Tidak Cuma Lansia, Anak-anak Pun Berisiko Kena Komplikasi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Lansia dinilai sebagai kelompok yang paling rentan terkena komplikasi COVID-19. Pasalnya, banyak lansia sudah menderita penyakit penyerta dan fungsi imun menurun seiring bertambahnya usia. Namun, menurut sebuah studi terbaru di Amerika Serikat,  anak yang terinfeksi COVID-19 ternyata juga tidak luput dari risiko komplikasi berat.

COVID-19 dapat mengakibatkan komplikasi berupa pneumonia, sepsis, hingga kegagalan organ yang berakibat fatal. Maka dari itu, orangtua perlu giat mengajak anak melakukan upaya pencegahan selama pandemi. Simak informasi berikut untuk mengetahui apa saja langkah yang dapat Anda lakukan.

Komplikasi COVID-19 pada anak

obat muntaber pada anak

Beberapa ilmuwan dari Rutgers University, Amerika Serikat, meneliti dampak COVID-19 pada pasien anak di kawasan Amerika Utara. Mereka mengamati 48 pasien dari yang baru lahir hingga berusia 21 tahun, yang dirawat intensif di PICU sepanjang Maret dan April.

Sebanyak 80% pasien memiliki kondisi penyerta seperti diabetes, obesitas, penurunan sistem imun, kejang, dan penyakit paru kronis. Dari jumlah tersebut, sekitar 40% harus bergantung pada alat medis akibat kelainan genetik atau keterlambatan perkembangan.

Sekitar 20% pasien COVID-19 mengalami kegagalan organ vital akibat komplikasi, dan hampir 40% pasien pasien membutuhkan ventilator. Pada akhir masa penelitian, sebanyak 16 pasien masih harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

Dari 16 pasien anak yang dirawat secara intensif, tiga pasien COVID-19 membutuhkan ventilator dan satu pasien perlu memakai alat bantuan hidup. Dua pasien dinyatakan meninggal dunia selama tiga minggu berlangsungnya penelitian.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Penelitian tersebut menjadi patokan bagi para ilmuwan dalam memahami komplikasi COVID-19 pada anak. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak pun terkadang memiliki kondisi penyerta yang membuat mereka rentan terkena komplikasi fatal.

Hal ini terlihat dari persentase kematian anak di rumah sakit dalam penelitian tersebut. Kematian anak akibat COVID-19 di unit gawat darurat rumah sakit tersebut mencapai 4,2 persen, sementara kematian pada orang dewasa mencapai 62 persen.

Dampak COVID-19 terhadap anak-anak sebelumnya memang jarang menjadi perhatian utama. Kasus COVID-19 pada anak pun tampaknya tidak terlalu parah. Tidak banyak juga laporan mengenai komplikasi berat pada pasien anak-anak.

Padahal, ini mungkin disebabkan karena pelaksanaan tes COVID-19 pada anak-anak tidak sebanyak dan sesering orang dewasa. Mereka mungkin juga tidak menunjukkan gejala sehingga tidak dicurigai terinfeksi COVID-19.

Sebagai upaya antisipasi, Amerika Serikat akan segera mengadakan penelitian bertajuk Human Epidemiology and Response to SARS-CoV-2 (HEROS) terhadap 2.000 kepala keluarga. Studi ini diharapkan bisa membantu ilmuwan memahami lebih jauh dampak COVID-19 terhadap anak-anak.

mencegah tertular coronavirus

Tips melindungi anak dari COVID-19

mencegah anak terserang flu

Menjelaskan COVID-19 kepada anak memang tidak mudah. Anak-anak mungkin akan cemas karena pemberitaan tentang pandemi yang seakan tak ada habisnya. Orangtua mungkin juga harus berulang kali mengajari anak pentingnya kebersihan tangan.

Selain itu, tidak semua anak bisa cepat beradaptasi dengan karantina mandiri. Ada anak-anak yang senang bisa lebih banyak bermain dengan orangtuanya, tapi ada pula anak yang bosan selama karantina di rumah.

Kabar baiknya, Anda tetap dapat melindungi anak dari komplikasi berbahaya COVID-19 dengan menerapkan langkah sederhana sebagai berikut:

1. Menjaga kebersihan diri Anda

Tidak seperti orang dewasa, anak-anak belum peka dengan kebersihan diri dan lingkungannya. Mereka tidak mengerti bahwa ibunya yang baru pulang dari pasar mungkin membawa virus ke rumah.

Jadi, semua orang yang ingin berinteraksi dengan anak harus memastikan dirinya bersih. Begitu pulang dari luar rumah, ganti pakaian Anda dengan yang bersih dan cuci tangan Anda sebelum berinteraksi dengan anak. Jangan lupa membersihkan barang-barang di rumah secara rutin dengan desinfektan, terutama yang sering disentuh anak.

2. Mulai dari hal-hal kecil

Agar anak memahami pentingnya mencegah COVID-19, Anda juga harus menerapkan langkah-langkahnya. Awali dengan mencuci tangan secara rutin setiap dari luar rumah, sebelum makan, serta setelah batuk, menyeka hidung, atau bersin.

Tunjukkan si kecil cara batuk dan bersin yang benar, baik dengan tisu maupun tangan. Ketika harus keluar rumah, pastikan anak memakai masker untuk melindunginya dari risiko tertular.

3. Mencontohkan cara cuci tangan

Cuci tangan yang benar adalah selama 20 detik menggunakan air mengalir dan sabun. Namun, ini bukan sesuatu yang mudah diingat oleh anak. Cara terbaik mengajari anak cuci tangan adalah dengan memberikan contoh secara langsung.

Ajak anak mencuci tangan sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Ini setara dengan cuci tangan selama 20 detik. Saat mencuci tangan, ajari ia untuk menggosok telapak tangan dan jari-jari hingga merata.

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

4. Mengajari cara social distancing

Anak tentu heran mengapa sekolahnya diliburkan dan ia tidak boleh bermain dengan teman-temannya. Coba jelaskan kepadanya bahwa dengan tetap di rumah, ia sudah berbuat baik untuk mencegah virus menyebar.

Ajak anak berlatih social distancing dengan membayangkan ada sepeda ajaib di antara dirinya dan orang lain. Itulah jarak yang tidak bisa dilewati. Berikan juga pengertian agar ia tidak salim atau berpelukan, dan menggantinya dengan melambaikan tangan.

Dampak COVID-19 pada anak-anak sama besarnya dengan orang dewasa. Anak tetap berisiko tertular COVID-19, bahkan bisa terkena komplikasi yang berbahaya. Pada situasi seperti ini, orangtualah garda terdepan yang dapat melindungi anak dari risiko tersebut.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit