tidur 14 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang)

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang bisa menyerang siapa saja. Cari tahu selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Lebih Dekat Karakteristik dari Seorang Sosiopat

Sosiopat seringkali digambarkan sebagai penjahat yang senang menyiksa dan membunuh korban. Apakah stereotip tersebut benar adanya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

apatis

Mengenali Ciri-ciri Sikap Apatis dan Cara Mengatasi yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
self esteem adalah

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
perfeksionis

Menjadi Seorang Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit