Bulimia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa yang dimaksud dengan bulimia?

Bulimia adalah kondisi gangguan pola makan. Penderita bulimia seringkali tidak dapat berhenti makan dan selalu melahap sejumlah besar makanan dalam jangka waktu pendek tanpa bisa dikontrol. 

Lalu, karena ketakutan berlebih akan kegemukkan, mereka akan membuat diri mereka muntah, berpuasa, dan berolahraga sangat keras, tapi tidak teratur untuk menurunkan berat badan. Karena itu, pasien dengan bulimia biasanya tidak mengalami kelebihan berat badan.

Jika Anda mengidap gangguan ini, Anda mungkin disibukkan dengan berat dan bentuk tubuh Anda. Anda dapat menilai diri sendiri dengan keras dan kasar. Karena itu, bulimia bukan hanya tentang makanan, melainkan juga citra diri, sehingga sulit diatasi. 

Namun, perawatan yang efektif dapat membantu Anda merasa lebih baik tentang diri Anda sendiri, menerapkan pola makan yang lebih sehat dapat menurunkan risiko komplikasi.  

Seberapa umum kondisi ini?

Bulimia adalah kondisi yang lebih sering terjadi pada remaja muda yang sedang dalam masa pertumbuhan juga remaja perempuan yang terobsesi dengan berat badan.

Gangguan ini juga sering kali muncul pada model profesional dan atlet profesional yang pekerjaannya menuntut kedisiplinan tinggi untuk menjaga bentuk tubuh. 

Anda dapat mengurangi kemungkinan terkena bulimia adalah dengan cara mengurangi faktor risiko. Selalu berkonsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala dari bulimia?

Bulimia adalah salah satu gangguan makan yang keluhannya bisa berupa makan dalam jumlah banyak yang kemudian diikuti usaha untuk membuat diri sendiri muntah,  sering puasa berkala, menggunakan pencahar berlebihan, dan/atau memakai obat-obat penekan nafsu makan.

Penderita kondisi ini juga mengalami gejala lain seperti dehidrasi dan gangguan menstruasi. Dari sisi psikologis, penderita bulimia biasanya merasa bersalah, gelisah, dan marah setelah makan.

Selain itu, Anda juga mungkin mengalami:

  • Obsesi terhadap makan dan makanan
  • Makan sendirian
  • Hilangnya makanan secara tiba-tiba, atau muncul bungkusan makanan di tempat sampah
  • Banyak uang dihabiskan untuk makanan
  • Meninggalkan ruangan setelah makan, biasanya ke kamar mandi
  • Menyembunyikan atau menimbun makanan
  • Olahraga berlebihan
  • Terus menerus mengeluh tentang kelebihan berat badan
  • Berpuasa atau mengatakan Anda tidak lapar, tapi kemudian makan terlalu banyak.

Tingkat keparahan bulimia adalah berdasarkan berapa kali Anda memuntahkan makanan, biasanya setidaknya seminggu sekali selama setidaknya tiga bulan.

Masih terdapat juga beberapa ciri dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki keluhan yang sama, harap konsultasikan kepada dokter Anda.

Kapan saya harus menghubungi dokter?

Periksakan diri Anda kepada dokter apabila Anda merasa memiliki gangguan kesehatan karena bulimia atau Anda merasa makan terlalu rakus dan tidak dapat dikontrol. Status dan kondisi bulimia dapat berbeda pada banyak orang.

Selalu berdiskusi dengan dokter untuk menemukan metode diagnosis dan perawatan, juga pengobatan yang terbaik untuk Anda.

Penyebab

Apa saja penyebab bulimia?

Bagi penderita bulimia, perilaku dan kebiasaan makan mereka adalah cara mengatasi stres emosional. Anda cenderung memiliki ketakutan tidak masuk akal terhadap kegemukan, kalori, dan makanan. 

Dikutip dari Medical News Today, penderita gangguan ini mungkin memiliki kondisi lain, seperti depresi, kecemasan, dan kecenderungan untuk melukai diri sendiri, perilaku impulsif, dan penyalahgunaan zat. 

Bulimia tadinya digunakan sebagai cara mengatasi masalah emosional, tetapi pengidapnya menjadi obsesi karena tidak bisa mengendalikan diri. 

Penyebab pasti kondisi ini tidak diketahui, tetapi para peneliti percaya bahwa faktor genetik, biologis, sosial, dan perilaku memengaruhi munculnya bulimia.  

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko terkena bulimia?

Faktor utama yang meningkatkan kemungkinan terkena bulimia adalah:

  • Masa remaja atau transisi menuju kedewasaan;
  • Wanita lebih rentan mengalami bulimia dibandingkan pria;
  • Memiliki orang tua atau saudara kandung yang memiliki riwayat gangguan pola makan;
  • Berada di bawah tekanan sosial, khususnya media massa yang selalu menunjukkan postur badan kurus sebagai standar kecantikan;
  • Memiliki gangguan mental seperti ketidakmampuan mengontrol kemarahan, depresi, gangguan kegelisahan, juga gangguan obsesif-kompulsif;
  • Di bawah tekanan pekerjaan apabila Anda seorang model, aktris, atau penari;
  • Tertekan untuk memiliki berat badan tertentu apabila Anda seorang atlet.
  • Selain itu, masih terdapat juga beberapa ciri dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki keluhan yang sama, tolong konsultasikan kepada dokter Anda.

Diagnosis dan pengobatan

Informasi di bawah bukan merupakan pengganti saran medis dari dokter; SELALU periksakan diri Anda kepada dokter profesional.

Apa saja jenis tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini?

Dokter Anda akan memeriksa rekam medis Anda, melakukan pemeriksaan fisik, khususnya memperhatikan emosi dan pola makan dalam upaya untuk mengonfirmasi apakah Anda mengidap bulimia atau tidak. 

Dokter dapat meminta Anda untuk menjalankan tes EKG dan tes darah untuk mengecek gangguan pada potassium, magnesium, dan zat lain dalam tubuh.

Apa saja pengobatan untuk mengatasi bulimia?

Ketika Anda mengidap gangguan ini, Anda mungkin memerlukan beberapa jenis perawatan. Dikutip dari Mayo Clinic, menggabungkan psikoterapi dengan antidepresan mungkin yang paling efektif mengatasi kondisi tersebut. 

Perawatan umumnya melibatkan pendekatan tim yang mencakup Anda, keluarga Ada, penyedia perawatan, profesional kesehatan mental, dan ahli gizi. Anda mungkin membutuhkan manajer untuk mengkoordinasikan perawatan Anda. 

Berikut ini adalah pilihan pengobatan untuk bulimia:

Psikoterapi

Psikoterapi juga dikenal sebagai terapi bicara atau konseling psikologis untuk mendiskusikan bulimia Anda dengan profesional kesehatan mental. Jenis-jenis psikoterapi untuk mengatasi bulimia adalah:

  • Terapi perilaku kognitif, yaitu untuk membantu Anda menormalkan pola makan Anda dan mengidentifikasi keyakinan dan perilaku yang tidak sehat, negatif, dan menggantinya dengan yang sehat dan positif. 
  • Perawatan berbasis keluarga, yaitu terapi untuk membantu orangtua melakukan upaya untuk menghentikan perilaku makan yang tidak sehat anak remaja mereka, untuk membantu remaja mendapatkan kembali kendali atas makannya, dan untuk membantu keluarga menangani masalah-masalah akibat bulimia. 
  • Psikoterapi interpersonal, yaitu terapi untuk mengatasi kesulitan dalam hubungan dekat Anda, membantu meningkatkan komunikasi Anda dan keterampilan memecahkan masalah Anda. 

Obat-obatan

Antidepresan dapat membantu mengurangi gejala bulimia ketika dikonsumsi bersama dengan tindakan psikoterapi. Antidepresan tersebut adalah fluoxetine (Prozac), sejenis selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), yang dapat membantu bahkan jika Anda tidak mengalami depresi.

Edukasi nutrisi

Ahli diet dapat merancang rencana makan untuk membantu Anda mencapai kebiasaan makan yang sehat, menghindari kelaparan, dan mengidam. Makan secara teratur dan tidak membatasi asupan makanan adalah hal penting dalam mengatasi bulimia. 

Perawatan di rumah sakit

Bulimia adalah kondisi yang biasanya dapat dirawat di luar rumah sakit. Namun, jika gejalanya parah, dengan komplikasi serius, Anda mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi bulimia?

Berikut merupakan bentuk-bentuk dari gaya hidup sehat dan pengobatan di rumah yang dapat membantu Anda menghadapi bulimia:

  • Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang selalu memberikan dukungan dan pengertian dan selalu ada bersama Anda
  • Ikuti instruksi dokter
  • Beritahukan dokter tentang gangguan kesehatan lain yang Anda temukan setelah Anda mengkonsumsi obat yang diresepkan
  • Makanlah dengan teratur dan dalam porsi normal
  • Kurangi stress
  • Terbukalah dalam mengekspresikan perasaan Anda kepada keluarga dan terapis

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    5 Gangguan Kesehatan Akibat Patah Hati

    Dari mulai rambut rontok hingga tekanan darah tinggi, semua bisa terjadi hanya gara-gara putus cinta. Mengapa patah hati menyebabkan gangguan kesehatan?

    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

    Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

    Obat antidepresan adalah obat yang dapat meringankan gejala depresi pada ibu hamil. Tetapi, apakah minum antidepresan saat hamil itu aman?

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Penyakit Mental

    Pahami semua tentang penyakit mental mulai dari penyebab, faktor risiko, gejala, hingga bagaimana cara mengatasinya dalam ulasan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    Awas, Pria yang Kecanduan Pornografi Malah Berisiko Alami Impotensi

    Berapa kali Anda menonton pornografi dalam seminggu? Hati-hati, lho. Para ahli menguak kalau kecanduan pornografi berdampak pada risiko disfungsi ereksi.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 11 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    berat badan turun akibat depresi

    Kenapa Berat Badan Turun Drastis Saat Sedang Depresi?

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Dipublikasikan tanggal: 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    keluar air mani

    Tiba-tiba Keluar Air Mani Padahal Tidak Terangsang, Kok Bisa?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    mengatasi overthinking

    4 Tips Menahan Diri untuk Tidak Berlebihan Memikirkan Sesuatu

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 10 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    tanda stress yang sering diabaikan

    7 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari

    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit