home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Larangan Duduk Menghalangi Pintu Saat Hamil, Bukan Hanya Mitos

Larangan Duduk Menghalangi Pintu Saat Hamil, Bukan Hanya Mitos

Mungkin ini bukan pertama kalinya Anda mendengar larangan tentang duduk menghalangi pintu. Sejak kita kecil, orangtua kita mungkin sudah sering memberi tahu bahwa anak perempuan tidak boleh duduk di depan pintu. Bahkan, duduk menghalangi pintu saat hamil juga jadi salah satu pantangan. Anda mungkin mengira ini hanya sekadar mitos belaka. Tapi, apakah benar?

Saat Anda hamil, beberapa kepercayaan meyakini bahwa Anda dilarang duduk menghalangi pintu. Sebagian besar mengatakan bahwa, dengan duduk menghalangi pintu Anda akan mempersulit proses kelahiran bayi Anda nantinya, hingga persalinan pun lebih lama. Namun nyatanya itu hanyalah mitos. Belum ditemukan adanya literatur maupun penelitian yang mendukung bahwa duduk menghalangi pintu dapat mempersulit kelahiran si bayi.

Tapi kenapa ibu memang sebaiknya tidak duduk menghalangi pintu saat hamil?

Duduk menghalangi pintu yang terbuka justru akan memperbesar potensi Anda untuk terpapar penyakit yang ditularkan melalui udara, atau yang biasa dikenal dengan airborne disease. Terlebih bila salah satu anggota keluarga Anda atau orang yang tinggal di sekitar Anda ada yang tengah terpapar penyakit tersebut. Anda bisa tertular meski hanya dengan bernapas seperti biasa.

Pintu yang terbuka akan mendukung penyebaran virus airborne disease, flu contohnya. Saat seseorang yang telah terpapar virus flu bersin, bagian belakang tenggorokannya akan menghasilkan 40.000 partikel kecil yang lalu jatuh dengan kecepatan 200 mil/jam. Kebanyakan partikel kecil ini berukuran lebih kecil dari ukuran rambut manusia, sehingga takkan mampu dilihat dengan mata ‘telanjang’.

Saat partikel telah mendarat pada suatu permukaan, virusnya masih akan tetap bertahan. Saat partikel mendarat pada bahan kertas, virus masih akan bertahan selama beberapa jam sedangkan virus masih bertahan hingga beberapa hari, saat partikel mendarat pada permukaan plastik, aluminium dan semacamnya.

Seorang pengamat aliran fluida University of Philadelphia mengungkapkan bahwa membuka pintu kemudian akan menyebabkan kebanyakan dari partikel kecil yang telah jatuh tersebut terdorong oleh angin dan turut terikut ketika ada seseorang yang berlalu melewati partikel kecil tersebut. Saat virus terhirup masuk melalui hidung, ia akan memilih satu sel untuk dimasuki dan akhirnya memulai proses memperbanyak diri.

Proses perbanyakan diri virus ini tidak akan serta merta menginfeksi tubuh manusia tersebut. Seorang ahli virus klinis Julian Tang mengatakan bahwa daya tahan tubuh manusia memiliki sistem perlindungan untuk menghadapi kondisi tersebut. Namun sayangnya, hamil adalah momen di mana daya tahan ibu sedang berada pada posisi terendahnya, sehingga membuat ibu akan rentan terinfeksi penyakit.

Selain itu, duduk menghalangi pintu juga berpotensi membuat Anda masuk angin. Seorang praktisi pengobatan tradisional Cina, Angela Tian Zu, mengatakan bahwa, saat tubuh Anda dalam kondisi prima, tubuh memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari angin, panas, maupun suhu dingin. Namun berbeda halnya dengan saat daya imun Anda tengah lemah. Bahkan kombinasi kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan Anda merasa sakit kepala.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditulis oleh Theresia Evelyn
Tanggal diperbarui 13/02/2017
x