home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Albumin, Protein yang Penting bagi Tubuh Anda

Mengenal Albumin, Protein yang Penting bagi Tubuh Anda

Albumin adalah protein dalam darah manusia yang diproduksi oleh hati dan punya fungsi penting untuk kelangsungan hidup Anda. Ketika kadarnya berada di atas atau di bawah normal, Anda mungkin tengah mengalami kondisi kesehatan tertentu. Oleh karena itu, penting untuk mengenal lebih dekat tentang protein dalam darah yang satu ini dan memahami fungsinya.

Apa itu albumin?

tes serum albumin

Albumin adalah protein paling banyak yang ditemukan di plasma darah, yaitu 3,4-5,4 gram per desiliter (34 hingga 54 gram per liter) darah pada orang dewasa yang sehat. Protein ini terbentuk di hati dan akan dipindahkan ke aliran darah.

Albumin berfungsi untuk menjaga cairan dalam aliran darah agar tidak bocor ke jaringan lain. Protein ini juga membawa berbagai zat ke seluruh tubuh Anda, termasuk hormon, vitamin, dan enzim.

Dikutip dari jurnal yang dipublikasikan di National Center for Biotechnology Information, protein ini juga dapat mengangkut berbagai obat-obatan, termasuk:

  • Metadon
  • Propranolol
  • Thiopental
  • Furosemide
  • Warfarin
  • Methotrexate
  • Alfentanil

Albumin dapat ditemukan di aliran darah, ruang interstisial (celah di antara sel), serta cairan lainnya. Jika protein ini ditemukan dalam cairan tubuh lainnya dalam jumlah yang besar, seperti di rongga perut atau urine, artinya Anda sedang mengalami penyakit tertentu.

Kadar protein penting dalam tubuh ini dapat dideteksi dengan tes yang dilakukan bersamaan dengan tes lain, seperti panel metabolik komprehensif atau comprehensive metabolic panel (CMP).

Bagaimana jika kadarnya abnormal?

Jumlah abnormal kadar protein ini bisa jadi menandakan Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu. Orang dengan penyakit hati dan ginjal merupakan orang yang paling berisiko memiliki kadar albumin yang abnormal.

Orang yang sistem pencernaannya tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik dan mereka yang mengalami diare berkepanjangan juga berisiko mengalami kondisi ini. Hasil yang abnormal menandakan perlunya pengujian lebih lanjut. Berikut penjelasan lengkapnya.

Kadar albumin rendah

penyebab penyakit ginjal, konsumsi protein berlebih

Kadar albumin yang rendah dalam darah menandakan kondisi yang disebut dengan hipoalbuminemia. Kondisi ini terjadi karena produksinya menurun atau terlalu banyak albumin yang hilang melalui ginjal (urine), saluran pencernaan (gastrointestinal), kulit, atau ruang ekstravaskuler.

Tubuh yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi juga bisa membuat protein dalam darah ini menjadi rendah. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang menyebabkan kadar albumin menurun, yaitu:

  • Usai menjalani operasi penurunan berat badan
  • Penyakit Crohn (radang saluran pencernaan)
  • Diet rendah protein
  • Penyakit celiac (kerusakan selaput usus kecil akibat makan gluten)
  • Penyakit Whipple (kondisi yang dapat mencegah usus memberikan nutrisi ke seluruh tubuh)

Rendahnya albumin mungkin juga menandakan Anda mengalami kondisi di bawah ini:

  • Penyakit ginjal
  • Penyakit hati (contohnya hepatitis atau sirosis yang dapat menyebabkan asites)
  • Luka bakar

Pengobatan untuk kondisi ini tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika Anda mengalami penyakit kritis, seperti luka bakar, Anda mungkin akan diberikan albumin tambahan dalam bentuk infus.

Kadar albumin tinggi

dehidrasi saat puasa

Tak hanya rendah, kadar yang tinggi juga mungkin menandakan kondisi kesehatan tertentu. Berikut kondisi yang dapat menyebabkan kadar albumin meningkat:

  • Dehidrasi
  • Diet tinggi protein
  • Diare parah
  • Infeksi akut
  • Luka bakar
  • Serangan jantung
  • Menggunakan tourniquet (alat untuk menghentikan perdarahan) dalam waktu yang lama

Albuminuria

gejala kanker ginjal

Albuminuria atau yang disebut juga dengan proteinuria adalah tanda penyakit ginjal yang berarti urine Anda mengandung terlalu banyak protein ini.

Ginjal berfungsi menyaring darah. Ginjal yang sehat seharusnya tidak akan meloloskan albumin yang berada di aliran darah untuk dibuang melalui urine. Namun, kerusakan ginjal memungkinkan hal ini terjadi. Jadi, semakin sedikit jumlahnya dalam urine Anda, semakin baik.

Jika Anda mengalami gejala penyakit ginjal atau liver, dokter mungkin akan merekomendasikan tes albumin.

Berikut adalah tanda dan gejala penyakit hati yang mungkin menjadi penyebab kadar albumin abnormal:

  • Penyakit kuning, ditandai dengan kulit dan mata yang menguning
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan
  • Kehilangan selera makan
  • Urine berwarna gelap
  • Feses berwarna pucat

Sementara itu, berikut ini adalah tanda dan gejala penyakit ginjal yang menjadi penyebab kadar protein tubuh satu ini abnormal:

  • Bengkak di sekitar perut, paha, atau wajah
  • Lebih sering buang air kecil terutama pada malam hari
  • Urine berbusa, berdarah, atau berwarna kopi
  • Mual
  • Kulit yang gatal

Kadar albumin yang berada di atas atau di bawah kadar normal tidak selalu menandakan Anda memiliki kondisi yang kondisi tertentu yang membutuhkan perawatan. Obat-obatan tertentu, seperti steroid, insulin, dan hormon, juga bisa meningkatkan kadarnya. Sementara itu, obat lain, seperti pil KB, dapat menurunkan kadar albumin Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Albumin | Lab Tests Online. (2020). Retrieved 10 August 2020, from https://labtestsonline.org/tests/albumin

Moman, R., Gupta, N., Sheikh, N., & Varacallo, M. (2020). Physiology, Albumin. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459198/

(2020). Retrieved 10 August 2020, from https://www.gastrojournal.org/article/S0016-5085(73)80046-0/pdf

Albumin – blood (serum) test Information | Mount Sinai – New York. (2020). Retrieved 10 August 2020, from https://www.mountsinai.org/health-library/tests/albumin-blood-serum-test

Gounden, V., Vashisht, R., & Jialal, I. (2020). Hypoalbuminemia. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526080/


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui 16/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.