backup og meta
Kategori

10

Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

7 Ciri Wanita Sedang dalam Masa Subur

Ditinjau secara medis oleh dr. Amanda Rumondang Sp.OG · Kebidanan dan Kandungan · Brawijaya Hospital Duren Tiga


Ditulis oleh Atifa Adlina · Tanggal diperbarui 10/02/2023

    7 Ciri Wanita Sedang dalam Masa Subur

    Mengetahui masa subur serta ovulasi merupakan hal yang perlu diketahui saat merencanakan kehamilan. Namun, bagaimana cara mengetahui ciri atau tandanya pada wanita?

    Tanda-tanda wanita sedang dalam masa subur

    Mengutip American Pregnancy Association, tanda-tanda masa subur setiap wanita bervariasi.

    Bahkan, ada pula kemungkinan tidak mengalami tanda atau ciri apapun.

    Untuk mengetahui kapan Anda sedang dalam waktu subur, perhatikan tanda-tanda atau ciri-cirinya berikut yang umum terjadi.

    1. Alat tes masa subur menunjukkan hasil positif

    Salah satu tanda atau ciri dari masa subur adalah alat tes yang Anda gunakan untuk menghitung masa subur menunjukkan hasil positif.

    Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan hubungan intim dengan pasangan demi mendapatkan momongan.

    Namun, jika Anda mempunyai kondisi polycystic ovarian syndrome (PCOS), hasil dari alat tes kesuburan cenderung kurang efektif.

    2. Lendir serviks seperti putih telur

    Tanda-tanda atau ciri-ciri lainnya yang mungkin muncul saat Anda berada pada masa subur adalah kualitas lendir serviks.

    Lendir serviks adalah cairan yang keluar dari serviks mendekati masa ovulasi dan juga biasa disebut dengan nama keputihan.

    Biasanya, ciri keputihan masa subur yaitu memiliki tekstur dan warna yang serupa dengan putih telur.

    Artinya, cairan vagina ini berwarna bening dan transparan, lalu basah, licin, dan juga melar jika dipegang.

    Lendir serviks ini akan membantu sperma untuk lebih mudah berenang ke dalam rahim dan bertemu dengan sel telur sehingga mempermudah proses pembuahan.

    Selain itu, lendir serviks membuat penetrasi saat berhubungan intim menjadi lebih mudah dan tidak sakit.

    Berikut ini merupakan ciri keputihan masa subur.

    • Mendekati masa ovulasi: lendir lebih lengket, lebih banyak dikeluarkan, berwarna keruh, seperti keputihan
    • Selama masa ovulasi: lendir basah, licin, elastis, dan transparan, seperti putih telur.
    • Setelah ovulasi: lendir lebih kering dan lebih sedikit keluar.

    3. Gairah seks meningkat

    Tentu Anda menyadari bahwa pada saat-saat tertentu gairah seks yang tadinya biasa saja jadi cukup meningkat.

    Ya, gairah seks yang lebih tinggi dari biasa bisa saja merupakan tanda atau ciri dari masa subur.

    Meski mungkin bukan ciri yang akurat, hasrat seks yang lebih besar ini adalah tanda alami dari tubuh Anda.

    Artinya, tubuh Anda sebenarnya mengerti kapan waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seks.

    Pada dasarnya, gairah seks seorang wanita akan meningkat menjelang ovulasi. Bahkan, wanita juga akan terlihat lebih menarik pada saat itu.

    4. Perubahan suhu basal tubuh

    Perubahan pada suhu basal tubuh juga bisa menjadi tanda atau ciri yang bisa Anda perhatikan ketika memasuki masa subur.

    Suhu basal tubuh adalah suhu tubuh ketika beristirahat atau tidur. Rata-rata suhu tubuh basal berkisar antara 35,5—36,6°Celsius.

    Umumnya, suhu tubuh ditentukan berdasarkan kegiatan yang dilakukan, makanan yang dikonsumsi, hormon di dalam tubuh, kebiasaan tidur, dan masih banyak lagi.

    Pada saat berovulasi, kadar hormon progesteron di dalam tubuh meningkat.

    Kadar hormon progesteron yang tinggi menyebabkan temperatur tubuh Anda mengalami peningkatan.

    Jika suhu tubuh naik sekitar 0,4—0,8°C dari suhu biasanya, mungkin tubuh sudah melakukan ovulasi dalam 12 sampai 24 jam terakhir.

    Saat itu, suhu tubuh Anda membuat rahim siap melepaskan telur yang sudah matang dan siap dibuahi.

    Maka, setelah masa subur berlalu, suhu tubuh akan lebih rendah.

    Tanda-tanda atau ciri masa subur ini mungkin tidak akan terlalu efektif jika Anda terbiasa bekerja pada malam hari atau memiliki jam tidur yang tak menentu.

    5. Perubahan posisi leher rahim

    Serviks atau leher rahim akan mengalami perubahan saat Anda melalui siklus menstruasi.

    Perubahan ini menjadi salah satu tanda atau ciri dari masa subur yang Anda alami.

    Mengapa? Sebab tepat sebelum terjadinya ovulasi, serviks Anda akan berubah posisi menjadi lebih tinggi.

    Hal ini membuat Anda merasa kesulitan untuk menggapainya. Bahkan, saat disentuh, serviks menjadi lebih lembut dan akan sedikit lebih terbuka.

    Sebaliknya, saat tidak dalam masa subur, serviks atau leher rahim terletak lebih rendah dan lebih keras apabila disentuh. Di samping itu, serviks akan lebih tertutup.

    Apabila belum terbiasa memeriksa serviks, Anda bisa memeriksakan kondisi serviks ke dokter kandungan.

    Anda mungkin bisa bertanya kepada dokter bagaimana cara memeriksa kondisi serviks secara mandiri di rumah.

    6. Payudara terasa nyeri

    Rasa nyeri pada payudara juga bisa menjadi tanda-tanda atau ciri-ciri lain bahwa Anda sedang berada dalam masa subur.

    Kondisi ini biasanya disebabkan perubahan hormon yang terjadi saat ovulasi.

    Sama dengan ciri lainnya yang bisa menjadi penanda dalam masa subur, kondisi ini tidak bisa menunjukkan secara jelas kapan Anda akan mengalami ovulasi.

    7. Sakit ovulasi

    Pernahkah Anda mendengar sakit ovulasi atau mittelschmerz? Sakit ini biasanya ditandai dengan rasa sakit yang amat kuat seperti ditusuk pada bagian bawah perut Anda.

    Biasanya, tanda atau ciri masa subur ini muncul tanpa sebab dan secara tiba-tiba.

    Jika rasa sakit itu muncul di tengah siklus, itulah yang disebut dengan mittelschmerz atau sakit ovulasi.

    Ini adalah salah satu tanda-tanda atau ciri terakhir yang mungkin bisa diidentifikasi saat memasuki waktu subur.

    Rasa sakit ovulasi ini bisa saja dialami setiap bulan, tetapi tidak pada semua wanita.

    Masalah seputar masa subur

    kesuburan wanita atau ovulasi

    Ciri masa subur yang dipaparkan di atas mungkin tidak selalu dialami setiap wanita. Hal ini bisa disebabkan oleh gangguan atau masalah.

    Ada beberapa alasan yang membuat wanita mengalami masalah pada masa ovulasi atau masa subur, yakni sebagai berikut.

    1. Masalah berat badan

    American Society for Reproductive Medicine menjelaskan bahwa wanita yang memiliki berat badan rendah cenderung memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur.

    Begitu pula dengan wanita dengan berat badan berlebih yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon pada tubuh.

    2. Polycystic Ovarian Syndrome

    Polycystic ovarian syndrome atau PCOS merupakan penyebab utama ketidaksuburan pada wanita. PCOS adalah kondisi pembesaran ovarium yang disertai kista kecil berisi cairan.

    Kondisi ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan mengganggu kesuburan.

    Gejala lain dari PCOS ini adalah resistensi insulin, obesitas, pertumbuhan rambut yang tidak normal, juga jerawat.

    3. Disfungsi hipotalamus

    Kondisi ini terjadi ketika adanya hormon yang merangsang gangguan masa subur juga ovulasi.

    Penyebab disfungsi hipotalamus adalah stres fisik atau emosional berlebihan, berat badan sangat rendah atau justru tinggi.

    Tidak hanya itu saja, olahraga terlalu berlebihan juga bisa merangsang disfungsi hipotalamus.

    4. Insufisiensi ovarium prematur

    Ini terjadi ketika produksi sel telur berhenti sebelum waktunya karena penurunan hormon estrogen.

    Masalah kesuburan ini bisa disebabkan oleh penyakit autoimun, kelainan genetik, atau racun lingkungan. Biasanya, ini terjadi pada wanita sebelum usia 40 tahun.

    5. Kelebihan prolaktin atau hiperprolaktinemia

    Kondisi ini dipengaruhi oleh penggunaan obat-obatan atau kelainan kelenjar hipofisis.

    Kelenjar yang berperan sebagai produsen hormon tertentu dan bertindak sebagai pengendali berbagai aspek tubuh manusia.

    Hal ini pula yang membuat jumlah prolaktin wanita berlebihan sehingga memengaruhi waktu subur yang seharusnya.

    Kelebihan prolaktin ini bisa menurunkan hormon estrogen. Meski begitu, kasus ini sangat jarang terjadi dan terbilang kasus langka.

    Catatan

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Amanda Rumondang Sp.OG

    Kebidanan dan Kandungan · Brawijaya Hospital Duren Tiga


    Ditulis oleh Atifa Adlina · Tanggal diperbarui 10/02/2023

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan