backup og meta
Kategori

6

Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

Ada Kista Saat Hamil, Apakah Bahaya bagi Ibu dan Janin?

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 26/07/2023

Ada Kista Saat Hamil, Apakah Bahaya bagi Ibu dan Janin?

Bagi orangtua yang sedang menanti kelahiran anak, harapan utamanya tentu adalah agar masa kehamilan sampai persalinan berjalan dengan lancar. Namun, ibu yang memiliki kista saat hamil mungkin memiliki kekhawatiran tersendiri mengenai kesehatan diri dan janinnya. 

Apa penyebab kista saat hamil dan apakah kondisi ini bisa membahayakan ibu dan janin? Simak jawabannya dalam uraian berikut ini.

Sekilas tentang kista pada ovarium

Kista ovarium merupakan salah satu masalah umum pada wanita yang kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi yang berencana hamil.

Kista ovarium sendiri adalah kantong berisi cairan atau zat semipadat yang tumbuh pada ovarium alias indung telur. Biasanya, ia terbentuk saat wanita masih mengalami menstruasi.

Kista yang disebut sebagai kista fungsional ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu kista folikel dan kista korpus luteum.

Selain bentuk kista yang umum tersebut, ada pula kista patologis yang terbentuk akibat pertumbuhan sel yang tidak normal.

Beberapa contohnya yaitu endometrioma (terkait dengan endometriosis), teratoma (kista dermoid), dan cystadenoma.

Kista ovarium pada umumnya bersifat jinak. Hanya saja, kista patologis bisa bertambah besar jika tidak terdeteksi dan diberikan penanganan yang tepat.

Pada kondisi ini, Anda mungkin perlu menjalani operasi kista ovarium untuk mengangkat kantong berisi cairan tersebut.

Gejala kista saat hamil

tekanan darah rendah pada ibu hamil

Umumnya, kista ovarium tidak menimbulkan gejala apa pun. Ibu hamil mungkin tidak menyadari jika kista ini tumbuh sampai dokter menemukannya saat pemeriksaan kehamilan rutin.

Meski demikian, ada pula beberapa wanita yang mengalami gejala, terutama jika kista membesar. Berikut adalah beberapa gejala kista saat hamil.

  • Sakit perut saat hamil, terutama pada bagian bawah.
  • Perut kembung.
  • Perut terasa penuh atau tertekan.
  • Nyeri saat buang air besar.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda merasa ada perubahan yang tidak wajar pada masa kehamilan.

Kapan Anda harus ke dokter?

Selain gejala di atas, Anda pun perlu mewaspadai tanda-tanda yang lebih serius, seperti:
Pasalnya, ini merupakan tanda-tanda bahwa kista ovarium telah pecah atau ovarium Anda telah bergeser akibat pertumbuhan kista tersebut (torsi ovarium).

Penyebab kista saat hamil

Kista ovarium adalah salah satu masalah kehamilan yang cukup umum terjadi, terutama pada trimester awal.

Melansir sebuah penelitian dalam BMH Medical Journal, kasus kista ovarium ini terjadi pada sekitar 1 dari 1.ooo wanita hamil.

Adapun jenis kista ovarium yang sering terdeteksi pada kehamilan adalah kista fungsional, tepatnya kista korpus luteum.

Kista ini terbentuk ketika folikel gagal menyusut setelah sel telur dilepaskan. Setelah terjadi pembuahan, folikel yang tidak menyusut justru tetap berada di ovarium dan membentuk kista hingga kehamilan terjadi.

Selain kista korpus luteum, ibu hamil juga bisa memiliki jenis kista lain sebelum kehamilan, seperti teratoma, cystadenoma, dan endometrioma.

Kista ini mungkin tetap berada di ovarium saat hamil dan baru terdeteksi melalui USG kandungan secara rutin.

Selain itu, ada pula beberapa jenis kista yang bisa tumbuh selama kehamilan dan terasa menyakitkan.

Meski demikian, sebagian besar kasus kista ovarium saat hamil tidaklah berbahaya dan tidak memengaruhi kehamilan.

Pengaruh kista ovarium pada kehamilan

obat nyeri saat hamil

Sebagian besar kista saat hamil tak menyebabkan masalah atau komplikasi pada kehamilan, terutama jika ukurannya kecil serta tidak bertumbuh dan menimbulkan gejala.

Sering kali, kista yang kecil ini bisa hilang dengan sendirinya sehingga ibu hamil tidak membutuhkan pengobatan apa pun.

Kondisi yang perlu diwaspadai yaitu ketika kista ovarium tidak menyusut atau hilang, tapi malah semakin membesar.

Kista yang membesar bisa saja pecah, berputar, atau menyebabkan ovarium bergeser (torsi ovarium) sehingga ibu mengalami nyeri yang cukup parah.

Kista saat hamil juga baru dianggap berbahaya jika ukurannya besar dan sampai menghalangi leher rahim sebagai jalur lahir bayi.

Bahkan, pada beberapa kasus, pecahnya kista ovarium bisa menimbulkan perdarahan saat hamil yang sering disalahpahami sebagai keguguran. 

Oleh karena itu, meski Anda memiliki kehamilan dengan kista yang kecil, dokter akan terus memantau kondisi Anda untuk memastikan kantong cairan ini tidak membesar dan menimbulkan masalah.

Diagnosis kista ovarium saat hamil

Kista ovarium dapat terdeteksi ketika cek kandungan lewat pemindaian USG. Hasil gambar USG dapat memperlihatkan lokasi kista dan seberapa besar ukurannya.

Selain itu dokter juga mungkin menyarankan tes lanjutan sebagai berikut jika Anda berisiko memiliki kista ovarium.

  • Tes pencitraan seperti CT, MRI, atau PET scan yang dapat menghasilkan gambar yang lebih jelas dan akurat.
  • Tes darah untuk menguji keberadaan hormon LH, FSH, testosteron.
  • Tes CA-125 bila dokter mencurigai bahwa kista Anda berpotensi berkembang menjadi kanker. Tes ini sering kali dilakukan pada perempuan berusia 35 tahun, sebab risiko kanker ovarium paling tinggi pada usia tersebut.

Bagaimana cara mengobati kista pada kehamilan?

usg pcos

Berikut beberapa penanganan yang dapat dilakukan jika ibu memiliki kista saat hamil.

1. Pemantauan berkala

Setelah kista terdeteksi, biasanya dokter akan memantau dulu perkembangan kista tersebut untuk menentukan tindakan yang diperlukan.

Jika ukuran kista kecil dan tak berbahaya, dokter hanya akan meminta Anda untuk rutin periksa ke dokter kandungan dan menjalani USG guna melihat apakah kista sudah makin mengecil atau hilang seluruhnya.

2. Pemberian obat-obatan

Jika kista ovarium pecah, dokter mungkin hanya memberikan obat untuk ibu hamil guna meredakan nyeri. Biasanya, tubuh ibu hamil akan menyerap kista yang pecah.

Setelah itu, dokter mungkin akan menyarankan ibu hamil untuk beristirahat dan memantau apakah ada tanda infeksi yang muncul.

3. Operasi pengangkatan kista

Jika kista menyebabkan torsi ovarium atau membesar dan menimbulkan gejala, dokter mungkin akan menyarankan operasi pengangkatan kista.

Operasi biasanya akan dilakukan pada trimester dua kehamilan. Pasalnya, operasi pada trimester awal dapat meningkatkan risiko keguguran.

Meski demikian, operasi bisa dilakukan sesegera mungkin setelah kista terdeteksi, termasuk jika ibu masih berada pada trimester pertama kehamilan.

Adapun metode operasi yang dokter lakukan umumnya berupa laparoskopi, yakni bedah minimal invasif dengan menggunakan sayatan kecil di perut.

Namun, bila kista besar atau ada kemungkinan bahwa itu adalah kanker ovarium, operasi dengan sayatan besar (laparotomi) mungkin bisa menjadi pilihan. 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 26/07/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan