Mencukur Rambut Kemaluan Saat Hamil, Boleh atau Tidak?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 Agustus 2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Masih terdapat banyak pro dan kontra mengenai perlu tidaknya mencukur rambut pubis, atau yang biasa kita kenal dengan rambut kemaluan, saat ibu sedang hamil. Pikiran ini juga terkadang terlintas dalam pikiran beberapa ibu hamil mendekati waktu persalinan mereka. Jadi, apakah diperbolehkan mencukur rambut kemaluan saat hamil?

Apa manfaat rambut kemaluan?

Kehadiran rambut pubis adalah pertanda bahwa organ reproduksi Anda telah matang. Beberapa literatur juga mengatakan bahwa rambut pubis berfungsi dalam melindungi organ genital Anda. Mencukur rambut pubis dengan teknik yang salah dapat menyebabkan luka yang dapat berpotensi menjadi media yang baik bagi pertumbuhan kuman. Selain dari luka, penggunaan alat cukur yang tidak steril juga mampu memicu terjadinya infeksi.

Manfaat mencukur rambut kemaluan saat hamil

Hingga saat ini, mencukur rambut pubis merupakan hak setiap orang. Pada ibu hamil terdapat beberapa tujuan mengapa ia mencukur rambut kemaluannya saat hamil, di antaranya:

Proses persalinan yang lebih higienis

Mencukur rambut pubis dipercaya dapat membuat proses persalinan lebih higienis dan mengurangi potensi paparan infeksi. Sehingga mencukur rambut pubis sebelum persalinan telah menjadi prosedur standar pada beberapa rumah sakit, baik bila ibu melahirkan dengan normal maupun caesar.

Suatu penelitian menyarankan untuk mencukur rambut pubis lebih dari 48 jam sebelum melakukan operasi melahirkan. Hal itu dikarenakan penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mencukur rambut pubis dapat meningkatkan risiko infeksi saat tindakan medis berlangsung, karena berpeluang menyebabkan terjadinya luka saat pencukuran.

Mencegah terhambatnya pembersihan pendarahan pospartum

Pendarahan pospartum biasa terjadi 3 hingga 10 hari setelah persalinan. Pada pendarahan pospartum, biasanya terdapat jaringan plasenta dan darah yang turut terbawa. Beberapa ibu memilih melakukan mencukur rambut pubisnya sebelum persalinan, guna mencegah terhalangnya pembersihan darah ini. Tapi beberapa ibu lainnya menemukan bahwa mencukur rambut pubis, terlebih bila itu dilakukan oleh orang lain, adalah hal yang memalukan.

Risiko mencukur rambut kemaluan saat hamil

Molluscum contagiosum adalah infeksi kulit yang belakangan menyebar melalui aktivitas seksual. Infeksi ini dapat memberikan sensasi gatal yang mengganggu hingga munculnya benjol dan menular melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi. Suatu penelitian yang dilakukan oleh CDC kepada 30 pasien infeksi ini berhasil mengungkapkan bahwa 93 persen dari pasien tersebut pernah mencukur bulu pubis mereka.

Seorang professor dermatologi University of Rochester, Mary Gail Mercurio, kemudian mendukung hasil penelitian tersebut dengan mengatakan bahwa ia banyak menjumpai pasiennya terinfeksi penyakit tersebut dan memiliki riwayat mencukur rambut pubis. Dengan kata lain, dua penelitian ini setuju bahwa mencukur rambut pubis meningkatkan risiko penularan infeksi. Namun suatu penelitian yang dilakukan oleh Vittorio Basevi baru-baru ini justru tidak menemukan adanya hubungan antara mencukur rambut pubis dengan penularan infeksi.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa mencukur rambut kemaluan saat hamil masih menjadi hak para ibu saat ini, selama pencukuran dilakukan dengan teknik yang aman. Masih adanya perbedaan pendapat dan kurangnya hasil penelitian terbaru, menyebabkan belum adanya jawaban pasti apakah diperbolehkan mencukur rambut kemaluan saat hamil.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Pengalaman 4 Kali Gagal Program Bayi Tabung, Kini Kami Dianugerahi 4 Bayi Kembar

Program kehamilan normal tak bisa kami jalani sebagaimana pasangan lainnya. Kami terpaksa mengikuti program bayi tabung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Menanti Momongan 1 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit

9 Perawatan Penting Setelah Waxing untuk Mencegah Iritasi

Setelah waxing atau mencukur, kulit rentan mengalami iritasi. Supaya tidak terjadi, berikut perawatan penting setelah waxing yang aman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 24 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Memahami Fungsi Hormon FSH dan LH pada Sistem Reproduksi

Fungsi hormon FSH dan LH berperan penting pada sistem reproduksi pria dan wanita. Ketahui apa saja fungsi kedua hormon tersebut lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Kapan Bisa Mulai Mendengar Detak Jantung Janin Dalam Kandungan?

Detak jantung janin mulai berdegup di sekitar minggu keenam kehamilan, tapi kadang suaranya masih terlalu lemah untuk Anda bisa dengar. Kapan waktunya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara membaca hasil usg

Agar Lebih Akurat, Begini Cara Membaca Hasil USG Kehamilan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 9 menit
minyak kelapa untuk bayi

Manfaat Minyak Kelapa untuk Bayi, Mulai dari Mengatasi Eksim Sampai Melebatkan Rambut

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
perkembangan jantung janin

Mengenal 4 Tahap Perkembangan Jantung Janin di Tiap Trimester

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit
pembukaan persalinan

Kenapa Gerakan Janin Berkurang Menjelang Persalinan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit