Dermatitis Stasis

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17/03/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu dermatitis stasis?

Dermatitis stasis adalah jenis dermatitis yang terjadi ketika aliran darah menuju jaringan kulit mengalami penyumbatan. Hal ini menyebabkan ruam kemerahan yang mengerak dan disertai dengan rasa gatal dan perih.

Dermatitis stasis umumnya memengaruhi kulit bagian bawah kaki, seperti betis hingga pergelangan kaki. Tungkai kaki hanya memiliki katup dengan satu arah aliran yang sangat berperan penting dalam sistem peredaran darah.

Peradangan kulit bisa berlangsung dalam waktu lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, dermatitis stasis bisa diatasi dengan pengobatan untuk mencegah perkembangan penyakit kulit yang lebih parah.

Dermatitis stasis juga dikenal dengan istilah eksim vena dan dermatitis stasis vena.

Seberapa umumkah penyakit kulit ini?

Seiring bertambahnya usia, fungsi katup pembuluh darah pada kaki juga akan melemah bahkan berhenti bekerja sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, dermatitis stasis memang lebih umum dialami oleh orang-orang yang lanjut usia (sekitar 50 tahun atau lebih). Penyakit kulit ini lebih sering dialami oleh wanita berusia lanjut dibandingkan pria.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dermatitis stasis?

Gejala dermatitis stasis umumnya muncul pada tubuh bagian bawah.

Jenis dermatitis ini awalnya dimulai dengan perubahan warna kulit menjadi kecoklatan (hiperpegmentasi) dan kemunculan varises. Kaki juga terasa berat sehingga Anda tidak bisa berdiri atau berjalan terlalu lama.

Pembengkakan di pergelangan kaki sering juga menjadi gejala awal dari dermatitis stasis. Pembengkakan tersebut biasanya akan mereda ketika Anda tidur, tapi akan kembali muncul di siang hari.

Pada beberapa kasus, kulit bisa terlihat merah dan mengilap. Berikut ini adalah beberapa gejala dermatitis stasis secara umum:

  • Ruam kemerahan
  • Perubahan warna kulit
  • Kulit kering dan berkerak
  • Rasa gatal yang intens
  • Varises
  • Rasa sakit pada kaki

Saat penyakit dermatitis stasis semakin berkembang, gejala seperti di atas akan menyebar dari pergelangan kaki sampai ke bagian belakang betis.

Kulit yang terdampak bisa terasa semakin gatal, kering, dan mengalami iritasi kulit.

Ketika gejala sudah bertambah parah, maka peradangan kulit akan memperlihatkan:

  • Luka terbuka yang bisa disertai nanah
  • Luka terbuka yang mengeluarkan cairan
  • Kulit mengilap
  • Penebalan pada kulit
  • Infeksi yang bisa menimbulkan selulit

Tidak menutup kemungkinan juga berbagai gejala di atas bisa muncul pada bagian tubuh lainnya.

Kapan Anda harus ke dokter?

Peradangan kulit akibat dermatitis ini bisa berlangsung hingga bertahun-tahun apabila tidak rutin diobati.

Pada kondisi ini biasanya peradangan sudah membuat kulit kaki menjadi keras dan berwarna gelap. Ruam kemerahan juga dapat hampir menutupi seluruh permukaan kulit kaki dari atas sampai bawah. Kondisi kulit seperti ini lebih rentan untuk mengalami infeksi.

Selain infeksi dan selulitis, komplikasi bisa menyebabkan kemunculan penyakit dermatitis lainnya, seperti dermatitis kontak.

Untuk menghindari bertambah parahnya gejala serta komplikasi dermatitis statis, segera konsultasi ke dokter spesialis kulit begitu gejala pertama kali muncul.

Penyebab

Apa penyebab dermatitis stasis?

Penyebab dermatitis stasis adalah penyumbatan pada pembuluh darah vena. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah chronic venous insufficiency atau insufisiensi vena.

Penyumbatan pada pembuluh darah menyebabkan aliran darah terhambat dan menciptakan tekanan berlebih. Tekanan ini dapat memicu kerusakan pembuluh kapiler sehingga mengakibatkan kebocoran darah di bawah kulit.

Kondisi ini paling sering terjadi pada pembuluh darah kaki yang hanya terdiri dari katup dengan satu arah aliran. Pembuluh darah ini bertugas untuk mengalirkan darah kembali ke bagian atas tubuh.

Apabila fungsi pembuluh darah terganggu, darah pada pembuluh kaki yang harusnya diedarkan ke atas tubuh bisa berkumpul di dalam vena di sekitar kaki dan menekan vena. Ini membuat kulit di sekitarnya sulit mendapatkan darah yang kaya akan oksigen. Akibatnya, terjadilah dermatitis stasis.

Salah satu faktor yang memengaruhi terhambatnya sirkulasi pembuluh darah adalah usia. Pertambahan usia bisa mengakibatkan penurunan fungsi pada pembuluh darah.

Obesitas, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan kehamilan yang berisiko juga dapat menjadi faktor pemicu dari penyumbatan pembuluh darah pada kaki.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena penyakit ini?

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena eksim stasis vena. Namun, risiko rata-rata paling tinggi pada orang yang mengalami gangguan sirkulasi darah.

Penyakit tertentu yang turut berkontribusi terhadap kemunculan gejala dermatitis stasis di antaranya adalah:

  • Tekanan darah tinggi
  • Varises
  • Gagal jantung
  • Gagal ginjal
  • Kehamilan
  • Penyumbatan pembuluh darah
  • Luka pada bagian yang mengalami gangguan pembuluh darah
  • Obesitas atau kelebihan berat badan

Sementara gaya hidup yang juga bisa memperbesar risiko kemunculan penyakit kulit ini adalah:

  • Duduk atau berdiri dalam waktu lama
  • Kurang bergerak atau berolahraga
  • Kelebihan konsumsi makanan berlemak

Untungnya faktor risiko yang menyangkut gaya hidup masih bisa dikendalikan dengan cara mengubah kebiasaan sehari-hari. Dengan begitu, Anda bisa menurunkan risiko untuk terjangkit dermatitis vena ini.

Diagnosis

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Untuk mendiagnosis dermatitis stasis, dokter terlebih dahulu akan melakukan identifikasi melalui gejala peradangan kulit. Dokter biasanya juga akan memeriksa riwayat penyakit yang Anda alami.

Dalam kasus dermatitis stasis, kondisi seperti penyumbatan aliran darah, penyakit jantung, dan luka pada bagian kulit yang terdampak merupakan indikasi penting untuk mendiagnosis penyakit ini.

Namun hasil diagnosis yang lebih pasti biasanya didapatkan dari berbagai pengujian medis. Biasanya dokter spesialis kulit akan merujuk Anda untuk melakukan sejumlah tes seperti:

Obat dan pengobatan

Bagaimana cara mengobati dermatitis stasis?

Pengobatan yang dilakukan untuk dermatitis statis bertujuan untuk mengendalikan setiap gejala yang mengganggu. Maka, jenis pengobatan yang direkomendasikan dapat berbeda-beda sesuai dengan masing-masing gejala.

Berikut adalah sejumlah pengobatan yang dianjurkan oleh American Academy of Dermatology untuk meredakan gejala dermatitis statis:

1. Meredakan pembengkakan

Pembengkakan dan rasa nyeri bisa diredakan dengan mengompres kaki menggunakan stoking varises. Selain berguna untuk mengatasi bengkak, kompres kaki dengan stoking juga dapat membantu melancarkan aliran darah.

Pembengkakan pun bisa diatasi dengan mengangkat kaki sampai melebihi bagian dada yang disarankan dilakukan setiap dua jam sekali selama 15 menit.

2. Mengatasi peradangan

Peradangan yang mengakibatkan rasa gatal dan perih pada kulit bisa diatasi dengan mengoleskan pelembab non kosmetik atau emolien dan salep kortikosteroid secara rutin. Ikuti aturan pemakaian yang dianjurkan oleh dokter.

3. Melindungi luka

Luka terbuka pada kulit yang meradang sebaiknya tidak dibiarkan terpapar udara begitu saja. Anda perlu melindungi luka dengan perban.

4. Mengatasi infeksi

Infeksi bisa terjadi pada bagian kulit yang terdampak dermatitis. Untuk menghentikannya, dokter biasanya akan memberikan antibiotik.

5. Mengobati varises

Vraises bisa menyebabkan rasa sakit atau perdarahan. Dalam kasus yang parah, varises perlu diangkat melalui prosedur operasi varises.

Dermatitis statis memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dari tubuh.  Namun, pengendalian gejala melalui pengobatan membuat penderita bisa kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal tanpa mengalami peradangan kulit yang berarti.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi dermatitis stasis?

Pengobatan dermatitis stasis secara mandiri di rumah sangat penting dilakukan untuk membantu mengatasi gejala penyakit ini. Anda juga perlu mengubah gaya hidup tertentu yang bisa meningkatkan risiko memburuknya gejala penyakit ini.

Berikut adalah langkah pengobatan dermatitis stasis rumahan yang bisa dilakukan:

  • Mengangkat kaki lebih tinggi dari posisi jantung untuk memperlancar aliran darah dan mencegah penumpukan darah pada pembuluh.
  • Tidak berdiri atau duduk terlalu lama. Perbanyakalah bergerak di sela-sela aktivitas seperti mengambil jeda setiap 1 jam sekali dengan berjalan selama 10 menit.
  • Berolahraga rutin untuk memperlancar aliran darah dan meningkatkan kekuatan otot, konsultasikan jenis olahraga dan durasi yang diperlukan kepada dokter Anda.
  • Menggunakan bahan pakaian yang nyaman di kulit.
  • Menjaga kulit tetap bersih menggunakan sabun, pembersih kulit, dan pelembab yang tidak mengandung pewangi.
  • Menghindari iritan dan alergen yang bisa menimbulkan rasa gatal seperti zat pembersih kimia, produk perawatan dan kosmetik dengan pewangi, tanaman, bulu binatang, dan parfum.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Waspadai Penyebab Cacar Air dan Berbagai Faktor Risikonya

Penyebab utama penyakit cacar air adalah infeksi virus varicella-zoster. Bagaimana infeksi memengaruhi keparahan penyakit? Bisakah sembuh dengan sendirinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Waspadai Ciri Scabies Berdasarkan Jenis dan Parahnya Gejala Kudis

Scabies atau kudis merupakan penyakit kulit menular. Penting bagi Anda mengenali ciri dan gejala scabies (kudis) untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Ciri-Ciri Cacar Api yang Wajib Dikenali, Jika Anda Sudah Pernah Kena Cacar Air

Ciri-ciri cacar api memiliki pola penyebaran lenting yang berbeda dengan cacar air. Gejala cacar api juga disertai nyeri pada kulit.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Tanda dan Gejala Cacar Monyet yang Perlu Dikenali Sejak Dini

Gejala cacar monyet lebih serius dari gejala cacar air biasa. Waspadai dampak kesehatan dari cacar monyet dengan mengenali ciri-cirinya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Direkomendasikan untuk Anda

Cacar api pada anak dan bayi

Cacar Api pada Anak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
ilustrasi wanita terkena infeksi jamur kulit yang dapat diatasi dengan obat oles atau salep jamur kulit

Kapan Harus Menggunakan Obat Anti Jamur Saat Muncul Gatal pada Kulit?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
Obat kudis tradisional alami

6 Bahan Alami yang Bisa Dimanfaatkan untuk Obat Kudis Tradisional

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
Jenis cacar

Setiap Jenis Cacar Berbeda Penyebabnya, Bagaimana Pengobatannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020