Efek Coronavirus COVID-19 pada Lansia, Ibu Hamil hingga Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 yang pertama kali berawal dari Wuhan, Tiongkok berasal dari jenis virus corona yang belum pernah ditemukan di tubuh manusia. Virus yang disebut sebagai SARS-CoV-2 ini memang masih memiliki cukup banyak misteri. Namun, tidak dapat dipungkiri efek coronavirus COVID-19 ternyata cukup serius hingga menyebabkan puluhan ribu korban jiwa. 

Terlebih lagi, pada kelompok yang lebih rentan mengembangkan penyakit ini, seperti ibu hamil, lansia, dan orang yang memiliki penyakit kronis.

Efek coronavirus COVID-19 pada kelompok yang berisiko

Coronavirus adalah payung besar dari virus yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan. Jenis dari virus ini pun cukup banyak dan beberapa diantaranya dapat menimbulkan penyakit pada manusia, seperti SARS dan MERS. 

Akhir tahun 2019, coronavirus jenis baru ditemukan di Tiongkok dan gejala awal penyakit COVID-19 ini menyerang sistem pernapasan orang yang terinfeksi.

gejala dan komplikasi coronavirus

Tidak sedikit dari pasien yang terjangkit penyakit yang dinamai COVID-19 ini tidak dapat ditolong karena begitu banyak kerusakan yang dihasilkan oleh virus ini.  Maka itu, efek pada coronavirus COVID-19 pada kelompok yang lebih berisiko perlu diwaspadai agar kondisi mereka tidak semakin parah. 

1. Lansia

penyebab tubuh lansia semakin kurus

Salah satu kelompok yang rentan terhadap efek coronavirus COVID-19 adalah lansia. Ada dua hal yang mendasari hal tersebut, yaitu kondisi fisik dan mental mereka. 

Pertama, kebanyakan lansia memiliki daya tahan tubuh yang lemah, sehingga mereka lebih rentan terhadap penyakit menular, seperti COVID-19. Selain itu, mereka juga cenderung menderita penyakit kronis lainnya, seperti jantung, paru, diabetes, hingga penyakit ginjal

Akibatnya, kemampuan tubuh mereka saat melawan infeksi virus pun sudah melemah. 

Sementara itu, di beberapa negara, lansia tinggal di tempat yang diatur oleh pemerintah atau perusahaan swasta, seperti panti jompo atau tinggal bersama keluarga yang ramai. Maka itu, risiko infeksi mereka lebih besar.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

882,418

Confirmed

718,696

Recovered

25,484

Death
Distribution Map

2. Pasien penyandang penyakit kronis

dampak trauma

Selain lansia, kelompok lainnya yang berisiko terkena efek serius dari coronavirus COVID-19 adalah pasien dengan riwayat penyakit kronis

Beberapa dari Anda mungkin berpikir bahwa penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit jantung diderita oleh orang yang sudah berusia lebih dari 65 tahun. Pada kenyataannya, orang dewasa pun dapat menderita penyakit yang sama ketika tidak menjalani pola hidup sehat. 

Studi: Pasien Bisa Positif COVID-19 Meski Tak Ada Gejala dan Lolos Karantina

Menurut CDC, berikut ini beberapa kondisi medis yang memiliki risiko tinggi mengembangkan komplikasi serius, baik pada orang dewasa dan lansia. 

a. Gangguan sistem pernapasan

penyakit akut dan kronis

Salah satu penyakit kronis yang dapat memiliki efek buruk dari coronavirus COVID-19 adalah gangguan pada sistem pernapasan, seperti asma. 

Pasalnya, virus yang satu ini akan menyerang sistem pernapasan ketika seseorang terinfeksi. Bagi orang dengan daya tahan tubuh yang kuat dan tidak memiliki riwayat penyakit kronis mungkin akan menimbulkan gejala yang cukup ringan. Akan tetapi, tidak bagi mereka yang memiliki gangguan pada sistem pernapasan.

Umumnya, COVID-19 dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut yang merusak paru-paru. Maka itu, pasien COVID-19 yang memiliki masalah pada pernapasannya, seperti asma, lebih rentan mengembangkan komplikasi yang parah hingga membutuhkan alat bantu.

b. Penyakit jantung

Bagi Anda yang memiliki penyakit jantung mungkin perlu waspada karena efek coronavirus COVID-19 pada jantung ternyata dapat menyebabkan kondisi yang serius. 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ketika virus masuk ke dalam tubuh mereka akan menyerang paru-paru. Tidak hanya paru, coronavirus COVID-19 juga memicu respons peradangan yang menyebabkan adanya tekanan pada sistem kardiovaskular. 

Akibatnya, akan ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu menurunnnya kadar dan tekanan darah. Jika hal tersebut terjadi, jantung perlu berdetak lebih cepat dan keras untuk memasok oksigen ke tubuh. Maka itu, COVID-19 bisa mengakibatkan serangan jantung yang cukup fatal hingga menyebabkan kematian. 

c. Penyakit yang menyebabkan kelainan imun

merawat pasien kanker payudara

Selain penyakit jantung dan gangguan sistem pernapasan, efek coronavirus COVID-19 pada pasien dengan penyakit kelainan imun ternyata juga cukup serius. Jika seseorang memiliki kelainan imun, kemampuan tubuh mereka akan berkurang untuk melawan dan pulih dari infeksi virus. 

Kondisi ini dapat terjadi ketika mereka memiliki penyakit yang berpengaruh terhadap daya tahan tubuh, seperti kanker , HIV dan penyakit lainnya. Konsumsi obat-obatan yang digunakan pun bisa berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Contohnya, perawatan dan obat-obatan untuk melawan kanker, bisa menyebabkan respons kekebalan tubuh seseorang melemah. 

d. Diabetes

gejala pradiabetes

Efek dari infeksi coronavirus COVID-19 menimbulkan sejumlah tantangan bagi penyandang diabetes. Bagaimana tidak, diabetes dilaporkan sebagai salah satu faktor risiko komplikasi serius dari COVID-19 karena mereka harus mengontrol gula darah ketika wabah terjadi di seluruh dunia. 

Para penyandang diabetes telah mengalami gangguan respons imun, baik terhadap infeksi virus yang berkaitan dengan sitokin dan perubahan respon imun. Kontrol gula darah yang buruk juga menyebabkan kondisi ini terjadi dan membuat infeksi paru jauh lebih parah. 

Akibatnya, tubuh penyandang diabetes akan lebih sulit melawan infeksi virus karena respon imun yang kurang dan membuat virus lebih cepat menyebar hingga menimbulkan kematian. 

3. Ibu hamil

novel coronavirus ibu hamil

Lantas, bagaimana dengan efek coronavirus COVID-19 terhadap tubuh ibu hamil yang terinfeksi?

Sampai saat ini sejumlah penelitian sedang dikembangkan untuk memahami dampak infeksi dari COVID-19 pada ibu hamil. Dengan data-data yang ada belum ada bukti bahwa ibu hamil berisiko mengembangkan kondisi yang parah ketika terinfeksi. 

Akan tetapi, perlu diketahui dengan adanya perubahan tubuh dan sistem kekebalan tubuh, ibu hamil sangat mungkin terpengaruh oleh infeksi pernapasan.

Oleh karena itu, para ibu hamil sangat dianjurkan untuk tidak melewatkan sesi konsultasi dokter kandungan dan tetap melakukan upaya pencegahan COVID-19

Saat Ibu Diduga Terinfeksi Coronavirus Melahirkan, Apa Dampaknya?

4. Perokok

gejala kanker paru

Siapa yang tak tahu bahaya dari merokok? Mulai dari jantung koroner, kanker paru, hingga stroke membayangi para perokok. 

Terlebih lagi dengan adanya coronavirus COVID-19 yang menyerang sistem pernapasan membuat efek penyakit ini lebih besar pada perokok yang terinfeksi. 

Rokok juga memiliki dampak buruk terhadap sistem kekebalan tubuh penggunanya. Begini, rokok mengandung berbagai senyawa kimia yang beracun dan salah satu racun tersebut adalah karsinogen yang dapat menyebabkan kanker serta karbon monoksida. Kedua zat tersebut akan terhirup oleh saluran pernapasan dan kemudian memicu kerusakan organ.

Maka itu, rokok dapat melemahkan fungsi sel kekebalan tubuh dan mengurangi produksi antibodi pada manusia.

Akibatnya, perokok mungkin memiliki risiko yang cukup tinggi dalam mengembangkan gejala COVID-19 yang lebih parah, seperti pneumonia dibandingkan mereka yang tidak merokok.

5. Anak

coronavirus pada anak

Wabah COVID-19 memang sudah menyebabkan lebih dari satu juta kasus di seluruh dunia. Akan tetapi, efek coronavirus COVID-19 ternyata tidak begitu besar pada kesehatan anak yang terinfeksi. 

Kasus kematian akibat COVID-19 pada anak memang ada, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan lansia dan orang dewasa. 

Dilansir dari Harvard Health Publishing sekitar 90% anak yang terinfeksi COVID-19 tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami gejala ringan hingga sedang. Artinya, ketika anak terkena COVID-19, mereka akan menunjukkan gejala yang lebih ringan, seperti demam dan batuk.

Pada beberapa kasus mungkin ada beberapa anak yang mengalami sesak napas, tetapi mereka tidak terlalu membutuhkan oksigen atau berada dalam unit perawatan intensif. 

Virus membutuhkan protein di permukaan sel alias reseptor untuk masuk ke tubuh dan merusak organ dan coronavirus tampaknya menggunakan reseptor ACE-2. 

Kemungkinan besar anak-anak mempunyai lebih sedikit reseptor ACE-2 pada paru-paru dibandingkan saluran pernapasan bagian atas.

Maka itu, anak lebih sering mengalami gejala ringan, seperti batuk dan demam karena virus hanya menyerang saluran pernapasan bagian atas, yaitu hidung, mulut, dan tenggorokan. 

Intinya, efek coronavirus COVID-19 akan berbeda pada setiap orang, tergantung bagaimana daya tahan tubuh dan kesehatan mereka saat itu. Maka itu, menjaga kesehatan dan kebersihan adalah kunci utama agar infeksi virus tidak menimbulkan kondisi serius.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi di sini.

powered by Typeform

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit