backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Awas, Ini Ciri-Ciri Demam Berdarah (DBD) pada Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 19/04/2024

Awas, Ini Ciri-Ciri Demam Berdarah (DBD) pada Ibu Hamil

Mengenali ciri-ciri demam berdarah (DBD) sedini mungkin sangatlah penting, terutama pada ibu hamil. Pasalnya, DBD selama kehamilan tak hanya membahayakan ibu, tapi juga janin.

Lantas, seperti apa dampak gigitan nyamuk Aedes aegypti pada ibu hamil? Simak uraian berikut untuk mendapatkan jawabannya.

Apa ciri-ciri DBD pada ibu hamil?

Mengutip laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS, gigitan nyamuk Aedes aegypti pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai gejala berikut.

  • Demam tinggi lebih dari 38°C yang biasanya berlangsung selama 37 hari.
  • Perubahan suhu tubuh dari demam tinggi menjadi di bawah 35°C (hipotermia) hingga menyebabkan tubuh menggigil.
  • Sakit perut yang cukup parah.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Muntah terus-menerus.
  • Trombosit menurun drastis.
  • Gusi dan hidung berdarah.
  • Gejala syok, seperti gelisah, keringat dingin, serta denyut jantung yang meningkat tapi lemah.
  • Muncul bintik merah pada kulit akibat perdarahan di dalam tubuh.
  • Penumpukan cairan di antara dua lapisan pleura (efusi pleura atau paru-paru basah).
  • Penumpukan cairan di perut (asites).

Tidak semua gigitan nyamuk Aedes aegypti menyebabkan demam berdarah dengue (DBD) pada ibu hamil.

Ibu hamil yang digigit nyamuk DBD tetapi tidak mengalami kebocoran plasma biasanya hanya terkena demam dengue. Kondisi ini umumnya tidak bergejala atau hanya bergejala ringan.

Ciri-ciri DBD biasanya mulai terasa pada hari ke-4 hingga ke-10 setelah ibu hamil digigit nyamuk. Jika dibiarkan, ibu hamil bisa mengalami komplikasi DBD yang bersifat fatal.

Apa penyebab DBD pada ibu hamil?

penyakit dbd, gejala dbd pada ibu hamil

Sama seperti penyebab DBD pada umumnya, demam berdarah dengue pada ibu hamil juga disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang sudah terinfeksi virus dengue.

Selain gigitan nyamuk, laman World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa dalam kasus langka, DBD bisa ditularkan melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari orang yang sudah terinfeksi.

Ibu hamil akan lebih berisiko merasakan ciri-ciri DBD di atas jika sudah pernah terkena demam dengue.

Semakin sering seseorang mengalami demam dengue, semakin besar pula kemungkinan kondisi tersebut berkembang menjadi DBD.

Selain itu, ibu hamil memang lebih berisiko terkena DBD. Ini karena perubahan sistem kekebalan tubuh selama kehamilan membuat ibu hamil lebih mudah terinfeksi, termasuk virus dengue.

Meski bisa ditemukan di setiap wilayah, demam berdarah diketahui lebih banyak menyerang ibu hamil di daerah tropis, seperti Indonesia.

Apa yang terjadi pada janin saat ibu hamil terkena DBD?

Infeksi virus dengue pada ibu hamil bisa ditularkan ke janin selama kehamilan, bahkan ketika proses melahirkan. Inilah alasan DBD pada ibu hamil dinilai cukup berbahaya.

Jika tidak segera diatasi, DBD saat hamil bisa menimbulkan berbagai komplikasi seperti berikut.

  • Bayi lahir dalam kondisi meninggal (stillbirth).
  • Berat bayi lahir rendah.
  • Kelahiran prematur yang mengakibatkan pertumbuhan organ bayi belum sempurna.
  • Keguguran, terutama jika ibu hamil mengalami demam berdarah pada trimester awal.

Dengan berbagai risiko tersebut, penting bagi ibu hamil untuk segera ke dokter kandungan jika merasakan ciri-ciri DBD.

Terlebih, beberapa ciri-ciri DBD memang menyerupai kondisi lain, seperti  sindrom HELLP, pneumonia, emboli paru, dan perdarahan vagina.

Bagaimana cara mengobati DBD pada ibu hamil?

Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan DBD pada ibu hamil. Pengobatan DBD bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah perkembangan infeksi.

DBD bisa sembuh dengan sendirinya ketika sistem kekebalan tubuh berhasil melawan infeksi.

Berikut ini adalah perawatan yang bisa diterima ibu hamil ketika merasakan ciri-ciri DBD. Pengobatan ini secara umum tidak berbeda dari pasien yang tidak hamil.

  • Meningkatkan asupan air putih, termasuk melalui cairan infus.
  • Memberikan obat pereda nyeri.
  • Terapi elektrolit.
  • Transfusi darah.
  • Memantau tekanan darah secara berkala.
  • Terapi oksigen.
  • Perlu diingat bahwa ibu hamil tidak boleh minum obat sembarangan. Oleh karena itu, pastikan bahwa obat yang Anda minum untuk meringankan DBD sudah disetujui dokter.

    Cara mencegah DBD pada ibu hamil

    Memiliki pengalaman demam berdarah saat hamil tentu bukanlah kenangan yang indah.

    Untungnya, Anda bisa melakukan beberapa tindakan berikut untuk mencegah penyebaran virus dengue dari nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

    • Menjaga kebersihan lingkungan dan menutup genangan air di sekitar rumah.
    • Mengenakan pakaian longgar berwarna terang dan menutupi lengan serta kaki untuk mencegah gigitan nyamuk.
    • Menggunakan kelambu di malam hari dan menggunakan losion antinyamuk bila perlu. Hindari penggunaan obat nyamuk semprot.
    • Menjaga kondisi kamar tetap sejuk karena nyamuk cenderung suka tempat yang hangat dan panas.
    • Menghindari bepergian ke tempat yang terjangkiti wabah DBD.

    Menjaga gaya hidup tetap sehat selama kehamilan juga menjadi cara yang tepat untuk mencegah DBD. Pasalnya, tubuh yang sehat memiliki sistem imun yang kuat. Dengan begitu, risiko infeksi akan menurun.

    Selain itu, pastikan untuk melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Meski tidak merasakan gejala janin bermasalah, pemeriksaan kandungan rutin tetap perlu dilakukan.

    Kesimpulan

    • Ciri-ciri DBD pada ibu hamil sama dengan gejala DBD pada umumnya, seperti demam tinggi di atas 38°C selama beberapa hari, nyeri otot dan sendi, muntah, penurunan trombosit, dan munculnya bintik kemerahan.
    • Sebagian besar kasus DBD pada ibu hamil disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang sudah terinfeksi virus dengue.
    • Jika tidak segera ditangani, DBD pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko bayi lahir dalam kondisi meninggal, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur, hingga kematian.
    • Pengobatan DBD dilakukan dengan cara meningkatkan asupan air putih, pemberian obat pereda nyeri, terapi elektrolit, hingga transfusi darah.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Damar Upahita

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 19/04/2024

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan