Penyebab Penyakit Kanker dan Berbagai Faktor Pemicunya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/07/2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Kanker menjadi salah satu penyakit yang ditakuti karena dapat menyebabkan kematian. Pasalnya, penyakit ini dapat menyerang bagian tubuh mana pun, menyebar ke jaringan atau organ di sekitarnya, sekaligus merusak fungsinya. Namun, tahukah Anda apa penyebab penyakit kanker dan faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan kanker?

Apa penyebab utama penyakit kanker?

Kanker atau dikenal juga dengan sebutan tumor ganas dapat menyerang siapa pun, mulai dari anak-anak hingga lansia. Ini ditandai dengan munculnya gejala kanker umum, seperti demam, berat badan turun, dan tubuh kelelahan diikuti dengan gejala spesifik yang mengarah pada jenis kanker yang menyerang.

Dikutip dari laman Mayo Clinic, penyebab penyakit kanker utamanya adalah perubahan (mutasi) pada DNA di dalam sel.

Lebih jelasnya, dalam sel yang sehat terdapat nukleus yang berfungsi sebagai sistem pusat. Nukleus sendiri menampung kromosom yang terbentuk dari rangkaian DNA. Di dalam DNA inilah terkandung ribuan gen yang akan memberi instruksi pada sel untuk menjalankan fungsinya.

Maka, nukleus yang menjadi rumah bagi ribuan gen ini akan menentukan jenis sel apa yang dibutuhkan organ tubuh tertentu, kapan sel perlu membelah diri, dan sel mana yang harus mati dan digantikan.

Sayangnya, proses ini tidak selalu berjalan dengan sempurna. Ketika sel melakukan pembelahan diri, ada risiko sel baru yang lahir dari pembelahan, mengandung gen yang rusak atau digandakan terlalu banyak. Perubahan struktur gen dalam sel ini disebut sebagai mutasi gen dan menjadi penyebab lahirnya sel kanker.

Ketika mutasi gen terjadi, sel sudah tidak bisa lagi menerima perintah dan instruksi dari sistem pusat sehingga sel ini akan tumbuh di luar kendali dan menghasilkan protein yang tidak normal. Kelainan pada protein yang diproduksi ini akan semakin memicu pembelahan sel-sel baru dengan gen yang tidak sempurna.

Pada kasus lain, protein yang dibutuhkan untuk menghentikan kelahiran sel baru justru tidak diproduksi sama sekali.

Biasanya, mutasi gen yang berbeda-beda dan yang telah terjadi lebih dari lima kali baru akan berpotensi tumbuh menjadi sel kanker. Prosesnya bisa berlangsung hingga bertahun-tahun sampai sel-sel tersebut membelah diri dan membentuk sel kanker yang cukup besar. Barulah gejala-gejalanya mulai muncul dan sel-sel kanker tampak ketika tubuh Anda dipindai.

Namun, pada kasus kanker anak kerusakan gen sudah terjadi sejak dalam kandungan atau sejak lahir. Mereka memang memiliki gen bawaan yang rusak dalam sel tubuh sehingga proses terbentuknya kanker tidak membutuhkan waktu yang lama.

Penyebab meningkatnya risiko penyakit kanker

Sel abnormal yang menjadi biang keladi dari penyakit kanker, bisa dipicu oleh berbagai hal. Baik itu faktor dari dalam diri (internal), maupun faktor di luar tubuh (eksternal). Mari bahas satu persatu berbagai faktor yang jadi pemicu terjadinya kanker.

1. Paparan radikal bebas

Radikal bebas adalah suatu atom yang bentuknya tidak sempurna, kehilangan molekul di bagian terluar, sehingga menyebabkan atom tersebut bisa mengikat atom lainnya atau bahkan malah kehilangan seluruh bagian atom.

Radikal bebas dibentuk oleh tubuh dari berbagai proses, termasuk berbagai metabolisme zat gizi dan hasil dari respon sistem kekebalan tubuh. Selain itu, radikal bebas juga terdapat pada makanan yang digoreng, minuman beralkohol, rokok, pestisida, dan polusi udara.

National Cancer Institute menyebutkan bahwa konsentrasi tinggi radikal bebas sangat berpotensi membahayakan tubuh.

Radikal bebas radikal bebas dapat merusak semua komponen utama sel, termasuk DNA, protein, dan membran sel. Kerusakan sel inilah yang menjadikan radikal bebas sebagai salah satu penyebab meningkatkan risiko penyakit kanker. Proses rusaknya sel oleh radikal bebas ini dikenal dengan istilah kerusakan oksidatif.

2. Punya badan terlalu tinggi

Studi yang dilakukan oleh Karolinska Institute di Stockholm, Swedia, menunjukkan bahwa tumbuh tinggi lebih cepat menjadi salah satu faktor pemicu penyakit kanker.

Periset berpendapat bahwa postur tubuh yang tinggi merupakan tanda pubertas dini yang mungkin memiliki lebih banyak sel di dalam tubuhnya sehingga cenderung lebih rentan mengalami mutasi sel.

Teori tersebut diperkuat oleh studi lain dari University of California yang dikepalai oleh Leonard Nunney, PhD, seorang pakar biologi.

Nunney berpendapat bahwa tubuh tinggi memiliki lebih banyak jumlah sel dengan ukuran yang juga lebih besar. Hal ini memungkinkan makin banyak genetik sel yang bisa terprogram secara eror sehingga berkembang secara abnormal.

Berdasarkan studi yang dilakukan, disimpulkan bahwa setiap penambahan 10 cm tinggi badan pada pria kanker kulit meningkat sebesar 32 persen, sedangkan pada wanita sebesar 27 persen. Risiko kanker payudara pada wanita juga meningkat sebesar 20 persen.

3. Terlalu banyak terpapar radiasi sinar matahari

Sinar matahari memang menjadi sumber vitamin D yang baik untuk tubuh. Akan tetapi, sinar matahari juga mengandung sinar ultraviolet (UV) yang terbukti jadi penyebab utama dari penyakit kanker kulit. Pada beberapa kasus, sinar UV juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker kelopak mata.

Terlalu banyak terpapar sinar UV dapat merusak DNA dalam sel-sel kulit. Seiring waktu, sel-sel dapat tumbuh tanpa kendali dan menimbulkan penyakit kanker kulit. Seseorang yang mengalami sunburn (kulit terbakar) beberapa kali berisiko mengalami kanker kulit lebih tinggi.

4. Gangguan jam biologis tubuh

Bukan hanya Anda, tubuh juga punya jam. Jam yang dimaksud adalah jam biologis yang juga dikenal dengan ritme sirkadian. Jam pada tubuh ini mengatur aktivitas fisik, mental, dan perilaku manusia dalam siklus 24 jam, salah satunya contohnya adalah memberitahu Anda waktu untuk bangun dan tidur.

Ritme sirkadian ini bisa terganggu oleh banyak hal, contohnya begadang atau kerja shift malam. Terganggunya ritme sirkadian dalam jangka panjang ini bisa menimbulkan masalah kesehatan, termasuk menjadi penyebab risiko penyakit kanker meningkat.

Jam biologis diketahui mengatur siklus semua sel di dalam tubuh, seperti membuat instruksi untuk mereplikasi DNA dan membelah sel. Jika jam biologis bermasalah, instruksi sel untuk membelah diri juga bisa bermasalah sehingga memungkinkan sel bekerja tanpa kendali.

5. Terpapar karsinogen

Karsinogen adalah zat atau sesuatu hal yang jadi penyebab maupun meningkatkan risiko kanker. Mekanismenya tidak selalu merusak DNA sel, tapi bisa menyebabkan kanker dengan cara lain, seperti mengubah hormon.

Ada banyak aktivitas yang memungkinkan Anda terpapar zat pemicu kanker ini, di antaranya memakai bedak talk. Bedak talc masuk dalam faktor penyebab meningkatnya risiko penyakit kanker. Namun, perlu digarisbawahi bahwa efeknya ini hanya pada bedak talc yang mengandung asbes.

International Agency for Research on Cancer (IARC) yang merupakan bagian dari World Health Organization (WHO), mengindentifikasi bahwa asbes bersifat karsinogen (dapat menyebabkan kanker). Namun, hingga kini peneliti masih melakukan pengamatan lebih dalam mengenai hal tersebut.

Selain itu, minum obat ranitidine. Ranitidine adalah kelompok obat histamin-2 blocker yang biasanya digunakan untuk mengobati GERD (gastroesophageal reflux disease). Obat ini bekerja dengan mengurangi jumlah asam yang dihasilkan lambung. Namun, Food and Drugs Administration (FDA) menyebutkan obat ini mengandung zat NDMA (N-Nitrosodimethylamine) yang bersifat karsinogen.

BPOM RI dalam laman resminya (11/10) memutuskan untuk memerintahkan penarikan seluruh produk ranitidine yang ada di pasar sebagai upaya kehati-hatian melindungi kesehatan masyarakat Indonesia.

Selain itu, mewarnai rambut merupakan tindakan yang dapat meningkatkan risiko paparan karsinogen. Lebih dari 5.000 bahan kimia terkandung dalam produk pewarna rambut. Beberapa di antaranya dilaporkan bersifat karsinogenik (penyebab kanker) pada hewan, salah satunya adalah aromatic amines.

Jenis kanker yang meningkat risikonya terkait penggunaan cat rambut ini adalah kanker darah seperti limfoma non-Hodgkin atau leukemia dan sumsum tulang.

The International Agency of Research on Cancer (IARC) menyimpulkan bahwa pekerjaan seperti tukang cukur atau penata rambut merupakan profesi yang berisiko tinggi untuk kanker. Namun, efek mewarnai rambut dengan menggunakan pewarna rambut pribadi tidak diklasifikasikan sebagai karsinogenik, karena kurangnya bukti dari penelitian. Hingga kini, masih dilakukan penelitian lebih dalam untuk melihat pengaruh zat-zat kimia pada cat rambut dengan risiko kanker.

7. Pernah menjalani CT scan atau rontgen (sinar x-ray)

CT scan merupakan tes kesehatan untuk memindai gambar dengan mengandalkan teknologi sinar X. Studi menemukan bahwa terjadi peningkatan kerusakan DNA dan sel mati setelah CT scan dilakukan.

Akan tetapi, seiring dengan kerusakan ini, meningkat juga gen-gen yang berfungsi untuk memperbaiki sel yang rusak.

Meskipun memang sebagian besar dari sel-sel tersebut diperbaiki, akan tetapi tetap ada juga sel-sel yang tidak diperbaiki oleh tubuh Anda. Kerusakan DNA tersebut mengakibatkan mutasi bila DNA yang rusak tidak diperbaiki.

Tes pemindaian gambar lain yang juga dapat meningkatkan risiko kanker adalah rontgen alias sinar x-ray. Ternyata sinar yang digunakan untuk tes tersebut termasuk dalam kelompok karsinogen, meskipun hanya terpapar sedikit.

Hingga kini, CT scan dan rontgen masih dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyakit dengan aturan dosis radiasi dan frekuensinya sangat perlu diperhatikan.

8. Terkena paparan zat formaldehid

Formaldehid (CH2O) adalah bahan kimia yang tidak berwarna, mudah terbakar, dan memiliki aroma yang tajam. Formaldehid juga sering disebut sebagai methanal, formol, methaldehyde, morbicid, paraform, metilen oksida, oxymethylene, oxomethane, dan sebagainya.

Biasanya formaldehid digunakan dalam pembuatan lem dan alat perekat, sebagai pelapis produk kertas, dan bahan bangunan seperti papan partikel, tripleks, dan material untuk insulasi. Formaldehid juga sering digunakan sebagai desinfektan dan pembunuh kuman, serta sebagai bahan pengawet di kamar jenazah dan laboratorium medis.

Formaldehid juga bisa hadir dalam jumlah kecil secara natural di lingkungan, sebagai hasil dari proses metabolisme makhluk hidup.

Di udara, formaldehid biasanya hanya berada dalam kadar yang sangat rendah, sumbernya sering kali dari asap knalpot kendaraan bermotor. Di rumah Anda, sumber formaldehid yang paling memungkinkan adalah material bangunan yang terbuat dari papan partikel, medium density board (MDF), maupun multiplek (plywood) yang mengandung resin formaldehid.

Sumber formaldehid lainnya termasuk penggunaan kompor gas, kompor kayu bakar, atau kompor minyak di ruangan tanpa ventilasi, dan asap rokok.

Penelitian lama mengungkapkan bahwa paparan formaldehid jadi penyebab kanker sinus dan hidung pada tikus. Kini, formaldehid masuk dalam daftar zat karsinogenik.

9. Gaya hidup tidak sehat

Gaya hidup ternyata ikut memainkan peran dalam perkembangan penyakit kanker. National Health Service melaporkan hasil studi terkait penerapan gaya hidup buruk dengan meningkatnya risiko penyakit kanker. Gaya hidup yang jadi pemicu kanker, di antaranya:

  • Merokok meningkatkan risiko kanker sebesar 19,4 persen.
  • Pola makan buruk meningkatkan risiko kanker sebesar 9,2 persen.
  • Kurang konsumsi buah dan sayur meningkatkan risiko kanker sebesar 3,4 hingga 6,1 persen.
  • Mengalami obesitas meningkatkan risiko kanker sebesar 5,5 persen.
  • Minum alkohol berlebihan meningkatkan risiko kanker sebesar 4 persen.
  • Kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko kanker sebesar 1 persen.

10. Masalah kesehatan tertentu

Penyebab penyakit kanker bisa juga dilatarbelakangi oleh masalah kesehatan tertentu.Studi terbaru yang dilakukan Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention menunjukkan bahwa wanita lansia yang memiliki penyakit gusi berisiko terkena kanker.

Jenis kanker terkait dengan penyakit gusi di antaranya kanker esofagus, kanker payudara, dan kanker kantong empedu. Namun, sejauh ini periset belum menemukan bagaimana penyakit gusi dapat memicu sel-sel di tubuh menjadi abnormal.

Selain penyakit gusi, hiperinsulinemia juga bisa memicu kanker. Hiperinsulinemia menandakan kadar insulin dalam darah lebih tinggi dari batas normal. Kondisi ini bukan diabetes, tapi sering dikaitkan dengan diabetes tipe 2.

Insulin, yakni hormon yang mengatur kadar gula dalam darah sekaligus pertumbuhan sel. Ketika kadar insulin dalam tubuh cukup tinggi, sel-sel mungkin dirangsang untuk tumbuh lebih cepat. Kondisi ini juga dapat merusak DNA dalam sel dalam jangka panjang sehingga meningkatkan risiko kanker ginjal, kanker ovarium, dan kanker payudara.

11. Ada faktor keturunan

Kanker yang terjadi pada suatu keluarga dapat disebabkan oleh adanya kondisi gen abnormal yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Meskipun demikian, hanya 5-10% dari total kasus kanker disebabkan oleh gen abnormal yang sudah bermutasi dan diturunkan dalam suatu pola keturunan kanker, sisanya peluang mengalami kanker masih dipengaruhi oleh faktor risiko kanker lainnya.

Kanker yang terkait dengan mutasi gen yang diwariskan merupakan bagian dari sindrom kanker keluarga.

Banyak sindroma kanker keluarga terjadi ketika mutasi yang diturunkan juga terjadi pada gen penekan tumor (tumor suppressor gene), di mana gen tersebut dapat memperlambat tumbuhnya sel abnormal hingga suatu ketika gen tersebut berhenti bekerja atau terjadi kesalahan pada proses pembelahan, perbaikan DNA ataupun proses mematikan sel.

Seseorang yang lahir dengan mutasi gen yang diturunkan dapat hidup normal atau tidak mengalami kanker, hanya saja mereka lebih rentan mengalami kanker jika memiliki suatu faktor risiko penyebab kanker (tumor ganas). Itulah sebabnya pada seseorang yang memiliki kerabat atau keluarga dekat yang pernah mengalami kanker maka terdapat kemungkinan ia berisiko tinggi untuk mengalami kanker.

12. Miliki berat badan berlebih atau obesitas

Obesitas atau memiliki berat badan berlebihan jadi penyebab meningkatnya risiko berbagai penyakit, termasuk kanker. Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit ini dengan berbagai cara, yakni menyebabkan peradangan yang merusak DNA, membuat sensitivitas insulin menurun, dan merangsang produksi hormon adipokin (hormon yang menghambat pertumbuhan sel).

Beberapa jenis kanker yang umumnya terjadi akibat dipicu oleh obesitas antara lain kanker ginjal, kanker endometrium, kanker payudara, kanker kantong empedu, dan kanker kolorektal.

13. Minum pil KB

Penggunaan pil KB bisa jadi penyebab risiko kanker meningkat. Ini karena kandungan estrogen dan progesteron buatan yang memicu sel-sel tubuh menjadi abnormal.

Setelah diteliti, ada beberapa jenis kanker yang meningkat pada wanita yang menggunakan pil, yakni kanker payudara dan kanker serviks. Risikonya bervariasi, tergantung seberapa lama pil KB digunakan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tes Kesehatan untuk Menegakkan Diagnosis Kanker Ovarium

Penegakkan diagnosis kanker ovarium harus melalui tes kesehatan yang sesuai. Lantas, tes apa saja yang digunakan sebagai cara mendeteksi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Komplikasi yang Dapat Terjadi Akibat Penyakit dan Pengobatan Kanker Ovarium

Komplikasi kanker ovarium bisa terjadi akibat penyakit maupun pengobatan yang dilakukan. Apa saja komplikasinya? Simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 23/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Memahami Lebih Jauh Mengenai Stadium Kanker Ovarium

Pengobatan kanker ovarium akan disesuaikan dengan stadium yang dimiliki pasien. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai stadium kanker ovarium.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 20/07/2020 . Waktu baca 7 menit

5 Gejala Kanker Ovarium yang Perlu Diwaspadai

Penyakit kanker ovarium dapat menimbulkan berbagai gejala yang mungkin di antaranya Anda sepelekan. Memangnya, apa saja ciri-ciri kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 17/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pencegahan cara mencegah kanker ovarium

Hal-hal yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
makanan buah dan sayur yang baik dan bagus untuk pasien kanker ovarium

Aturan dan Jenis Makanan yang Disarankan untuk Pasien Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 5 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
pembengkakan prostat jinak adalah

Pembesaran Prostat Jinak (BPH)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 11 menit