Plasenta Previa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu plasenta previa?

Plasenta previa adalah komplikasi kehamilan yang terjadi ketika posisi plasenta berada di bagian bawah rahim. Alhasil, kondisi ini bisa mengakibatkan sebagian atau seluruh leher rahim (serviks) tertutup sehingga menyulitkan proses kelahiran.

Plasenta atau yang kerap disebut sebagai ari-ari bayi, merupakan lapisan organ yang berkembang di dalam rahim selama kehamilan. Plasenta berhubungan langsung dengan tali pusat ibu dan berperan sebagai penyedia oksigen serta nutrisi untuk janin.

Bukan hanya itu, lapisan yang menyerupai kantung ini juga bertugas untuk membuang zat-zat sisa yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh janin. Dalam kondisi normal, letak perlekatan plasenta seharusnya berada di bagian atas atau samping rahim, bukan di bawah.

Sementara plasenta previa adalah kondisi saat posisi plasenta bisa menutupi sebagian atau seluruh leher rahim yang seharusnya berguna sebagai jalan lahir. Plasenta previa merupakan komplikasi kehamilan yang bisa mempersulit proses persalinan nantinya.

Plasenta previa adalah kondisi yang juga berisiko menimbulkan perdarahan hebat sebelum atau selama proses persalinan berlangsung. Itulah mengapa kebanyakan ibu hamil yang memiliki plasenta previa biasanya dianjurkan untuk melahirkan dengan operasi caesar (C-section).

Apa saja jenis plasenta previa?

Ada beberapa jenis plasenta previa yang memengaruhi keputusan metode persalinan nantinya beserta perawatannya. Berikut empat jenis plasenta previa yang bisa terjadi:

1. Sebagian (parsial)

Sesuai namanya, plasenta previa sebagian adalah posisi plasenta yang menutupi sebagian leher rahim atau jalan lahir untuk keluarnya bayi. Dalam hal ini, proses persalinan melalui vagina masih mungkin dilakukan karena masih tersisa sedikit ruang untuk bayi lahir.

2. Rendah (low-lying)

Jenis plasenta previa yang satu ini biasanya terjadi sejak masa awal hingga pertengahan kehamilan. Posisi plasenta umumnya berada di samping atau tepi leher rahim (serviks) sehingga masih punya kemungkinan untuk melahirkan normal.

3. Marginal

Plasenta previa marginal adalah kondisi saat letak plasenta berada di bagian bawah atau ujung rahim. Plasenta memang biasanya akan sedikit menekan serviks, tetapi tidak akan sampai menutupinya.

Jika mengalami plasenta previa jenis ini, Anda mungkin masih memiliki peluang untuk melahirkan normal melalui vagina. Hanya saja, biasanya akan muncul sedikit perdarahan ringan karena plasenta bersentuhan dengan serviks.

4. Total (major)

Plasenta previa total adalah posisi plasenta yang menutupi seluruh leher rahim (serviks). Dibandingkan beberapa jenis sebelumnya, kondisi plasenta previa yang satu ini tergolong yang paling serius.

Oleh karena itu, dokter biasanya menganjurkan ibu hamil untuk menempuh prosedur melahirkan caesar. Bahkan tak jarang, bayi di dalam kandungan mau tidak mau harus dilahirkan prematur jika kondisi plasenta previa sudah sangat berbahaya.

Namun terlepas dari apa pun jenisnya, semuan perdarahan berat dan parah karena kondisi ini memerlukan penanganan segera. Tujuannya tentu untuk melindungi kondisi ibu dan bayi.

Seberapa umumkah plasenta previa?

Plasenta previa adalah kondisi yang terjadi pada 1 dari 200 wanita hamil pada trimester ketiga kehamilan.

Anda dapat mengurangi peluang mengalami kondisi ini dengan mencari tahu faktor risiko yang Anda miliki. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala plasenta previa?

Gejala plasenta previa tidak terlalu berbahaya jika disadari sejak dini di awal masa kehamilan. Namun bila tidak segera terdeteksi, ukuran rahim lambat laun akan semakin membesar. Secara otomatis, jarak plasenta dengan leher rahim (serviks) pun akan semakin luas, alias semakin tertutupi oleh plasenta tersebut.

Semakin luas area leher rahim yang tertutupi oleh plasenta (plasenta previa), akan semakin kecil pula kemungkinannya untuk disembuhkan.

Akibatnya, kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan yang muncul tiba-tiba tanpa disertai rasa sakit pada vagina. Bahkan, beberapa ibu hamil juga bisa mengalami kontraksi karena posisi plasenta yang tidak pada tempat seharusnya.

Perdarahan memang biasanya akan berhenti dengan sendirinya, tapi bisa saja terjadi lagi dalam hitungan hari atau minggu berikutnya.

Perdarahan selama kehamilan tentu sangat membahayakan kesehatan ibu dan janin. Pasalnya, plasenta previa dapat mengakibatkan komplikasi serta meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Anda mungkin tidak mengetahui pasti kalau ternyata posisi plasenta (plasenta previa) bukan pada tempat yang seharusnya, sampai kemudian dokter mengeceknya melalui USG.

Seperti yang sudah jelaskan di awal, gejala yang paling umum yakni berupa perdarahan tanpa rasa sakit, juga mungkin kontraksi.

Selain itu melansir dari Mayo Clinic, plasenta previa adalah kondisi yang ditandai dengan berbagai gejala seperti:

  • Kram atau nyeri hebat pada kandungan.
  • Muncul perdarahan yang kemudian berhenti tapi bisa timbul lagi dalam beberapa hari atau minggu kemudian.
  • Muncul perdarahan setelah melakukan hubungan intim.
  • Muncul perdarahan selama trimester kedua kehamilan.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala plasenta previa, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter.

Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi plasenta previa.

Penyebab

Apa penyebab plasenta previa?

Dalam kondisi normal, plasenta akan tumbuh dan bergerak sesuai dengan perkembangan janin selama kehamilan.

Pada trimester awal kehamilan, posisi plasenta biasanya berada di bawah rahim dan ini termasuk normal. Seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim pun ikut berkembang sehingga semakin meluas.

Hal ini akan membuat plasenta bergerak ke atas dan ke samping rahim menyesuaikan dengan pertumbuhan bayi.

Memasuki usia kehamilan trimester ketiga, idealnya plasenta sudah harus berada di rahim bagian atas. Posisi ini yang akan memungkinkan leher rahim (serviks) terbuka lebar, sehingga memudahkan proses kelahiran bayi nantinya.

Sebaliknya, plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta yang menutupi sebagian atau seluruh serviks selama masa kehamilan. Kondisi ini juga biasa disebut sebagai plasenta letak rendah.

Alih-alih bergerak sesuai perkembangan bayi, pada kasus ini posisi plasenta akan tetap berada dan berkembang di bagian bawah rahim.

Inilah yang kemudian membuat sebagian atau seluruh serviks tertutup oleh plasenta (plasenta previa). Kondisi ini tidak berubah, dan akan tetap bertahan hingga menjelang proses persalinan.

Alhasil, proses persalinan normal melalui vagina mungkin sulit untuk dilakukan. Sebab leher rahim yang berperan sebagai jalan lahir bayi telah tertutupi (plasenta previa).

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena plasenta previa?

Melansir dari WebMD,berbagai faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan Anda mengalami plasenta previa adalah:

  • Perokok aktif
  • Berusia di atas 35 tahun
  • Bentuk rahim tidak normal
  • Posisi bayi tidak normal. Entah itu sungsang (posisi pantat bayi berada di bawah, dan kepala di atas) atau melintang (berbaring dengan posisi horizontol di dalam rahim)
  • Pernah mengalami keguguran di kehamilan sebelumnya
  • Sedang hamil anak kembar
  • Ukuran plasenta besar
  • Sudah pernah melahirkan sebelumnya
  • Memiliki luka pada lapisan rahim karena pernah menjalani operasi yang melibatkan rahim. Ambil contoh, aborsi, operasi caesar, operasi pengangkatan fibroid, atau operasi pelebaran leher rahim (dilasi) dan kuretase
  • Luka pada lapisan rahim akibat operasi, caesar, ¬†kehamilan sebelumnya, aborsi
  • Pernah didiagnosis mengalami plasenta previa sebelumnya

Jika Anda mengalami satu atau lebih faktor risiko plasenta previa, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter. Dokter akan memberikan tindakan dan perawatan terbaik sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana plasenta previa didiagnosis?

Plasenta previa adalah kondisi yang bisa didiagnosis melalui prosedur USG atau ultrasonografi. Umumnya, tanda awal adanya masalah pada plasenta ini sudah akan muncul saat pemeriksaan USG rutin sekitar minggu ke-20 kehamilan. Atau paling tidak, selama kehamilan trimester kedua.

Sebenarnya plasenta previa adalah kondisi yang tidak terlalu menimbulkan kekhawatiran karena plasenta memang bisa berada di bagian bawah rahim di masa awal kehamilan.

Dari kebanyakan kasus yang menunjukkan posisi plasenta di bawah rahim, hanya sekitar 10 persennya yang berkembang menjadi plasenta previa.

Namun jangan khawatir, beberapa ibu hamil yang didiagnosis memiliki plasenta previa di awal kehamilan biasanya bisa segera disembuhkan.

Sementara ibu hamil lainnya, baru dinyatakan memiliki plasenta previa adalah kondisi yang ketika mengalami perdarahan tanpa rasa sakit dari vagina. Perdarahan tersebut umumnya baru muncul selama trimester ketiga atau terkadang di trimester kedua kehamilan.

Jika nantinya Anda mengalami perdarahan selama trimester kedua kehamilan, dokter akan memantau letak plasenta menggunakan satu atau kombinasi dua metode.

Prosedur tersebut yakni USG transvaginal maupun USG perut (abdominal) untuk melihat apakah Anda mengalami plasenta previa atau tidak.

1. USG transvaginal

USG transvaginal adalah prosedur untuk memeriksa kondisi organ-organ dalam sistem reproduksi wanita termasuk plasenta previa.

Metode ini dilakukan untuk memeriksa plasenta previa dengan cara memasukkan stik probe dengan panjang sekitar 2-3 inci ke dalam vagina. Selanjutnya, stik probe tersebut bekerja dengan memancarkan gelombang suara berfrekuensi tinggi.

Lalu, gambar-gambar organ di dalam sistem reproduksi Anda akan terlihat dengan jelas di layar monitor. USG transvaginal biasanya dilakukan selama masa kehamilan untuk memeriksa perkembangan janin selama berada di dalam kandungan. Namun, USG transvaginal juga bisa dilakukan oleh wanita yang tidak sedang hamil.

Hal ini biasanya ditujukan untuk mengatahui jika ada masalah di dalam saluran reproduksi. Entah itu tumbuh kista, maupun jaringan abnormal lainnya. USG transvaginal adalah metode yang umumnya lebih disukai, dan dirasa cukup akurat untuk mendeteksi adanya plasenta previa.

Jangan cemas, karena dokter akan sangat berhati-hati saat melakukan prosedur ini. Tujuannya agar posisi stik probe yang dimasukkan ke dalam vagina tidak mengganggu plasenta atau menimbulkan perdarahan dan terjadi plasenta previa.

2. USG perut (abdominal)

Sebenarnya USG transvaginal dan USG abdominal tidak jauh berbeda karena sama-sama menggunakan stik dalam pemeriksaannya.

Bedanya, USG perut adalah metode pemeriksaan yang dilakukan melalui bagian luar perut alias tidak sampai masuk ke dalam melalui vagina.

Pemeriksaan ini juga bisa melihat posisi plasenta previa atau tidak. Dilakukan dengan cara mengoleskan gel yang berfungsi sebagai pelicin, ke seluruh area perut.

Setelah itu, stik yang disebut sebagai transduser akan digerakkan ke semua bagian luar perut. Tujuannya untuk menangkap gambar organ di dalam perut agar nantinya tampak dengan jelas di layar monitor.

Baik USG transvaginal dan USG perut memiliki fungsi yang serupa. Kedua pemeriksaan ini sama-sama berguna untuk memeriksa perkembangan janin serta mendeteksi adanya masalah kesehatan tertentu, termasuk plasenta previa.

Pilihan pemeriksaan plasenta previa lainnya bisa dilakukan dengan metode Magnetic resonance imaging atau MRI.

3. MRI

MRI adalah prosedur pemeriksaan yang akan membantu mengetahui dengan jelas di mana letak plasenta untuk mendeteksi plasenta previa. MRI terbilang aman untuk ibu hamil karena menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio untuk melihat kondisi dalam tubuh Anda.

Bagaimana plasenta previa ditangani?

Dokter akan menentukan perawatan untuk plasenta previa adalah tergantung dari beberapa faktor, seperti:

  • Jumlah perdarahan
  • Sudah berhenti atau belumnya perdarahan
  • Usia kehamilan
  • Kondisi kesehatan ibu dan bayi
  • Letak plasenta di dalam rahim

Akan tetapi dari kesemua faktor plasenta previa tersebut, salah satu yang menjadi pertimbangan terbesar dokter yakni jumlah perdarahan yang keluar.

1. Perdarahan sedikit atau tidak ada sama sekali

Jika Anda dinyatakan memiliki plasenta previa tapi tanpa disertai perdarahan atau keluarnya sangat sedikit, Anda dianjurkan untuk banyak beristirahat. Sesekali mungkin Anda boleh berdiri atau duduk, tetapi hanya ketika sedang diperlukan saja.

Di sisi lain, ketika mengalami plasenta previa adalah Anda juga akan diminta untuk menghindari melakukan berbagai kegiatan yang bisa memicu timbulnya perdarahan. Mulai dari olahraga hingga berhubungan seks. Segera cari pertolongan medis jika tiba-tiba terjadi perdarahan, entah banyak atau sedikit.

Anda masih punya peluang untuk melahirkan normal bila letak plasenta previa tidak menutupi serviks sepenuhnya. Silakan berdiskusi lebih lanjut dengan dokter untuk menentukan prosedur persalinan terbaik bagi Anda.

2. Perdarahan berat

Kasus perdarahan berat dan parah membutuhkan perawatan medis segera, bahkan bisa sampai dirawat di rumah sakit.

Seberapa banyak jumlah darah yang hilang merupakan penentu apakah Anda membutuhkan transfusi darah atau tidak.

Dalam kasus perdarahan plasenta previa yang sudah tergolong sangat banyak, dokter mungkin akan menyarankan metode kelahiran caesar saat usia kehamilan menginjak 36 minggu.

Bukan tanpa alasan, ini agar bayi di dalam kandungan bisa lahir dengan lancar. Namun, jadwal persalinan Anda mungkin akan maju lebih awal jika perdarahan hebat masih terus berlanjut.

3. Perdarahan tidak kunjung berhenti

Jika perdarahan sudah tidak bisa dikontrol lagi, ditakutkan bayi berada dalam bahaya yang bisa mengancam nyawa. Mau tidak mau, persalinan dengan metode caesar harus dilakukan sesegera mungkin karena kondisi plasenta previa.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi plasenta previa?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi plasenta previa:

Gali lebih banyak mengenai kondisi Anda

Pelajari lebih dalam mengenai kondisi ini. Anda bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter atau bertukar pengalaman dengan wanita yang pernah memiliki plasenta previa sebelumnya.

Banyak beristirahat

Jaga kesehatan kehamilan Anda dengan memperbanyak waktu istirahat. Meski tidak selalu tidur setiap waktu, setidaknya hindari melakukan aktivitas yang menguras energi.

Menjaga mood tetap baik

Jaga diri dan mood Anda sebaik mungkin. Lakukan kegiatan ringan yang bisa membuat suasana hati bahagia mulai dari membaca buku atau menonton film.

Biarkan diri Anda tetap bersantai dan nyaman selama kehamilan, meski mengalami plasenta previa.

Meski begitu, persiapkan diri untuk persalinan dengan operasi caesar. Memang tidak menutup kemungkinan ketika mengalami plasenta previa, Anda masih bisa melahirkan normal.

Akan tetapi, ada kemungkinan lainnya untuk menempuh operasi caesar. Apa pun keputusannya nanti, kondisi kesehatan Anda dan bayi adalah yang terbaik. Usahakan untuk tidak terlalu stres karena dokter menyarankan Anda untuk melahirkan secara caesar.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Apa Akibatnya pada Janin Jika Ibu Merokok Saat Hamil?

    Merokok saat hamil adalah ancaman nomor satu untuk kesejahteraan anak. Ada hubungan antara ibu perokok dan anak berbibir sumbing. Masih kurang seram?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Kehamilan & Kandungan, Perkembangan Janin, Kehamilan 31/05/2020 . Waktu baca 8 menit

    Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

    Bukanlah hal yang mustahil jika Anda ingin segera kembali hamil setelah mengalami keguguran, tapi ketahui dulu beberapa hal berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Kesuburan, Kehamilan 18/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

    Puasa bukan menjadi alasan untuk membatasi ibu memberikan gizi yang tepat untuk janin.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Hari Raya, Ramadan 17/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Kondisi yang Mengharuskan Ibu Hamil Membatalkan Puasanya

    Ibu hamil boleh puasa. Meski begitu, meneruskan puasa bagi ibu hamil dengan kondisi-kondisi ini tak cuma membahayakan kesehatannya, tapi juga bayinya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hari Raya, Ramadan 14/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara memandikan bayi yang baru lahir

    Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 9 menit
    kista saat hamil di usia tua

    Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    depresi pasca melahirkan ayah

    Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    tanda istri hamil

    Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 6 menit