Narkolepsi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu narkolepsi?

Narkolepsi adalah penyakit kelainan sistem saraf, di mana penderita dapat tertidur kapan saja dan di mana saja secara tidak terkendali. Keinginan untuk tidur ini dapat terjadi meskipun penderita telah tidur dengan cukup.

Orang dengan narkolepsi akan merasakan kantuk yang luar biasa di siang hari. Pasien akan merasa baik-baik saja setelah tertidur selama 10-15 menit, namun keadaan tersebut cepat menghilang dan mereka akan tertidur kembali.

Pada kondisi yang normal, setelah memasuki tahap tidur awal selama kurang lebih 90 menit, manusia akan tidur pada tahap rapid eye movement (REM). Pada penderita penyakit ini, hanya dibutuhkan sekitar 15 menit untuk memasuki tahap tidur REM.

Kondisi serangan tidur mendadak ini dapat terjadi saat menyetir, bekerja, atau berbicara. Sayangnya, penyakit ini bersifat kronis atau berkepanjangan, sehingga tidak dapat diobati secara tuntas. Namun demikian, bila dilakukan perawatan yang tepat dan mempertahankan gaya hidup sehat, Anda dapat mengontrol situasi ini.

Terdapat 3 jenis serangan tidur, yaitu narkolepsi dengan katapleksi, tanpa katapleksi, dan narkolepsi sekunder.

Seberapa seringkah narkolepsi terjadi?

Narkolepsi adalah penyakit yang cukup langka. Diperkirakan terdapat 1 dari 2.000 orang yang menderita penyakit kronis ini.

Umumnya, penyakit ini muncul pertama kali ketika pasien masih berusia remaja. Kemudian, kondisi ini akan berlangsung seumur hidup.

Walaupun penyakit ini sering kali terdiagnosis pada pasien remaja, rata-rata usia penderita adalah sekitar 20-40 tahun. Selain itu, penyakit ini juga lebih sering terjadi pada pasien berjenis kelamin laki-laki dibanding dengan pasien perempuan.

Narkolepsi adalah penyakit yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari narkolepsi?

Narkolepsi adalah kondisi dengan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi antar satu penderita dengan penderita lainnya. Umumnya, tanda-tanda dan gejala pertama kali muncul ketika pasien berusia remaja. Kemudian, gejala-gejala akan memburuk seiring dengan bertambahnya usia penderita.

Tergantung pada tingkat keparahannya, kelainan ini dapat mengganggu kegiatan sehari-hari penderitanya, bahkan memengaruhi segala aspek dalam kehidupan penderitanya.

Berikut adalah tanda-tanda dan gejala dari narkolepsi:

1. Rasa kantuk berlebihan di siang hari

Excessive daytime sleepiness (EDS) atau rasa kantuk di siang hari yang berlebihan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Kondisi ini juga sering disebut dengan serangan kantuk.

Apabila penderita mengalami kondisi ini, kemungkinan akan terjadi penurunan energi tubuh, kesulitan mengingat, suasana hati memburuk, serta sulit berkonsentrasi.

Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit dan sering terjadi setelah makan, berbicara dengan orang lain, atau pada situasi-situasi lain. Kondisi ini dapat terjadi berulang-ulang dalam sehari.

2. Katapleksi

Katapleksi merupakan kondisi melemahnya otot di wajah, leher, dan lutut. Beberapa orang mengalami kondisi lemah otot ringan. Namun, tidak jarang pula penderita yang kehilangan keseimbangan tubuh dan sering terjatuh.

Kondisi ini terkadang juga disertai dengan luapan emosi yang berlebihan, seperti tertawa dan marah. Katapleksi umumnya berlangsung selama 2 menit atau kurang.

3. Mengalami halusinasi

Halusinasi yang dirasakan umumnya cukup kuat dan terjadi di awal atau akhir waktu tidur. Terkadang, halusinasi yang dirasakan mengerikan, seperti pengalaman keluar dari tubuh sendiri, mendengar langkah kaki, atau melihat sosok yang tidak ada.

4. Mengalami sleep paralysis

Sleep paralysis adalah kondisi di mana penderita tidak dapat menggerakkan tubuhnya untuk sementara waktu. Kondisi sleep paralysis berlangsung sebentar dan terjadi ketika penderita akan tidur atau baru saja terbangun.

Beberapa gejala lainnya yang mungkin dirasakan meliputi:

  • Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea)
  • Kaki tersentak secara tidak sadar
  • Kelelahan berlebihan
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Masalah dalam mengingat
  • Depresi

Mungkin ada gejala-gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda mempunyai kekhawatiran mengenai suatu gejala, konsultasikanlah pada dokter Anda.

Kapan saya harus menemui dokter?

Apabila Anda merasakan tanda-tanda dan gejala yang telah disebutkan di atas, terlebih lagi jika gejala-gejala tersebut sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari Anda, segera konsultasikan dengan dokter.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang Anda alami ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa yang menyebabkan narkolepsi?

Narkolepsi adalah penyakit yang masih belum diketahui secara pasti apa penyebabnya hingga saat ini. Namun, diperkirakan terdapat beberapa kondisi kesehatan yang berkaitan dengan munculnya penyakit ini.

Gangguan serangan tidur dengan katapleksi (tipe 1) sering kali dikaitkan dengan rendah kadar zat kimia otak yang disebut dengan hipokretin (orexin). Hipokretin diproduksi oleh neuron yang terdapat di hipotalamus, bagian otak yang mengatur jadwal tidur, nafsu makan, serta suhu tubuh.

Hipokretin berperan penting dalam mengatur jadwal tidur manusia. Selain itu, hipokretin juga berfungsi sebagai neurotransmiter, yaitu senyawa yang menghantarkan sinyal dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya.

Para ahli meyakini bahwa berkurangnya hiproketin dapat memengaruhi kemunculan kelainan ini. Beberapa penderita narkolepsi mengalami penurunan kadar hipokretin sebesar 80-90 persen.

Tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab menurunnya kadar hipokretin. Namun, menurut National Organization of Rare Disorders, kemungkinan kondisi ini berhubungan dengan adanya mutasi genetik di dalam tubuh.

Beberapa penderita dengan penyakit ini mengalami perubahan pada gen reseptor sel T. Sel T berperan dalam sistem imun tubuh manusia. Ini artinya, berkurangnya produksi hipokretin bisa jadi merupakan akibat dari reaksi autoimun.

Di samping itu, narkolepsi juga terkait dengan riwayat keturunan di keluarga, para ilmuwan telah menemukan beberapa gen yang terlibat dalam pewarisan penyakit ini ke generasi berikutnya.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena narkolepsi?

Narkolepsi adalah penyakit yang kemungkinan dapat terjadi pada hampir setiap orang, terlepas dari berapa usia dan apa kelompok ras penderitanya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami penyakit tersebut.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau kondisi kesehatan.

Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat menderita penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu seseorang terkena narkolepsi:

1. Usia

Penyakit ini cukup banyak ditemukan pada pasien berusia remaja. Namun, rata-rata usia pasien terdiagnosis oleh penyakit ini adalah sekitar 20-40 tahun.

2. Jenis kelamin

Meskipun belum diketahui apa penyebabnya, kondisi ini lebih banyak ditemukan pada pasien berjenis kelamin pria dibanding dengan wanita.

3. Pernah mengalami cedera pada otak

Apabila Anda pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera atau trauma pada otak, kondisi tersebut kemungkinan dapat memengaruhi produksi hipokretin oleh otak. Hal ini yang menyebabkan Anda berisiko tinggi menderita penyakit ini.

Selain cedera otak akibat kecelakaan, kondisi gangguan pada otak lainnya seperti tumor otak (intrakranial), pengerasan arteri otak (arteriosklerosis), psikosis, depresi, serta hipotiroidisme dapat memperbesar peluang seseorang untuk mengalami gangguan atau serangan kantuk.

4. Memiliki kelainan pada sistem saraf

Jika Anda memiliki penyakit yang berkaitan dengan gangguan sistem saraf, risiko Anda untuk menderita penyakit ini jauh lebih tinggi.

5. Kondisi turunan

Apabila terdapat anggota keluarga Anda yang menderita penyakit ini, besar kemungkinan penyakit tersebut dapat diturunkan ke anggota keluarga lainnya. Itu artinya, risiko Anda untuk mengalami penyakit ini dapat meningkat.

Tidak adanya faktor risiko bukan berarti Anda tidak dapat terkena penyakit ini. Tanda-tanda ini adalah hanya untuk acuan. Anda harus berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk informasi lebih lanjut.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang tersedia bukanlah pengganti dari nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang umum dilakukan untuk mendiagnosis narkolepsi?

Narkolepsi adalah kondisi yang dapat berakar dari berbagai masalah kesehatan. Apabila Anda mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui apa penyebab utamanya.

Kondisi ini sering kali salah didiagnosis pada awal kemunculannya. Terkadang, gejala-gejala penyakit ini salah diartikan sebagai kondisi psikologis, sleep apnea, atau kondisi lainnya.

Untuk mendiagnosis penyakit ini secara akurat, dokter akan memeriksa kesehatan Anda secara menyeluruh, mulai dari menanyakan kebiasaan tidur, pemeriksaan fisik, serta gejala-gejala yang Anda rasakan dan seberapa lama gejala berlangsung.

Terdapat juga cara lain untuk membuat diagnosis yang tepat, seperti:

1. Tes darah

Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat penyakit lain yang memengaruhi siklus tidur Anda.

2. Tes genetik

Dengan tes genetik, dokter dapat mengetahui apakah penyakit ini disebabkan oleh faktor mutasi genetik atau keturunan dari anggota keluarga Anda.

3. Polisomnogram (PSG)

Polisomnogram atau PSG merupakan tes satu malam yang dilakukan untuk mendeteksi ketidakwajaran pada siklus tidur penderita.

PSG dapat menunjukkan adanya gangguan pada tahap tidur REM yang sering terjadi pada penderita penyakit ini. Selain itu, tes PSG dapat membedakan gejala-gejala yang ada dengan penyakit lainnya.

4. Multiple sleep latency test (MSLT)

Tes MLST dilakukan di siang hari untuk melihat kecenderungan penderita untuk tertidur, serta berapa lama waktu yang dibutuhkan penderita untuk memasuki fase tidur REM di siang hari.

Dalam tes ini, pasien akan diminta tidur siang dalam waktu singkat sebanyak 5 kali, dengan jeda waktu 2 jam. Penderita penyakit ini biasanya dapat tidur dengan cepat di antara jeda-jeda tersebut.

Apa saja pilihan pengobatan untuk narkolepsi?

Belum ada metode dan terapi untuk menyembuhkan  atau mengontrol penyakit ini. Dokter Anda mungkin akan memberi resep obat untuk mengurangi durasi tidur pada siang hari dan untuk membantu tidur lebih lelap di malam hari.

Dokter Anda mungkin juga akan menggunakan beberapa antidepresan untuk meredakan gejala seperti halusinasi atau ‘incubus’. Langkah-langkah sederhana seperti berolahraga dan menghindari kafein dan alkohol juga dapat membantu.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat mengatasi narkolepsi?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan dapat membantu Anda mengatasi narkolepsi adalah:

  • Gunakan obat-obatan yang dianjurkan dokter;
  • Istirahat yang cukup saat siang hari apabila memungkinkan;
  • Tidur dan bangun tepat waktu. Cobalah untuk tidur setidaknya 8 jam per hari;
  • Olahraga;
  • Jangan merokok, mengonsumsi kafein atau alkohol.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah ke dokter untuk memahami solusi yang terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, ataupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Sudah Minum Kopi Tapi Masih Ngantuk, Apa Penyebabnya?

    Gen ternyata berperan penting untuk mencerna kafein dari kopi Anda, lho. Tak percaya? Langsung simak dua alasan sudah minum kopi masih ngantuk berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 14 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Cara Menghilangkan Rasa Mengantuk Setelah Makan

    Banyak orang merasa ngantuk usai makan. Mengapa hal tersebut terjadi? Bagaimana menghindari rasa mengantuk setelah makan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Hidup Sehat, Tips Sehat 27 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

    Sering Susah Tidur? Ini Cara Cepat Tidur Dalam Satu Menit

    Sudah lelah dan besok harus bangun pagi, tapi tetap tidak bisa tidur. Tenang, coba dulu cara cepat tidur dengan teknik ini.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 26 Agustus 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    pelukan bayi dari orangtua distrofi otot muscular dystrophy adalah

    Distrofi Otot

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
    makanan untuk yang kurang tidur

    Berbagai Makanan yang Perlu Dikonsumsi Jika Anda Kurang Tidur

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
    Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    tanda kurang tidur

    6 Tanda Bahwa Anda Kurang Tidur

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    gerakan senam otak

    3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Tingkatkan Fokus dan Kreativitas

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit