backup og meta
Kategori
Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

7 Perubahan Suami yang Sering Terjadi Saat Istri Hamil

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 17/01/2023

7 Perubahan Suami yang Sering Terjadi Saat Istri Hamil

Selama masa kehamilan, ibu hamil akan mengalami banyak perubahan, mulai dari bentuk tubuh, suasana hati, sikap, dan perilaku. Menariknya, tidak hanya pada wanita, perubahan juga dapat terjadi pada suami saat sang istri hamil.

Perubahan suami saat istri hamil

Perubahan suami saat istri hamil terkadang positif, tapi ada juga yang negatif. Tidak hanya sikap dan perilaku, kehamilan juga bisa memengaruhi fisik dan psikologis suami.

Berikut sejumlah perubahan pada perilaku suami yang kerap terlihat ketika istri hamil.

1. Lebih overprotektif

perubahan suami saat istri hamil

Banyak wanita yang mengaku bahwa suaminya jadi lebih overprotektif selama kehamilan. Sebagai contoh, suami mencoba untuk membatasi semua kegiatan yang Anda lakukan.

Meski kadang menjengkelkan, itu merupakan cara suami mendukung istri yang hamil. Sikap overprotektif suami bertujuan untuk memastikan kesehatan istri dan janin terjaga dengan baik.

Untuk menyamakan suara tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama hamil, Anda dan suami bisa lebih banyak mengobrol. Terkadang, perbedaan pola pikir dapat menimbulkan perdebatan selama kehamilan.

2. Jadi sering mengobrol

Suami Anda mungkin bukan merupakan tipe orang yang banyak bicara. Namun, semuanya bisa berubah 180 derajat ketika istri hamil.

Anda mungkin akan melihat suami sering mengajak calon bayi mengobrol. Menariknya, aktivitas ini memberikan banyak manfaat, seperti:

  • membangun ikatan emosional, 
  • membantu stimulasi otak janin, 
  • menstimulasi pendengaran janin, hingga 
  • membantu perkembangan bicara anak nantinya.

3. Stres

Ketika istri hamil, beberapa suami mungkin akan menunjukkan perubahan sikap karena stres. Kondisi ini biasanya terjadi akibat banyaknya pikiran yang ada di dalam kepala suami.

Dilansir dari laman Raising Children, berikut sejumlah alasan mengapa suami mudah stres saat istrinya hamil.

  • Manajemen keuangan, terutama biaya kelahiran.
  • Tuntutan pekerjaan yang tidak ikut berkurang.
  • Masalah dalam hubungan yang mungkin tidak dapat diselesaikan dengan cara biasa.

Ketika hal ini terjadi, ada baiknya istri mengajak suami untuk berdiskusi. Pasalnya, stres yang berlarut-larut dapat berdampak buruk pada kesehatan dan hubungan Anda bersama suami.

4. Wajah tampak lelah

Saat istri hamil, suami mungkin akan mengalami perubahan pada wajahnya yang tampak lebih lelah. Hal ini biasanya terjadi karena suami kurang istirahat selama kehamilan.

Ketika hamil, wanita biasanya akan lebih sering bangun tengah malam untuk buang air kecil. Kondisi tersebut secara tidak langsung turut mengganggu kualitas tidur suami.

5. Perubahan gaya hidup

membersihkan rumah dengan pasangan

Suami cenderung akan menggantikan pekerjaan istri di rumah selama kehamilan. Jadi, jangan terkejut jika melihat suami yang sebelumnya malas menjadi rajin membersihkan rumah.

Tindakan ini dilakukannya untuk mencegah Anda kelelahan. Kelelahan dapat berefek buruk bagi kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan.

6. Semakin rajin bekerja

Ketika istri hamil, suami umumnya akan lebih rajin dalam bekerja. Beberapa orang bahkan mencoba untuk mencari pemasukan tambahan.

Selain menambah pemasukan untuk biaya persalinan, suami cenderung ingin memberikan yang terbaik untuk istri dan anaknya. Akan tetapi, jangan sampai lupa bahwa ibu hamil butuh perhatian suami.

7. Mengalami couvade syndrome

Couvade syndrome merupakan kondisi yang membuat pria ikut mengalami gejala kehamilan. Beberapa gejala yang mungkin dirasakan meliputi:

  • mual, 
  • muntah, 
  • sakit punggung, 
  • perubahan nafsu makan, 
  • bertambahnya berat badan, 
  • depresi, hingga 
  • perubahan libido.

Penyebab couvade syndrome hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun, perubahan hormon, gangguan somatisasi, serta stres diduga berkontribusi dalam terjadinya kondisi ini.

Couvade syndrome umumnya terjadi pada trimester pertama kehamilan. Gejalanya akan mulai berkurang saat kehamilan memasuki trimester kedua.

Tips mencegah perubahan negatif pada suami saat istri hamil

meditasi mengatasi stres

Perubahan negatif pada diri suami saat istri hamil biasanya disebabkan oleh stres dan rasa frustrasi. Untuk mencegahnya, suami harus paham bagaimana cara mengelola perasaan tersebut.

Berikut sejumlah tips mencegah perubahan negatif pada suami ketika istrinya hamil.

  • Menjauhi situasi yang dapat memperburuk emosi.
  • Menerapkan teknik relaksasi saat stres menyerang, misalnya dengan pernapasan dalam, berendam air hangat, mendengarkan musik, atau melakukan hobi.
  • Tidak mengatasi stres dengan mekanisme koping yang buruk, seperti konsumsi minuman beralkohol.

Perubahan suami ketika istri hamil dapat berbeda pada masing-masing orang. Beberapa suami mungkin tidak mengalami perubahan apa pun saat istrinya hamil.

Jika perubahan yang ada mulai mengganggu pikiran, istri tentu perlu menyampaikannya ke suami. Memendam perasaan dapat mengakibatkan stres yang mengganggu kesehatan.

Selain itu, apabila suami mengalami kesulitan dalam mengelola stres, tak ada salahnya untuk berkonsultasi ke psikolog. Diskusikan juga dengan istri mengenai hal-hal yang memicu keresahan.

Serba-serbi perubahan suami saat istri hamil

  • Menjadi lebih protektif terhadap istri.
  • Jadi sering mengobrol, terutama dengan calon bayi dalam kandungan.
  • Mudah mengalami stres karena bertambahnya beban pikiran.
  • Wajah tampak lelah akibat berkurangnya kualitas tidur.
  • Perubahan gaya hidup menjadi lebih rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
  • Semakin rajin bekerja untuk memenuhi biaya persalinan dan memberikan yang terbaik untuk istri serta calon bayi.
  • Mengalami couvade syndrome, yaitu gejala kehamilan yang turut dirasakan suami.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 17/01/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan