Katarak Kongenital

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu katarak kongenital?

Katarak kongenital adalah kelainan atau cacat bawaan ketika lensa mata bayi keruh atau buram sejak lahir. Keruh atau buramnya lensa mata bayi ini dapat menyebabkan si kecil sulit melihat sesuatu dengan jelas.

Lensa mata memiliki fungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk ke mata menuju retina sehingga mata bisa menangkap gambar dengan jelas.

Namun, jika terjadi katarak kongenital pada bayi, sinar cahaya yang masuk ke dalam mata menjadi tersebar ketika melewati lensa yang keruh. Alhasil, gambar dan cahaya yang masuk ke dalam mata menjadi kabur dan tidak sempurna.

Jika katarak kongenital terjadi pada bayi, biasanya ia akan menunjukkan berbagai tanda-tanda khas.

Tanda dan gejala tersebut biasanya seperti terdapat noda keabu-abuan yang terlihat pada pupil mata bayi. Namun, tidak semua bayi dengan katarak memiliki noda keabuan di pupil matanya.

Tanda lainnya yaitu penglihatan bayi terlihat tidak peka dengan lingkungan sekitarnya dan pergerakan mata bayi yang tidak biasa.

Penglihatan bayi dikatakan tidak peka saat ia tidak menoleh ketika ada orang di sampingnya. Beberapa jenis katarak kongenital adalah sebagai berikut:

  • Katarak polar anterior terletak di bagian depan lensa mata dan umumnya berhubungan dengan keturunan. Jenis katarak ini seringnya dianggap tidak perlu dilakukan operasi.
  • Katarak polar posterior muncul di bagian belakang lensa mata.
  • Katarak nuklear terletak di bagian tengah lensa mata dan ini merupakan jenis yang paling sering muncul.
  • Cerulean cataracts biasanya ditemukan pada kedua mata bayi. Biasanya jenis katarak kongenital ini tidak menyebabkan masalah penglihatan. Cerulean cataracts biasanya dihubungkan dengan keturunan.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Katarak kongenital pada bayi adalah kelainan atau cacat lahir yang terbilang jarang terjadi. Menurut American Academy of Ophthalmology, katarak pada bayi sejak lahir diperkirakan dapat menyebabkan kebutaan pada 5-20% bayi dan anak.

Tanda-Tanda & Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala katarak kongenital?

Berdasarkan laman Kids Health, katarak kongenital pada bayi umumnya ditandai dengan gejala berupa adanya warna abu-abu atau putih pada bagian pupil (tengah) mata.

Seluruh bagian putih seolah tertutup oleh lapisan berwarna putih keabu-abuan atau bagian pupil hanya terlihat sedikit.

Katarak kongenital pada bayi ini bisa terjadi hanya di salah satu atau bahkan kedua mata sekaligus. Lapisan buram berwarna putih keabu-abuan di mata bayi terkadang bisa membesar sehingga semakin memengaruhi penglihatannya.

Selain menyulitkan bayi dalam melihat, katarak kongenital sejak lahir ini dapat mengakibatkan mata seperti bergetar dan juling.

Gejala katarak kongenital ini biasanya tidak terlalu tampak atau sulit ditemukan pada bayi dan anak-anak yang usianya masih sangat kecil.

Akan tetapi, seiring bertambah dewasanya usia anak, ia mungkin akan mengeluhkan tanda dan gejala penglihatan tertentu mengarah pada katarak. Berbagai gejala katarak kongenital pada bayi dan anak adalah sebagai berikut:

  • Penglihatan buram
  • Pandangan kabur
  • Kemampuan penglihatan berkurang
  • Pandangan ganda atau melihat dua gambar dari satu objek yang sama
  • Cahaya lampu tampak terlalu terang
  • Warna objek yang terlihat memudar

Jadi, meski bayi dan anak-anak yang masih kecil belum mengeluh mengenai gejala katarak, Anda bisa memerhatikan ciri-cirinya. Jika Anda melihat ada bintik putih keabu-abuan di bagian pupil bayi dan anak, ini bisa menjadi tanda katarak.

Agar lebih jelas, coba arahkan senter yang menyala ke mata bayi dan anak untuk memastikannya. Selain itu, Anda juga dapat mengamati kemungkinan adanya gejala katarak kongenital pada bayi dan anak dengan melihat tindakannya.

Ambil contohnya, bayi dan anak yang mengalami katarak biasanya tidak melihat ke wajah lawan bicaranya atau benda secara langsung.

Buah hati Anda juga mungkin menyipitkan mata dan berusaha menjaga matanya saat melihat cahaya atau sinar yang terlalu terang.

Kapan harus periksa ke dokter?

Katarak kongenital adalah kondisi yang bisa terjadi pada bayi baru lahir. Jika Anda melihat bayi memiliki gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, segera konsultasikan dengan dokter.

Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda, termasuk bayi. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan buah hati Anda.

Penyebab

Apa penyebab katarak kongenital?

Katarak yang biasanya terjadi pada orang tua umumnya berhubungan dengan proses penuaan. Sementara katarak kongenital yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena keturunan, infeksi, masalah metabolik, diabetes, trauma, inflamasi, atau reaksi obat.

Contoh obat yang dapat  menyebabkan katarak pada bayi baru lahir adalah antibiotik tetrasiklin yang digunakan untuk mengobati infeksi pada wanita hamil. Jadi, ibu sebaiknya menghindari sembarangan minum obat saat hamil.

Sebaiknya tanyakan terlebih dahulu pada dokter untuk memastikan keamanan obat selama masa kehamilan.

Katarak kongenital ini dapat terjadi semenjak kehamilan yaitu di saat ibu hamil mempunyai penyakit infeksi.

Ambil contohnya seperti campak atau rubella yang merupakan penyebab paling umum. Selain itu, infeksi saat hamil juga dapat disebabkan oleh rubeola, cacar air, cytomegalovirus, herpes simplex, herpes zoster, poliomyelitis, influenza, virus Epstein-Barr, sifilis, dan toksoplasmosis.

Pada katarak kongenital yang disebabkan oleh keturunan, kelainan terjadi saat pembentukan protein guna mendukung fungsi lensa mata alami.

Namun, kelainan yang terjadi pada lensa mata tersebut mengakibatkan adanya noda keruh berwarna putih keabu-abuan. Masalah pada pembentukan protein tersebut dapat dikarenakan adanya infeksi dan perubahan DNA.

DNA adalah kode genetik yang diturunkan dari orangtua ke anak sehingga anak bisa mendapatkan karakterisik yang serupa dengan orangtuanya.

Faktor-Faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko terkena katarak kongenital?

Hal yang bisa meningkatkan risiko katarak kongenital pada bayi adalah saat orangtua memiliki genetik katarak kongenitak yang kemudian menurun pada bayinya.

Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter untuk mengurangi faktor risiko yang mungkin Anda dan bayi miliki terkait katarak kongenital.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini?

Kebanyakan kasus katarak kongenital pada bayi biasanya dapat didiagnosis segera setelah kelahiran.

Pemeriksaan bayi saat baru lahir dapat membantu mendeteksi kemungkinan adanya masalah atau gangguan di tubuh si kecil.

Akan tetapi, dalam beberapa kasus, katarak kongenital pada bayi juga dapat tidak terdeteksi hingga bertahun-tahun. Ini karena umumnya anak kecil belum menyadari bila ada masalah dengan penglihatannya.

Tugas Anda sebagai orangtua yakni membantu mengenali bila si kecil terlihat sensitif saat melihat cahaya terang dan sulit fokus.

Setelah menemukan adanya masalah, dokter akan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh kepada anak.

Pemeriksaan mata ini dapat meliputi tes cahaya di kedua mata, memeriksa tekanan intraokular (tekanan bola mata terhadap dinding bola mata), dan prosedur tes lainnya. Dokter bisa mendiagnosis katarak di satu atau kedua bola mata tergantung hasil tes.

Apa saja pilihan pengobatan untuk katarak kongenital?

Jika dibiarkan, katarak kongenital dapat menghambat penglihatan anak dan bahkan juga bisa menyebabkan kebutaan pada anak. Maka itu, diperlukan operasi katarak sesegera mungkin.

Operasi katarak pada bayi ini harus dilakukan sedini mungkin untuk menjamin penglihatan bayi cukup bisa untuk berkembang dengan normal.

Beberapa ahli berpendapat bahwa waktu untuk melakukan operasi katarak kongenital adalah antara usia 6 minggu sampai usia 12 minggu (3 bulan).

Setelah operasi pengangkatan lensa mata anak yang terkena katarak kongenital, lensa mata anak kemudian bisa digantikan dengan lensa buatan.

Pilihan lainnya anak juga bisa memakai lensa kontak khusus atau menggunakan kacamata setelah operasi.

Tanpa beberapa tindakan koreksi tersebut setelah operasi, penglihatan anak Anda mungkin akan berkurang dan perkembangan penglihatan normal bayi akan terhambat.

Namun, di sisi lain, terkadang lensa buatan yang dipasang setelah operasi dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan mata anak.

Dalam beberapa kasus, lensa kontak khusus dipasang pada permukaan mata (kornea) yang digunakan untuk membantu memulihkan penglihatan anak setelah lensa mata anak dihilangkan.

Setelah dilakukan tindakan operasi, mungkin sulit untuk memprediksi apakah penglihatan anak lebih baik. Meski begitu, kemungkinan akan selalu ada pengurangan tingkat penglihatan pada mata anak yang terkena katarak kongenital.

Selain itu, tindakan operasi ini bukan berarti tanpa risiko. Risiko terburuk dari operasi katarak ini dapat menyebabkan glaukoma yang terjadi ketika tekanan pada mata terlalu tinggi.

Glaukoma dapat menyebabkan kerusakan permanen struktur dalam mata ketika pengobatan tidak dilakukan dengan baik.

Namun, Anda jangan khawatir, tidak semua katarak kongenital harus dioperasi. Katarak yang hanya menutupi bagian tepi lensa mata mungkin tidak perlu dilakukan operasi.

Lensa mata tidak perlu dihilangkan karena penglihatan masih dapat berfungsi tanpa hambatan. Katarak yang sangat kecil juga mungkin tidak perlu dilakukan operasi. Sebaiknya diskusikan lebih lanjut dengan dokter mata anak Anda.

Pencegahan

Apakah ada cara untuk mencegah katarak kongenita?

Katarak pada bayi baru bisa dilihat dan didiagnosis setelah proses persalinan. Sebelum lahir, belum ada cara untuk mendeteksi masalah ini pada mata janin.

Akan tetapi, Anda bisa melakukan pencegahan untuk tidak terserang penyakit infeksi maupun gangguan kesehatan lainnya selama kehamilan.

Pasalnya, katarak pada bayi ini juga diketahui terjadi akibat komplikasi yang terjadi saat kehamilan. Komplikasi kehamilan yang bisa menyebabkan hal ini yaitu penyakit infeksi.

Semua penyakit infeksi tersebut disebabkan oleh virus yang bisa menyebabkan gangguan perkembangan janin. Infeksi virus tersebut bisa dicegah dengan melakukan imunisasi sebelum hamil dan imunisasi saat hamil.

Ada beberapa jenis imunisasi yang memang lebih baik dilakukan sebelum memasuki masa kehamilan utuk mencegah serangan virus.

Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter kandungan untuk mengetahui informasi seputar imunisasi ibu hamil guna mencegah katarak kongenital pada bayi.

Sementara itu, bila dalam keluarga Anda ada yang memiliki riwayat katarak kongenital, sebaiknya konsultasikan hal ini pada dokter saat sedang merencanakan kehamilan.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

    Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

    Hewan peliharaan dan anak adalah gambaran yang menggemaskan. Namun, para orangtua perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih hewan untuk anak.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Parenting, Tips Parenting 10/05/2020 . Waktu baca 6 menit

    Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

    Imbauan penggunaan masker saat bepergian berlaku untuk siapa pun, termasuk anak. Apa saja aturan yang harus diperhatikan ketika anak memakai masker?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Coronavirus, COVID-19 08/05/2020 . Waktu baca 6 menit

    Omphalocele

    Omphalocele atau omfalokel adalah kondisi cacat lahir pada bayi. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta pengobatannya di Hello Sehat.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 07/05/2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Konten Bersponsor
    kesehatan dan kebahagiaan anak

    Begini Pengaruh Kesehatan terhadap Kebahagiaan Anak

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 10/08/2020 . Waktu baca 5 menit
    bayi demam naik turun

    Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit
    mengatasi anak step kejang demam saat anak kejang

    Yang Harus Anda Lakukan Saat Anak Anda Kejang

    Ditulis oleh: Thendy Foraldy
    Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    Konten Bersponsor
    penyebab stunting

    Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit