Phobia, Bukan Sekadar Rasa Takut Biasa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Fobia atau phobia adalah suatu perasaan takut berlebihan terhadap suatu hal yang tidak masuk akal, baik itu objek maupun situasi yang sebenarnya tidak menimbulkan bahaya. Tidak seperti rasa gugup pada umumnya (misalnya gugup ketika Anda hendak berbicara atau tampil di depan publik), phobia biasanya berkaitan dengan sesuatu yang spesifik.

Apa saja jenis-jenis phobia?

Phobia secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Phobia spesifik

Jenis phobia ini lebih mengarah pada phobia yang dikarenakan objek atau situasi tertentu. Phobia ini biasanya dimulai dari masa kanak-kanak atau remaja, dan bisa berkurang tingkat keparahannya seiring dengan bertambahnya umur. Beberapa contoh phobia spesifik yaitu:

  • Glossophobia: merasa takut untuk berbicara di depan umum, bahkan memikirkannya dapat menyebabkan penderitanya mengalami gangguan fisik yang signifikan seperti misalnya keringat dingin, lemas, dan sakit perut.
  • Acrophobia: rasa takut terhadap ketinggian. Mereka yang mengidap acrophobia akan menghindari tempat-tempat tinggi seperti pegunungan, jembatan, dan bangunan tinggi. Gejala yang muncul bisa berupa pusing, vertigo, keringat dingin, dan perasaan ingin pingsan saat berada di ketinggian.
  • Claustrophobia: rasa takut terhadap tempat sempit. Dalam kasus lebih parah, seorang claustrophobic menghindari naik lift, bahkan kendaraan seperti mobil.
  • Aviatophobia: takut akan terbang.
  • Dentophobia: ketakutan terhadap dokter gigi atau prosedur yang dilakukan oleh dokter gigi. Dentophobia biasa muncul setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat mengunjungi dokter gigi.
  • Hemophobia: takut terhadap darah atau luka. Mereka yang memiliki hemophobia bahkan bisa pingsan jika dihadapkan dengan darah atau luka baik yang berasal dari dirinya sendiri maupun orang lain.
  • Arachnophobia: rasa takut terhadap laba-laba.
  • Cynophobia: rasa takut terhadap anjing.
  • Ophidiophobia: rasa takut terhadap ular.
  • Nyctophobia: Rasa takut terhadap malam hari atau kegelapan. Rasa takut ini biasa terjadi pada anak kecil, namun jika rasa takut tidak hilang atau malah bertambah parah hingga dewasa, maka dapat disebut sebagai fobia.

Phobia kompleks

Jenis phobia ini biasanya memberi efek yang lebih parah terhadap kehidupan sehari-hari jika dibandingkan dengan fobia spesifik. Cenderung berkembang saat penderita sudah berusia dewasa, phobia kompleks merupakan rasa takut yang berasal dari kecemasan terhadap situasi atau keadaan tertentu. Contoh dari jenis fobia kompleks adalah:

  • Agoraphobia: banyak orang mendefinisikan agoraphobia sebagai rasa takut terhadap tempat terbuka, tetapi sebenarnya agoraphobia lebih kompleks dari itu. Lebih tepatnya agoraphobia adalah rasa takut terhadap situasi di mana jika terjadi masalah, penderita merasa akan mengalami kesulitan dalam melarikan diri atau meminta pertolongan. Mereka yang mengidap agoraphobia biasanya menghindari bepergian dengan kendaraan umum, mengunjungi tempat ramai seperti tempat perbelanjaan, bahkan takut meninggalkan rumah.
  • Social phobia: atau sering disebut dengan social anxiety disorder secara sederhana diartikan sebagai rasa takut berada dalam situasi sosial. Social phobia ini lebih dari sekedar rasa ‘malu’ berada di depan umum. Sebagai contoh, mereka dengan social phobia akan mengalami kecemasan berlebih baik sebelum, saat, maupun sesudah berbicara di depan banyak orang. Biasanya mereka takut akan mengatakan atau berbuat sesuatu yang mempermalukan diri mereka. Orang dengan social phobia cenderung menghindari bertemu dengan orang asing, memulai perbincangan, berbicara di telepon, menghindari kontak mata, dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Penyebab phobia

Tidak ada penyebab pasti yang dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa mengalami phobia. Genetik dan faktor lingkungan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami phobia. Anak yang memiliki kerabat dekat dengan anxiety disorder memiliki kemungkinan untuk mengalami phobia. Suatu kejadian traumatis juga dapat menyebabkan phobia, seperti misalnya nyaris tenggelam bisa menyebabkan phobia terhadap air. Terkurung dalam ruangan sempit, berada di ketinggian ekstrem, dan gigitan serangga atau hewan juga dapat menimbulkan phobia. Phobia juga dapat terjadi setelah seseorang mengalami trauma pada otak.

Bagaimana cara mengatasi phobia?

Treatment yang diberikan dapat berupa psikoterapi, pemberian obat, maupun kombinasi dari keduanya.

Psikoterapi

  • Exposure therapy: terapi ini membantu merubah sudut pandang Anda terhadap subjek atau situasi yang Anda takutkan. Subjek atau situasi yang Anda takutkan ini secara terkontrol dan berkala akan dihadapkan di depan Anda, sehingga Anda bisa belajar mengatasi rasa takut Anda. Sebagai contoh, pengidap claustrophobic yang takut menggunakan lift akan diminta untuk melihat gambar lift, membayangkan dirinya berdiri di depan pintu lift, dan masuk ke dalam lift. Lalu secara bertahap Anda akan diminta mencoba menggunakan lift hanya untuk naik satu lantai hingga lama kelamaan Anda terbiasa menggunakan lift.
  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): terapi ini menggabungkan terapi eksposure dengan jenis terapi lain yang bertujuan untuk membantu penderita phobia mengatasi rasa takut terhadap objek atau situasi tertentu. Terapi lebih ditekankan pada bagaimana cara mengontrol pikiran dan perasaan.

Pemberian obat

  • Beta blocker: obat ini bekerja dengan cara menghalangi kerja adrenalin yang dapat menstimulasi kerja tubuh (seperti peningkatan tekanan darah dan ritme jantung, suara bergetar, dan rasa lemas karena takut atau panik). Penggunaan beta blocker efektif untuk mengurangi gejala-gejala fobia yang muncul.
  • Antidepresan: antidepresan bertindak dalam mengontrol serotonin yang berfungsi mengendalikan mood.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Otak menginterpretasikan informasi yang diterima sistem saraf, tapi bagaimana jika salah? Ini dikenal sebagai sensory processing disorder.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Penyakit Saraf Lainnya 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

7 Hal yang Bisa Terjadi Pada Tubuh Jika Anda Berhenti Minum Pil KB

Pil KB berhubungan dengan hormon. Itu sebabnya, saat Anda memutuskan untuk berhenti minum pil KB akan muncul berbagai efek samping. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Seksual, Kontrasepsi 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Sebagai orangtua, Anda perlu tau bedanya anak yang aktif dan hiperaktif. Yuk, kenali tanda dan cara mengatasi anak hiperaktif!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Kesehatan Anak, Parenting 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Mengapa Sebagian Orang Mudah Dihipnotis, Sementara yang Lain Tidak?

Anda mungkin waspada ketika berjalan sendirian, takut dihipnotis oleh orang tak dikenal. Tahukah Anda tidak semua orang mudah dihipnotis?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Penyakit Saraf Lainnya 4 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara pakai termometer

Mengenal 4 Jenis Termometer yang Paling Umum, dan Cara Pakainya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
apa itu lucid dream

Sedang Mimpi Tapi Sadar? Begini Penjelasan Fenomena Lucid Dream

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Mata Kucing Pada Anak? Waspada Gejala Kanker Mata

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengenal Misophonia

Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit