home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kapan Waktu Terbaik untuk Olahraga Menurut Otot Kita?

Kapan Waktu Terbaik untuk Olahraga Menurut Otot Kita?

Kapan biasanya Anda berolahraga? Apakah di pagi hari setelah bangun pagi? Atau di sore hari ketika sudah selesai melakukan semua aktivitas kemudian menyempatkan diri untuk berolahraga? Atau bahkan di malam hari? Untuk membuat olahraga semakin efektif dan berdampak bagi kesehatan, maka Anda harus mengetahui ‘alarm’ yang dimiliki otot untuk melakukan olahraga.

Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini menyatakan bahwa otot dan rangka tubuh mempunyai waktu dan alarm tersendiri dalam menentukan kapan harus olahraga dan kapan harus berhenti. Lalu mana waktu yang paling baik untuk melakukan olahraga dari 24 jam yang kita punya dalam sehari?

Otot memiliki jadwal tersendiri untuk melakukan olahraga yang efektif

Tahukah Anda jika semua sel yang ada di dalam tubuh mempunyai jam dan jadwalnya sendiri-sendiri untuk melakukan tugasnya masing-masing? Jam tubuh alami ini disebut dengan ritme sirkadian. Ritme sirkadian mengatur waktu tubuh kapan harus makan, tidur, bangun, atau melakukan berbagai fungsi lainnya. Sehingga, jika Anda memiliki waktu 24 jam dalam sehari, maka tubuh akan mengatur dan menentukan secara otomatis waktu makan dan kegiatan lainnya.

Semua sel memiliki ritme sirkadian, termasuk otot yang kita pakai untuk melakukan berbagai aktivitas. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari Northwestern Unversity, menyatakan bahwa ritme sirkadian yang dimiliki oleh otot membuat semua gerakan yang dihasilkannya menjadi lebih efektif. Oleh karena itu penting untuk mengetahui jam alami otot.

BACA JUGA: Anda Malas Olahraga? Bisa Jadi Bawaan Lahir

Menurut penelitian: olahraga lebih baik jika di siang hari

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Cell Metabolism ini melakukan percobaan pada tikus untuk mengetahui apakah otot mempunyai jam alami untuk melakukan aktivitas. Dari percobaan tersebut, diketahui bahwa tikus lebih aktif berlari di atas mainan yang berputar ketika melakukannya di malam hari. Tikus adalah hewan yang bersifat nocturnal atau lebih aktif di malam hari.

Para peneliti menyimpulkan bahwa gen berhubungan untuk mengatur ritme sirkadian tikus bekerja sangat efektif di malam hari. Gen yang dimiliki tikus tersebut juga dimiliki oleh manusia. Dan karena kebalikan dengan tikus, manusia lebih aktif di siang hari, para peneliti menganggap bahwa manusia akan lebih efektif melakukan olahraga di siang hari.

Bagaimana jam alami otot membuat olahraga menjadi lebih efektif?

Berdasarkan penelitian ini, peneliti juga menemukan bahwa ritme sirkadian pada otot mengatur respon dan efisiensi penggunaan energi. Ritme sirkadian yang diatur oleh gen khusus tersebut berhubungan dengan kemampuan sel untuk menghasilkan energi. Kemampuan ini adalah hal terpenting dalam terjadinya kontraksi otot.

Pada keadaan normal, saat otot beristirahat atau melakukan peregangan, maka otot akan mengambil oksigen yang dialirkan melalui pembuluh darah dan mengubahnya menjadi energi. Sedangkan ketika Anda mulai melakukan aktivitas yang berat, seperti berlari, maka tubuh akan memakai oksigen lebih banyak dan mengakibatkan oksigen cepat habis. Proses pembuatan energi yang tidak menggunakan oksigen akan menghasilkan asam laktat.

Ketika gen yang bekerja untuk mengatur ritme sirkadian tidak aktif – seperti saat malam hari – maka produksi oksigen yang seharusnya dilakukan oleh sel otot akan lebih susah dan berkurang. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan penumpukan asam laktat pada tubuh. Penumpukan asam laktat yang berlebihan bisa menyebabkan seseorang merasa kram.

BACA JUGA: Waspada Ciri-Ciri dan Bahaya Kecanduan Olahraga

Berolahraga di pagi hari juga baik

Sebuah penelitian lain pernah melakukan penelitian terkait manfaat berolahraga di pagi hari. Penelitian ini menujukan bahwa melakukan olahraga dengan intensitas sedang selama 45 menit dapat menurunkan rasa lapar. Dalam studi ini, olahraga di pagi hari juga bisa meningkatkan aktivitas fisik selama satu hari penuh. Namun, perlu diperhatikan jika Anda melakukan olahraga di pagi hari, isilah perut Anda sekitar 2 jam sebelum melakukan olahraga. Hal ini akan mencegah terjadinya nyeri perut saat berolahraga.

Bagaimana dengan olahraga di sore dan malam hari?

Jika memang Anda sangat sibuk dan tidak mempunyai waktu di pagi hari untuk melakukan olahraga maka sebenarnya tidak masalah berolahraga di sore atau malanm hari. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2011 menyatakan bahwa orang yang berolahraga selama 35 menit sebelum ia tidur, maka kualitas tidurnya akan lebih baik.

Penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama, National Sleep Foundation menemukan sebanyak 83% orang yang melakukan olahraga sebelum tidur, mengaku bahwa tidur mereka lebih nyenyak dibandingkan yang tidak melakukan olahraga.

BACA JUGA: Olahraga Aerobik vs Anaerobik, Mana Yang Lebih Baik?

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Medscape. (2017). Circadian Rhythms, Skeletal Muscle Molecular Clocks, Exercise. [online] Available at: http://www.medscape.com/viewarticle/811585  [Accessed 6 Jan. 2017].

Peek, C., Levine, D., Cedernaes, J., Taguchi, A., Kobayashi, Y., Tsai, S., Bonar, N., McNulty, M., Ramsey, K. and Bass, J. (2016). Circadian Clock Interaction with HIF1α Mediates Oxygenic Metabolism and Anaerobic Glycolysis in Skeletal Muscle. Cell Metabolism.

Schroder, E. and Esser, K. (2017). Circadian Rhythms, Skeletal Muscle Molecular Clocks, and Exercise.

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal diperbarui 09/01/2017
x