Anemia Hemolitik

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 08/07/2020 . Waktu baca 16 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu anemia hemolitik?

Anemia hemolitik adalah jenis anemia yang terjadi ketika sel darah merah hancur atau mati lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Hal ini mengakibatkan tubuh Anda kekurangan sel darah merah yang sehat.

Ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat, ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Antara lain seperti nyeri, denyut jantung tidak teratur (aritmia), pembesaran jantung, dan gagal jantung. 

Penderita anemia hemolitik cenderung mudah lelah karena tubuhnya tidak menerima asupan oksigen yang cukup karena sel darah merahnya kurang. Alhasil beberapa organ tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala anemia hemolitik?

Gejala anemia berbeda-beda, tergantung jenisnya. Anemia hemolitik adalah kondisi kekurangan darah yang gejalanya berbeda-beda di setiap orang. Meski demikian, ada beberapa gejala umum yang dialami banyak orang ketika mereka mengalami anemia jenis ini. Berikut tanda-tandanya:

Penyakit kuning

Penyakit kuning mengacu pada warna kekuningan pada kulit atau bagian putih mata. Ketika sel-sel darah merah mati, mereka melepaskan hemoglobin ke dalam aliran darah.

Hemoglobin dipecah menjadi senyawa yang disebut bilirubin yang menyebabkan  kulit dan mata berwarna kekuningan. Bilirubin juga menyebabkan urin menjadi kuning gelap  atau coklat.

Nyeri di perut bagian atas

Batu empedu atau pembesaran limpa dapat menyebabkan rasa sakit di perut bagian atas. Tingginya kadar bilirubin dan kolesterol (dari pemecahan sel darah merah) dapat membentuk batu di kandung empedu. Batu-batu ini bisa terasa menyakitkan.

Limpa adalah organ di perut yang membantu melawan infeksi dan menyaring sel darah yang sudah tua atau rusak. Pada anemia hemolitik, limpa dapat membesar dan bisa terasa menyakitkan.

Ulkus kaki dan nyeri kaki

Pada orang-orang yang memiliki anemia sel sabit, sel sabit yang terbentuk ini dapat menyumbat pembuluh darah kecil dan menyumbat aliran darah. Hal ini dapat menyebabkan luka pada kaki dan nyeri di seluruh tubuh.

Reaksi parah pada transfusi darah

Anda dapat mengalami anemia hemolitik karena transfusi darah. Hal ini dapat terjadi jika darah yang ditransfusikan adalah golongan darah yang berbeda dari darah Anda.

Tanda-tanda dan gejala dari reaksi parah terhadap transfusi darah termasuk demam, menggigil, tekanan darah rendah, dan syok. (Syok adalah kondisi yang berbahaya di mana tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang cukup.)

Tanda-tanda dan gejala kurang umum yang muncul pada pasien dengan anemia hemolitik antara lain:

  • Urin gelap
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice)
  • Murmur jantung
  • Peningkatan denyut jantung
  • Pembesaran limpa
  • Pembesaran hati

Penyebab

Apa penyebab anemia hemolitik?

Penyebab anemia hemolitik adalah karena kecepatan proses kematian sel darah merah. Normalnya sel darah merah akan dihancurkan dalam waktu 120 hari setelah diproduksi. Namun pada kondisi ini, sel darah merah hancur lebih cepat.

Banyak faktor, seperti penyakit, efek samping obat, faktor lingkungan lain yang dapat memicu tubuh untuk lebih cepat menghancurkan sel-sel darah merah.

Kondisi kerusakan sel darah merah ini bisa diperoleh (dikembangkan semasa hidup) dan juga diwariskan turun temurun dari keluarga. Namun, penyebab dari anemia hemolitik juga tidak selalu diketahui pemicunya.

Jenis

Apa saja jenis anemia hemolitik?

Ada banyak jenis anemia hemolitik dan kondisinya dapat diwarisi dari orangtua dan juga  didapat dari perkembangan selama hidup.

Anemia hemolitik genetik (keturunan)

Apabila anemia Anda ada hubungannya dengan  masalah hemoglobin, membran sel, atau enzim yang menjaga sel darah merah sehat Anda, ini bisa disebabkan karena genetik.

Anemia jenis ini sering dipicu oleh sel gen yang salah yang mengendalikan produksi darah merah. Saat bergerak melalui aliran darah, sel-sel darah merah bentuknya bisa menjadi abnormal, rapuh dan rusak.

Anemia hemolitik karena keturunan dibagi lagi menjadi lima jenis, yaitu:

1. Anemia sel sabit (sickle cell anemia)

Anemia sel sabit adalah penyakit bawaan yang terjadi saat tubuh menghasilkan bentuk keping darah yang abnormal. Sel-sel darah merah memiliki bentuk bulan sabit, normalnya bentuk darah bulat seperti donat tanpa lubang.

Sel darah sabit biasanya mati setelah beredar di dalam tubuh Anda selama 10 hingga 20 hari. Sel darah merah yang normal dan sehat umumnya berusia 120 hari, dan akan digantikan oleh tubuh dengan yang baru nantinya. 

2. Thalassemia

Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang sifatnya bawaan atau genetik. Kondisi ini terjadi saat tubuh tidak dapat membuat jenis hemoglobin tertentu dalam jumlah cukup. Akibatnya, tubuh jadi kekurangan sel darah merah yang sehat. 

3. Spherocytosis herediter

Kondisi ini terjadi ketika permukaan keping sel darah merah (membran permukaan) mengalami kerusakan. Kerusakan ini disebabkan karena bentuk sel darah merah bulat seperti bola. Sel darah merah seperti ini juga memiliki usia pendek yang bisa membuat tubuh Anda kekurangan darah yang sehat. 

4. Elliptocytosis herediter (Ovalocytosis)

Hampir sama dengan spherocystosis herediter, kondisi ovalocytosis juga terjadi ketika sel darah merah berbentuk tidak sempurna. Sel darah merah ovalocytosis bentuknya oval dan tidak fleksibel bergerak di pembuluh darah. Sel darah merah abnormal ini biasanya juga lebih cepat hancur dan menyebabkan tubuh jadi anemia. 

5. Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD)

Ini adalah jenis anemia hemolitik yang terjadi ketika sel-sel darah merah kehilangan enzim penting yang disebut G6PD.Ketika tubuh kekurangan enzim G6PD, sel darah merah Anda bisa pecah dan mati saat bersentuhan dengan zat lainnya di dalam aliran darah. 

Bagi orang yang menderita anemia karena kekurangan G6PD, kondisi infeksi, stres berat, makanan atau obat-obatan tertentu, dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah.

6. Defisiensi piruvat Kinase

Ini adalah anemia hemolitik yang terjadi akibat mutasi pada gen PKLR. Gen PKLR ini ada di organ hati dan dalam sel darah merah. Fungsi gen PKLR ini memberikan instruksi untuk tubuh membuat enzim yang disebut piruvat kinase. 

Enzim piruvat kinase ini akan dipecah menjadi glukosa lalu menjadi gula sederhana untuk menghasilkan adenosin trifosfat (ATP), sumber energi utama sel.

Mutasi gen PKLR mengakibatkan berkurangnya fungsi enzim piruvat kinase. Alhasil jumlah adenosin trifosfat dalam darah berkurang dan sel yang dihasilkan juga tidak sempurna. 

Sel-sel darah merah yang abnormal akan dikumpulkan oleh limpa dan dihancurkan. Pada akhirnya tubuh akan kekurangan suplai darah sehat yang cukup dan limpa akan membesar karena harus menghancurkan banyak sel darah abnormal tersebut. 

Anemia hemolitik yang tidak diturunkan

Selain diwariskan atau didapat turun temurun dari orang tua, anemia hemolitik juga bisa didapat semasa hidup.

Kemungkinan sel darah merah Anda pada awalnya normal dan sehat. Akan tetapi,beberapa penyakit atau faktor lain menyebabkan tubuh Anda menghancurkan sel darah merah sendirinya sampai menyebabkan anemia. 

1. Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA)

Ini adalah kondisi anemia hemolitik yang paling umum. Sampai saat ini tidak diketahui, apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh membuat antibodi untuk menyerang sel-sel darah merah sehat Anda sendiri. AIHA adalah kondisi serius dan harus ditangani secepat mungkin oleh dokter ahli. 

2. Alloimmune Hemolytic Anemia (AHA)

AHA adalah salah satu jenis anemia hemolitik yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel darah yang ditransfusikan ke Anda. 

AHA  terjadi ketika darah yang ditransfusikan adalah tipe darah yang berbeda dari darah Anda. 

AHA juga dapat terjadi selama hamil. Misalnya saat ibu hamil memiliki darah Rh-negatif dan bayinya memiliki darah Rh-positif. Faktor Rh adalah protein dalam sel darah merah dan “Rh-negatif” dan “Rh-positif” mengacu pada apakah darah Anda memiliki faktor Rh.

Anemia hemolitik akibat efek samping obat

Kondisi ini terjadi ketika suatu obat memicu sistem kekebalan tubuh Anda untuk menyerang sel darah merahnya sendiri. Bahan kimia dalam obat-obatan (seperti penisilin) ​​dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan menyebabkan pengembangan  atau perubahan pada antibodi.

1. Mechanical Hemolytic Anemias

Jenis anemia ini terjadi ketika ada kerusakan fisik pada membran sel darah merah. Di mana ini dapat membuat sel darah merah lebih cepat mati dari waktu biasanya. Kerusakan dapat disebabkan oleh perubahan pembuluh darah yang kecil, peralatan medis tertentu, preeklampsia, atau eklampsia. 

Kerusakan ini akan menyebabkan gumpalan darah terbentuk di pembuluh darah kecil di seluruh tubuh. Terkadang aktivitas fisik yang berat seperti lari maraton juga dapat menyebabkan kerusakan sel darah di tubuh Anda.

2. Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH)

Tubuh Anda akan menghancurkan sel-sel darah merah abnormal (yang disebabkan oleh kekurangan protein tertentu) lebih cepat dari biasanya dengan kondisi ini.

Orang dengan penyakit anemia PNH berisiko mengalami pembekuan di pembuluh darah, serta tingkat sel darah putih dan trombosit yang rendah.

Faktor Risiko

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko saya memiliki anemia hemolitik?

Faktor risiko dari anemia hemolitik yang utama adalah keturunan atau genetik.

Pasien anemia hemolitik warisan memiliki kecatatan pada gen yang mengendalikan produksi sel-sel darah merah. Gen sel darah merah yang cacat diturunkan dari salah satu atau kedua orangtua.

Berbagai jenis gen cacat dapat menyebabkan beragam jenis anemia hemolitik warisan.  Gangguan sel-sel darah merah yang disebabkan oleh gen cacat melibatkan hemoglobin, membran sel, atau enzim yang menjaga sel-sel darah merah yang sehat.

Sel-sel yang abnormal sangat rapuh dan akan pecah ketika bergerak melalui aliran darah. Jika hal ini terjadi, organ yang disebut limpa akan membuang puing-puing sel dari aliran darah.

Selain itu, risiko Anda mengidap anemia jenis ini juga dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan di dalam tubuh Anda

Tubuh pasien anemia hemolitik yang diperoleh akan membuat sel-sel darah merah normal. Namun demikian, berbagai penyakit, kondisi, atau faktor lainnya menyebabkan sel-sel darah hancur.

Kondisi yang menjadi pemicu hancurnya sel-sel darah merah adalah:

  • Gangguan sistem imun
  • Infeksi
  • Reaksi terhadap obat-obatan atau transfusi darah
  • Hipersplenisme.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis anemia hemolitik?

Banyak tes yang digunakan untuk mendiagnosis anemia hemolitik. Tes-tes tersebut dapat membantu diagnosis, mencari penyebab, dan mencari tahu seberapa parah kondisi anemia.

Complete Blood Count (CBC)

Pada banyak kasus, tes awal yang digunakan untuk mendiagnosis anemia adalah count blood count (CBC). CBC dapat mengukur bagian-bagian darah Anda.

Jika hasil CBC menunjukkan bahwa Anda mengidap anemia, Anda mungkin memerlukan tes darah lain untuk mencari tahu jenis dan tingkat keparahan anemia yang dimiliki.

Reticulocyte count

Reticulocyte count mengukur jumlah sel darah merah muda dalam darah Anda. Tes ini akan mengevaluasi kinerja sumsum tulang Anda dalam membuat sel-sel darah merah secara normal.

Orang yang mengalami anemia hemolitik biasanya memiliki jumlah retikulosit tinggi karena sumsum tulang mereka bekerja keras untuk menggantikan sel-sel darah merah yang hancur.

Peripheral smear

Untuk tes ini, dokter Anda akan memeriksa sel-sel darah merah melalui mikroskop. Beberapa jenis anemia hemolitik mengubah bentuk normal sel darah merah.

Coombs’ test

Tes ini dapat menunjukkan ada atau tidaknya antibodi yang dibuat tubuh untuk menghancurkan sel-sel darah merah.

Tes haptoglobin, bilirubin, dan fungsi liver

Ketika pecah, sel darah merah melepaskan hemoglobin ke dalam aliran darah. Hemoglobin bergabung dengan zat kimia bernama haptoglobin. Tingkat rendah haptoglobin dalam aliran darah merupakan tanda anemia hemolitik.

Hemoglobin dipecah menjadi senyawa yang disebut bilirubin. Tingginya kadar bilirubin dalam aliran darah mungkin merupakan tanda anemia hemolitik. Tingginya kadar senyawa ini juga terjadi akibat beberapa penyakit hati dan kantong empedu. Dengan demikian, Anda mungkin memerlukan tes fungsi hati untuk mencari tahu penyebab tingginya kadar bilirubin dalam tubuh Anda.

Hemoglobin electrophoresis

Tes ini khusus memeriksa berbagai jenis hemoglobin dalam darah Anda. Hal ini dapat membantu mendiagnosis jenis anemia yang Anda miliki.

Tes untuk paroxysmal nocturnal hemoglobinuria (PNH)

PNH digunakan untuk mendeteksi sel-sel darah merah yang kehilangan protein tertentu.

Osmotic fragility test

Tes ini dilakukan untuk mencari sel-sel darah merah yang lebih rapuh dibandingkan dengan sel darah merah yang normal. Sel-sel ini mungkin merupakan tanda hereditary spherocytosis (tipe anemia hemolitik turunan).

Tes glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) deficiency

Dalam kasus defisiensi G6PD, sel-sel darah merah kehilangan enzim penting yang disebut G6PD. Tes inilah yang digunakan untuk mencari enzim yang hilang dalam sampel darah.

Tes urin

Tes urin akan mendeteksi keberadaan hemoglobin bebas (protein yang membawa oksigen dalam darah) dan besi.

Tes sumsum tulang

Tes sumsum tulang dapat menunjukkan kinerja sumsum tulang Anda yang sehat dalam membuat sel-sel darah yang cukup. Tes sumsum tulang terbagi menjadi dua, yaitu aspirasi dan biopsi.

Untuk aspirasi sumsum tulang, dokter akan mengambil sejumlah kecil cairan sumsum tulang melalui sebuah jarum. Sampel diperiksa di bawah mikroskop untuk memeriksa sel-sel yang rusak.

Sementara itu, biopsi sumsum tulang dapat dilakukan bersamaan atau setelah aspirasi. Untuk tes ini, dokter akan mengambil sejumlah kecil jaringan sumsum tulang melalui sebuah jarum. Sampel jaringan diperiksa untuk mengetahui jumlah dan jenis sel di sumsum tulang.

Anda mungkin tidak perlu menjalani tes sumsum tulang jika tes darah sudah menunjukkan penyebab anemia hemolitik.

Tes lain untuk menemukan penyebab anemia

Anemia merupakan kondisi kekurangan darah dengan penyebab tertentu, Anda mungkin akan menjalani tes untuk kondisi seperti:

  • Gagal ginjal
  • Keracunan timbal
  • Kekurangan vitamin atau zat besi

Tes anemia sabit dan defisiensi G6PD untuk bayi

Di beberapa negara, tes anemia sel sabit dan defisiensi D6PD sudah dianjurkan bagi bayi yang baru lahir. Jenis anemia hemolitik turunan ini dapat dideteksi melalui tes darah rutin.

Penting untuk mendiagnosis anemia hemolitik sedini mungkin agar anak-anak bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati dan mengatasi anemia hemolitik?

Dikutip dari situs U.S. National Library of Medicine, pilihan pengobatan untuk anemia jenis ini berbeda tergantung pada penyebab anemia, keparahan kondisi, usia, kesehatan Anda, dan toleransi tubuh Anda terhadap obat-obatan tertentu. Dokter juga akan mempertimbangkan sejarah medis Anda.

Tujuan pengobatan anemia hemolitik, antara lain:

  • Mengurangi atau menghentikan penghancuran sel darah merah
  • Meningkatkan jumlah sel darah merah ke kadar normal
  • Mengobati penyebab yang mendasari anemia hemolitik

Pasien anemia hemolitik warisan/turunan mungkin memerlukan pengobatan rawat jalan, sedangkan pasien pengidap penyakit yang mendasari anemia hemolitik akan berangsur pulih setelah penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Pengobatan juga dilakukan untuk mencegah komplikasi akibat anemia

Berikut pilihan pengobatannya:

1. Transfusi darah

Transfusi darah dilakukan untuk mengobati anemia hemolitik yang berat atau mengancam jiwa. Transfusi sel darah merah diberikan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah Anda dengan cepat dan untuk mengganti sel darah merah yang hancur dengan yang baru.

2. Intravena immunoglobulin

Anda mungkin diberikan obat cairan imunoglobulin secara intravena atau infus di rumah sakit. Fungsinya untuk melemahkan sebagia sistem kekebalan tubuh  apabila kondisi kekurangan darah Anda mengarah pada anemia hemolitik.

3. Minum obat kortikosteroid

Dalam kasus anemia hemolitik yang berasal dari penyakit autoimun, Anda mungkin akan diberikan obat kortikosteroid. Obat anemia ini dapat mengurangi aktivitas sistem kekebalan tubuh Anda serta mmbantu mencegah sel darah merah hancur lebih cepat. 

4. Transplantasi sel sumsum

Dalam beberapa jenis anemia hemolitik seperti thalassemia, sumsum tulang tidak dapat membuat sel darah merah sehat dalam jumlah yang cukup. Sel-sel darah merah yang sehat justru dihancurkan sebelum siklus hidupnya berakhir.

Kondisi anemia hemolitik seperti ini umumnya dapat ditangani melalui prosedur transplantasi sel darah dan induk sumsum. Transplantasi ini bertujuan untuk menggantikan sel-sel sumsum tukang belakang yang rusak dengan sel yang sehat dari pendonor.

5. Plasmapheresis

Plasmapheresis adalah prosedur pengangkatan antibodi dari darah. Dalam prosedur ini, darah diambil dari tubuh menggunakan jarum yang dimasukkan ke pembuluh darah.

Plasma yang berisi antibodi akan dipisahkan dari darah. Kemudian, plasma dari donor dan sisa darah dimasukkan kembali dalam tubuh Anda.

Perawatan ini dapat dijalani jika perawatan lain untuk anemia hemolitik imun tidak berhasil.

6. Operasi

Dalam kasus anemia hemolitik yang parah, limpa Anda mungkin perlu diangkat. Limpa adalah tempat sel darah merah dihancurkan. Mengangkat limpa dapat mengurangi seberapa cepat sel darah merah dihancurkan.

Ini biasanya digunakan sebagai pilihan dalam kasus-kasus hemolisis karena penyakit sistem kekebalan tubuh. Operasi juga dapat dilakukan apabila obat  kortikosteroid atau imunosupresan lainnya tidak terlalu manjur.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah dan mengatasi kondisi ini di rumah?

Anemia pada dasarnya tidak dapat dicegah. Anda dapat membantu mencegah anemia terjadi dengan mengonsumsi makanan yang seimbang yang mencakup sumber zat besi, vitamin B12, dan folat yang baik. Selain itu, Anda bisa melakukan kiat lainnya termasuk:

  • Jika Anda seorang vegetarian, tanyakan kepada dokter atau ahli gizi jika tentang suplemen atau vitamin C yang dapa membantu tubuh Anda menyerap lebih banyak zat besi dari makanan.
  • Batasi atau kurangi minum minuman berkafein.
  • Pilih sereal dan roti yang diperkaya atau mengandung zat besi.
  • Ambil tindakan pencegahan jika Anda bekerja di lingkungan penuh radiasi seperti di pabrik baterai, cat, atau tambang minyak bumi. 
  • Periksa kondisi kesehatan Anda secara berkala untuk memantau gejala anemia Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perlukah Penderita Anemia Dewasa Minum Suplemen Zat Besi Saat Puasa?

Puasa dapat memperparah gejala yang kerap dialami penderita anemia. Jika demikian, perlukah penderita anemia minum suplemen zat besi saat puasa?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hari Raya, Ramadan 06/05/2020 . Waktu baca 5 menit

7 Cara Pencegahan Anemia yang Utama

Memiliki anemia membuat Anda mudah mengalami lemas, letih, lesu tiba-tiba. Lantas, langkah pencegahan apa yang tepat agar anemia tidak mudah kambuh?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Anemia, Health Centers 26/02/2020 . Waktu baca 8 menit

Anemia Gravis

Anemia gravis adalah penyakit kekurangan darah berat. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, dan cara mencegah kondisi ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 16/01/2020 . Waktu baca 7 menit

3 Manfaat Penting Buah dan Sayur Bagi Anak yang Sayang Jika Dilewatkan

Makanan tinggi serat penting untuk tumbuh kembang anak. Memang, apa saja manfaatnya makan sayur dan buah untuk bayi yang perlu orangtua tahu?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 12/12/2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit
anemia rash

Hal yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Anemia Rash

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 29/06/2020 . Waktu baca 4 menit
minyak esensial

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit
pantangan penderita anemia g6pd

5 Hal yang Perlu Dihindari Jika Anda Menderita Anemia Defisiensi G6PD

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020 . Waktu baca 4 menit