Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Penyebab Tifus (Tipes) Kambuh dan Penanganannya

Penyebab Tifus (Tipes) Kambuh dan Penanganannya

Penyakit tifus yang Anda kenal juga dengan sebutan tipes atau demam tifoid memang bisa disembuhkan. Akan tetapi, penyakit ini bisa kembali kambuh. Apa yang menyebabkan penyakit tifus kembali kambuh? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Apakah penyakit tifus bisa kambuh?

Tifus adalah infeksi usus akibat bakteri Salmonella typhi. Seseorang yang terkena penyakir ini akan mengalami demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, kelelahan, sembelit atau diare.

Walaupun sering kali menyerang anak-anak, orang dewasa juga bisa terkena penyaikit ini. Terutama, jika mereka mengonsumsi air mentah atau makanan mentah dan tidak dicuci bersih.

Agar segera sembuh dokter akan meresepkan antibiotik untuk penyakit tipes. Nah, cara kerja dari antibiotik ini adalah membunuh bakteri atau mencegahnya berkembang biak dan menyebar sehingga bisa menyembuhkan tifus.

Tidak seperti penyakit cacar yang terjadi sekali seumur hidup. Sebanyak 5 hingga 10 persen pasien yang diobati dengan antibiotik dapat mengalami kekambuhan penyakit tifus setelah pemulihan awal. Biasanya kekambuhan terjadi sekitar 1 minggu pengobatan dihentikan. Ada pula yang kambuh pada hari 70 setelah pengobatan dihentikan.

Kenapa penyakit tifus (tipes) bisa kambuh?

tipes karena kelelahan

Walaupun tifus bisa disembuhkan, penyakit ini juga bisa kembali kambuh. Kemungkinan ini terjadi karena orang yang sudah sembuh terinfeksi lagi oleh bakteri penyebab tifus.

Bakteri ini bisa masuk ke tubuh dengan beragam cara, tapi paling sering melalui transmisi fekal-oral, yakni penularan infeksi dari feses yang orang yang sakit ke dalam mulut orang lain yang sehat. Transmisi tersebut mungkin saja terjadi ketika orang yang sakit tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah buang air besar. Kemudian, ia menyiapkan makanan untuk orang yang sehat.

Pada beberapa kasus, infeksi juga bisa terjadi akibat meminum air yang terkontaminasi, misalnya minum air mentah yang masih mengandung bakteri atau jajan sembarangan.

Selain itu, kambuhnya penyakit tifus (tipes) juga bisa terjadi jika orang tersebut adalah pembawa bakteri (typhoid carrier). Berdasarkan situs Mayo Clinic, setelah pengobatan antibiotik, beberapa orang yang sembuh dati tifus terus menyimpan bakteri di dalam tubuhnya. Nah, orang-orang inilah yang disebut sebagai typhoid carrier.

Memang, terdapat bakteri di dalam tubuhnya, tapi tidak ada gejala tifus yang dialami. Mereka masih mengeluarkan bakteri dalam fesesnya dan mampu menginfeksi penyakitnya pada orang lain. Orang dengan kondisi ini lebih mungkin kembali mengalami tifus karena sistem imun yang melemah akibat kelelahan atau mengonsumsi makanan yang tidak bersih.

Kemungkinan lain yang bisa menyebabkan penyakit tifus (tipes) kambuh adalah pengobatan yang dijalani tidak tuntas. Contoh kasusnya, berhenti minum antibiotik karena merasa kondisi sudah lebih baik.

Padahal obat antibiotik harus dihabiskan, beda dengan obat demam yang hanya diminum ketika gejalanya muncul. Berhenti minum antibiotik tanpa persetujuan dokter, membuat beberapa bakteri bertahan dan dapat menginfeksi kembali.

Penanganan penyakit tifus yang kambuh

obat antibiotik untuk diare

Sebenarnya, pengobatan demam tifoid yang kambuh tidak berbeda dengan pengobataan saat pertama kali terserang penyakit. Pengobatannya berfokus pada terapi antibiotik karena obat-obatan yang digunakan efektif dalam membunuh bakteri.

Beberapa obat tifus yang biasanya dokter resepkan, meliputi:

  • Ciprofloxacin (Cipro). Dokter sering meresepkan obat ini untuk orang dewasa yang tidak hamil. Obat serupa lainnya yang disebut ofloxacin juga dapat digunakan. Sayangnya, banyak bakteri Salmonella typhi tidak lagi rentan terhadap antibiotik jenis ini, terutama strain yang ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Biasanya, antibiotik ini dijadikan pengobatan lini pertama.
  • Azitromisin (Zitromaks). Jika bakteri resisten terhadap ciprofloxacin, barulah dokter meresepkan obat azitomycin.
  • Ceftriaxone. Antibiotik suntik ini merupakan alternatif pada infeksi yang lebih rumit atau serius dan untuk orang yang mungkin bukan kandidat untuk ciprofloxacin, seperti anak-anak.

Setiap jenis antibiotik memiliki efektivitas yang berbeda-beda, begitu juga dengan efek sampingnya. Konsultasikan lebih lenjut kepada dokter sebelum Anda menggunakan obat.

Kasus resisten sangatlah umum pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Nah, penyakit tifus yang kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas, resisten antibiotik bisa terjadi.

Pasien dengan kondisi ini tidak bisa lagi menggunakan antibiotik yang sama dengan sebelumnya untuk membunuh bakteri. Obat antibiotik selain yang disebutkan di atas mungkin saja direkomendasikan jika obat tidak cukup ampuh dalam mengobati tifus.

Selain minum antibiotik, kecepatan pemulihan tubuh terhadap penyakit tifus juga bergantung dengan perawatan di rumah, seperti pilihan makanan yang tepat saat tifus, istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih, serta meningkatkan kebersihan.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

How common is relapse after treatment for typhoid fever (enteric fever)? (2019, November 11). Retrieved September 14, 2021, from https://www.medscape.com/answers/231135-10619/how-common-is-relapse-after-treatment-for-typhoid-fever-enteric-fever

Typhoid fever. (2020, November 03). Retrieved September 14, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/typhoid-fever/diagnosis-treatment/drc-20378665

Typhoid Fever. National Health Service. Retrieved September 14, 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/typhoid-fever/treatment/

Antibiotics. (2021, August 24). Retrieved September 14, 2021, from https://medlineplus.gov/antibiotics.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri