Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Selama beberapa minggu terakhir, puluhan anak di Amerika Serikat dirawat di rumah sakit dengan penyebab yang tidak diketahui. Anak yang dirawat mengalami gejala mirip toxic shock syndrome dan penyakit Kawasaki, tapi para ahli meyakini kondisi mereka ada hubungannya dengan COVID-19.

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain. Selain gejala umum seperti demam dan batuk, ada pula laporan pasien yang mengalami diare, ruam, hingga hilang penciuman dan pengecapan. Ini juga yang memunculkan dugaan bahwa penyakit Kawasaki pada anak dan COVID-19 saling berkaitan.

Apa itu penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada pembuluh darah di sekujur tubuh. Dikenal pula sebagai mucocutaneous lymph node syndrome, penyakit ini terkadang juga menyerang kulit, kelenjar getah bening, dan selaput lendir.

Kebanyakan penderita penyakit Kawasaki adalah anak di bawah lima tahun. Gejalanya terbagi ke dalam tiga fase. Fase pertama biasanya ditandai dengan demam selama lima hari. Selain demam, gejala lain penyakit Kawasaki yakni:

  • ruam pada punggung, perut, lengan, kaki, dan area organ intim
  • mata merah
  • sakit tenggorokan
  • bibir memerah, kering, dan pecah-pecah
  • lidah ‘stroberi’, ditandai dengan warna putih dengan bintik-bintik merah
  • bengkak pada telapak tangan, telapak kaki, dan kelenjar getah bening di leher

Fase pertama bisa berlangsung selama dua minggu. Setelah itu, anak akan mengalami fase kedua yang ditandai dengan nyeri sendi, sakit perut, muntah, dan diare. Beberapa anak juga mengalami pengelupasan kulit pada tangan dan kaki.

Gejala penyakit berangsur hilang pada fase ketiga, kecuali anak mengalami komplikasi pada jantung. Biasanya, muncul garis-garis pada kuku anak. Mungkin masih ada tanda-tanda gangguan jantung, tapi hasil tes laboratorium cenderung normal. Fase ini bisa berlangsung selama 2-3 bulan sebelum akhirnya anak kembali pulih.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Semakin cepat penyakit Kawasaki terdeteksi, semakin cepat pemulihannya. Jika tidak ditangani, penyakit ini bisa merusak pembuluh yang mengarah ke jantung. Tekanan pada pembuluh darah lambat laun dapat membentuk ‘balon’ yang disebut aneurisma.

Gumpalan darah bisa terbentuk dalam balon ini dan menghalangi aliran darah sehingga meningkatkan risiko serangan jantung. Pada kasus lainnya, penyakit Kawasaki juga dapat memicu radang pada otot jantung dan menyebabkan kerusakan secara langsung.

Penyakit Kawasaki pada anak dan COVID-19

Penyakit Kawasaki

Kaitan antara penyakit Kawasaki dan COVID-19 berawal dari satu kasus di California, AS. Dr. Veena Goel Jones, seorang dokter anak, saat itu sedang merawat bayi berusia enam bulan yang menunjukkan gejala penyakit Kawasaki.

Ia kemudian menyarankan tes COVID-19 pada bayi tersebut. Hasilnya ternyata positif, walaupun bayi tersebut tidak pernah mengalami batuk dan hidungnya hanya sedikit mampet. Ia pun melaporkan kasus ini dalam jurnal Hospital Pediatrics bulan April.

Tidak lama berselang, kasus serupa muncul di Italia, Inggris, Spanyol dan Prancis. Kota New York pun melaporkan 15 kasus dengan gejala yang sama sejak pertengahan April. Semua anak dengan gejala penyakit Kawasaki akhirnya menjalani tes COVID-19.

Sebanyak empat anak dinyatakan positif COVID-19. Sementara itu, enam anak negatif COVID-19, tapi mereka mempunyai antibodi penanda virus tersebut. Ini menandakan bahwa mereka baru saja sembuh dari COVID-19.

jenis masker

Apa kaitan penyakit Kawasaki dan COVID-19?

ruam di perut

Para dokter hingga saat ini masih mempelajari kaitan antara penyakit Kawasaki dengan COVID-19. Kendati gejalanya sangat mirip, para dokter yang menangani kasus ini yakin bahwa COVID-19 tidak menyebabkan penyakit Kawasaki pada anak.

Mereka menduga gejala yang dialami anak-anak tersebut sebenarnya disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Respons tersebut muncul sebagai perlawanan terhadap serangan SARS-CoV-2 di dalam tubuh.

Dugaan ini muncul karena sebelumnya banyak laporan pasien dewasa yang mengalami respons serupa akibat COVID-19. Respons kekebalan tubuh pada dasarnya bertujuan untuk membasmi virus, tapi proses ini juga bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

Pada kasus tertentu, pasien COVID-19 bahkan bisa mengalami reaksi imun berbahaya yang disebut badai sitokin. Kondisi ini menyebabkan peradangan parah pada organ vital. Tanpa penanganan yang tepat, pasien berisiko mengalami kegagalan organ yang membahayakan jiwa.

Satu lagi yang membuat para ahli yakin yaitu gejala mirip penyakit Kawasaki muncul cukup lama setelah anak tertular COVID-19. Selain itu, negara dengan kasus penyakit Kawasaki yang tinggi juga tidak melaporkan peningkatan kasus penyakit ini sepanjang pandemi COVID-19.

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Para ahli masih perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan dugaan ini. Sambil menanti hasil penelitian terbaru, orangtua dapat melindungi anaknya dari risiko penularan COVID-19 dengan menerapkan upaya pencegahan.

Apabila anak Anda mengalami demam berhari-hari, ruam, maupun gejala lainnya yang mirip dengan penyakit Kawasaki, segera periksakan ia ke dokter. Meski tidak berkaitan dengan COVID-19, penyakit Kawasaki tetap berdampak buruk bagi anak dan perlu segera ditangani.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit