Aspirasi Mekonium, Ketika Bayi Keracunan Air Ketuban yang Terkontaminasi Feses

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Kesehatan bayi selama masih di dalam kandungan atau setelah dilahirkan tentu menjadi dambaan setiap orangtua. Sayangnya, tak jarang ada masalah selama di dalam kandungan mau pun setelahnya yang memengaruhi kesehatan tubuh bayi. Aspirasi mekonium misalnya yang disebabkan oleh tercampurnya feses pertama bayi bersama air ketuban sehingga menyebabkan keracunan.

Sebagai orangtua, penting untuk memahami segala kemungkinan gangguan yang mengganggu kesehatan tubuh bayi. Ini termasuk aspirasi mekonium atau keracunan karena bayi minum air ketuban yang bercampur feses.

Untuk lebih jelasnya, mari simak ulasan lengkapnya.

Apa itu sindrom aspirasi mekonium?

higroma kistik

Sindrom aspirasi mekonium adalah komplikasi persalinan ketika bayi keracunan karena minum air ketuban yang mengandung mekonium.

Berdasarkan National Center for Advancing Translational Sciences, mekonium adalah kotoran, feses, atau tinja pertama bayi yang baru lahir.

Biasanya, feses pertama ini mulai dihasilkan oleh usus sebelum kelahiran bayi.

Sebenarnya mekonium atau feses pertama merupakan hal normal dan memang dimiliki oleh setiap bayi yang baru lahir.

Hanya saja, mekonium dapat mengganggu kesehatan bayi bila keluar saat masih di dalam kandungan dan bercampur dengan air ketuban.

Ini bisa menyebabkan bayi keracunan karena telah minum air ketuban yang mengandung mekonium, entah sebelum, selama, atau setelah kelahiran.

Kondisi ini kemudian disebut sebagai aspirasi mekonium atau meconium aspiration syndrome (MAS).

Jadi, sindrom aspirasi mekonium pada bayi bukan sekadar keracunan karena terminum air ketuban saja.

Pasalnya, selama berada di dalam kandungan, air ketuban memang berfungsi sebagai penghantar zat gizi untuk bayi.

Singkatnya, bayi memang akan minum dan menghirup air ketuban saat berada di dalam kandungan.

Namun karena tidak mengandung mekonium, hal ini tidak dapat dikatakan sebagai keracunan air ketuban.

Lagi-lagi, bayi yang keracunan karena minum air ketuban hanya terjadi jika ada mekonium yang tercampur di dalamnya dan terhirup oleh bayi.

Pengaruh dari tekanan atau stres yang dialami bayi sebelum atau saat proses melahirkan dapat menyebabkan bayi mengeluarkan mekonium saat masih di dalam kandungan.

Sindrom aspirasi mekonium biasanya dialami oleh bayi yang lahir di usia kehamilan cukup umur dan lebih dari 42 minggu.

Sindrom aspirasi mekonium ini memang tidak terlalu mengancam nyawa.

Namun, aspirasi mekonium bisa mengakibatkan komplikasi atau gangguan kesehatan pada bayi dan berisiko fatal bila tidak segera diobati.

Apa penyebab aspirasi mekonium pada bayi?

kelahiran prematur bayi prematur

Penyebab aspirasi mekonium atau keracunan karena minum air ketuban pada bayi bisa karena stres dan tekanan yang dialami bayi, mengutip dari Medline Plus.

Bayi yang mengalami aspirasi mekonium dapat mengalami stres karena berbagai hal.

Salah satu penyebab stres pada bayi yang keracunan karena minum air ketuban yakni ketika tidak mendapatkan jumlah darah dan oksigen yang cukup saat di dalam kandungan.

Selain itu, berikut berbagai penyebab stres pada bayi yang akhirnya mengakibatkan aspirasi mekonium atau bayi keracunan karena minum air ketuban:

  • Persediaan oksigen yang berkurang sebelum atau selama proses kelahiran.
  • Usia kehamilan sudah lebih dari 40 minggu.
  • Proses melahirkan memakan waktu lama, panjang, atau sulit.
  • Ibu mengalami masalah kesehatan tertentu saat hamil, seperti hipertensi dalam kehamilan dan diabetes gestasional.
  • Pertumbuhan janin dalam rahim terhambat.

Mekonium biasanya baru akan diproduksi oleh tubuh bayi menjelang waktu melahirkan tiba, baik melahirkan normal dengan posisi persalinan apa saja maupun operasi caesar.

Itu sebabnya, kebanyakan kasus aspirasi mekonium dialami oleh bayi yang lahir cukup umur atau lewat dari usia kehamilan normal.

Terlebih karena semakin lama usia kehamilan, jumlah cairan ketuban juga akan semakin sedikit.

Nah, di waktu inilah bayi berisiko mengalami keracunan air ketuban yang mengandung mekonium alias aspirasi mekonium.

Setelah terhirup, air ketuban yang telah terkontaminasi tersebut kemudian masuk ke dalam paru-paru bayi.

Akibatnya, terjadi pembengkakan di saluran pernapasan bayi yang menyebabkan bayi sulit bernapas.

Semakin banyak mekonium yang terhirup oleh bayi, semakin parah kondisinya.

Aspirasi mekonium atau keracunan air ketuban bisa terjadi saat bayi masih di dalam kandungan maupun setelah dilahirkan.

Namun, aspirasi mekonium jarang terjadi pada bayi prematur.

Apa gejala aspirasi mekonium pada bayi?

kulit sensitif pada bayi akibat terlalu higienis

Setiap bayi mungkin mengalami gejala aspirasi mekonium yang berbeda-beda.

Gejala yang paling umum dari aspirasi mekonium atau keracunan air ketuban yakni pernapasan bayi tampak sangat cepat dan kuat saat mengembuskan napas.

Bayi yang baru lahir juga mungkin sampai susah bernapas karena saluran pernapasannya tersumbat oleh mekonium.

Berikut berbagai gejala aspirasi mekonium atau keracunan air ketuban yang dialami oleh bayi:

  • Napas berubah menjadi lebih cepat
  • Pernapasan terganggu dan bermasalah, karena susah bernapas dengan normal
  • Muncul suara mendengus saat mengembuskan napas
  • Mengalami retraksi atau otot-otot dada dan leher tampak turun saat bayi bernapas
  • Warna kulit bayi berubah menjadi berwarna kebiruan (sianosis)
  • Tekanan darah bayi rendah
  • Air ketuban berubah warna menjadi agak gelap dan kehijauan
  • Tubuh bayi tampak lemas
  • Terlihat adanya mekonium di dalam air ketuban saat bayi lahir

Mekonium yang ada di dalam air ketuban dalam waktu lama dapat mengakibatkan kulit dan kuku bayi menjadi berwarna kuning.

Komplikasi melahirkan apa pun, termasuk bayi minum air ketuban bercampur feses, dapat lebih cepat ditangani bila ibu hamil melahirkan dirumah sakit.

Sementara bila ibu melahirkan di rumah, penanganan mungkin memakan waktu yang lebih lama karena persediaan alat yang terbatas.

Pastikan ibu segera pergi ke rumah sakit bersama suami maupun doula bila ada, saat tanda-tanda melahirkan muncul.

Tanda-tanda melahirkan ini mencakup air ketuban pecah, kontraksi persalinan, pembukaan lahiran, dan lainnya.

Namun, jangan keliru dalam membedakan kontraksi persalinan asli dan kontraksi palsu. Kenali betul perbedaannya agar Anda tidak terkecoh.

Agar semua prosesnya berjalan dengan lancar, pastikan ibu sudah menyiapkan berbagai persiapan persalinan dan perlengkapan melahirkan sejak lama.

Apa komplikasi yang mungkin muncul dari aspirasi mekonium?

bayi berjemur penyakit kuning pada bayi

Sebagian besar bayi baru lahir yang mengalami aspirasi mekonium jarang sampai mengalami komplikasi kesehatan jangka panjang.

Meski begitu, akibat dari keracunan karena minum air ketuban yang mengandung mekonium atau aspirasi mekonium dapat berdampak langsung pada kesehatan bayi baru lahir.

Bukan tidak mungkin, akibat bayi minum air ketuban campur mekonium ini bisa berdampak pada peradangan dan infeksi paru-paru sehingga menghambat saluran pernapasannya.

Akibat bayi minum air ketuban campur mekonium ini bisa membuat paru-paru mengembang.

Semakin sering paru-paru mengembang, udara di dalamnya dapat semakin menumpuk di rongga dada dan sekitar paru-paru.

Kondisi ini dikenal dengan nama pneumotoraks yang membuat proses pernapasan bayi menjadi sulit.

Di sisi lain, aspirasi mekonium juga dapat meningkatkan risiko hipertensi paru pada bayi baru lahir, atau pulmonary hypertension of the newborn (PPHN).

PPHN merupakan kondisi langka, tapi dapat mengancam jiwa.

Ini karena tekanan darah tinggi di pembuluh paru-paru bisa membatasi aliran darah sehingga membuat bayi susah bernapas dengan nyaman.

Akibat bayi minum air ketuban atau aspirasi mekonium ini juga dapat menimbulkan komplikasi berupa terbatasnya aliran oksigen menuju ke otak.

Alhasil, sedikitnya oksigen untuk otak berisiko menimbulkan kerusakan permanen pada otak bayi.

Bagaimana cara mendiagnosis aspirasi mekonium pada bayi?

induksi melahirkan induksi persalinan

Cara mendiagnosis aspirasi mekonium yang paling awal yaitu dengan melihat adanya mekonium di dalam air ketuban bayi saat dilahirkan.

Bahkan biasanya sebelum lahir, detak jantung bayi yang diamati tampak sangat lambat saat diperiksa.

Jika setelah lahir dokter mencurigai bayi mengalami keracunan karena terminum air ketuban yang mengandung mekonium, dokter akan melakukan laringoskopi.

Laringoskopi adalah prosedur pemeriksaan pita suara, tenggorokan, serta kotak suara (laring).

Dokter juga akan mendeteksi suara pernapasan yang tidak normal dengan menggunakan stetoskop yang ditempelkan di dada bayi.

Pemeriksaan ini akan membantu dokter untuk menemukan suara yang tidak normal dan serak saat bayi bernapas.

Jika bayi mengalami aspirasi mekonium, akan muncul berbagai gejala khasnya segera setelah dilahirkan.

Sekali pun sesaat setelah lahir bayi tampak kuat dan sehat, tapi beberapa jam kemudian bayi dapat mengalami gangguan pernapasan parah.

Untuk lebih memastikannya, selain dengan prosedur laringkoskopi dan menggunakan stetoskop, masih ada beberapa metode pemeriksaan aspirasi mekonium lainnya.

Berikut ini pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh dokter untuk memperjelas diagnosis aspirasi mekonium:

  • X-ray atau rontgen dada, untuk melihat apakah ada zat asing yang masuk ke dalam paru-paru bayi.
  • Tes darah, untuk mencari tahu hasil kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam tubuh bayi.

Bagaimana penanganan aspirasi mekonium pada bayi?

hb rendah pada bayi

Perawatan untuk bayi yang keracunan karena terminum air ketuban mengandung mekonium bisa bervariasi.

Ini tergantung dari lama waktu bayi keracunan karena minum air ketuban, jumlah mekonium, serta tingkat keparahan gangguan pernapasan yang dialami bayi.

Saat proses melahirkan

Mekonium dapat terlihat saat ketuban pecah atau adanya warna hijau tua di air ketuban.

Jika hal itu terjadi, dokter akan memantau denyut jantung janin untuk melihat tanda-tanda gawat janin.

Selain itu, dalam beberapa kasus aspirasi mekonium, dokter mungkin merekomendasikan penggunaan amnioinfusion yaitu mengencerkan cairan ketuban dengan larutan saline.

Fungsinya adalah mencuci mekonium dari kantong ketuban sebelum bayi dapat menghirupnya saat lahir.

Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan tabung kecil ke dalam rahim melalui vagina.

Tabung tersebut bertugas untuk mengalirkan cairan steril agar bercampur dengan air ketuban yang telah terkontaminasi oleh mekonium.

Setelah bayi lahir

Sementara setelah lahir, bayi yang mengalami aspirasi mekonium harus menjalani penanganan segera guna menghilangkan mekonium dari saluran pernapasannya.

Jika bayi yang baru lahir mengalami aspirasi mekonium tapi masih terlihat sehat, tim medis akan mengamati dan memantau kemungkinan munculnya gejala.

Hal ini berlaku ketika fisik bayi tampak baik dan detak jantung cukup kuat, yaitu sekitar lebih dari 100 detak per menit (BPM).

Ketika nantinya muncul gejala aspirasi mekonium yang menandakan masalah pada bayi, akan segera diberikan penanganan.

Sementara itu, jika denyut jantung bayi yang keracunan karena terminum air ketuban rendah yakni di bawah 100 BPM dan tampak lemas, akan langsung diberikan perawatan.

Dokter biasanya menggunakan tabung pengisap untuk mengambil mekonium tersebut melalui hidung, mulut, maupun tenggorokan bayi.

Jika bayi baru lahir susah bernapas, tabung pengisap bisa dimasukkan ke dalam tenggorokan untuk menyedot air ketuban yang mengandung mekonium tersebut.

Proses ini akan terus dilakukan sampai tidak terlihat lagi adanya mekonium pada saluran pernapasan bayi.

Dalam kasus lainnya, bagi bayi baru lahir yang susah bernapas dan denyut jantungnya rendah, pemberian oksigen tambahan bisa menjadi pilihan terbaik.

Dokter akan memberikan oksigen tambahan melalui ventilator dengan memasang selang pernapasan melalui tenggorokan bayi.

Hal ini ditujukan guna membantu mengembangkan paru-paru dan melancarkan saluran penapasan bayi yang mengalami aspirasi mekonium.

Perawatan lanjutan untuk bayi

Setelah penanganan yang diberikan segera saat bayi baru lahir selesai, bayi akan ditempatkan di unit perawatan khusus agar bisa ditangani secara intensif.

Ruang perawatan ini disebut juga dengan neonatal intensive care unit (NICU).

Berikut penanganan tambahan yang dapat dilakukan dokter pada bayi guna mencegah munculnya komplikasi akibat aspirasi mekonium:

  • Terapi oksigen untuk memastikan kadar oksigen di dalam darah tercukupi.
  • Menggunakan penghangat untuk membantu menjaga suhu tubuh bayi.
  • Penggunaan ventilator atau alat bantu pernapasan untuk memudahkan bayi saat bernapas.
  • Memberikan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) pada bayi.

ECMO biasanya baru akan diberikan pada komplikasi yang parah dan sebagai pilihan lanjutan jika bayi tidak merespon perawatan lain atau mengalami tekanan darah tinggi di paru-paru.

Prosedur ini dilakukan dengan cara menggunakan sebuah alat medis yang bertugas untuk melakukan kerja selayaknya organ paru-paru dan jantung.

Dengan begitu, kondisi organ jantung dan paru-paru bayi yang mungkin bermasalah bisa membaik secara perlahan.

Terkadang, dokter mungkin akan memberikan antibiotik selama perawatan untuk mencegah serta mengobati infeksi pada bayi.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Salmonellosis

Salmonellosis adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella yang menyerang usus. Bagaimana mengatasi penyakit ini? Simak selengkapnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Yang Harus Anda Lakukan Ketika Tabung Gas Kompor Rumah Bocor

Tabung gas bocor tidak hanya rentan menyulut kebakaran, namun juga sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh ketika terhirup. Seperti apa ciri tabung gas bocor?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kesehatan, Informasi Kesehatan 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Bahaya Makan Kotoran Manusia Terhadap Kesehatan Tubuh

Ada puluhan siswa dipaksa makan kotoran manusia oleh seniornya. Tindakan itu bisa mengganggu kesehatannya. Apa saja bahaya makan kotoran manusia?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan, Informasi Kesehatan 27 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

Tidak Sengaja Tertelan Petroleum Jelly, Ini Efek Samping yang Mungkin Muncul

Sebagai krim yang digunakan untuk kulit, tentu ketika tidak sengaja termakan akan ada efek sampingnya. Apa saja efek samping jika tertelan petroleum jelly?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan, Informasi Kesehatan 2 Januari 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menjaga kebersihan makanan

5 Cara Menjaga Kebersihan Makanan agar Terhindar dari Penyakit

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 4 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
BAB berlendir

Berbahayakah Jika BAB Anda Berlendir?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 3 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
ilustrasi bilas lambung atau gastric lavage

Mengenal Bilas Lambung, Terapi Medis Darurat untuk Atasi Keracunan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
feses berbusa bab berbusa

Penyebab BAB Berbusa dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 5 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit