Bagaimana Cara Menghadapi Anak Korban Bullying?

    Bagaimana Cara Menghadapi Anak Korban Bullying?

    Bullying atau perundungan pada anak merupakan masalah yang hingga kini masih belum bisa terselesaikan dan memiliki konsekuensi yang cukup mengkhawatirkan bagi kehidupan anak. Oleh karena itu, peran orangtua sangat penting untuk memastikan anak tidak mengalami trauma jangka panjang. Jika Anda mengetahui anak menjadi korban bullying, kira-kira apa yang harus dilakukan? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

    Apa yang perlu orangtua lakukan saat menghadapi anak korban bullying?

    korban bullying

    Tentu tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi korban bullying.

    Bahkan, menyaksikan anak Anda mengalami rasa sakit fisik dan emosional akibat bullying atau cyberbullying sungguh memilukan.

    Beberapa orangtua mungkin tidak tahu harus mulai dari mana untuk membantu melindungi anak-anak mereka dari intimidasi dan kekerasan.

    Namun, jika anak Anda memberi tahu ia menjadi korban bullying, maka dengarkan dengan tenang dan berikan rasa aman dan dukungan.

    Anak-anak seringkali enggan memberi tahu orang dewasa tentang bullying karena mereka merasa malu jika hal itu terjadi, atau khawatir orangtua mereka akan kecewa, kesal, marah, atau bersikap reaktif.

    Kemudian, puji anak Anda karena ia telah melakukan hal yang benar dengan memberitahu orangtua.

    Ingatkan juga pada anak bahwa ia tidak sendirian, banyak orang yang pernah menjadi korban bullying.

    Jelaskan jika mengintimidasi seseorang adalah perilaku yang buruk. Selanjutnya, yakinkan anak Anda bahwa Anda akan membantunya untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan bersama.

    Selain itu, Anda juga dapat meminta anak Anda untuk melakukan sejumlah cara berikut ini ketika jadi korban bullying.

    • Minta anak Anda untuk membela diri atau berkata tidak saat dirundung.
    • Ajarkan anak untuk tidak mem-bully atau membalas ketika di-bully, tapi berusaha untuk menghindar. Misalnya ketika dipukul lebih baik menghindar atau menangkis.
    • Memahami bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.
    • Fokus pada hal positif yang ada di dalam diri.
    • Berdiskusi atau mengobrol dengan orang dewasa, seperti orang tua, kakak, atau guru yang bisa membantu.

    Perlu Anda tegaskan kembali bahwa bullying tidak hanya tanggung jawab anak, tapi juga semua orang yang ada di lingkungan tersebut.

    Bagaimana agar orangtua tidak terkesan ikut campur dengan urusan anak?

    Tidak sedikit orangtua yang menghadapi dengan amarah ketika mengetahui anak menjadi korban bullying. Bila ini terjadi pada anak Anda, sebaiknya hindari memarahi anak secara langsung.

    Sebagai orangtua, Anda perlu memahami bahwa saat ia dirundung atau di-bully, anak perlu belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

    Misalnya, ketika anak Anda mendapat perlakuan tidak menyenangkan bisa menarik napas dahulu agar tenang. dan tidak mengandalkan emosinya sesaat.

    Beri kesempatan anak untuk menghadapi bullying yang dialaminya karena ada efek buruk bila orangtua terlalu ikut campur kehidupan anak.

    Sangat tidak disarankan untuk langsung memarahi anak yang melakukan bullyingt. Sebagai gantinya, coba ajak orangtua lain bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik.

    Anda bisa mengatakan pada orangtua, “Saya melihat anak saya dipukul, boleh bicara ada apa yang terjadi?”

    Sikap ini lebih baik daripada langsung memarahi pelaku bullying dengan kalimat, “Anak Anda memukul anak saya!”

    Meski terkesan sepele, tapi ini penting karena orangtua perlu menghadapi dan membangun lingkungan yang kondusif dan aman sekali pun anak Anda menjadi korban bullying.

    Cara menyemangati anak korban bullying agar tidak menjadi trauma

    orangtua kepergok selingkuh

    Ada berbagai cara untuk memotivasi dan menghadapi anak korban bullying dan caranya juga berbeda-beda.

    Namun, hal yang penting adalah fokus dalam mengajarkan anak untuk mencintai diri sendiri dan lihat hal positif yang dimiliki anak.

    Anda bisa melakukan beberapa cara di bawah ini untuk menyemangati anak Anda yang menjadi korban bullying.

    1. Percayalah pada anak

    Inilah saatnya bagi orangtua untuk mendengarkan dengan tenang dan memvalidasi perasaan anak korban bullying. Anda tidak perlu langsung mencari tahu nama pelaku atau menelepon kepala sekolah.

    Mengutip situs UNICEF, disebutkan jika Anda harus mengingatkan anak bahwa itu bukan kesalahan mereka dan perasaan marah, sedih, takut, dan malu mereka adalah normal dan dapat dimengerti.

    Penting juga bagi anak Anda untuk mengetahui bila tidak boleh ada orang yang mengintimidasi mereka lagi.

    2. Bantu bangun kepercayaan diri anak

    Doronglah anak untuk terlibat dalam kegiatan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak, termasuk melakukan hobi, olahraga, atau bakat lainnya.

    Dalam situasi ini, anak Anda akan merasa bangga ketika mereka mampu mencapai sesuatu apalagi sesuai dengan apa yang ia senangi.

    Anda juga dapat membantu anak korban bullying untuk membangun kembali citra dirinya dengan menciptakan support system, baik dari keluarga dan teman.

    Pasalnya, hubungan emosional dan berbagi pengalaman akan membantu anak Anda merasa lebih diterima.

    3. Jadilah orangtua yang suportif

    Bagi anak, memiliki orangtua yang suportif sangat penting untuk menghadapi dampak bullying.

    Pastikan, anak Anda tahu bahwa mereka dapat berbicara dengan orangtuanya kapan saja. Selain itu, yakinkan mereka bahwa semua masalah akan menemukan solusinya dan menjadi lebih baik.

    Anda juga bisa memberikan dukungan pada anak dengan menjadi pendengar yang baik. Cara memberi dukungan pada si Kecil dengan mengajak anak bercerita sambil bermain.

    Ketika anak sedang bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, tanyakan bagaimana perasaannya.

    Apa yang membuatnya nyaman dan tidak di kesehariannya. Ini membantu anak agar lebih terbuka dan tidak sungkan ketika ingin bercerita.

    Perlukah anak korban bullying pergi ke psikolog?

    Berkonsultasi dengan psikolog sudah sangat perlu dilakukan ketika tanda anak korban bullying mulai terlihat dan terasa dampaknya terhadap kegiatan sehari-sehari.

    Misalnya, anak mengalami penurun nilai-nilai di sekolah, depresi, sering menangis, murung dalam waktu yang cukup lama, sampai tidak mau sekolah.

    Anda juga dapat mempertimbangkan untuk mendorong guru anak Anda agar merujuk pelaku intimidasi ke layanan psikolog sendiri.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditulis oleh

    Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog

    Psikologi · Lisa Medical Consultancy


    Tanggal diperbarui 19/12/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan