backup og meta
Kategori

4

Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi
Konten

Blighted Ovum (Hamil Kosong)

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 29/08/2023

Blighted Ovum (Hamil Kosong)

Embrio merupakan sel yang menjadi awal kehidupan janin di dalam rahim. Namun, ternyata tidak semua sel telur yang berhasil dibuahi dapat membentuk embrio. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut blighted ovum.

Lantas, bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi? Adakah pengobatan yang bisa digunakan untuk mengatasinya?

Apa itu blighted ovum?

Blighted ovum (BO) atau anembryonic pregnancy adalah salah satu jenis keguguran dini.

Kondisi ini terjadi saat sel telur yang telah dibuahi menempel ke dinding rahim, tetapi tidak ditemukan embrio berkembang di dalamnya.

Meski begitu, kantong kehamilan yang menjadi tempat menampung embrio tetap akan membesar. Inilah salah satu alasan mengapa blighted ovum kerap disebut hamil kosong.

Kantong kehamilan yang kosong dan plasenta di dalam rahim akan memicu keluarnya hormon kehamilan. Inilah alasan mengapa blighted ovum tetap menunjukkan hasil positif hamil saat di tes.

Tanda dan gejala blighted ovum

Ciri-ciri wanita tidak subur

Karena menghasilkan hormon kehamilan, banyak yang merasakan gejala blighted ovum layaknya tanda awal kehamilan.

Berikut adalah beberapa gejala kehamilan yang dapat Anda rasakan meski kantong janin kosong.

Namun, karena embrio tidak ditemukan usai beberapa minggu setelah sel telur tertanam, gejala kehamilan akan mulai menghilang.

Saat kondisi tersebut terjadi, gejala kehamilan akan berubah menjadi tanda-tanda keguguran seperti flek atau perdarahan melalui vagina serta kram di daerah panggul dan perut.

Gejala keguguran karena anembryonic pregnancy umumnya muncul pada trimester pertama kehamilan. Beberapa orang juga menyebut blighted ovum sebagai keguguran diam-diam.

Namun, Anda mungkin juga bisa menyadari gejala blighted ovum lebih awal, bahkan ketika Anda belum menyadari adanya kehamilan.

Penyebab blighted ovum

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab anembryonic pregnancy.

Namun, laman Cleveland Clinic menyebutkan bahwa blighted ovum berkaitan dengan kelainan kromosom atau genetik.

Dalam kondisi tersebut, tubuh Anda mengenali kromosom abnormal pada sel telur sehingga tidak berusaha mengembangkannya.

Selain itu, berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hamil BO.

  • Kerusakan DNA.
  • Kualitas sperma atau sel telur yang buruk.
  • Gangguan endokrin.
  • Obesitas.
  • Infeksi saluran reproduksi.
  • Penggunaan beberapa jenis obat-obatan.
  • Konsumsi alkohol.
  • Penyakit autoimun.

Tahukah Anda?

Anembryonic pregnancy merupakan penyebab dari 50% keguguran yang terjadi pada trimester pertama kehamilan.

Diagnosis blighted ovum

Tes kehamilan menggunakan test pack tidak bisa digunakan untuk diagnosis anembryonic pregnancy. Pasalnya, hormon kehamilan masih bisa terdeteksi hingga beberapa waktu setelah keguguran terjadi.

Oleh karena itu, anembryonic pregnancy baru bisa dideteksi melalui pemeriksaan ultrasound (USG).

Namun, karena Anda merasakan gejala kehamilan, dokter mungkin memastikannya dengan transvaginal ultrasound untuk hasil yang lebih jelas.

Pemeriksaan untuk memastikan blighted ovum dengan USG umumnya baru dilakukan pada minggu ke 7–9 kehamilan, sebab saat itulah seharusnya embrio mulai terbentuk.

Pengobatan blighted ovum

Kantong kehamilan yang tidak berkembang dengan embrio harus dikeluarkan dari rahim. Berikut adalah berbagai cara yang bisa dilakukan dokter untuk mengatasi anembryonic pregnancy.

1. Dilatasi dan kuretase

biaya kuret di rumah sakit

Kuret atau dilatasi dan kuretase dilakukan melalui pembedahan untuk mengeluarkan jaringan kehamilan di dalam rahim.

Selama proses kuret, pasien akan diberi obat penenang atau anestesi total untuk mencegah rasa sakit.

Perawatan ini juga bisa dilakukan untuk mengetahui penyebab utama keguguran dengan memeriksa jaringan yang diangkat dari rahim.

2. Obat-obatan

Misoprostol merupakan salah satu jenis obat yang kerap diberikan untuk mendorong terjadinya keguguran alami.

Pasien mungkin mengalami efek samping berupa kram dan sakit perut yang cukup lama usai mengonsumsi misoprostol.

Dibandingkan kuret, pengobatan anembryonic pregnancy dengan obat bisa menyebabkan perdarahan yang lebih berat.

Selain itu, pasien juga bisa memilih untuk menunggu keguguran terjadi dengan alami selama beberapa minggu.

Meski begitu, pengobatan ini tetap harus dilakukan dalam pengawasan dokter untuk memastikan bahwa tidak ada jaringan yang tersisa di dalam rahim.

Pencegahan blighted ovum

Sebagian besar kasus anembryonic pregnancy bukanlah kondisi yang bisa dicegah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk mengetahui perkembangan janin.

Namun, jika Anda merasa khawatir dengan kondisi yang ada, berikut adalah beberapa tes yang dapat mendeteksi faktor hamil kosong.

  • Preimplantation Genetic Screening (PGS): analisis genetik embrio yang dapat dilakukan sebelum implantasi ke dalam rahim. 
  • Analisis semen: memeriksa kualitas sperma. 
  • Follicle-Stimulating Hormone (FSH) atau Anti-Mullerian Hormone (AMH): pengukuran kadar hormon untuk menentukan perlu-tidaknya tindakan untuk meningkatkan kualitas sel telur.

Selain itu, Anda juga disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai salah satu persiapan kehamilan.

Sebagian besar orang yang pernah mengalami anembryonic pregnancy tetap bisa hamil secara normal dan memiliki bayi yang sehat.

Namun, dokter menyarankan untuk menunggu setidaknya 1–3 kali siklus menstruasi sebelum mencoba hamil kembali usai keguguran.

Anda perlu berkonsultasi ke dokter tentang rencana kehamilan jika mengalami blighted ovum atau jenis keguguran lain sebanyak tiga kali berturut-turut.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 29/08/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan