Terapi Cairan Infus untuk Mengatasi Demam Berdarah

Terapi Cairan Infus untuk Mengatasi Demam Berdarah

Salah satu langkah penting dalam penanganan demam berdarah dengue adalah pemenuhan kebutuhan cairan tubuh. Tidak hanya dengan minum air putih, upaya pemberian cairan untuk pasien demam berdarah juga bisa dilakukan melalui infus.

Sampai saat ini, penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman di Indonesia, terutama saat memasuki musim hujan. Untungnya dengan penanganan yang tepat, DBD bisa sembuh dalam waktu kurang-lebih tujuh hari.

Mengapa pasien DBD butuh cairan?

cairan untuk demam berdarah

Dehidrasi merupakan salah satu bahaya penyakit demam berdarah. Ini lantaran demam dan keinginan untuk muntah menyebabkan lebih banyak air keluar dari tubuh Anda.

Selain itu, pasien demam berdarah pada fase kritis kerap mengalami kebocoran plasma darah, padahal sekitar 91% kandungan dalam plasma darah merupakan air.

Saat plasma darah bocor, darah akan menjadi lebih pekat dan mulai mengental. Darah yang kental lebih sulit mengalir sehingga penyebaran zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh akan terhambat.

Kebocoran plasma merupakan salah satu jenis komplikasi demam berdarah yang mengancam nyawa.

Berdasarkan kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pasien DBD harus mendapatkan cairan yang cukup. Kebutuhan air mereka akan lebih banyak dari orang sehat yang hanya perlu minum air dua liter sehari.

Selain dehidrasi, demam berdarah dengue juga ditandai dengan gejala ruam merah pada kulit, sakit kepala, nyeri pada mata, dan demam tinggi hingga 39°C.

Cairan infus untuk pasien demam berdarah

Tidak cukup dengan minum air putih saja, pencegahan dehidrasi pada pasien DBD juga kerap dilakukan dengan terapi pemberian cairan secara intravena alias melalui infus.

Berikut merupakan jenis cairan infus yang kerap diberikan untuk menangani demam berdarah.

1. Cairan kristaloid

Cairan saline NaCl 0,9%, ringer laktat, dan dekstrosa merupakan komposisi cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk penanganan demam berdarah.

Ketiga cairan tersebut sama-sama mengandung elektrolit seperti magnesium klorida, natrium asetat, natrium glukonat, kalium klorida, natrium klorida, dan glukosa yang dibutuhkan pasien demam berdarah.

Cairan kristaloid akan membantu mengembalikan keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Dengan begitu, metabolisme dan kadar air dalam tubuh dapat terjaga.

Ditambah lagi, elektrolit juga akan membantu organ tubuh bekerja secara normal.

2. Cairan koloid

Cairan infus untuk pasien demam berdarah

Dibandingkan dengan cairan kristaloid, cairan koloid memiliki berat molekul yang lebih tinggi sehingga bisa bertahan lebih lama di dalam pembuluh darah.

Oleh karena itu, cairan koloid lebih banyak digunakan untuk masalah kesehatan yang lebih serius.

Berdasarkan keputusan World Health Organization, penggunaan cairan koloid hanya dianjurkan pada pasien demam berdarah yang mengalami syok hipovolemik karena adanya kebocoran plasma.

Penggunaan cairan infus koloid untuk pasien demam berdarah yang mengalami syok hipovolemik terbukti dapat menurunkan kadar hematokrit dengan lebih cepat dibandingkan dengan cairan kristaloid.

Kadar hematokrit yang tinggi merupakan penyebab kebocoran plasma. Dengan menurunkan kadar hematokrit, kebocoran plasma pun dapat dicegah.

Meski begitu, penggunaan cairan koloid memiliki risiko efek samping alergi yang lebih besar dibandingkan dengan kristaloid. Oleh karena itu, penggunaan cairan koloid lebih jarang dibandingkan cairan kristaloid.

Cairan koloid yang kerap digunakan untuk penanganan demam berdarah mengandung albumin, gelatin, dan dekstran.

Perlu diingat bahwa penggunaan cairan infus untuk mengatasi demam berdarah hanya bisa dilakukan dengan persetujuan dokter.

Pihak rumah sakit jugalah yang akan menentukan mana cairan infus yang sesuai dengan kondisi Anda.

Cairan lainnya untuk mengatasi demam berdarah

Tidak semua pasien demam berdarah memerlukan perawatan di rumah sakit. Pasien yang memiliki kondisi stabil bisa menjalani perawatan di rumah, tentunya setelah mendapat persetujuan dari dokter.

Meski begitu, Anda tidak boleh melupakan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien. Berikut cara memenuhi kebutuhan cairan pasien demam berdarah selain melalui infus.

  • Minum lebih banyak air putih dan minuman untuk pemulihan DBD. Kebutuhan setiap orang mungkin berbeda, jadi cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter Anda.
  • Hindari minuman mengandung kafein seperti kopi dan soda. Jenis minuman tersebut akan membuat Anda mudah dehidrasi.
  • Pilih makanan dengan elektrolit tinggi, seperti bayam, tahu, dan alpukat.

Demikian informasi mengenai kebutuhan cairan selama mengidap demam berdarah. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan penanganan rumahan yan tepat.

Pentingnya cairan untuk pasien demam berdarah

  • Pasien demam berdarah membutuhkan lebih banyak cairan, sebab dehidrasi bisa menyebabkan komplikasi, salah satunya kebocoran plasma.
  • Selain melalui minuman, kebutuhan cairan bisa dipenuhi dengan infus cairan kristaloid atau koloid.
  • Penggunaan cairan koloid hanya dianjurkan pada pasien demam berdarah yang mengalami kebocoran plasma.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan