Perdarahan Postpartum

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu perdarahan postpartum?

Perdarahan postpartum adalah perdarahan berlebihan yang terjadi setelah melahirkan. Selain menandakan ada yang tidak normal pada tubuh, kondisi ini juga berisiko fatal hingga mengancam nyawa ibu.

Begini, sesaat setelah Anda melahirkan sang bayi, tubuh akan mengeluarkan plasenta. Ketika itu terjadi, rahim Anda harus melakukan kontraksi kuat guna melepaskan plasenta yang menempel pada dinding rahim.

Proses inilah yang membuat Anda mengalami perdarahan postpartum alias perdarahan setelah melahirkan. Pasalnya saat plasenta terlepas, pembuluh darah dalam rahim akan terbuka.

Pembuluh darah yang terbuka tersebut tidak bisa langsung tertutup begitu saja. Rahim butuh waktu dan proses untuk menutup pembuluh darah tersebut agar perdarahan berhenti, caranya dengan memicu munculnya kontraksi.

Selain dengan kontraksi rahim, proses menyusui juga dapat membantu meningkatkan produksi hormon oksitosin. Banyaknya jumlah hormon oksitosin di dalam tubuh Anda berguna untuk menghentikan perdarahan.

Sayangnya, beberapa ibu kerap mengalami perdarahan berat setelah melahirkan atau disebut sebagai perdarahan postpartum alias postpartum hemorrhage (PPH).

Meski begitu, perdarahan dalam jumlah banyak bisa terjadi ketika Anda baru saja selesai melahirkan.

Entah karena terlalu banyak bergerak atau ketika tiba-tiba berdiri dari posisi duduk. Namun, perdarahan postpartum bisa terjadi terus-menerus dalam jumlah yang terlampu banyak.

Perdarahan postpartum biasanya muncul dalam kurun waktu 24 jam, atau sekitar 12 minggu setelah melahirkan.

Jenis perdarahan postpartum

Perdarahan berat sesaat setelah melahirkan atau dikenal dengan nama perdarahan postpartum terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

1. PPH primer

PPH primer adalah kondisi ketika perdarahan postpartum membuat Anda kehilangan lebih dari 500 mililiter (ml) darah dalam kurun waktu 24 jam pertama. Hal ini bisa terjadi pada sekitar 5 dari 100 wanita.

2. PPH sekunder

PPH sekunder adalah kondisi ketika Anda mengalami perdarahan vagina yang hebat atau abnormal mulai dari 24 jam pertama sampai 12 minggu setelah melahirkan (postpartum). Hal ini bisa dialami oleh kurang lebih 2 dari 100 wanita atau di bawah 1 persen kelahiran.

Jika Anda kehilangan darah sebesar 500-1000 ml setelah melahirkan (PPH minor), tubuh Anda mungkin masih mampu untuk mengatasinya.

Namun, jika Anda mengalami kehilangan darah lebih dari 1000 ml setelah melahirkan (PPH mayor), Anda akan membutuhkan penanganan segera dari dokter.

Seberapa umumkah perdarahan postpartum?

Perdarahan postpartum ini sangat umum ditemui dan biasanya dapat terjadi pada wanita di atas usia 35 tahun. Perdarahan postpartum dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala perdarahan postpartum?

Gejala dari perdarahan postpartum kadang tidak selalu terlihat dengan mudah. Beberapa ibu mungkin bisa dengan mudah didiagnosis memiliki kondisi ini.

Sementara itu, beberapa ibu lainnya mungkin memerlukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan perdarahan postpartum.

Berikut gejala yang menandakan adanya perdarahan postpartum atau perdarahan berat setelah melahirkan:

  • Perdarahan tidak berkurang atau berhenti dari hari ke hari.
  • Tekanan darah menurun.
  • Jumlah sel darah merah menurun.
  • Detak jantung meningkat.
  • Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh.
  • Rasa sakit di perut setelah melahirkan tidak kunjung membaik.

Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami satu atau beberapa gejala di atas maupun ketika Anda mengalami gejala yang dirasa tidak normal. Dokter dapat menentukan penyebab dan pengobatan yang tepat sesuai denagan kondisi Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Perdarahan setelah melahirkan atau perdarahan postpartum adalah suatu keadaan gawat darurat.

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, segera ke instalasi gawat darurat terdekat dan konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab perdarahan postpartum?

Perdarahan berat setelah melahirkan biasanya hal ini disebabkan oleh rahim yang tidak berkontraksi dengan baik (atonia uteri). Berdasarkan Stanford Children’s Health, setelah bayi berhasil lahir, rahim seharusnya akan berkontraksi untuk mendorong keluarnya plasenta. 

Tepat setelah plasenta keluar dari dalam rahim, kontraksi masih terus berlangsung dengan tujuan untuk menekan pembuluh darah di area tempat plasenta menempel.

Semakin kuat kontraksi rahim, maka semakin kecil pula kemungkinan pembuluh darah untuk berdarah banyak.

Sebaliknya, kontraksi yang bermasalah setelah keluarnya plasenta justru memicu perdarahan setelah melahirkan alias postpartum.

Untuk mencegah perdarahan berat karena hal ini, dokter dapat memberikan suntikan untuk membantu kontraksi pada rahim agar plasenta lebih mudah dikeluarkan.

Secara umumnya, ada banyak penyebab perdarahan postpartum. Penyebab postpartum ini dapat dibagi ke dalam lima kelompok utama, sebagai berikut:

1. Atonia uteri

Atonia uteri merupakan penyebab paling umum dari perdarahan postpartum. Atonia uteri adalah kondisi di mana rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik untuk mengeluarkan plasenta.

Akhrinya, kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan hebat setelah Anda melahirkan. Berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan atonia uteri adalah kehamilan kembar, makrosomia (bayi besar), cairan ketuban terlalu banyak (polihidramnion), kelainan janin, kelainan struktur rahim, dan sebagainya.

Anda juga lebih berisiko mengalami perdarahan hebat jika melahirkan dalam waktu terlampau lama maupun sangat cepat.

2. Retensio plasenta

Retensio plasenta terjadi saat plasenta masih tertahan di dalam rahim setelah Anda melahirkan. Hal ini membuat pembuluh darah di rahim belum tertutup dengan benar sehingga Anda bisa mengalami perdarahan postpartum.

Retensio plasenta lebih mungkin terjadi saat Anda melahirkan di usia kehamilan yang sangat dini, terutama kurang dari 24 minggu (kelahiran sangat prematur).

3. Plasenta akreta

Plasenta akreta terjadi saat pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta berada terlalu dalam di dinding rahim.

Pada kondisi ini, plasenta bisa menempel sebagian atau seluruhnya di dinding rahim saat Anda sudah melahirkan. Akibatnya, saat plasenta hendak dilahirkan, terdapat sebagian sisa plasenta yang masih menempel di dinding rahim.

Adanya kelainan pada dinding rahim dapat menyebabkan plasenta akreta. Hal inilah yang nantinya dapat menyebabkan perdarahan hebat setelah melahirkan, melansir dari Mayo Clinic

4. Trauma jalan lahir

Trauma jalan lahir merupakan kasus yang cukup sering (sekitar 20%) menyebabkan perdarahan postpartum. Kondisi ini biasanya terjadi karena robekan perineum (kulit antara vagina dan anus) yang terjadi saat proses kelahiran melalui vagina.

5. Gangguan koagulasi (pembekuan darah)

Gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan Anda mengalami perdarahan postpartum. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan pembekuan darah adalah penyakit hemofilia dan idiopatik trombositopenia purpura.

Selain itu, komplikasi saat kehamilan, seperti preeklampsia dan hipertensi gestasional, juga dapat memengaruhi kemampuan pembekuan darah. 

Faktor-faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk perdarahan postpartum?

Jika Anda mempunyai faktor risiko di bawah ini, Anda lebih mungkin untuk mengalami perdarahan postpartum atau setelah melahirkan:

  • Melahirkan bayi kembar.
  • Ukuran bayi besar (berat bayi lebih dari 4000 gram).
  • Proses melahirkan dan pengeluaran plasenta memakan waktu lama.
  • Pernah melahirkan beberapa kali sebelumnya.
  • Rahim robek saat persalinan (uterine rupture).
  • Melahirkan dengan operasi caesar.
  • Berat badan ibu berlebih (obesitas).
  • Ada masalah pada plasenta bayi.
  • Kelebihan cairan ketuban (polihidramnion)
  • Pernah mengalami perdarahan postpartum di kehamilan sebelumnya.
  • Penggunaan obat untuk membantu induksi persalinan.
  • Penggunaan episiotomi (obat bius) saat persalinan.
  • Penggunaan bantuan berupa forceps atau vakum saat melahirkan.

Komplikasi

Apa komplikasi yang mungkin terjadi akibat perdarahan postpartum?

Perdarahan postpartum atau perdarahan setelah melahirkan berisiko membuat Anda mengalami komplikasi seperti:

  • Anemia
  • Pusing saat sedang berdiri
  • Kelelahan

Bahkan bukan hanya itu. Perdarahan postpartum dalam kondisi yang parah bisa menyebabkan komplikasi serius berupa iskemia miokardium, hingga berakibat fatal.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana perdarahan postpartum didiagnosis?

Seperti yang dijelaskan di awal, perdarahan sebenarnya normal terjadi setelah melahirkan. Akan tetapi, jika jumlahnya terlalu banyak dan tidak kunjung mereda dari hari ke hari, kemungkinan perdarahan Anda termasuk berat atau parah.

Maka itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan guna memastikan perdarahan yang Anda alami. Biasanya, Anda akan diminta untuk menggunakan pembalut berukuran besar yang akan menampung semua darah pasca persalinan.

Dokter akan mengamati seberapa banyak jumlah darah yang Anda keluarkan, sehingga bisa memperkirakan apakah perdarahan termasuk normal atau tidak.

Sampel darah Anda juga mungkin diambil dokter guna memeriksa kadar sel darah merah (hemoglobin) dan hematokrit.

Di samping itu, dokter juga akan mengukur denyut nadi, tekanan darah, serta laju pernapasan Anda.

Apa saja pengobatan untuk perdarahan postpartum?

Pengobatan yang diberikan dokter untuk membantu mengatasi perdarahan berat setelah melahirkan biasanya berbeda-beda. Hal ini ditentukan oleh penyebab awal perdarahan yang Anda alami.

1. Memijat rahim dan memberikan obat-obatan

Pijatan rahim biasanya dilakukan untuk kasus atonia uteri alias rahim tidak dapat berkontrasi. Pijatan setidaknya dapat membuat rahim menjadi agak mengencang sehingga membantu menghentikan perdarahan berat setelah melahirkan.

Selain pijatan, pemberian beberapa jenis obat-obatan juga dapat membantu memicu rahim berkontraksi. Obat bisa diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah maupun otot, atau memasukkannya melalui rektum.

2. Melakukan prosedur kuretase pada rahim

Jika Anda mengalami retensio plasenta, dokter dapat menempuh tindakan kuretase untuk mengambil plasenta dari dalam rahim.

Prosedur ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sia jaringan yang masih ada di dalam rahim Anda, dan menghentikan perdarahan hebat setelah melahirkan.

3. Cara lainnya

Selain dari tindakan di atas, beberapa cara lain yang bisa dilakukan dokter untuk mengatasi perdarahan postpartum, yakni:

  • Melakukan prosedur laparotomi untuk mencari penyebab perdarahan serta menghentikannya.
  • Pemberian transfusi darah untuk membantu menggantikan darah yang hilang.
  • Pemberian obat khusus melalui suntikan untuk membantu menghentikan perdarahan.
  • Penggunaan balon Bakri di dalam rahim untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah sekaligus menghentikan perdarahan.

Dalam kasus yang jarang terjadi, dokter juga dapat melakukan operasi pengangkatan rahim atau histerektomi. Prosedur medis ini bertujuan untuk membantu menghentikan perdarahan postpartum atau setelah melahirkan.

Pengobatan di Rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perdarahan postpartum?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi perdarahan postpartum:

Suplemen zat besi

 Mengonsumsi suplemen zat besi dapat mengurangi kemungkinan perlunya tranfusi darah jika Anda memiliki perdarahan postpartum atau setelah melahirkan. Beberapa wanita juga dapat diberikan suplemen zat besi jika berisiko terhadap anemia.

Atur janji dengan dokter

 Apabila Anda pernah melakukan operasi caesar pada kehamilan sebelumnya, penting untuk memeriksa bahwa plasenta tidak menempel pada area luka sebelumnya.

Pencegahan

Apakah perdarahan postpartum bisa dicegah?

Salah satu cara mencegah terjadinya perdarahan postpartum atau setelah melahirkan yakni dengan rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.

Dengan melakukan pemeriksaan secara teratur, dokter akan selalu memerhatikan perkembangan dan kesehatan Anda serta bayi di dalam kandungan.

Dokter juga dapat mengetahui adanya faktor risiko selama kehamilan dengan memeriksa golongan darah, gangguan pada perdarahan, serta riwayat medis Anda.

Jadi, jika ditemukan ada risiko masalah selama kehamilan, dokter bisa segera melakukan tindakan terbaik untuk meminimalisir risiko terburuk saat persalinan nantinya.

Bahkan setelah persalinan selesai, dokter masih akan terus memantau kondisi Anda dan bayi. Termasuk memastikan perdarahan berat setelah melahirkan tidak terjadi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kapan Bisa Mulai Haid Lagi Setelah Aborsi?

    Setelah aborsi, Anda tentu saja akan bisa haid lagi karena Anda sudah tidak lagi hamil. Namun, waktu kedatangannya bisa berbeda untuk tiap wanita.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini

    5 Hal yang Perlu Calon Ibu Persiapkan Jika Ingin Melahirkan di Luar Negeri

    Melahirkan di luar negeri memang butuh persiapan yang matang. Apa saja persiapannya agar persalinan berjalan lancar? Intip di sini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Melahirkan, Kehamilan 04/09/2019

    Normalnya, Berapa Banyak Darah yang Akan Keluar Selama Nifas?

    Keluar darah selama masa nifas itu normal. Namun, seberapa banyak normlanya darah keluar saat nifas? Cari tahu jawabannya di sini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Melahirkan, Kehamilan 30/08/2019

    Seputar Melahirkan Vakum, Penggunaan Alat untuk Memudahkan Proses Persalinan

    Proses melahirkan normal yang mengalami hambatan bisa dipermudah dengan bantuan vakum. Kapan alat bantu persalinan ini digunakan, dan adakah risikonya?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Melahirkan, Kehamilan 16/08/2019

    Direkomendasikan untuk Anda

    bayi terinfeksi COVID-19

    Melahirkan di Rumah Sakit Saat Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Disiapkan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020
    HPL hari perkiraan lahir Ivf

    Cara Menghitung Hari Perkiraan Lahir untuk Kehamilan IVF (Bayi Tabung)

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 16/12/2019
    mengurangi stres menjelang persalinan

    5 Kiat Ampuh Mengurangi Stres Menjelang Persalinan

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 24/11/2019
    pembukaan persalinan melahirkan

    Tanda-Tanda Pembukaan 1-10 yang Harus Dikenali Ibu Menjelang Melahirkan

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 02/10/2019