Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Pada Ibu Hamil

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 05/03/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Tekanan darah tinggi dapat menyerang wanita sebelum hamil dan selama masa kehamilan. Ibu hamil yang sudah memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi), semenjak maupun sebelum hamil, membutuhkan penanganan khusus dari dokter. Berikut adalah beberapa jenis hipertensi dalam kehamilan:

  • Hipertensi gestasional. Terjadi setelah 20 minggu masa kehamilan. Tidak ditemukan adanya kelebihan protein dalam urin atau tanda-tanda kerusakan organ. Beberapa wanita dengan hipertensi gestasional biasanya kemudian mengalami preeklampsia.
  • Hipertensi kronik. Terjadi sebelum hamil atau sebelum 20 minggu masa kehamilan. Karena tidak memiliki gejala yang spesifik, tekanan darah tinggi ini mungkin akan sulit untuk diketahui awal mulanya.
  • Hipertensi kronik dengan preeklampsia. Kondisi ini terjadi pada wanita dengan tekanan darah tinggi kronik sebelum kehamilan. Tekanan arah tinggi kemudian memburuk dan ditemukan adanya protein dalam urin maupun komplikasi kesehatan lainnya selama kehamilan.
  • Preeklampsia. Pada beberapa kasus, hipertensi kronik atau hipertensi gestasional dapat berubah menjadi preeklampsia. Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain, biasanya setelah 20 minggu masa kehamilan. Jika tidak diobati, preeklampsia dapat menyebabkan gangguan serius, bahkan fatal, bagi ibu dan bayi. Dahulu, preeklampsia hanya didiagnosis jika ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi dan terdapat protein dalam urinnya. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa ibu hamil tetap berisiko mengidap preeklampsia walaupun tidak ditemukan protein dalam urinnya.

Tekanan darah tinggi selama kehamilan berisiko menyebabkan beberapa kondisi berikut:

  • Berkurangnya aliran darah ke plasenta. Jika plasenta tidak mendapatkan asupan darah yang cukup, bayi akan kekurangan oksigen dan nutrisi. Akibatnya, pertumbuhan bayi melambat, berat badan menyusut, atau berisiko lahir prematur. Prematuritas dapat menyebabkan masalah pernapasan bagi bayi.
  • Solusio plasenta. Preeklampsia meningkatkan risiko solusio plasenta, kondisi terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum persalinan. Solusio yang berat dapat menyebabkan perdarahan hebat serta kerusakan plasenta yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.
  • Kelahiran prematur. Karena alasan medis, kelahiran prematur perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi yang dapat mengancam nyawa.
  • Penyakit kardiovaskular. Preeklampsia meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) di masa mendatang. Risiko ini akan lebih besar bagi ibu hamil yang pernah mengalami preeklampsia lebih dari sekali atau pernah menjalani persalinan prematur. Untuk meminimalkan risiko ini, cobalah untuk menjaga berat badan ideal setelah melahirkan, konsumsi buah-buahan dan sayuran, olahraga secara teratur, dan hindari rokok.

Preeklampsia kadang-kadang muncul tanpa gejala. Tekanan darah tinggi sebagai gejala preeklampsia mungkin datang secara perlahan namun lebih sering menyerang tiba-tiba. Pastikan Anda selalu memantau tekanan darah selama masa kehamilan karena gejala awal preeklampsia umumnya adalah peningkatan tekanan darah. Cek tekanan darah dengan mengambil dua sampel dengan selang waktu 4 jam. Kisaran abnormal tekanan darah berada pada tingkat merkuri 140/90 milimeter (mm Hg) atau lebih.

Gejala-gejala lain preeklampsia meliputi:

  • Ditemukan protein berlebih dalam urin (proteinuria) atau tanda-tanda gangguan ginjal
  • Sakit kepala parah
  • Gangguan penglihatan, termasuk hilangnya fungsi penglihatan sementara, penglihatan kabur, atau sensitif terhadap cahaya
  • Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk sebelah kanan
  • Mual atau muntah
  • Penurunan jumlah urin
  • Penurunan jumlah trombosit dalam darah (trombositopenia)
  • Gangguan fungsi hati
  • Sesak napas, yang disebabkan oleh adanya cairan di paru-paru

Kenaikan berat badan dalam waktu singkat serta pembengkakan (edema) di wajah dan tangan diduga sebagai gejala preeklampsia. Namun gejala yang satu ini tidak dapat dijadikan patokan karena banyak ibu hamil dengan kondisi medis yang sehat pun mengalami gejala tersebut.

Obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan bayi. Meskipun dianggap aman, beberapa obat penurun tekanan darah seperti angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors, angiotensin receptor blockers (ARBs) dan renin inhibitors, umumnya harus dihindari selama kehamilan.

Walaupun demikian, pengobatan tetap penting dilakukan. Risiko serangan jantung, stroke, dan masalah lain yang terkait dengan tekanan darah tinggi tidak hilang begitu saja selama kehamilan.

Jika diperlukan, dokter akan meresepkan obat-obatan yang paling aman dengan dosis yang tepat. Oleh karena itu, pastikan Anda mengonsumsi obat sesuai aturan pakai. Jangan berhenti minum obat atau menyesuaikan dosis sendiri.

Anda juga bisa menemui petugas medis dan tim kesehatan lain, seperti dokter keluarga atau ahli jantung. Dokter dan para ahli akan mengevaluasi seberapa baik ibu mengontrol tekanan darah tinggi dan menganjurkan penanganan lebih lanjut yang mungkin perlu dilakukan sebelum kehamilan. Bagi yang mengalami kelebihan berat badan, dokter mungkin merekomendasikan Anda untuk melakukan diet sebelum hamil.

Selama kehamilan, wajar apabila Anda akan bolak-balik mengunjungi layanan kesehatan. Di setiap kunjungan, berat badan dan tekanan darah akan diperiksa, bahkan tes darah dan urin juga akan lebih sering dilakukan.

Sementara untuk bayi dalam kandungan, dokter akan sering melakukan pemeriksaan USG untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi, misalnya dengan mencatat denyut jantung janin. Dokter mungkin menganjurkan Anda memantau gerak aktif bayi sehari-hari.

Merawat diri sendiri adalah cara terbaik untuk merawat bayi, contohnya dengan cara-cara berikut ini:

  • Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Kunjungi dokter secara teratur selama kehamilan.
  • Mengonsumsi obat tekanan darah sesuai anjuran dokter. Dokter akan meresepkan obat yang paling aman dengan dosis yang paling tepat.
  • Tetap aktif bergerak. Ikuti berbagai aktivitas fisik yang direkomendasikan dokter.
  • Konsumsi makanan sehat. Pilih makanan rendah sodium.
  • Tahu batasan diri. Hindari rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang. Konsultasikan dengan dokter sebelum meminum obat-obatan tertentu.

Meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, sejauh ini para peneliti belum menemukan cara yang paling efektif untuk mencegah preeklampsia. Dokter mungkin akan memberikan aspirin dosis rendah harian (antara 60-81 miligram) dimulai pada akhir trimester pertama jika sebelumnya ibu pernah menjalani persalinan prematur (sebelum usia kehamilan 34 minggu), atau beberapa kali memiliki preeklampsia di kehamilan sebelumnya.

Untuk menghindari komplikasi, dokter mungkin merekomendasikan persalinan dengan induksi beberapa hari sebelum tanggal prediksi kelahiran. Induksi mungkin diperlukan lebih awal jika ibu menunjukkan gejala preeklampsia atau komplikasi lain. Pada kasus preeklampsia berat, dokter akan memberi obat selama persalinan untuk membantu mencegah kejang. Tidak menutup kemungkinan dilakukannya operasi caesar.

Setelah bayi lahir, para ibu dianjurkan untuk memberikan ASI meskipun mereka memiliki tekanan darah tinggi atau bahkan sedang dalam pengobatan. Diskusikan penyesuaian dosis obat maupun obat tekanan darah alternatif dengan dokter. Dokter mungkin menyarankan ibu untuk tidak menyusui sesaat setelah minum obat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

    Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

    Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

    Tak hanya wanita yang harus memerhatikan perubahan pada dirinya. Sebagai suami Anda juga harus peka melihat tanda istri hamil dan segera mempersiapkan diri.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 6 menit

    Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

    Bukanlah hal yang mustahil jika Anda ingin segera kembali hamil setelah mengalami keguguran, tapi ketahui dulu beberapa hal berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Kesuburan, Kehamilan 18/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara memandikan bayi yang baru lahir

    Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 9 menit

    Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    pelukan bayi perkembangan bayi 14 minggu perkembangan bayi 3 bulan 2 minggu

    Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    akibat anak terlalu sering dibentak

    Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit